
Aku tidak menemukan Alex dimana-mana pagi ini. Dia menghilang dan tidak kembali. Oke, mungkin dia sedang butuh lebih banyak waktu untuk menenangkan diri.
Aku memilih keluar dari kamar pukul tujuh kurang seperempat pagi. Kalau ada Alex aku yakin aku masih berkurung di kamar diantara celotehku dan Alex.
Masih ngantuk, Sayang, bobok lagi, yuk. Sejam lagi aja. Kamu sih tadi malam nakal.
Si Mbak di rumah nelpon katanya Rania nakal. Dia ngompol lagi tadi malam, Pa.
Emang aku nakal apa?
Selamat pagi, Tuhan, semoga hari ini semua urusan kerjaan dan lainnya berjalan lancar terus bisa balik deh ke Medan.
Ih, kamu, modus aja...
Hehehehe. Abis kamu...
Selesai makan langsung cabut, oke?
Iya, deh.
Mas, Mbak Ana nelpon tuh. Katanya dia punya firasat buruk terus minta kita buru-buru balik ke Sumedang.
Kamu tahukan Mbak Ana orangnya gimana? Aku dikit jauh dari dia- dianya langsung cemas nggak ketulungan. Nggak usah terlalu didengerinlah.
Mbak Ana pengganti Mama kamu loh, Mas. Nggak dengerin ucapan orang tua bisa kualat loh.
Walau cuma berempat ini nggak boleh mengurangi semangat kita! Ini akan jadi awal petualangan terkeren kita.
Nggak dengerin omongan suami lebih kualat lagi loh.
Aku memasuki restoran hotel dan menemukan keempat youtuber itu tengah mengelilingi meja bulat dan menjadi tamu pertama yang melalukan sarapan di pagi ini. Suasana resto masih sepi.
"Selamat pagi," sapaku pada keempat youtubers itu yang segera melemparkan senyum terbaik dari bibir mereka.
"Pagi, Mbak..Bu.. Manager." Beraneka sebutan belakang kata Bu itu menandakan mereka tidak sedang latihan gimmick-kan. Menyapaku senaturalnya saja.
"Tumben pagi-pagi sudah mau selesai sarapan."
"Tapi mau searching location syuting, Bu Manager." Salah satu dari mereka membuka mulut. Dia berperawakan cukup gendut. Wajahnya bulat bagaikan bulan purnama dan matanya mengenakan kaca mata minus yang cukup tebal. Dia mengenakan sebuah kalung taring harimau di lehernya yang digantung dengan tali hitam- entah hanya sekedar aksesoris atau sebuah jimat aku tidak ingin tahu.
"Tapi tidak ke bekas Lamara Hotelkan?" Aku menegaskan.
"Nggak kok, Bu."
"Kalau pun iya, itu bukan urusan Andakan?" Sadana memasang wajah tidak suka atas sikap ikut campurku.
"Saya bukan ingin ikut campur..."
"Bagus kalau begitu." Dia memotong ucapanku dengan cepat. "Karena Anda tidak punya hak untuk ikut campur. Anda bukan ibu saya, Anda juga bukan teman saya. Cabut, yuk." Dia mengakhiri ketidak sukaanya dengan hendak berlalu secepatnya dari hadapanku. Ketiga temannya serentak bangkit dan melangkah mengikutinya.
***
__ADS_1
Hari sudah malam. Arlojiku menunjukkan pukul tujuh malam dan aku baru saja selesai memandangi penampilanku di depan cermin di kamar mandi. Slim dress selutut dengan kerah berbentuk V berwarna hitam itu kupadankan dengan gulungan rambut bun. Aku lebih seperti akan ke pesta kantor dari pada berkencan.
Sebelum menutup pintu kamarku, aku memandangi lagi ruangan itu, tak ada tanda-tanda keberadaan Alex di sini. Pada dia begitu marah padaku sehingga bahkan tak sudi menemuiku lagi?
Andai dia memahami sedikit masalahku bahwa dia dan aku itu berbeda dunia. Oke, dia memang bukan sembarang hantu- dia hantu yang baik dan unik. Dia tidak menyeramkan sama sekali malah terlalu charming sebagai seorang hantu. Mungkin itu yang membuat dia diasingkan dari hantu lain karena dia tidak menakutkan sama sekali. Andai dia manusia aku pasti akan dengan yakin menyetujui keinginannya.
"Kamu sudah ready?" Pak General manager muncul di sisiku. Agak kaget juga melihatnya menyamperiku ke depan kamarku. "You are so beautiful." Dia tersenyum sambil menatap penampilanku dan aku langsung down memandang dirinya yang muncul dengan pakaian casual seadanya dengan kaos dan celana jeans, sepatu skets.
