
"Kamu..." Kata-kata Rosta terpenggal. Dia mencoba mengingat aku di tumpukan memori internal otaknya. Lumrah dia tidak mengingat aku, banyak wanita bersebaran di labirin otaknya. "Manager Royal Garden Hotel?"
Aku tersenyum sambil menganggukkan kepalaku. Matanya berkilat menatapku. "Aku sungguh tidak menyangka kita bisa bertemu di sini."
"Saya rasa Anda sudah mendengar kabar tentang tewasnya Sarina dan kini kepolisian mengganggu kami dengan penyidikannya."
"Polisi juga melakukan hal itu padaku." Dia memelankan sedikit notasi suaranya seakan takut ada polisi yang akan tersinggung karena ucapannya. "Jadi pemeriksaanmu sudah selesai?" Aku mengangguk. Berpura-pura penat menghadapi pemeriksaan itu. "Kau tidak terlalu sibukkan hari ini?"
"Sebenarnya sibuk walaupun penghuni hotel berkurang drastis karena kejadian itu..."
Great
Dia mengatakan itu di dalam hatinya.
"Tapi kesibukan selalu adakan?" Aku mencoba bergurau.
"Segelas kopi?"
Aku berpura-pura menimbang padahal, ini yang kutunggu. Waktu untuk berbicara lebih lama dengan makhluk ini sehingga aku bisa tahu seberapa jauh dia mengetahui penyebab kematian Sarina atau seberapa jauh hubungan mereka yang mungkin membuat Sarina mengambil keputusan bunuh diri dan bukannya dibunuh seperti asumsi kepolisian.
Aku bisa mendengar pikiran siapa pun, tapi sistem kerjanya nyaris sama seperti komputer. Sistem otak manusia memiliki tempat-tempat khusus penyimpan data dan memori yang nyaris triliunan atau bahkan kuadriliun, kuintiliun yang tersusun dan bertumpuk- tumpuk di tempat semacam rak memori: ada memori jangka pendek dan ada juga memori jangka panjang dan sesungguhnya yang bisa memasukinya adalah pemilik passwordnya- dalam hal ini pemilik pikiran itu sendiri. Seorang hacker butuh mengotak atik ribuan bahkan jutaan kode. Dan aku sama seperti hacker, butuh memecahkan kode- kode di otak manusia sehingga memorinya atas satu hal naik kepermukaan, memaksanya mengenang atau mengingat hal itu lalu aku akan mengintip.
"Segelas kopi kelihatannya bagus." Dia tertawa memperlihatkan deretan gigi yang sempurna. Saat kami melangkah bersama keluar kantor kepolisian, aku masih mencari tahu dimana IPTU Candra berada, awas saja jika dia tidak melindungiku, padahal ide gila ini adalah idenya.
Pria ini mengajakku menaiki mobilnya, dia akan membawaku minum kopi di tempat dengan cita rasa kopi yang terbaik. Kepalang tanggung aku menurut juga.
"Bagaimana rasanya menjadi butler Presiden?" Dia membuka pembicaraan.
"Tidak jadi. Presiden tidak jadi datang ke Bandung," jawabku ringan.
Pikirannya menerjangku: dia berharap seharusnya aku langsung menghubunginya untuk menjadi butlernya, dia berpikir semua tidak akan serunyam saat ini.
"Seharusnya kau langsung menghubungiku dan menjadi butler ku."
__ADS_1
"Anda sudah memiliki Sarina. Bukankah dia butler yang sempurna?"
Nyaris sempurna seandainya dia tahu bahwa batasannya hingga kontrak berakhir dan tidak meminta lebih.
"Meminta lebih apa..." Aku menutup mulutku saat menyadari kesalahan yang kulakukan lagi. Aku kelepasan ngomong lagi seperti kemarin lalu kulakukan pada IPTU Candra tentang kehamilan Sarina yang membawaku harus jujur tentang rahasia diriku yang selama ini kujaga.
Ada apa sih dengan mulutku?
"Maksudku apakah kalau aku meminta gaji lebih dari yang diminta Sarina kau masih mau? Presiden memberiku lebih banyak, " dustaku.
