
"Mbak" panggilnya
"Mbak benar gak papa?" tanyanya
"Sakit sih Haru tapi mau gimana lagi" ucapku
"Ini siapa yang obati mbak?"
"June"
"Bisa juga dia obati orang" kekeh Haru
"Mbak kalau gitu kita ke tukang kusuk aja ya"
"Biar kita tau mana bagian yang terkilir" sambungnya
"Mbak, nurut aja" ucapku
"Kalau gitu Haru siap siap dulu ya Mbak"
Aku pun hanya membalasnya dengan anggukan
"Assalamualaikum" ujar Yunhyeong yang kini berada di depan pintu
"Waalaikum salam, tumben pakai salam biasanya main masuk aja" ucap ku
"Sopan salah gak sopan pun salah"
"Haru mana Jo?" tanyanya
"Itu di kamar lagi...
"Ya Allah, Jo. Itu kaki kenapa?" kok bisa kayak gitu" ucapnya
"Pas camping, aku terpeleset gak memperhatikan jalan juga sih, makannya kayak gini" ucapku
"Mbak, Haru udah siap. ayok kita pergi" ucapnya
"Kamu mau pergi tanpa tau keadaan mbak mu" ucapnya dengan marah
"Lah emang Kenapa?" tanya Haru
"Kamu gak lihat kaki mbak yu terluka Haru" ucapnya penuh emosi
"Iya Haru tau itu"
"Mas ini datang-datang main marah aja, cepat tua baru tau" kekeh nya
"Haru" bentaknya
"Mas, jangan marah doang" ucap ku
"Gimana aku gak marah. Dia ngajak kamu pergi di saat kondisi kamu kayak gini"
"Justru itu, Haru mau ngajak aku pergi itu. kami mau ke tukang kusuk" papar ku
"Makannya mas jangan marah aja. Akibat di tinggal nikah kayak gini" ucap Haru
"Haru" penuh dengan emosi
"Ampun mas"
"Kamu ini suka kali jahil kali" ucapku
__ADS_1
"Habis seru mbak gangguin mas Yunhyeong" paparnya
"Jadi gak ini temani mbak"
"Jadi dong mbak. Ayok kita pergi" ucapnya
"Aku ikut juga"
Sebenarnya jarak dari rumah sama tempat kusuk tersebut enggak jauh kali karena masih di sekitaran daerah rumah. lagian tempat itu udah jadi tempat langganan kami sekeluarga.
"Assalamualaikum nek" ucap kami serentak
"Waalaikum salam, eh kalian bertiga. Udah lama gak main ke sini" ujar sang nenek
"Hehehe...iya nek" ucap Haru
"Loh, itu kaki kenapa?" tanyanya dengan panik
"Ini nek, Mbak Jojo terpeleset. Makannya kami ke sini nek" papar Haru
"Sini sini masuk"
"Bentar ya nenek ambil salep untuk kusuk. Kalian duduk dulu" sambungnya
"Iya nek" ucap kami
Si nenek pun mengambil peralatannya
"Sini nak Jo" panggilannya
Aku pun berjalan ke arahnya dan nenek itu mulai memijitnya.
"Arghhhh......" teriak ku
"Semoga cepat sembuh"
"Amin. Makasih ya nek. kalau gitu kami pulang dulu ya nek" ucapku
"Pamit ya nek" ujar Haru dan Yunhyeong
"Hati-hati ya" ucapnya
"Assalamualaikum" serentak kami
"Waalaikum salam" ucapnya
Meskipun sakitnya gak sesakit yang tadi. Ini udah lumayan walaupun masih di papah sama mereka. Kini kami menuju rumah. Sesampainya di rumah aku memutuskan langsung tidur.
"Mbak tidur dulu ya Haru" ucapku
"Iya mbak"
"Aku tidur dulu ya Yeong" ucapku
"Iya"
"Sini biar aku yang papah kamu Jo" ujarnya
Karena kamar ku di lantai dua dan untuk naik ke tangga begitu susah. Alhasil aku di papah olehnya.
"Mbak, udah tidur mas?" tanya Haru
"Udah"
__ADS_1
"Mas, udah makan?" tanyanya lagi
"Belum. Haru?" tanyanya
"Belum juga mas"
"Gofood kita?" ujarnya
"Boleh kalau mas yang bayarin" kekeh nya
"Oke lah. Mau pesan apa?"
