
Aku tiba di kamar hotelku, terduduk manis di atas permukaan ranjang king size yang empuk. Butuh waktu bagiku menyadari bahwa aku benar-benar tiba di sini tanpa harus menggunakan taksi. Kalau aku bertemu dengan hantu ini waktu aku masih sekolah,ini pasti jadi keuntungan besar bagiku karena aku bisa menggunakan ongkos sebagai tambahan uang jajan.
Di saat ayah dan ibu telah berpisah, kami mengalami ketersendatan ekonomi apalagi di saat ayah telah menikah lagi. Ibu menjadi tulang punggung ekonomi satu-satunya.
"Aaarrk.." Lamunanku berhenti karena suara erangan keras dari dalam kamar mandiku. Aku berlari dan langsung membuka pintu dengan keras lalu mataku terpaku pada kabut yang menyerupai sosok manusia itu, tergeletak di dalam bathtubku yang dipenuhi air hingga tumpah.
Ah, ini jaman apa? Jangan bilang padaku hantu zaman sekarang juga suka berendam di dalam bathub.
Dan bicara soal berendam di dalam bathtub, apa seorang hantu juga mandi telanjang? Seperti apa tubuh seorang hantu? Apa kalau dia hantu pria tubuhnya juga seperti seorang pria? Haha, jadi bagaimana bentuk tubuhnya? Apakah dia seorang bapak-bapak setengah baya dengan perut membuncit gendut atau seorang pria muda kurus? Atau pria gagah dengan body sixpack hasil olah raga rutin di fitness center? Kalau itu wow, lumayan ada yang bisa dijadikan bahan cuci mata seha...
"Bisa kau hentikan pikiranmu yang melantur itu?!" Dia berteriak mengagetkanku.
Siapa yang menyuruhmu membaca pikiranku?
Aku berteriak protes, lalu menyadari seperti ini lah protesan yang mungkin kuterima dari orang-orang saat mereka mengetahui aku mengintip pikiran mereka.
Pikiranku adalah milikku, aku bisa memikirkan apa pun sesukaku. Termasuk jika aku berpikir: di kamarku ada hantu. Hantu pria yang galak. Mungkin dia mati karena bunuh diri akibat diselingkuhi isterinya atau dibunuh oleh selingkuhan isterinya karena itu dia benci pada semua wanita....
"Aku tidak mati bunuh diri atau pun dibunuh."
Oh, dia tidak mati bunuh diri atau pun dibunuh, mungkin sebuah kecelakaan merengut nyawanya dan karena dia punya banyak dosa dia tertahan di dunia ini dan kini berdiam di kamarku.
"Bisakah kau diam?!" Dia memekik marah dan entah bagaimana kelebatan cahaya itu menghantam tubuhku hingga terdorong ke dinding kamar mandi. " Bisakah kau menunjukkan sedikit rasa terima kasih padaku setelah menyelamatkanmu? Kau tidak tahu apa yang aku alami karena harus menyelamatkanmu?"
Wujudnya yang berkabut perlahan memadat. Untuk pertama kalinya aku bisa melihat wujudnya yang sebenarnya. Aku bisa melihat sosok pria tampan dengan tubuh yang mengalami luka bakar berat dan meringis kesakitan.
Apa itu akibat terkena cahaya matahari saat dia menolongku tadi?
Dia hanya mendongakkan wajahnya menatap mataku sebelum dia kemudian terjatuh.
Fix. Sepertinya benar. Walaupun rasanya aneh karena saat dia memelukku tadi aku tidak merasakan rasa terbakar atau panas, tapi sebuah rasa dingin yang mencekam.
*Hantu tidak bisa menyentuh manusia tanpa menimbulkan rasa sakit bagi si manusia, kecuali dia mengorbankan dirinya untuk merasakan sakit sendiri.
Wow, apa itu? Dia membiarkan aku
mendengar hatinya*.
Dia terjatuh layaknya bersimpuh di bawah kakiku, tubuhnya bergetar menahan rasa sakit. Aku mencoba membantunya bangkit, tapi sia-sia. Tanganku menembus badannya. Aku bahkan tidak bisa menyentuhnya. Membuatku makin dilanda rasa bersalah.
