Aku Bereinkarnasi Menjadi Putra Raja Iblis

Aku Bereinkarnasi Menjadi Putra Raja Iblis
Janji Kita


__ADS_3

Chapter 08 : Janji Kita


Aku pun terbangun setelah tidur cukup lama karena kelelahan, hari pun berganti pagi, aku yang tadinya tidur di bawah, tiba-tiba berada di kasur, mungkin di pindahkan oleh si Bruz.


Dalam mode manusia ini mana ku terbatas, menggunakan Sihir berlevel menengah saja sudah membuat ku kelelahan, kalau begini aku harus membatasi menggunakan sihir berlevel menengah, waktu aku ke wujud Iblis ku, rasanya kekuatan sihir dan mana ku sangat berlimpah, apa mana ku tersegel dalam wujud manusia ini.


Selagi memikirkan itu, Bruz pun mengetuk pintu dan membukanya.


'Pangeran Azazel, anda sudah bangun."


"Ya aku sudah bangun."


"Selamat pagi tuan Azazel."


"Selamat pagi, bagai mana keadaannya Kiero."


"Kiero baik-baik saja, dia sudah bisa bergerak."


"Syukurlah."


"Ia sedang menyiapkan sarapan, sebentar lagi siap."


"Astaga, baru saja sembuh."


"Dia memang begitu orangnya, pangeran, untuk sekarang anda cuci tangan dan muka dulu.


"Iya iya."


Setelah sarapan aku, Bruz, dan kiero pun kembali ke Kota dan saat ingin ke kota Warga desa pun berkumpul untuk mengucapkan terimakasih dan menyambut kepergian kami bertiga yang kembali ke Kota.


Selagi berjalan kaki kami pun mengobrol.


"Bruz, Kiero."


"Iya, ada apa Pangeran." Ucap bersamaan Bruz dan Kiero.


"Kita sudah berapa lama di Kota Rabla."


"Mungkin sudah sekitar satu minggu, saya tidak pandai menghitung hari, Kiero kira-kira sudah berapa hari."


"Emm saya rasa baru 6 hari."


"6 hari kah, kita pergi dari kota Rabla besok, aku sih ingin ke kerajaan yang berada di sebelah Utara."


"Mungkin maksud anda Kerajaan Gellra." Ucap Bruz."


"Kerajaan Gellra, kalau tidak salah kerajaan itu di penuhi Demihuman." Ucap Kiero.


"Ho... kerajaan Setengah manusia kah, Kita bunuh semua yang ada di sana dan..."


Akupun memasang Muka menyeramkan.


"Pangeran Azazel." Ucap Bruz yang bingung karena sikap ku tiba-tiba berubah.


"Ah.. maaf, aku cuma bercanda."


"Syukurlah anda baik-baik saja."


Kiero hanya terdiam, ia terlihat sangat ketakutan sekali, waktu aku memasang wajah seram.


"Ta-tapi kenapa anda ingin ke kerajaan tersebut." Ucap Kiero.


"Hmm.. kenapa ya, gatau kenapa seakan kegelapan mengajakku untuk ke sana."


"Pangeran, pangeran Aneh." Ucap Bruz.


"Bruz kau tidak sopan." Ucap kiero yang membentak Bruz.


"Maafkan saya Pangeran Azazel, saya hanya merasa anda sedikit berubah, setelah anda berubah ke wujud Iblis kemarin.


"Iya ku maafkan, lupakan soal itu ayo kita kembali ke Kota." Akupun berusaha mengubah suasana.

__ADS_1


Emosi aku tidak bisa di kontrol, mungkin ini epek setalah aku kembali ke wujud Iblis ku, kalau terus begini Sifat kemanusiaan ku akan hilang termakan oleh kegelapan, itu tidak boleh terjadi.


Singkat cerita, akupun sampai di Kota Rabla, yang di mana para penduduk dan para petualang nya sangat menghormatiku, akan ku ingat selalu kota yang begitu damai ini.


Aku juga akan menulis petualanganku di buku harian ah, Kota pertama Kota Rabla selanjutnya Kerajaan Gellra kah, untuk sekarang aku ingin ke guild dulu, setelah itu membeli buku kosong.


Aku pun tiba di Guild


"Oii para orang Bodoh."


"Tuan Azazel rupanya, Tuan mau minum ? Saya traktir." Ucap petualang.


"Wah, terimakasih dengan senang hati aku terima."


Dan akupun di kelilingi oleh banyak orang dan di tawari makanan gratis.


Lumayan, hemat uang. Haha.


Setelah kenyang dan mengambil bayaran dari Guild, akupun mengunjungi rumah Freya untuk memberi tahu bahwa aku akan pergi dari kota ini untuk selamanya, gak selamanya si, mungkin suatu saat aku akan ke sini lagi.


"Frey, Freya." Akupun mengetok pintu sembari memanggil Freya.


"Azazel... kamu sudah pulang," ucap Freya yang tersenyum manis, kalau aku ngomong sekarang mungkin dia akan menangis, nanti saja lah.


"Iya sudah, tadi aku ke guild dulu."


"Begitu ya, ayo masuk."


"Teh panasnya 1 ya."


"Baik, Ibuu.. ada Azazel."


