
"Terima kasih kamu sudah membantu pekerjaan saya, dan maaf kamu harus lembur juga gara - gara saya" sesal pak Budi " Tidak apa pak , itu sudah tugas saya dan saya senang bisa membantu anda" tutur Naya dengan sopan. Pak Budi hanya tersenyum mendengar ucapan sekretarisnya. Naya pun undur diri dengan membungkukkan sebagian badannya tanda permisi.
Jam makan siangpun tiba Naya ditugaskan untuk ke salah satu butik ternama mengambil pesanan baju pak Budi. Ditengah perjalanan ia berniat menghubungi Edo namun niatnya pun terhenti ketika ia melihat sosok Edo sedang mencium seorang perempuan di depan halte bus dekat butik, suasana sunyi di halte mendukung mereka yang tengah berciuman tanpa harus mengkhawatirkan pandangan orang.
Hati Naya bagai di tusuk sebilah pedang, sakit tapi tak berdarah ia hanya mampu diam membisu menahan isak tangisannya bahkan sopir kantor yang mengantarkannya pun tak berani bertanya hanya diam membisu menjadi saksi tangisannya.
Sekembalinya Naya ke kantor ia tampak murung dan tak bersemangat membuat Ema mau tak mau menghampirinya " kenapa ? habis balik kok lesu gitu" tanya Ema yang baru sampai di mejanya. Naya hanya menggelengkan kepala.
"Besok kantor akan ngadain piknik ke Bandung dan gue udah daftarin lo buat ikut kita piknik" seru Ema mendengar itu Naya hanya tersenyum simpul.
__ADS_1
"Balik kerja gih gak enak dilihatin sama yang lain" usir Naya "oke gue " sahut Ema meninggalkan meja sahabatnya sambil melambai - lambaikan tangannya.
" Apa kamu bener - benar tega mas mengkhianati aku ?" ragu, ia berusaha membodohi dirinya.
Kini Naya sudah bebas dari aktifitas lemburnya. Malam kian larut tapi tak membuat sepasang mata coklat itu meredup ia masih terjaga dari kantuknya entah kemana arah berfikirnya.
Trttt.. trrrttt.. trrrtttt...
Hanya diam tanpa ingin berkata bahkan menangispun rasanya tidak " Halo.. sayang ? kamu denger aku kan ? Naya? " ucap Edo khawatir karena tidak mendapat respon Nayapun dibuat gelagapan oleh suara Edo yang memanggilnya sambil berteriak "Eh .. i-iiya kenapa mas?" tanyanya " Kamu kenapa kok diem? lagi sakit ya?" "Enggak kok cuma baru pulang lembur aja" bohong Naya "Oh.. yaudah kalo gitu kamu buruan istirahat ya jangan lupa kunci pintu" ucap Edo dengan perhatiaannya.
__ADS_1
Sambungan telpon terputus membuat Naya kini lemah bersandar di dinding kamarnya. Dalam gelap Naya menangis tanpa bersuara hatinya begitu hancur mengingat kejadian tadi siang tak ada kata menyesal yang terdengar dari kekasihnya, kini ia bingung harus belaku seperti apa.
***************
Suasana kantor riuh ramai para pekerja yang antusias akan berlibur ke Bandung, sambil menunggu bis mereka siap semua ketua divisi mendata semua anak buahnya.
"Bengong terus.. kesambet hantu janda tau rasa" canda Ema namun hanya dibalas pukulan dibahu "Sakit Nay" sambil mengelus bahunya " Suruh siapa kagetin gue? mau lagi ?" ucap Naya dengan tangan yang sudah diawan siap mendarat kembali "Ampun.. ampun deh" Ema memohon dengan kedua tangannya.
"Kalo ada masalah cerita dong, punya sahabat loh ini" menunjuk dadanya "Jangan diem aja tar tumbuh uban lohh .." canda Ema
__ADS_1
Prittt.. priitttt....
Mendengar itu membuat Naya dan Ema berlari ke arah suara dan melupakan obrolannya, Naya sedikit bernafas lega karena terhindar dari cecaran sahabatnya.