
Chapter 21 : Naga Malapetaka 2
"Gawat, Raisela masuk lagi ke ruang dimensi ku."
"Ba-baik, kamu hati - hati ya Axell."
"Iya pasti."
Naga itu lebih berbahaya dari yang ku bayangkan, api itu terus membakar tanpa sisa dan lebih besar dari yang tadi, aku harus melakukan sesuatu.
"Demon Magic tingkat 10, Time stops."
Aku memberhentikan waktu di kerajaan Aveldia ini, semua orang pun terlihat seperti patung termasuk Naga itu.
Aku memanfaatkan Sihir pemberhenti waktu ini untuk memadamkan api dan menyelamatkan orang - orang yang berada di sini.
"God Magic tingkat 9, holy light, ...sial tidak mempan."
Sayangnya api hitam itu tidak padam.
Kenapa aku susah payah untuk menyelamatkan Kerajaan ini, tidak.. tidak.. bicara apa aku ini, aku harus menggunakan wujud Dewa ku.
Akupun menggunakan kekuatan wujud Dewa, yang di mana aku memiliki sebuah sayap putih di punggungku.
"God magic, the holy light of the sun."
Aku menggunakan jurus tersebut dan seluruh kerajaan Aveldia di terangi oleh cahaya suci matahari, Api hitam beserta Naga pun lenyap oleh jurus tersebut.
"Akhirnya, aku harus segera mengembalikan waktu dan ke wujud manusiaku."
Semua orang pun kebingungan dengan lenyapnya Naga Malapetaka.
"Apa yang terjadi, di mana naga nya, apa tuan pahlawan yang mengalahkannya ?"
"Tidak aku juga tidak tahu." Aku berpura - pura tidak tahu.
Benar - benar lawan yang merepotkan, sampai - sampai aku harus menggunakan ke 3 wujud kekuatan ini.
Rekanku yang menjalankan misi pun telah kembali.
"Tuan apa yang terjadi ?" Tanya Hydra.
"Ah ada seekor Naga yang mengamuk di Kerajaan ini."
"Terus kemana naga itu, ku dengar naga malapetaka menyerang Kota ini."
"Ya sudah ku kalahkan."
"Tuan memang benar - benar hebat, syukurlah anda baik - baik saja."
"Ya, bagai mana misinya."
"Itu sangat mudah tuan, maaf saya pulang terlambat."
"Ya tidak masalah, kerja bagus kalian berdua."
"Baik tuan." Ucap bersamaan Hydra dan kaila.
"Ngomong - ngomong Siela dan Tie belum pulang juga, aku akan menghubunginya."
Aku menghubungi Siela dan Tie menggunakan Telepati.
"Siela, Tie, apa kalian baik - baik saja."
"Kami baik - baik saja, tapi saat kami dalam perjalanan pulang kami di culik oleh sekelompok bandit."
"A-apa."
"Ada apa tuan." Ucap Hydra.
"Mereka berdua di culik, aku akan segera kesana Siela, tunggu aku."
"Iya Axell."
"Kalian ke Guild saja, aku akan menjemput Siela dan Tie."
"Baik tuanku."
Aku menggunakan shadow untuk berteleportasi ke tempat Siela dan Tie berada.
"Axell."
"Tuanku."
"Ayo kita segera pergi dari sini, sebelum itu aku akan memberi para penjahat ini pelajaran."
"Iya Axel."
"Baik tuan."
__ADS_1
"Oii sampah, kau membuatku marah."
"Bos ada musuh." Orang - orang yang berada di sini panik dan akan menyerangku.
Bos para bandit itu menghampiri ku dan akupun di tusuk dari depan oleh Bos para bandit ini.
"Axelll......"
"Tuann....."
Terdengar suara teriakan kedua temanku yang melihat aku di tusuk.
"Kau kira dengan menusuk jantungku, aku akan mati begitu saja ?" Aku tertawa jahat.
"I-iblis... mo-monster...."
"Kau kira bisa kabur dariku ?"
"Axel, syukurlah kamu tidak mati aku kira kamu sudah ma-" aku memotong perkataan Siela.
"Tenang saja, aku akan segera menyelesaikan ini."
"I-iyaa."
Aku terlalu terbawa emosi, aku harus menenangkan diriku.
Aku menangkap satu persatu penjahat ini dan mengikatnya.
"Iblis... monster.... ibliss..." dia sudah gila.
Akupun kembali ke kerajaan Aveldia dan menyerahkan penjahat - penjahat ini untuk di hukum.
"Axell terimakasih karena telah menyelamatkanku."
"Tuanku terimakasih."
"Iya, itu sudah menjadi kewajibanku untuk menolong rekan ku."
