
Chapter 06 : Belajar membuat Potion
"Ini rumah aku Azazel."
"Wah... Rumah kamu bagus ya."
"Hehe... ayo kita masuk, di dalam ada ibuku."
"Iya."
Dan setelah aku masuk untuk menemui ibunya Freya, Freya sangat mirip sekali dengan ibunya dengan berambut Biru nya, bedanya rambut ibunya sudah berwarna biru tua, kalau Freya berwarna biru muda.
"Ibu, aku pulang."
"Kamu sudah mencari tanaman yang ibu suruh."
"Sudah bu."
"Bawa ke sini."
"Iya bu."
"Itu siapa Frey, jangan-jangan pacar kamu."
"Ah, itu teman aku namanya Azazel, dia yang menyelamatkan ku dari para goblin bu."
"Astaga jadi dia, menikah aja ya sama anak ku."
"Ibuu..." Freya yang berteriak dengan mukanya yang memerah.
"Terimakasih ya sudah menyelamatkan anak ku, mungkin kalau tidak ada kamu anaku sudah..." Ibunya Freya berlinang air mata, dan aku memotong perkataanya.
"Iya tante sama-sama, kebetulan aku mengambil Misi membersihkan para Goblin."
Tante itupun menghapus air matanya dan menyuruh aku duduk di kursi, dan aku pun di suguhkan segelas Teh hangat.
"Terimakasih ya tante." Setelah itu aku menyeruput teh yang hangat ini, dan rasanya sungguh nikmat, baru pertama kali aku meminum teh senikmat ini.
__ADS_1
"Syukurlah kamu menyukainya, Freya temanin dulu Tuan Azazel nya, biar ibu yang membuat Potionnya."
"Iya bu." Freya pun menghampiriku dengan sedikit malu.
"Maaf ya ibuku orangnya emang begitu."
"Ah, tidak apa frey, aku jadi teringat ibuku, baru aja beberapa hari, hahaha..." aku yang tertawa kecil sembari meminum teh yang nikmat ini.
"Kenapa kamu meninggalkan rumah Azazel."
"Panggil aku Zel aja atau apalah Azazel kepanjangan."
"Kalau begitu Azel aja ya."
"Nah itu baru enak dengernya ga ribet."
"Aku meninggkalkan rumah karena aku ingin berpetualang, ingin bebas aja aku gamau terus berada di rumah."
"Oh begitu, kamu pasti bangsawan, setiap bangsawan pasti memiliki Energi sihir yang berlimpah, contohnya kamu, kamu 2 hari berada di kota aja sudah sepopuler itu."
"Hehehe, begitulah." Aku cuma bisa tertawa kecil, dan aku tidak tahu lagi harus berkata apa.
"Udah cukup, aku kesinikan ingin melihat sekaligus belajar cara membuat Potion."
"Kalau begitu ayo kita ke ruang membuat potionnya."
"Ayo."
Setelah aku memasuki ruangan pembuat potion, di ruangan ini ada banyak sekali berbagai macam tanaman yang tentunya aku tidak tahu apa nama tanaman tersebut.
"Ibu."
"Iya ada apa Frey."
"Azazel mau belajar menbuat potion."
"Wah sini-sini." Ibu freya pun sangat bersemangat karena mengajariku membuat potion.
__ADS_1
Akupun menghampiri ibunya Freya.
"Pertama kita membuat Potion penyembuh." Dan aku pun di ajari cara membuat potion dari daun dan kegunaannya, aku pun belajar banyak dari ibunya Freya."
"Wah... kamu hebat Azazel, dalam 2 jam kamu sudah menguasai berbagai macam cara membuat potion."
"Ehehehe." Aku hanya bisa tertawa kecil sebai jawabannya.
Freya hanya bisa melihat, terbingung dan terheran-heran, tanpa berkata satu kata pun, ibunya bilang ia bahkan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk belajar membuat berbagai macam Potion.
Karena sudah sore akupun berpamitan kepada ibu freya dan freya untuk menyewa tempat penginapan.
Akupun menggunakan Telepati untuk menghubungi kedua pengawalku bahwa aku akan kembali dan menyuruh mereka untuk menyewa tempat penginapan.
Telepati adalah kemampuan untuk berkomunikasi atau saling menukarkan informasi dengan orang lain tanpa menggunakan indra.
"Selamat datang di penginapan... wah Tuan Azazel rupanya, selamat datang tuan Azazel." Dia adalah Demihuman, seorang manusia setengah kucing berambut pendek berwarna putih, ia sepertinya penjaga dari tempat ini.
"Ada dua orang aneh kesini ?"
"Mungkin maksud anda Tuan Bruz dan Tuan Kiero."
"Iya itu, tapi tolong jangan panggil mereka dengan sebutan tuan."
"Baik lah kalau begitu tuan Azazel, tadi mereka sudah memesan kamar untuk anda, ini kunci kamarnya."
Akupun mengambil kunci kamar dan aku langsung masuk ke kamar.
"Bruz, Kiero, kau di situ." Mereka berdua menggunakan bayanganku untuk bersembunyi, itu salah satu tekhnik Iblis yang bernama Shadow (bayangan) dengan shadow aku bisa bersembunyi di mana pun kapanpun, simpelnya seperti teleportasi antar bayangan.
"Iya kami di sini pangeran Azazel."
"Berapa uang yang kita dapat dari misi Guild kemarin."
"Jumlahnya begitu banyak pangeran Azazel."
"Simpan saja, buat kebutuhan sehari-hari kita bertiga."
__ADS_1
"Baik pangeran Azazel." Ucap Bruz, seperti biasa Kiero terdiam dan menundukan kepalanya, seakan tidak berani berhadapan denganku, mungkin ia takut dengan kemampuanku yang melebihi Maou (Raja Iblis)
Setelah sekian banyak mengobrol aku pun menyuruh mereka berdua untuk mengawasi Kota ini, aku merasakan Aura yang tidak biasa mungkin ada orang jahat atau iblis jahat, aku pun menggunakan pengawalku untuk mengawasi Kota Rabla ini. Aku yang mengantuk akupun langsung tertidur.