"Aku akan mempertimbangkannya jika dulu kau mengatakannya." Aku tertawa bukan karena ucapannya, tapi karena aku lega dia tidak mencurigaiku.
"Ya, mungkin aku melakukan kebodohan. Seharusnya aku menanyakannya dulu padamu. Dan mungkin kita bisa bersenang-senang seperti saat ini?" Aku membuatnya menatapku dalam, dia tersenyum. Salah satu tangannya yang berada di setir turun ke bawah, memegang jemariku yang terlipat di pangkuanku.
Wow, aku tidak menyangka aku punya satu bakat lagi: menjadi penggoda.
Mungkin lebih.
Hatinya berujar. Lalu pikirannya melayang. Aku mengenal tempat itu...Ruang arsip hotel.
Mungkin kita bisa melakukan lebih dari itu.
Sit! Only in your mind, bastard!
Batinku memekik. Slice of memories itu seperti penggalan flim porno yang kini membuat wajahku memerah.
Aku tidak tahu dia selugu ini. Hanya sebuah sentuhan di jemarinya membuat wajahnya memerah. Akan jauh lebih menyenangkan jika bersamanya.
Batin Rosta bergumam, andai dia tahu kebenarannya- bahwa rahasianya tidak pernah menjadi rahasia buatku, coba apa yang kemudian akan dia lakukan?
Aku buru-buru keluar dari dalam mobil sedetik setelah mobil berhenti di tepi jalan. Kuhirup oksigen sebanyak-banyaknya hingga aku terbatuk-batuk, berharap gas itu bisa membuang bayangan beracun yang ada di otakku.
"Kita masuk?" tanyanya masih dengan senyum di wajahnya. Aku menarik nafas dalam-dalam sekali lagi sambil melirik sekelilingku mencari tahu apakah IPTU Candra sudah berada di sekitar cafe ini. Nihil.
__ADS_1
Aku meraih ponselku dan sambil berjalan men-share lokasiku padanya. Awas saja kalau dia tidak juga datang.
***
"Capuccino?" Aku mengangguk lagi, bahkan tak berniat menengok sesaat pada booklet menu di atas meja. Kubiarkan dia memilih makanan sesuai seleranya.
Pikiranku kini beralih pada ruang di pikirannya. Ruang arsip hotel. Apa yang mereka lakukan di situ?
Bercinta.
Oke, tapi kenapa harus di situ? Kamar penthouse nyaman dan bahkan teramat nyaman. Pasti ada alasankan?
Aku berdebat dengan diriku sendiri.
PING
PING
Pesan masuk itu terdengar. Rosta meraih ponselnya.
Kapan akusisi hotel bisa dilakukan?
Sabar, mungkin akhir bulan kita bisa mendapatkan harga yang lebih murah lagi. Saham mereka menurun drastis di pasar. Beberapa pemegang saham sepertinya tidak akan keberatan lagi melepas saham mereka pada kita. Dan keuntungan yang kita peroleh akan lebih besar lagi bukan saat kita menjualnya nanti?
Kau yakin sudah memikirkan cara membersihkan nama mereka saat hotel itu menjadi milik kita? Pembeli tidak akan suka pada tragedi akibat percintaanmu.
Tapi tragedi ini membuat kita makin cepat menuju keinginan kita kan?😊
Dia membuat emoji sangat bahagia.
Aku mulai memahami kemana arah pembicaraan ini. Juga kenapa Sarina tewas hari itu. Mengapa mereka ada di ruang arsip.
Yakin seribu persen, mereka tengah mencari pembukaan hotel beberapa bulan, prospektif hotel dan bahkan jati diri pemegang saham hotel. Jadi ini soal obsesi mereka untuk memindah tangankan ke pemilikan hotel. Mengakusisi hotel dengan harga rendah untuk kemudian menjualnya dengan harga mahal ke tangan ketiga. Pantas saja wajahnya sumringah saat aku mengatakan tamu hotel makin berkurang karena accident itu.
__ADS_1
Dasar pria brengsek!