
Aku mempelototi layar televisiku. Seorang wanita cantik dengan jas hitamnya nampak bersemangat membacakan berita pagi.
"Nyaris pada waktu yang bersamaan seluruh masyarakat dunia merasakan kekuatan gempa yang sama. Di wilayah Indonesia bagian barat sendiri gempa bisa dirasakan pada pukul dua belas malam. Sementara di Indonesia bagian tengah dan timur pada pukul 01.00 WITA dan 02.00 WIT. Kekuatan gempa yang cukup keras menyebabkan kepanikan di masyarakat yang saat itu sedang tertidur atau baru akan beristirahat malam. BMKG memperkirakan gempa tersebut berkekuatan delapan skala Richter, namun karena terjadi dalam waktu yang sangat singkat tidak menyebabkan kerusakan yang berarti di tengah masyarakat. BMKG sendiri telah mencabut peringatan tsunami tepat pada pukul tiga dini hari tadi. Dan hingga kini pukul enam pagi, hasil monitoring BMKG dan pusat litigasi bencana alam nasional belum menunjukkan adanya aktivitas gempa susulan atau aftershock. Sampai saat ini BMKG sendiri belum mengetahui dimana pusat gempa berada dan dalam ke dalaman berapa. Setelah pariwara berikut ini kita akan melihat liputan dari beberapa negara yang mengalami gempa yang sama serta laporan kerusakan dari berbagai daerah akibat gempa kemarin malam lalu dilanjutkan dengan perbincangan bersama ahli litigasi dan bencana alam bapak Suroso dan ahli kegempaan kita bapak Ramires. Tetap bersama kami sesaat lagi."
Aku bangkit dengan malas dari tiduranku. Meraih ponselku yang sedang berdering. Dari Pak Mario.
Liburku dibatalkan. Aku harus mengikuti rapat dadakan yang diadakan karena para pemegang saham yang marah akan niat General Manager Pak Mario yang hendak menutup hotel untuk beberapa waktu ke depan.
Pengumuman di web site resmi hotel membuat para pemegang saham berkumpul dan memaksa dilakukan video conference buat mereka atas keputusan sepihak dari managerial hotel yang menurut mereka tidak masuk akal itu. Jadi di sinilah aku duduk dengan malas dan kesal di depan meja yang nyaris sepanjang tiga meter ini.
Para manager lain belum datang juga termasuk wakil general manager. Hanya aku yang ada di ruangan ini...Tak...pintu ruangan yang kututup terkuak. Waktu pertemuan kali ini tepat pada awal masuk jam kerja- akan dimulai tiga puluh menit lagi. Mereka mungkin masih terjebak kemacetan lalu lintas di pagi hari.
"Coffee?" Pak Mario muncul di ruangan ini dengan dua-cup coffee di tangannya. Dia meletakkan satu cup di hadapanku. Aku meraih cup itu. "Bagaimana dengan tidurmu?"
Menyeruput kopi sedetik dua detik, aku menghentikannya. "Latte?"
"Kau tidak menyukainya?"
"Aku pikir aku akan lebih menyukai Americano sekarang karena ketika menyeruputnya aku bisa berpikir ada yang lebih pahit dari hidupku." Pak Mario tertawa seakan aku baru melucu dihadapannya. Dia meraih cup kopinya, menukarnya dengan milikku lalu menyeruputnya. "Anda bilang saya boleh liburkan? Lalu kenapa Anda membuat masalah ini?" Dia diam. Kebisuan yang membuatku berpikir. "Apa kita membuat masalah yang lebih besar?" Aku bertanya dengan hati berdebar-debar. Aku jelas ingat kemarin ketika kami berada di bekas hotel Lamara dia mengatakan tentang timing dan momentum yang tepat. Namun jelas kami melakukan kekacauan kemarin malam, kekacauan besar yang membuat aku bahkan harus kehilangan Alex.
"Mungkin kita harus bersiap dengan serangan balik malam ini."
"Apa?" Aku tahu ada kekacauan besar kemarin, tapi aku tidak tahu kalau akibatnya akan sebesar ini. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana Royal Garden Hotel berubah menjadi sama seperti bekas hotel Lamara dan diserbu oleh setan-setan yang mungkin melakukan eksodus untuk tempat tinggal baru setelah kami membumi ratakan bangunan itu kemarin malam. Beritanya bisa aku lihat di layar televisi tadi.
"Tapi sebelumnya kita harus menutup hotel agar tidak ada yang menjadi korban dalam pertempuran kali ini."
"Apa ini yang Anda maksud dengan: kita harus bersiap dengan momentum dan waktu yang tepat karena jika tidak akan ada masalah besar..?"
