Aku Bisa Mendengar Hatimu

Aku Bisa Mendengar Hatimu
19. Aladin dan lampu ajaib


__ADS_3

"Alex!" kali ini aku meneriakkan namanya. Terserah jika ada yang mendengar lalu menanyakannya padaku siapa orang yang sedang kucari.


Your kidding, Man? Kita akan benar-benar berburu hantu malam ini?


Nggak malam ini. Besok malam maybe. Kita harus survei lokasikan?


Ke tempat itu?


Hotel apa namanya? Hotel Lamara?


Kau tahu selama ini hanya gimmick-kan dan sekarang kau mau melakukannya?


Tenang saja, teman-teman. Bagaimana jika disana juga sebenarnya tidak ada apa-apa? Kalian tahu selama ini kita juga tidak menemukan apa pun kan?


Kita membohongi orang! Kau tahu itu. Kita melakukan syuting seakan-akan ada makhluk itu. Sebagai seorang yang pura-pura menjadi cenayang gue nggak setuju!


Kau hanya cenanyang palsu. Aku yang menulis semuanya termasuk skenario konten ini, aku juga akan menjalani tempat itu. Dan aku tidak keberatan.


Your grazy, Man!


Kegilaanku yang membuat kita di puncak kehidupan bukan? Dengan subscribers yang banyak dan membawa kita pada kehidupan berlimpah harta.


Aku mendengar pertengkaran si youtuber dan seorang dari rekannya. Pertikaian di dalam kepala mereka jelasnya, bukan teriakan dari mulut mereka. Kalian tahukan apa yang keluar dari mulut kalian adalah berasal dari hati kalian? Begitulah konsepnya, jadi aku mendengarnya dari hati itu. Bahkan aku tidak berada di lantai yang sama dengan kamar mereka berada, tapi tetap saja suara suara mereka membombardirku bersama suara-suara penghuni hotel lainnya. Kusadari bahwa kini jarak dengarku semakin jauh dan akibatnya semakin banyak suara yang membenturku. Semakin banyak kebisingan yang membuatku mudah kehilangan fokusku.


Alex! Aku memanggilnya di dalam hatiku. Namun tidak juga menemukannya. Setelah mencarinya tiga puluh menit dengan hasil sia-sia, aku memilih kembali ke kamarku. Dan aku menemukannya tengah duduk santai di depan televisi sambil membaca buku dengan begitu asyik hingga bahkan tidak menyadari keberadaanku atau berpura-pura tidak menyadari keberadaanku.


Ada meja dorong berisi makanan di sisi tempat tidurku.


Bagaimana cara dia memasakkan makanan ini buatku? Jangan sampai ada yang melihat perbuatannya di dapur hotel, bisa-bisa bukan hanya tamu yang kabur dari hotel, tapi karyawan hotel juga berbondong-bondong minta resign karena melihat panci dan bahan makanan berterbangan.

__ADS_1


Biasanya dia akan memprotes ucapanku, tapi kini dia nampak tetap sibuk dengan bacaannya, apa kali ini dia tidak sedang mengintip isi kepalaku? Tumben.


"Alex," panggilku. Kali ini dengan mulutku dan tepat di sisinya. Namun dia tidak juga bergeming. Tetap asyik dengan buku di tangannya. Aku mencoba menyentuhnya, bukannya sukses tanganku menembusnya. Aku berniat meraih buku di tangannya hanya untuk mengisenginya, tapi dia lebih dahulu menutup buku itu dan beranjak dari posisinya menuju rak buku. Mengembalikan buku itu di rak lalu menggolekkan badan di sofa hitam yang ada di sisi pintu kaca menuju balkon.


Aku tidak menyangka hantu juga baperan.


Harusnya dia marah setelah kuejek, tapi ajaibnya kini dia cuek saja.


Di kamarku ada hantu laki-laki yang tampan, bibirnya merah dan senyumnya manis.


Tidak perlu mencoba menyenangkanku, aku paham semua. Aku hantu dan kamu manusia.


Deg!


Dia membiarkan aku mendengar kembali isi hatinya. Dia telah duduk di sofa, tak lagi berbaring. Kaki tersilang. Matanya jelas menatapku dengan sendu dan membuat hatiku merasa tak nyaman.


Dia berdiri.


Kau mau kemana?


Hanya menatap bintang di luar sana. Jangan kwatir, kau masih bisa memanggilku jika kau butuh sesuatu...karena aku cuma hantu pelindung buatmukan?


Aduh, hatiku terasa ngilu karena ucapannya. Aku tahu dia sakit hati padaku, tapikan logikanya aku dan dia memang tidak untuk bersama?


Dia menghentikan langkahnya lalu kembali menatapku.


Kemarin kau menanyakan dari mana aku berasal...Aku akan memberitahukanmu dari mana aku berasal. Aku berasal dari gubuk kecil di hutan Pinus.