Jelas aku merasa saltum. "Pakaian saya...Bisakah Anda tunggu saya sebentar saja?" Aku baru saja akan membalikkan badan kembali ke dalam kamarku, ketika tangan kekar general manager menahanku.
Dia menggelengkan kepalanya. "Seperti ini saja. Kamu kelihatan sangat cantik."
"Tapi, Pak GM..."
"Kamu tidak lupa nama sayakan? Panggil saja saya dengan nama saya. Ayo."
Dia menjulurkan tangannya dan kami berjalan beriringan memasuki lift. Kami memilih keluar dari pintu belakang hotel yang lebih sepi pas di tempat general manager memarkirkan mobil buggy-nya yang atapnya bisa dibuka dan cuma bisa dinaiki dua orang saja itu sehingga tidak ada tempat untuk penumpang lain. Dia membukakan pintu mobilnya bagiku, memasangkanku sabuk pengaman sebelum berlari kecil menuju ke bidang setir.
Sebentar saja mobil itu telah melaju kencang di jalanan kota Bandung membelah kebisingan yang ada. Aku mencoba menikmati hembusan angin yang menampar wajahku. Menggelitik telingaku seperti saat Alex berbisik terlalu dekat padaku.
....
Apa aku sudah mati?
Apa ini surga?Kenapa terlihat terlalu duniawi?
"Kau belum mati dan tidak boleh mati." Suara itu terdengar bagai suara angin di telingaku. Dia meletakkanku di pinggiran halaman belakang Hotel Supreme yang berumput.
Wait.
Aku menemukan kembali kesadaranku, ini jelas bukan mimpi dan makhluk bagai sosok manusia yang terselubung kabut atau kabut berbentuk sosok manusia ini...
Hantu di kamar hotelku?! Jadi hantu brengsek yang mengobrak-abrik dan melempariku dengan buku-buku dari rak buku benaran ada? Bukan mimpi?
Seharusnya tubuhku mengejang ketakutan saat ini karena bertemu dengan hantu. Namun tidak, aku tidak takut sama sekali.
Tapi bukannya hantu takut pada siang hari? Atau hanya vampir dan drakula yang takut pada siang hari? Ah.., referensi ku tentang hantu cuma dari buku-buku novel fiksi semata.
"Dia sebentar lagi akan tiba." Dia bicara seakan putus asa melihat kesantaianku. Lalu tanpa menunggu reaksiku, dia kembali menggendongku. Menyelimutiku dengan tubuhnya dan membawaku terbang dengan tubuhnya yang terasa dingin sedingin es di kulitku.
"Ada apa? Hey, kau baik-baik saja?"
"Alex."
General manager menjentikkan jarinya di hadapanku dan membuatku seketika tersadar dimana aku berada. Tak ada Alex disini, hanya general manager Hotel Royal Garden, tempatku bekerja GM. Mario. Dia menatapku. Perlahan senyumku mengerucut.
"Siapa dia?" Dia memberi jeda seakan menantiku menjawab. Fokusnya stabil menatap jauh jalanan di depannya sesekali melirik spion untuk memastikan kenderaan lain yang ada di belakang. "Man with name Alex." Dia memperjelas keingin tahuannya ketika aku masih membisu. Kali ini untuk waktu yang agak lama dia memandangku.
"Ohh, he's just only a friend."
"Atau seseorang yang lebih dari sekedar teman?"
__ADS_1
Kau bercanda. Kau bahkan tidak tau siapa Alex tak ada celah bagi kami untuk boleh jatuh cinta. Dia hanya teman. Teman yang sangat baik.
Hatiku membalas.
"Kita kemana?" tanyaku mengalihkan pembicaraan. Kami menuju sebuah perumahan dan kemudian berhenti di depan sebuah gym.
"Gym?" Aku menatapnya dengan mata nyaris melotot. Dia terkekeh melihat tingkahku. "Aku selalu melakukan kencan pertamaku di gym. Kau tahukan aku sangat menyukai olahraga?"
"Oh, ya." Aku mengangguk. Aku tahu dia menyukai olahraga, tapi walaupun kau seorang penggila olahraga bukankah tetap saja terasa aneh membawa seseorang yang kau kencani untuk berkencan di gym?
"Namun setelah berolahraga mungkin kita bisa makan sederhana dengan makanan sehat di restoran di dekat sini. Promies." Janjinya sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya. Sepertinya dia bisa menebak pikiranku. Aku tidak bicara, mataku bergerak melihat pakaianku. Seakan paham dia bicara lagi: "Gym memiliki pakaian sewaan yang bisa kau kenakan." Dia membukakan pintu mobil untukku kembali. Melepaskan sabuk pengaman dengan perlahan aku menimbang-nimbang seberapa tak menariknyakah diriku sehingga dia malah membawaku ke gym dan bukan ke tempat jajanan atau bioskop. Ckckck.