"Seorang malaikat tidak boleh menggunakan pedangnya di Bumi, kalau pun akhirnya harus menggunakannya kami hanya bisa menggunakannya satu kali dalam seribu tahun, itu pun akan memberikan imbas cukup besar bagi Bumi dan isinya. Kau sudah melihat berita pagi kan?" Aku mengangguk, memahami alasan mengapa dia tidak mengizinkanku menolong Alex dengan pedangnya. "Gempa harus terjadi di seluruh dunia secara merata atau beberapa negara akan hilang sekejap dalam satu malam dan mengagetkan dunia. Mengangkat pedang kedua kali berarti kami mengatakan kami menyerah kepada kalian dan mengutuk kalian. Saat kami pergi. Bumi akan mengeluarkan segala rasa sakit untuk kalian. Gempa, wabah, kekeringan, kebanjiran, gunung meletus, ombak dasyat bahkan mungkin pergeseran Bumi dari rotasinya. Sebuah kiamat yang dipercepat."
Aku mencoba memahami ucapannya. Menatapnya lekat-lekat. "Pasti sangat sulit menjaga integritas itu. Menjadi malaikat pelindung di saat kami manusia malah tak pantas dilindungi."
"Bukan kami yang menentukan pantas tidaknya kalian dilindungi, tapi Dia- yang kalian panggil dengan sebutan: Tuhan, Allah, Bapa, Yahwe, Dewa. Kami hanya melaksanakan titah-Nya. Dia terluka sesering Dia jatuh cinta pada kalian. Mungkin karena kalian itu sosok yang ngeselin, tapi juga ngangenin." Aku ngakak mendengar ucapannya. Dia tersenyum, wajahnya tampan- setampan malaikat.
"Berapa lama Anda sudah ada di sini?"
"Waktu manusia atau waktu Tuhan?"
__ADS_1
"Aku masih manusia."
"Tiga ribu tahun."
"What? Are you kidding me?" Dia tertawa.
"I'm too old for you." Dia berkata. Aku tertawa.
"Apa kau punya saudara yang lebih muda?" godaku. Dia menambah tawa diantara kami. Lelucon receh manusia ini semoga bisa membuat malaikat yang ada di hadapanku ini sedikit terhibur. Lalu kami terdiam. Tanganku tergeletak di atas meja. Tangan kanan memutar-mutar cup kopi yang belum kuteguk sedikit pun. Sesekali aku mencoba menarik nafasku dalam-dalam. Lalu aku merasakan jemarinya meraih jemari kiriku. Memberi keberanian padaku.
Hanya kami berdua yang tahu apa yang akan terjadi di sini dalam hitungan jam. Hanya kami yang tahu siapa yang kami hadapi dan risiko apa yang akan terjadi pada dunia ini. Di tempat ini, di Hotel Royal Garden ini nasib dunia akan ditentukan.
"Mungkin aku harus menelpon ibu, adik dan ayahku nanti untuk minta maaf."
"Ya, itu bagus." Dia menjawab seadanya. Tangannya telah berada di cup kopi. Dia meneguk kembali kopinya.
Jeng, taukan Amara?
Amara artis yang nggak top top itu.
Simpanan Pak Bambang maksud kamu?
Pa, charity party nanti di hotel Kenanga Papa sama Mama pakai pakaian yang couple, ya, yang kita beli di Paris kemarin.
Boleh juga tuh, Ma.
Tapi Papa jangan kasih sumbangannya kebablasan, ya, bisa jatuh miskin kita, Pa! Fakir miskin dan anak terlantar itu yang pelihara negara, Pa bukan kita. Kewajiban Papa itu memelihara isteri dan anak.
Dari sosmed dia dong, Jeng. Nih, lihat deh. Tuh lagi upload foto-foto with the moon in the sky. Ini caption-nya dibaca dong Jeng.
Naik jet pribadi, cuiyyy....
Aku membiarkan suara-suara itu membentur
diriku. Aku menatap Pak Mario. Dia sedang memejamkan matanya. Malaikat dan iblis bisa mendengar suara hati manusia. Pasti dia sangat pusing selama tiga ribu tahun mendengar keegoisan kami.
Mengikutinya aku memejamkan mataku dan membiarkan hingar bingar dunia membenturku lebih keras lagi. Aku bisa merasakan segala aktivitas yang terjadi di luar sana. Ada yang bekerja, ada yang ke sekolah, tapi ada juga yang merencanakan bolos pagi ini lalu berkumpul bersama teman-teman. Ada yang sedang mencari jati diri dan popularitas lalu sepagi ini telah mention pesan di sosmed. Ada wanita yang terburu-buru ke pasar, mendumel karena harga yang mahal lalu disambut kasar pedagang hingga bertengkar dan menimbulkan sakit hati dan rasa sedih. Atau seorang ayah yang melaju dengan motor bututnya untuk bekerja dalam kejujuran dan ayah lain yang melangkah sepagi ini dengan rencana matang penyuapan untuk melancarkan bisnis demi masa depan cerah keluarganya. Ada juga seorang rekan kerja yang merancang kejatuhan rekannya. Ada seorang anak yang berdoa buat kesembuhan ayahnya, ada anak lain yang malah mengutuki ayah dan ibunya karena kemiskinan. Atau seorang penulis yang menghabiskan malam dalam hayalan tinggi di atas ranjangnya tepat di depan laptopnya tentang kisah cinta satu malam yang akhirnya berakhir kena sensor oleh redaktur di pagi ini, lalu mencak-mencak sendiri. Bilang banyak yang lebih fulgar yang bahkan tidak disensor...Tentang seorang *******, perampok dan pemimpin agama yang malah merasa suci tanpa dosa.