Bandit - bandit itu memanfaatkan keributan untuk menculik orang.
"Ayo kita kembali ke Guild."
"Baik."
"Baik tuanku."
"Tuan pahlawan terimakasih sudah menyelamatkan Kerajaan ini."
"Yaa."
Banyak orang - orang yang berterimakasih kepadaku.
Ada seseoarang yang datang ke guild ini.
Para prajurit kerajaan, sepertinya mereka sedang mencari sesuatu.
"Ada yang bernama tuan Axelle."
"Aku orangnya."
"Yang mulia memanggil anda, ayo ikut kami."
"Ya, kalian tunggu aku ya."
"Iya tuan."
"Iya xel."
Apakah aku akan di beri penghargaan ataukah.
Akupun tiba di Istana kerajaan Alvedia.
Aku sebagai orang yang di undang seorang Raja, tapi tidak ada satupun prajurit yang menyambutku melainkan aku seperti di kawal dan tidak di biarkan kabur.
Sebenarnya ada apa ini.
Akupun di bawa ke hadapan sang Raja, dan Raja itu berkata.
"Perkenalkan namaku Perdo Aveldia Raja ke 19, aku membawa kau kemari hanya ingin bertanya, kau sebenarnya siapa ?"
"Aku manusia."
"Kau tidak bisa membohongiku, di kerajaan ini tidak ada yang bisa menggunakan Sihir cahaya sekuat itu, siapa kau sebenarnya."
"Aku adalah Iblis setengah Manusia dan setengah Dewa."
"Tidak mungkin ada makhluk seperti itu."
"Itu kenyataanya."
__ADS_1
Gawat aku lupa mengeluarkan Raisela dari ruang dimensiku, kuharap dia tidak marah.
"Kamu jahat Axell, aku kesepian tau."
"Maaf, aku lupa."
"Arselia ? Kenapa kamu ada di sini." Ucap Raja.
"Kenalanmu kah."
"Iya dulu aku pernah bertemu dengannya."
"Oh begitu."
"Aku meninggalkan istana untuk berpetualang bersama Axelle." Jawab Arseila kepada Raja.
"Halo Tuan Putri, lama tak jumpa," Nampaknya dia Pangeran, anak seorang Raja.
"Pangeran Pernando rupanya."
"Heii Axelle." Ucap pernando.
"Ya ada apa pangeran."
"Kita duel, yang menang akan mendapatkan Tuan Putri Arselia."
"Berani kau menantangku, baik lah ku terima tantanganmu."
"Axelll... kamu harus menang aku gak mau tahu." Ucap Arselia yang mengembungkan pipinya, itu terlihat imut.
"Baik tuan putri."
aku tidak akan menyerahkan Arselia kepada siapapun.
Aku dan si pengaran bodoh pun ke lapangan bertarung yang berada di kerajaan.
"Kan ku beri kau kemudahan."
"Kemudahan katamu."
"Aku tidak akan melangkah sedikitpun dan hanya menggunakan satu tangan kiriku."
"Kau terlalu sombong Axelle," ucap pangeran Pernando dan menambahkan kata.
"Terima ini."
Pangeran bodoh itu menyerangku dan aku meangkis pedangnya, level berpedang nya masih terbilang rendah.
Aku mengayunkan pedangku dan membuat pedang pangeran bodoh terbang dan terpental, akupun menang.
"Sial, kenapa kau sehebat itu."
Jawabanku hanya satu, "Latihan."
"Guru."
"Guru ?"
"Aku ingin belajar berpedang kepadamu Axell."
"Baiklah ku terima, tapi bayarannya mahal lo."
"Itu tidak masalah."
"Baik lah ku terima kau menjadi murid ku.
"Pertarungan ini di menangkan oleh Axelle." mendengar pernyataan dari wasit, Arselia berlari ke arahku dan memelukku.
"Arselia ?"
"Biarkan aku memelukmu."
"Ba-baiklah."
Jadi begini rasanya di peluk seoarang wanita itu, sungguh nyaman, kehangatan ini seakan aku tidak mau melepasnya, dia terlalu erat memelukku.
Dia terlihat sangat bahagia dengan kemenanganku, nampaknya dia sangat menyayangiku.
kalau di lihat begini dia seperti gadis yang tidak berdaya, aku ingin memberikan sedikit kekuatanku kepadanya.
akupun menyentuh kepalanya dan mengalirkan energi sihir yang bisa mengeluarkan 5 elemen sihir.
"Axell ?"
"Rambutmu begitu lembut dan halus, aku jadi ingin mengelusnya."
"Benarkah, ......sudah, kamu terlalu lama mengelusnya, kita di depan banyak orang loh, Raja juga di sini."
"Baik baik."
__ADS_1