Dan ketika menapaki lantai gym ini, aku baru menyadari bahwa aku bahkan tidak mendengar general manager ku ini berbicara di dalam hatinya sedikitpun selain kalimat-kalimat yang tadi dia keluarkan dari mulutnya saat berbincang denganku.
Dia menghampiri sebuah meja panjang seperti meja resepsionis dan menyapa hangat dua wanita yang ada di belakang meja itu.
"Anggar." Pak Mario mengatakan cabang olahraga yang ingin dia mainkan tanpa menanyaiku. Aku tahu di hotel dia terbiasa melakukan hal itu-dia pengambil keputusan tertinggi, tapi kini kami sedang berkencan walaupun sebuah kencan yang diluar ekspektasi dan jelas butuh dipertanyakan karena dia tidak menunjukkannya ketertarikan emosional padaku. Namun tetap saja seharusnya dia menanyai persetujuanku lebih dahulu. Untung baginya karena aku termasuk orang yang malas berdebat di muka umum.
"Pak Mario." Seorang wanita di meja resepsionis menyapanya dengan senyum lebar bahkan sebelum rkami benar-benar tiba di depannya. "Sama pacarnya sekarang, Pak?" Pak Mario tersenyum penuh karisma dan wanita di belakang meja resepsionis itu meraih buku keanggotaan yang disodorkan Pak Mario sambil memandangi diriku. "Mbaknya baru pulang kerja, ya? Nggak bawa baju ganti dong?"
"Iya, nggak bawa. Sekalian hitung sewa baju, ya."
"Baik, Pak." Sebentar saja salah seorang dari wanita itu telah mengantarkanku menuju ruang pakaian dibelakang meja resepsionis itu. Aku diminta memilih salah satu pakaian yang akan kugunakan. Aku meraih sebuah pakaian dan beranjak ke ruang ganti.
Tak banyak orang di ruang ganti jadi aku bisa selesai bersalin pakaian secepatnya. Setelah masukkan pakaianku ke dalam loker dan menguncinya, aku menemui Pak Mario yang telah menungguku di arena anggar.
Dia menghampiriku dan memasangkan pelindung di sekujur tubuhku. Di dada, kaki, tangan dan kepalaku. Aku meraih anggar di tempatnya dan kami mulai bermain.
"Seharusnya Anda mengajak saya melakukan olahraga lain." Dia menggerakkan pedang anggarnya dan dengan gerakan meliuk berhasil menjatuhkan milikku. Dia mengalahkanku dengan mudah bagai orang dewasa mengalahkan anak satu tahun berjalan. Dalam lima menit permainan, pedangku telah jatuh tiga kali.
"Bukannya kau menyukai cabang olahraga ini?" Aku melotot menatapnya saat membungkuk meraih pedang anggarku. "Kau nampak terpesona pada pedang di lemari ruanganku."
"Itu karena dia bergerak." Aku melihat Pak Mario menatapku serius. "Aku tidak gila," tegasku, "pedang itu memang bergerak."
"Menurutmu seperti itu?" Kami mulai bermain lagi. "Lalu apa lagi yang kau lihat disana?" Pertanyaan itu membuatku tersentak. Apa maksud ucapan Pak Mario? Mungkinkah dia bisa melihat Alex? Namun berpura-pura tidak melihatnya? Berpura-pura berkata padaku bahwa di hotel tidak ada hantu padahal dia tahu jelas ada.
Siapa sebenarnya dia? Kenapa dia menyembunyikan hal itu?
"Berhenti berpikir. Kontrol pikiranmu buruk."
Apa maksudnya?
"Apa gunanya bisa mendengar suara hati orang lain kalau kau bahkan tidak bisa mendengar hatimu?"
Buarrrr! Aku merasa halilintar tengah menyambarku. Ini bukan tebakan asal, jelas dia tahu aku bisa mendengarkan suara hati orang lain.
Shut.... Shut....
"Auww!" Aku memekik sakit. Pelindung tanganku terjatuh, ikatannya putus oleh pedang anggar Pak Mario. Darah mengucur dari luka sabetan di lengan kananku. Dia memandangiku yang tengah meringis sesaat kemudian mendekatiku dan aku mencoba berlari.
Aku tidak bisa mendengar hatinya sama seperti aku tidak bisa mendengar hati Alex. Namun dia bukanlah hantu, dia manusia. Seharusnya aku bisa mendengar semua suara hati manusia.
__ADS_1
Lalu siapa dia?