__ADS_1
Semua berjalan seperti biasanya. Tak satu pun yang tahu bahkan pernah berpikir bahwa malam ini, mungkin saja semua akan berakhir. Seperti lilin yang habis usai dinyalakan, dunia tempat kami tertawa berhahahihi, merancangkan hal baik dan buruk buat orang lain akan berakhir malam ini.
Ceklek..
Pintu ruangan rapat terbuka. Menyadarkan kami. Satu per satu rekanku masuk, mengucapkan salam seadaanya hanya sekedar berbasa-basi di pagi hari lalu mengambil tempat di kursi-kursi kosong yang ada. Sebentar saja rapat pagi dimulai.
Rapat di pagi hari maupun di siang hari ternyata tidak ada bedanya sama-sama cuma buat pusing. Orang yang berniat marah tidak peduli hari masih terlalu pagi, tetap saja melepaskan amarahnya, seperti salah satu pemilik saham hotel ini yang telah sedari tadi meninggikan suaranya.
"Menutup hotel selama satu hari saja akan membuat kita menanggung kerugian nyaris seratus juta apalagi dalam tenggat waktu yang belum dipastikan? Apa kau gila, General Manager?!" Pak Raharja memaki dari layar lebar yang ada di ruang rapat. Dia sedang berada di Jakarta untuk urusan yang penting dengan pemerintah pusat. Aku mengepalkan tanganku dengan keras. Hatiku sakit karena aku satu-satunya orang yang mengetahui alasan penutupan ini.
"Kau pikir siapa dirimu itu?! Kau hanya punya lima persen saham saat ini setelah kau menghamburkan uangmu untuk badan amal, pendirian panti dan donatur tetap berpuluh yayasan sosial dan sekarang kau pikir kau masih punya kuasa untuk memutuskan hal sepenting ini sendiri?!" Pak Bily menambahkan ucapan pedas lainnya.
"Aku tahu ini masalah kerugian yang akan kalian derita, aku akan menggantinya."
"Cuiih, kau pikir kau sekaya apa?!" Aku ingin membungkam mulut Pak Aldi dengan bertanya lebih kayakah dia dari Bos malaikat yang ada di hadapan kami ini? Dari sang Pencipta kami sendiri? Namun aku masih mencoba mengekang diri. Malaikat ini pasti tidak ingin keberadaannya dikektahui, jika dia ingin semua manusia tahu siapa dirinya dia bisa dengan memudah membuka jasnya lalu mengeluarkan sayapnya dan terbang ke seluruh penjuru dunia. "Kau bahkan tinggal di penthouse hotel karena kami izinkan, kau tidak punya rumah. Satu-satunya hartamu cuma mobil itu yang tahun produksinya saja di tahun 1951 dan sering ngadat."
Aku melirik semua orang di ruangan ini yang kini tunduk tafakur setelah menyatakan di awal rapat bahwa mereka tidak dimintai pendapat atas rencana penutupan hotel yang telah tersebar ke seluruh penjuru Nusantara. Wakil GM bahkan menambah minyak dalam sekam yang sudah terbakar tentang kedatangan beberapa media menanyai perihal penutupan ini. Apakah karena bangkrut?
Pak Mario memejamkan matanya lagi. Dia malaikat. Dia tidak boleh marah, tapi aku bukan malaikat.
"Jadi ini persoalan uang?! Oke, ayo, kita buka hotel ini dan biarkan kalian melihat setan-setan itu merusak semuanya. Datanglah malam ini, ini akan jadi malam yang tidak akan kalian lupakan jika kita masih hidup dan dunia ini masih ada. Karena malam ini pertempuran antara manusia dan setan akan dimulai. Saat ini juga kau harus memilih kau dipihak siapa: Tuhan atau setan?"
"Apa yang kau katakan?"
"Aku manusia dan bukan malaikat sepertimu jadi aku bisa marah!"
"Bicara apa kau?!" tanya Pak Dipraja bingung. Aku bersiap menjawab, tapi tangan Pak Mario segera membekap mulutku.
"Mulai hari ini kami mau dia dipecat....!" Sambungan video conference terputus tiba-tiba saat Pak Mario menjentikkan jarinya. Semua orang kini menatapku dalam diam dan mematung, lalu tangan Pak Mario segera menarikku keluar ruangan. Dia marah besar padaku.
Mungkin dia memang harus marah.
Mungkin Tuhan juga harus marah.
Agar kami tahu kesalahan kami dan bertobat.
Mungkin.
__ADS_1
Andai waktu masih ada, kami bisa menyesal dan bertobat.