
Pesta itu akan diselenggarakan di kantorku, di sebuah hotel berbintang lima, tepat di ballroom mini hotel di lantai dasar hotel berlantai lima belas ini. Sebuah perayaan atas totalitas, loyalitas dan integritas yang diberikan para karyawan hotel. Sebuah usaha untuk memicu karyawan menunjukkan hasil terbaik yang bisa diberikan untuk perusahaan.
Jelas salah satu penghargaan bergengsi itu akan jatuh kepadaku. Mungkin itu terdengar sombong jika kau belum mengenal siapa aku. Aku telah mendengar desas-desus itu jauh jauh hari sebelum perayaan ini dilakukan dari balik dinding-dinding hati para pengambil keputusan. Aku masih disibukkan dengan kegiatan memastikan kenyamanan para tamu hotel diantara suara berisik yang menghantam gendang telingaku.
Aku tidak tahu apa ini sebuah kelebihan atau kutukan. Duniaku adalah sebuah kebisingan yang nyata. Suara-suara tak henti yang berteriak diam-diam dan seharusnya milik pribadi itu bergema nyaring di telingaku. Namun aku telah hidup nyaris dua puluh tahun dengan kemampuan ini.
Aku benci harus bekerja malam ini.
Suara itu terdengar bagai keluhan yang disuarakan secara bersamaan oleh para pegawai hotel di seluruh ruangan yang aku lintasi dari lobby hingga di balik lantai-lantai kamar.
Maaf, Will, aku tidak bisa menunggumu mencapai jabatan General manager aku akan keburu menua dan meninggal jika menunggumu, kau tidak bergerak dari posisimu di tiga tahun yang lalu- cuma staff di training departemen sementara Papaku sudah memintaku untuk menikahi putra sahabatnya.
Bagaimana aku harus mengatakannya?
Seseorang muncul di hadapanku dan menyapaku.
"Malam, Manager, Li. Kau bahkan belum bersiap untuk berpesta?" Willy, dari training departemen muncul di hadapanku dengan penampilannya yang telah sempurna seperti hari biasanya. Stelan resmi dengan jas hitam dengan kemeja putih dan sebuah dasi bergantung apik di lehernya. Dia hanya merubah sedikit tata rambutnya yang biasanya tertata apik bak eksekutif muda kalem dengan belahan rambut ke kanan kini sedikit jingkrak ke atas dengan minyak rambut berlebihan, jelas ingin nampak lebih sempurna dari yang lain.
Seorang wanita ada di gandengannya. Cantik dan nampak berkelas.
Ini adalah pesta terakhirku bersamamu. Maaf, Will aku harus mengakhiri hubungan kita. Papa memintaku menikah dengan putra sahabatnya.
Aku menyadari suara itu berasal dari wanita yang kini ada di hadapanku. Tak ada kata yang terucap dari bibirnya. Jadi ini jelas adalah suara hatinya.
"Manager, Li. Kau diam saja?" Willy menyentakkanku. Aku menatap wajah tampannya dan mencoba melempar senyum. Kelu. Membayangkan bahwa sesaat lagi mungkin senyum indah yang terpatri di wajahnya itu akan berubah jadi tangisan duka.
"Kau tahu aku tinggal di sini dan tidak perlu waktu lama untuk bersiap-siap." Aku berbasa-basi.
Aku tahu dia antusias pada acara itu. Semua orang juga begitu. Mereka pulang lebih cepat untuk persiapan diri. Yang shif malam mungkin merasa tidak beruntung. Yah, walaupun mereka tetap akan mendapatkan makanan pesta, tapi tidak bisa menghadiri party itu bukan hal yang menyenangkan.
"Kekasihmu?" Aku menatap wanita itu yang segera melepaskan senyumannya yang anggun dan berkelas padaku. Matanya menatap bet nama di seragam yang aku kenakan saat kami bersalaman.
__ADS_1
Andai jabatanmu seperti wanita ini mungkin aku bisa membujuk Papa.
Dia berkata-kata lagi. Maksudku hatinya.
"Rania Dipraja." Dia menyebut namanya. Nama belakangnya jelas menunjukkan siapa keluarga besarnya. Papanya pengusaha ekspor impor kayu yang juga kini menjadi pemilik dari beberapa ribu lembar saham hotel ini. Ah, aku menyadari kemungkinan besar Willy sama seperti pegawai hotel lainnya bahkan tidak menyadari perubahan susunan kepemilikan saham terbaru.
"Kekasihku cantikkan, Manager?" Willy merangkul pundak wanita itu dan menghadiahinya sebuah kecupan kejutan di pipinya dan membuat wanita itu sedikit protes. " Tidak perlu malu. Manager Li orang yang sangat pengertian." Dan dia menambahkan: " Aku punya kejutan buatmu."
"Apa?"
Tawa Willy terlihat. Wajahnya yang tampan tampak makin tampan. "Rahasia," dia berbisik jahil. Matanya melirik nakal.
Bersabarlah untuk beberapa saat, Sayang. Hanya untuk beberapa saat lagi karena aku akan melamarmu hari ini di depan seluruh teman-teman dan pimpinan hotel. Ini akan jadi hari yang tidak akan terlupakan bagi kita.
Bagaimana aku menggambarkan Willy saat ini. Miris. Betapa aku berniat memberitahunya bahwa terkadang awal yang indah tidak selalu berakhir dengan indah juga. Namun dia telah berlalu mendapati rekan-rekan lain yang telah muncul dari ambang pintu lobby hotel. Dia melambaikan tangan saat aku masih menimbang-nimbang baik dan buruk.