__ADS_1
"Aku tidak bisa membantumu berdiri ke bathub kembali. Kau harus bangkit sendiri dan beritahu aku apa yang harus kulakukan untuk membantumu- menyembuhkan lukamu."
Aku berharap dia menyadari rasa bersalah di hatiku dan memaafkanku.
Bersusah payah, dia akhirnya bisa kembali ke dalam bathtub. Aku berinisiatif sendiri menambahkan kepingan es batu di dalam lemari pendingin yang ada di dalam kamarku ke dalam bathtub untuk semakin menyejukkan tubuhnya.
"Aku akan mengambil satu plastik besar es batu di dalam ruangan pendingin dapur hotel."
"Jangan pergi." Ucapannya menghentikan langkahku. " Dia masih mencarimu dan jika dia menemukanmu sekarang aku mungkin tidak akan bisa melindungimu."
Aku tertegun mendengar perkataannya.
Dia berniat melindungiku. Hantu ini...yang entah dari mana datangnya berniat menjadi malaikat pelindungku... maksudku hantu pelindungku 'kan dia bukan malaikat, dia hantu.
Dan matanya memplototiku dengan tajam.
Lah, emangnya salahku dimana? Diakan memang hantu, masak mau dikatain malaikat? Dasar hantu labil.
Kali ini aku menemukan matanya yang sendu berkilat marah padaku.Sungguh pemarah. Aku memilih kabur sesegera mungkin dari dalam kamar mandi sebelum dia mengamuk marah dan bergerak menyergapku kembali.
***
Aku baru saja mensave file tugasku ketika aku mendengar samar-samar keributan di depan pintu kamarku. Melepaskan earphone yang menutupi telingaku, aku dihantarkan pada kejadian yang terjadi di balik pintu.
Rosta memaksa masuk ke dalam kamarku. Beberapa pegawai hotel mengatakan aku belum kembali sedari tadi. Namun pria itu bersikeras. Aku melompat dari ranjang dan bergegas meraih tas kerja Rosta yang juga berisi ponsel Sarina lalu berlari ke kamar mandi. Menyembunyikan tas itu di sela dinding kamar mandi yang bolong karena bekas tempat mesin heatwater mini yang dicabut dan belum di dempul ulang oleh enggineering and maintenance departemen. Aku menutupi bolongan itu kembali dengan cermin.
Lalu pendengaranku mendengar suara-suara mereka di dalam kamarku.
"Anda lihat, Manager Li tidak ada."
Aku berlari menuju bathtub, menyibak tirainya dan menyemplungkan kakiku ke dalam bathtub, lalu menyadari ada sosok lain di situ tengah berselonjor santai dan kini mempelototiku karena aku menginjak tubuhnya yang setengah telanjang. Aku baru akan menyibak kembali tirai untuk keluar dari bathtub ketika tangannya menarikku.
Kami berdiri sambil berpelukkan di dalam bathtub. Tubuhnya dan tubuhku menempel.
Wow, aku benar-benar bisa menyentuhnya. Sepertinya aku hanya bisa menyentuhnya jika dia mengizinkanku. Aku mencoba menahan degup jantungku yang berdetak kencang, berharap dia tidak mendengarnya walaupun rasanya, itu mustahil karena cuma aku yang memiliki detak jantung di sini.
Didetik selanjutnya tirai bathtub tersibak. Ada empat pasang mata yang kini menatap ke arah kami. Rosta, manager kamar, Cindy dan seorang petugas keamanan hotel. Aku memejamkan mataku dan memilih membenamkan wajahku ke dadanya sambil menanti reaksi mereka saat melihatku di sini.
Lalu semuanya beranjak pergi. Mustahil.
__ADS_1
Apa kau membuat mereka tidak bisa melihatku?
Aku menatap wajahnya, lalu mendapati anggukkan kecil di sana. Aku baru menyadari kalau dipandang- pandang ternyata dia hantu yang cukup ganteng dan manis. Tubuhnya lebih tinggi dariku, ubun-ubunku berada tepat di bawah dagunya saat kami berpelukan tadi. Wajahnya oval dan hidungnya mancung. Dadanya bidang dan bahunya cukup lebar seperti seorang instruktur renang.