"Ini aja mas"
"Cukup?"
"Cukup lah, habis pula uang mas nanti" kekeh nya
Kami pun memesan makanan. Setelah 30 menit menunggu, akhirnya pesanan kami sampai. Setelah menyantap makanan mereka kini duduk di taman belakang dengan secangkir kopi.
"Mas, are you okey?" tanyanya
"I'm fine. Why?" ujarnya
"Mas, udah ikhlas?" tanyanya dengan hati-hati
"Ikhlas gak ikhlas harus mas lakukan. Meskipun awalnya itu berat tapi mas coba untuk ikhlaskan semuanya. Mungkin ini udah jalan takdir mas dan mungkin dia bukan yang terbaik untuk mas" ujarnya
"Mas, Haru minta maaf ya" ucapnya
"Kenapa minta maaf?" tanyanya seraya bingung
"Sebenarnya waktu itu pas Haru ngumpul sama teman Haru, enggak sengaja ketemu sama wanita itu jalan sama cowok. Haru kita itu abangnya atau temannya jadi Haru hiraukan. Haru mau bilang ke mas tapi takut mas gak percaya"
"Bukan sekali aja Haru jumpa nya. Yang kedua Haru jumpa lagi sama wanita itu dan lelaki yang sama pas waktu itu juga. Mereka mulai mesra-mesraan jadi Haru mulai curiga, Haru mau samperin ya tapi di tahan sama teman Haru. Terus Haru ngikutin wanita itu sampai rumahnya dan Haru mulai ngerti kalau itu pacarnya"
"Sebenarnya juga waktu itu mau ngomong sama mas, cuma pas Haru lihat mas sangat bahagia karena mau ngelamarnya. Haru gak berani bilang. Haru takut ngerusak kebahagiaan mas lagian kalau Haru kasih tau mas pasti mas gak percaya sama Haru. Jadi Haru putuskan untuk enggak kasih tau mas" ujarnya
"Maaf ya mas" ucapnya dengan penuh penyesalan
"Haru gak perlu minta maaf sama mas. Mungkin betul kata Haru kalau Haru bilang pun sama mas pasti mas gak bakalan percaya. Mungkin dengan mas lihat sendiri perselingkuhan yang dia buat, di situlah mas sadar. Mungkin Tuhan punya caranya sendiri bukan dari Haru tapi dari diri mas sendiri"
"Meskipun awalnya sakit mungkin ini udah jalannya. Lain kali Haru ngomong kalau hal seperti ini meskipun harus merusak kebahagiaan orang"
"Lain kali Haru bakalan bilang meskipun itu berita buruk. Hidup enggak selalu tentang kebahagiaan, dari kesedihan kita belajar kalau hidup itu lebih berwarna jika keduanya ada. Kebahagiaan dan kesedihan" ucapnya
"Benar. udah sana tidur, ini udah larut" ujarnya
"Besok kuliah kan?" Nanti telat pula"
"Mas, tidur sini?" tanyanya
"Iya. Udah sana masuk, mas nanti nyusul" ucapnya
"Ya udah kalau gitu. Malam mas"
"Malam"
Setelah kepergian sang adik sepupunya. Kini dia masih berada di sana, menikmati secangkir kopi yang dia buat tadi dan menikmati semilir angin malam. Sebenarnya ada kekecewaan di matanya, kecewa kenapa sang adik tidak cerita dari awal tapi jika dia bilang dia juga enggak percaya kalau dia tidak lihat sendiri.
Mungkin ini udah takdirnya dan ini juga udah jalan ceritanya, terkadang dia juga ingin menyalahkan takdir tapi di balik itu semua Tuhan punya jalannya sendiri. Yang terlihat baik oleh kita belum tentu terlihat baik oleh Tuhan sebab dia tau mana yang terbaik untuk kita. Jalan kehidupan ini penuh dengan misteri, kita gak tau apa yang terjadi kedepannya. Entah itu kebahagiaan atau kesedihan.
"Benar kata Haru "Hidup enggak selalu tentang kebahagiaan, dari kesedihan kita belajar hidup itu lebih berwarna jika keduanya ada. Kebahagiaan dan kesedihan" tumben itu anak pintar" gumamnya
__ADS_1
Kini malam semakin larut dan lampu-lampu rumah mulai padam.