***
Pesta dimulai cukup molor dari waktu yang ditetapkan untuk menunggu perwakilan pemegang saham, jadi aku tidak benar-benar terlambat menghadiri acara ini.
Dua ratus orang tamu ada di ruangan itu, duduk di sekeliling meja beralas kain putih halus yang menambahkan kesan berkelas pada acara ini. Dekorasi bernuansa Aurora terlihat menceriakan suasana.
Sebuah band ternama langganan hotel tengah bermain di atas panggung dengan antusias lalu acara dimulai dengan kata sambutan dari dari General Manager. Semua memberikan tepuk tangan riuh.
"Terima kasih untuk semua kerja keras dan loyalitas yang kalian berikan hingga hotel ini meraih peringkat hotel berbintang lima." Suara General Manager berbenturan dengan suara-suara lain di sekitarku, menimbulkan kebisingan yang nyata. Selalu butuh ekstra konsentrasi untukku bisa memusatkan pikiran pada satu pilihan apa yang ingin aku dengar. Dan mungkin karena pidato itu tak terlalu menggugah minatku, aku membiarkan suara-suara itu menerjang pendengaranku.
Aku benci pesta.
Seseorang di pesta ini mengatakan hal yang sama dengan yang kurasakan walaupun jelas karena alasan yang berbeda. Terkurung dalam suatu ruangan dengan beratus orang bukan hal yang menyenangkan untukku. Ucapan dari bibir mereka membombardir diriku ditambah lagi dengan isi pikiran mereka, itu sangat melelahkan.
Akuntan. Akuntan tua yang membosankan itulah dirimu. Bergeraklah ke salah satu tamu. Sapalah Michael... sepertinya dia selalu melirikmu. Mungkin dia juga menyukaimu atau jika tidak sapalah siapa saja lalu mungkin kau tidak akan menikmati masa tuamu sendirian.
__ADS_1
Itu suara Risa, dari finance departemen. Mungkin dia terlalu putus asa pada kesendirian.
Waou, dari mana Helen mendapatkan pria kaya dan tampan itu? Apa itu kekasihnya? Mereka tidak terlihat cocok satu sama lain. Mata pria itu mungkin rabun atau Helen memakai jampi-jampi hingga pria itu mau padanya. Pria itu terlihat lebih cocok jika bersamaku.
Itu suara Kayla dari marketing departemen yang sedang mengomentari sahabatnya sendiri Helena dari departemen yang sama dengannya.
"Aku ingin kalian mendengar satu dua patah kata dari perwakilan pemegang saham, tapi berhubung mereka belum datang, mungkin ada baiknya kita mulai dengan acara lain. Mencicipi hidangan." GM akhirnya menutup pidatonya dengan kalimat paling ditunggu semua orang.
Suara yang paling menyenangkan terdengar dalam fase ini. Sorakan senang yang kemudian diwarnai dengan bergeraknya semua orang dari meja masing-masing menuju meja etalase makanan.
Aku memilih melangkah menuju tumpukan gelas cocktail, meraih satu yang teratas saat sebuah perasaan lain menerjangku.
Aku hamil.
"Tes..tes.." Willy mengambil mikrofon dari atas panggung dan membuat seluruh mata kini menatapnya saat dia telah berdiri di sisi mejanya dan bersujud di depan kekasihnya. Pemain band memutarkan sebuah lagu manis dari Glenn Fredly yang judulnya : Menikahlah denganku. Beberapa rekan bersiul untuk keberaniannya.
Kau seorang wanita dewasa.
"Rania Dipraja, terima kasih untuk semua hari yang kita lewati. Terima kasih untuk cintamu. Sekarang aku mau melewati seluruh hariku bersamamu. Maukah kau menikah denganku?"
Lupakanlah.
Karena kita tidak akan menjalaninya bersama.
Ketakutan dan kesedihan menghujamku dan mengguncangku. Keringat membanjiriku dan aku menggigil, bahkan menarik nafas pun terasa begitu sulit. Dadaku sakit dan sesak. Aku tahu aku mendapatkan sebuah bakat aneh untuk mendengar suara hati setiap orang yang ada di sekitarku, tapi aku tidak tahu jelas apa perasaan ini.
"Maaf, tapi Rania Dipraja dilahirkan untuk menikah denganku." Seorang pria gagah dengan stelan necis dan maskulin muncul begitu saja mengejutkan semua orang. Pak Rahardika Raharja, salah satu komisaris utama hotel kini menggenggam erat tangan Rania Dipraja. Tepat di sisi lain Pak Raharja dan isterinya serta Pak Dipraja dan isterinya berdiri menatap tajam ke seluruh penjuru ruangan.
Tubuh Willy terhuyung. Shock.
Tubuhku bahkan terhuyung lebih hebat lagi walau karena alasan yang berbeda dan membuatku menyenggol seluruh tumpukan gelas cocktail yang bersusun bak piramida itu. Gelas itu pecah tepat saat sesosok tubuh melayang dari atas dan jatuh dengan suara yang sangat keras tepat di sisi dinding kaca ballroom mini yang kami gunakan buat berpesta.
__ADS_1
"Aaaarggggh!" suara pekikan ketakutan terdengar dari mulut rekan-rekanku dan keluarga mereka.
Pesta itu berubah menjadi kepanikan.