"Aku tahu aku manis dan ganteng." Dia berbisik di telingaku, mencipta rasa geli di telingaku karena suaranya seperti tiupan angin sepoi-sepoi. Jelas dia sedang mengintip isi pikiranku. Jelas itu semacam peringatan tak tertulis padaku bahwa aku harus menjaga pikiranku dan tak boleh berpikir aneh-aneh. " Apa kau berniat berpikir aneh-aneh tentangku?" Dia menggodaku lagi. Jelas baru saja mengintip isi kepalaku. Aku bisa merasakan rona merah muda mengalir di permukaan wajahku.
Melarikan diri adalah hal yang terlintas di benakku untuk menghindarinya. Namun baru saja aku akan bergerak keluar dari bathtub, tangannya menahanku. Lalu turun perlahan melingkari pinggangku. Matanya yang tajam menatapku lebih lekat dan sialnya hatiku malah bertebaran. Ini tidak logis.
Tunggu, apa hantu ini mencoba menggodaku?
"Ckckck, apa kau pikir dirimu begitu cantik?" Mulut ketusnya mengagetkanku. Lagi-lagi dia membaca pikiranku.
Lalu kenapa kau menahanku?
Aku memekik di dalam hati tepat ketika Rosta muncul kembali melihat bathtub ini. Mungkin merasakan ada sesuatu yang aneh. Namun tidak memahami apa itu. Dia menatap lekat-lekat pada air yang terguncang di dalam bathtub- di sekitar kakiku. Sementara hantu tampan di hadapanku ini terlihat tersenyum puas menatapku.
"Tuh jangan ge-er, aku hanya ingin menyelamatkanmu. Lagian siapa yang suka pada wanita sepertimu?" Dia berbisik. Aku memonyongkan bibirku dan membuat dia tertawa lebar. Bahagia.
Aku membiarkan dia tertawa. Sekali-sekali menyenangkan hantu stress tak apalah.
Ada yang aneh.
Hati Rosta berbisik. Namun kembali tak paham. Pikirannya hanya dipenuhi kecemasan tentang bukti yang sudah kubawa lari. Dia kembali bergerak pergi.
Kali ini aku tidak bergegas kabur dari hantu ganteng ini. Untuk detik kesekian kalinya kami kembali bergitu dekat. Mungkin kalau dia manusia, aku akan merasakan hembusan nafasnya di sekitar kulit wajahku, detak jantungnya yang berlomba melompat keluar dari rongga dadanya dan menabuh permukaan kulit dadaku. Namun dia hantu. Tak ada hembusan nafas yang menerpa kulit wajahku karena satu-satunya yang bernafas di sini adalah aku. Namun tetap saja aku merasakan sesuatu yang aneh mengaliri tubuhku. Ini kali pertama aku berdiri begitu dekat dengan lawan jenis, bukan hanya dekat aku kini berada dalam pelukan seorang pria...ya, walau dia hantu, tapi tetap saja dia seorang priakan?
Ia masih memelukku.
Terima kasih karena telah menyelamatkanku.
Aku menatap manik abu-abu matanya yang sebening kristal. Lalu bibirnya yang sedikit pucat tertarik menciptakan senyuman yang indah. Ternyata hantu juga bisa tersenyum.
"Jadi aku boleh tinggal denganmukan?"
Aku melebarkan mataku. Tak mengerti akan permintaannya. Bukankah hantu seharusnya tinggal di tempat-tempat sunyi dan jauh dari kehidupan manusia? Di hutan atau di kuburan.
Dia memplototiku lagi. Buru-buru aku meralat pikiranku.
Aku tidak yakin. Tapi aku akan mengizinkanmu tinggal sementara waktu sampai kau menemukan tempat tinggalmu sendiri karena kau sudah menolongku.
__ADS_1
Aku menemukan binar kecewa di matanya atas jawabanku dan entah mengapa itu melukai hatiku. Namun kemudian dia mengangguk juga. Tepat saat itu aku mendengar suara pintu kamarku menutup. Tamu-tamu tidak diundang itu telah pergi. Lalu aku buru-buru melompat keluar dari dalam bathtub.