Aku ingin merasakan kenikmatan teh untuk terakhir kalinya, ngomong-ngomong aku belum melihat ayahnya Freya, apa ia kerja atau kenapa ya.


"Selamat siang Azazel, mari duduk." Ucap ibunya Freya.


"Ah.. iya, selamat siang juga bibi."


"Tidak bibi, aku hanya mampir."


"Begitu ya."


"Iya."


"Ngomong-ngomong, Ayahnya Freya kemana." Semoga aku tidak merusak suasana.


"Suamiku ya, dia berada di Kerajaan Gellra, ia Ksatria dari kerajaan Gellra."


"Ksatria ?"


"Iya, dia di angkat menjadi Ksatria karena menyelamatkan seoarang Putri kerajaan."


"Begitu ya."


Ku kira ayahnya Freya sudah tiada, aku salah sangka, ternyata ia adalah kesatria kerajaan yang ingin ku kunjungi.


"Iya, dia pahlawan dari kota ini."


"Pahlawan ?"


"13 Tahun yang lalu, Raja Iblis Lucifer menyatakan perang ke dunia ini, Dan saat itu kegelapan menyelimuti dunia, Raja Iblis berhasil menghancurkan 1 Kerajaan, dan setelah ia menghancurkan kerajaan, Raja iblis beserta pasukannya menghilang entah kemana, yang tersisa hanyalah Monster-monster yang mengamuk, salah satu monster itu mengamuk di Kota ini, tapi monster itupun tumbang oleh suamiku Afard.


Aku baru dengar cerita ini, mungkin dia menemukan seorang wanita cantik yang tak lain itu adalah ibunda, mungkin saja ibunda menyerahkan dirinya karena ibunda cantik Ayahanda pun tertarik dan membawanya ke kastil dan menikah, begitu mungkin, mungkin aku belum tahu kebenarannya.


"Suami bibi hebat ya."


"Iya dia hebat sekali." Ia terlihat sangat senang, pastinya bangga mempunyai seseorang yang hebat.


"Ini teh nya Azel." Ucap Freya.


"Ahh, terimakasih, Teh ini kenikmatannya tidak berkurang, tapi rasanya lebih enak buatan kamu frey." Aku mencoba menggodanya.

__ADS_1


"Kamu bisa aja." Ucap ia yang mengalihkan pandangan dan wajahnya memerah.


"Wah wah, berduaan aja ya, ibu mau membuat Potion."


Kabur dia, berduaan deh jadinya.


"Frey, aku ingin bicara."


"Iya, mau bicara apa." Seketika ia langsung menengok ke arahku.


"Aku... mauu... meninggalkan kota ini."


"Apa, meninggalkan maksud kamu tidak akan ke sini lagi ?"


"Iya itu."


"Ta-tapi kenapa." Ucapnya yang terlihat sedih dan ingin menangis.


"Aku mau melanjutkan perjalananku."


"...."


"Nanti aku akan ke sini lagi kok."


"Sungguh." Freya yang tadinya terlihat sedih sekarang menjadi senang.


"Iya aku janji kok."


"Janji ya."


"Iya aku janji suatu saat aku pasti akan ke Kota Rabla ini."


Ia wanita yang kuat, meski terlihat ia ingin ikut bersamaku tapi ia menolaknya, mungkin dalam pikirannya kalau aku ikut bersama Azazel nanti ibu tidak ada yang membantunya membuat Potion.


"Akan ku tunggu kapanpun itu, aku berhutang nyawa padamu."


"Iya Frey, terimakasih."


"Sama-sama."


Di kebidupanku sebelumnya aku mati karena tertabrak oleh mobil. Aku tidak bisa membiarkan orang dalam bahaya walaupun nyawa taruhannya, akan aku menolong nya selagi bisa. Itulah kehidupanku di dunia sebelumnya.


"Mau nambah teh nya ?"


"Ah.. udah cukup, minum teh sambil meliihat senyumanmu memang terbaik."


"Kamu ini, aku orangnya gak gampang di goda loh."


Gak gampang di mana, itu muka merah, terus menunduk pula.


"Hohh... begitu ya."


"Kamu mengejek ku ya."


"Haha, abisnya lucu kalau kamu ngambek."


"Kamu ini, kalau kamu terus begitu bisa-bisa aku tidak bisa melupakanmu."


Aku harus menjaga kata-kata agar tidak menyakitinya.


"Maaf, anggap aja ini kenang-kenangan."


"Bo-bodoh." Freya pun berlinang air mata, dan menambahkan kata.


"Kalau kamu tidak ada pas aku di tengah hutan, mungkin aku sudah mati, aku hanya bersikap kuat tapi aku tidak bisa menahan air mataku, tolong jangan pergi Azazel, kalau kamu tetap ingin pergi tolong bawa aku ke dalam perjalanan mu.


Akupun mendekat dan menghapus air matanya Freya.


"Maaf frey, aku tidak bisa membawamu, kalau aku mau, aku bisa berangkat kapanpun, tapi aku tidak bisa sekejam itu, bahkan orang-orang dari kota ini mengenali aku semua, sedikit berat bagi aku untuk meninggalkan kota ini.


"Apa boleh buat, tapi kamu harus janji ya kamu akan ke kota ini lagi." Freya pun kembali ke dirinya yang ceria.

__ADS_1


"Iya aku janji kok."


__ADS_2