
Chapter 30 : Perdamaian
Deus berkata,
"Berlutut lah, kalian sedang di hadapan yang mulia Raja Iblis,"
Seketika semua bawahannya Deus berlutut kepadaku.
"Deus, kuucapkan terimakasih karena telah mengumpulkan banyak prajurit untuk Kastil ini,"
"Tidak tuanku, itu sudah menjadi kewajiban saya."
"Ya, siapa iblis yang ada di samping mu itu,"
"Ah.. mereka bawahan saya yang terkuat. Perkenalkan diri kalian,"
"Baik tuan Asmodeus,"
"Jangan panggil aku Asmodeus, panggil aku Deus."
"Baik tuan Deus. Tuan Raja Iblis, ijinkan saya memperkanalkan diri saya,"
"Ya, kuijinkan."
"Terimakasih. Nama saya Devil,"
"Saya Devila,"
Mereka berdua memperkenalkan dirinya.
Devil dan Devila kah, mereka terlihat mengerikan,
"Devil, Devila."
"Baik, tuan Raja Iblis."
"Kalian berdua akan ku jadikan sebagai Spy, tugas kalian adalah mengawasi, dan melapor."
"Spy, saya menerimanya dengan senang hati, saya akan berusaha sekeras mungkin."
Mereka sangat kompak, di lihat dari manapun mereka sangat mirip, adik kakak kah.
"Ya. Untuk yang lainnya, silahkan gabung ke pasukan 3 Jenderal Dewa Iblis."
Hydra dan Kaila, mereka berdua sekarang mempunyai bawahan.
Aku merasakan energi sihir yang tidak asing.
"Deus,"
"Baik Tuanku," ketika ku sebut namanya, Deus langsung menuju ke arah energi sihir itu berada, energi sihir yang tidak asing bagiku.
Aku pun menyusul Deus, terlihat Gerbang teleportasi yang di mana itu adalah gerbang menuju ke Dunia bawah, dunianya para Iblis, seseorang keluar dari gerbang tersebut, yang keluar dari sana adalah Azazel, ya Azazel, anaknya Lucifer.
"Deus, tidak usah waspada,"
"Baik tuanku,"
"Azazel, ada perlu apa sampai mebawamu kemari," ucapku.
"Axelle," dia hanya menyebut namaku, untuk sekarang aku suruh mereka masuk ke dalam kastil terlebih dahulu.
"Mari masuk, tidak enak kalau mengobrol di sini,"
Kami semua masuk kembali ke dalam Kastil, kami berkumpul di ruangan tahta, dan aku duduk di singga sana.
__ADS_1
Azazel, Vela, Lamia, beserta prajurit yang dia bawa, mereka semua berlutut kepadaku.
"Ada apa Azazel ?" Rasanya aneh menyebut nama Azazel, karena nama itu sudah seperti melekat dalam diriku.
"Maafkan ayahku, karena ayahku sudah membuat bencana bagi dunia ini,"
"Kau tidak perlu berminta maaf Azel," karena terlalu ribet namanya jadi kusingkat saja menjadi Azel.
"Tapi ayah-," aku memotong perkataannya.
"Sudah lupakan, Ayahmu masih hidup, tapi dia tidak ada di dunia ini, maupun di dunia bawah."
"Begitu ya, ternyata ayahku masih hidup," mendengar perkataanku, Azazel, ibunya, maupun adiknya sekarang terlihat tenang dan merasa lega.
"Iya,"
"Dengan tidak adanya Ayahku. Aku sekarang adalah Raja Iblis di dunia bawah." ucap Azazel.
"Jadi sekarang kau adalah Raja Iblis kah, kau kemari bukan hanya membahas Lucifer kan,"
Azazel pun berdiri.
"Ya... aku kemari untuk menyatakan Iblis dan manusia berdamai. Atas nama Raja Iblis dari dunia bawah, Aku Azazel, menyatakan perdamaian bagi umat Manusia.
Aku pun berdiri.
"Atas nama Dewa dan Raja dari segala Raja Iblis, Aku Axelle, menyetujui permintaan perdamaian ini,"
kami saling berjabat tangan, dengan berjabat tangan, kini dunia manusia ini telah di nyatakan damai.
Suara tepuk tangan pun terdengar.
"Malam ini kita berpesta,"
"Haaa......"
"Arselia, Freya, Vera, Siela,"
"Iya, ada apa Axell," mereka menjawabnya dengan kompak.
"Mau berdansa dengan ku ?" Yang menerima tawaranku terlebih dahulu ialah Vera.
Kami berdua berdansa, semua orang yang berada di sini memperhatikan kami.
"Vera, hari ini kamu terlihat sangat cantik,"
"Axel terimakasih," Vera sangat amat cantik, dengan gaunnya yang berwarna merah, rambut long curls yang berwarna merah, serta mata merahnya yang sedikit bersinar, itu terlihat sangat indah.
"Selanjutnya siapa ?" Tanyaku kepada ke tiga gadis, yang menjawabnya adalah Arselia.
"Aku,"
Kami berdua berdansa.
Kenapa aku bisa berdansa ? Entah kenapa aku merasa bisa berdansa, mungkin berkat kemampuan Deus yang aku salin.
"Arselia, kamu sangat imut dan cantik sekali,"
"Axel, kamu juga keren hari ini," Aku memegang tangannya, tangan Arselia sangat lembut dan halus. Arselia Putri serba putih, gaunnya yang berwarna putih, rambut sebahu nya yang berwarna putih, dia bersinar seperti cahaya, dan terlihat sangat imut sekali.
Terdengar suara tepuk tangan dari orang - orang yang berada di sini,
Malam pun berlalu, di pagi harinya, kami berkumpul di meja makan untuk sarapan, setelah itu, aku menuju ke ruang tahta dan duduk di singga sana, Freya, Vera, Arselia dan Siela, mereka berdiri di sebelah kanan kiriku.
Azazel beserta keluarganya masuk ke ruang tahta, mereka berlutut dan menundukan kepalanya kepadaku,
__ADS_1
"Angkat kepala kalian,"
"Baik..."
"Azazel, ibuku, dan Adiku Lamia, mau bagai manapun, kalian adalah keluargaku. Terimakasih ibunda, dan adikku sudah menemaniku selama 5 tahun,
"Axell, kamu benar-benar anak yang baik hati, kamu bahkan tidak menyimpan dendam pada kami," ucap ibunda.
"Ibunda, tidak. Aku tidak menyimpan dendam sama sekali pada kalian, malahan aku senang kalian datang dan berkunjung kemari,"
"A-aku boleh memanggil kamu dengan kakak," ucap manis dan malu-malu Lamia.
"Lamia, boleh kok," aku tersenyum ke arahnya, dia yang melihat senyumanku menunduk dengan wajahnya yang memerah.
"Te-terimakasih kakak,"
"Sama - sama," sama-sama kah, sudah berapa lama aku tidak mengucapkan itu.
Setelah itu, merekapun kembali ke dunia bawah, dunia kegelapan yang di penuhi para Iblis.
Aku dan gadis-gadis, beserta Jenderal dan prajurit kerajaan menyambut kepergian mereka.
Setelah itu, aku kembali ke ruang tahta dan duduk di singga sana, sebagai seorang Raja Iblis, penguasa Katil, pemilik Kastil, yang membuat Kastil ini, aku memimpin mereka semua yang ada di sini.
"Deus, Hydra, Kaila,"
"Baik tuanku,"
"Perintahkan bawahan kalian untuk menjaga di setiap lantai kastil ini,"
"Siap laksanakan Tuanku," ucap kompak meteka bertiga.
Yang tersisa di ruang tahta adalah ke empat gadis-gadis ini.
"Huh... capek juga ya jadi seorang Raja itu,"
"Nanti juga terbiasa Axel," ucap Vera.
"Biar aku ajarkan cara menjadi Raja," Ucap Arselia.
"Ho... akan ku dengar saran dari Putri kucing putih,"
"Ku-kucing putih." Arselia mengembungkan pipinya itu terlihat sangat imut sekali.
"Ah maksudku, Tuan putri.
Para gadis tertawa dengan itu.
Sudah berapa lama aku berada di dunia ini, terlalu banyak masalah menghampiri, jadi sampai lupa. Sekarang hari apa juga aku tidak tahu.
Aku bertanya kepada para gadis.
"Sekarang hari apa ?"
"Hari minggu," ucap kompak mereka.
"Minggu kah, ku harap kita terus bersama selamanya," ucapku sambil menatap langit-langit, dan mereka menjawab mengiyakan.
"I-iya,"
Untuk sekarang, masih belum ada manusia yang berkunjung ke kastil ini, mungkin kedepannya akan ada yang berkunjung, misalkan ada, akan sedikit ku uji mereka,
Dunia ini sudah damai. Dewa Artemis saya sudah mengalahkan Lucifer, tapi dia masih hidup, entah kapan dia akan menghancurkan kembali dunia ini, sebelum itu terjadi aku harus menghentikannya kembali, dan menyelamatkan dunia ini kembali.
---------------------------TAMAT-------------------------------
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca novel ini sampai akhir, untuk kedepannya mohon dukungannya. Sekian Terima kasih.
Raza Alfz.