Deg! Kelebatan kenangan menyeramkan dari gubuk kecil di hutan Pinus menyentakkanku. Bayangan tentang botol-botol praktikum di lemari kaca yang terdapat di gubuk reot itu membuat bulu kudukku meremang.

__ADS_1


Kau menjatuhkan sebuah botol yang tergantung di anjungan atap gubuk yang terikat dengan tali. Di situlah aku diikat dan dikucilkan dari hantu-hantu lainnya. Peraturannya siapa pun yang membebaskan ku akan menjadi majikanku, aku wajib tunduk padamu. Namun jika kau mengusirku atau menolak keberadaanku secara nyata dan mengusirku dengan lisanmu sebanyak dua kali, aku pasti akan tersedot kembali ke gubuk kecil di hutan Pinus.


Aku ingat bagaimana dia mengamuk saat aku mengusirnya, jadi inilah alasannya. Dia tidak ingin terkurung lagi di sana. Aku tidak tahu apa yang dia alami di sana, tapi membayangkan pengalamanku- aku yakin yang dia rasakan adalah penderitaan yang tidak terperikan.


Aku ingin memeluknya saat ini, sekedar memastikan dia tahu aku akan selalu ada untuknya sebagai seorang teman. Namun dia beranjak. Mengambil jarak dariku. Dan betapa aku tidak menyukai hal itu.


Terima kasih karena mengizinkanku ada di sisimu. Aku akan keluar. Pergilah mandi lalu habiskan makananmu.


Dia menghilang di saat aku masih bergelut dengan pikiranku. Aku pernah membaca kisah dongeng seribu satu malam tentang Aladin dan lampu ajaib. Ketika Aladin didatangi seorang penyihir laki-laki yang mengaku sebagai pamannya dan membawanya pergi untuk mencari lampu ajaib. Setelah perjalanan panjang yang melelahkan akhirnya mereka tiba di sebuah gua. Mulut gua itu terlalu kecil untuk dimasuki orang dewasa lalu penyihir itu memaksa Aladin untuk turun ke dalam gua.


Aladin yang muda dan tak berpengalaman ketakutan memasuki gua itu dan karena berpikir untuk keserakahannya si penyihir memberikan Aladin sebuah cincin yang akan berubah menjadi karpet ajaib dan akan membantunya keluar dengan mudah dari dalam gua jika sesuatu yang buruk terjadi. Maka menurutlah Aladin dan turun ke dalam gua.


Ketika gua runtuh, si penyihir meminta Aladin menyodorkan lampu ajaib dari mulut gua, tapi Aladin menolak. Dia tertimbun di dalam gua. Di dalam gua yang gelap itulah pertama kali Aladin menggosok lampu kusam dan berdebu itu dan menyebutkan permintaannya pada sosok jin raksasa yang keluar dari dalam lampu. Lalu dalam sekejap dia tiba di rumahnya kembali. Itulah awal perubahan hidup Aladin yang miskin. Jin dalam lampu mengabulkan seluruh keinginan tuannya: Aladin bisa makan enak tanpa bekerja, Aladin memiliki rumah mewah tanpa bersusah payah, bahkan untuk menikahi seorang putri Jasmin dia membawa mas kawin sebuah istana beserta isinya dan para dayang serta perajurit.


Aku selalu ingat apa yang dikatakan jin besar itu setiap Aladin meminta sesuatu: 'permintaanmu adalah perintah bagiku.' Aku ingat Alex juga pernah berkata seperti itu padaku. Pasti ini sebuah kehidupan yang sangat tak menyenangkan baginya. Jika aku membebaskannya apakah itu akan jadi awal menyenangkan buatnya?


"Aku membebaskan..." Mulutku dibekap oleh sebuah tangan kuat hingga aku tidak bisa berkata-kata.


"Aku sudah memintamu untuk tidak mengusirkukan?!"


Aku hanya ingin kau menjadi makhluk bebas. Kau bukan budakku!


"Terima kasih atas pemikiranmu, tapi aku hanya punya dua pilihan dalam hidupku: satu menjadi pelayanmu dan dua: kembali ke gubuk itu. Hanya itu dan aku tidak ingin kembali kesana, satu-satunya yang kuinginkan hanya ada di sisimu. Jika hal itu menyulitkanmu: aku mohon bertahanlah untuk sesaat."


Aku bisa melihat wajahnya yang berduka, lalu perlahan dia memudar. Kembali tak kasat mata bahkan sebelum aku sempat mengatakan apa pun juga.


"Alex, maaf." Tak ada jawaban. "Alex, aku tidak bermaksud buruk. Kau juga tidak pernah menyulitkanku, aku yang menyulitkanmu! Alex, tolong bicaralah! Kau boleh marah padaku!" Semua kata yang kukatakan hanya membentur dinding-dinding kamarku. Lalu semua menjadi hening setelah aku menutup mulutku. Dia sepertinya menghilang. Mungkin butuh waktu menenangkan diri, jadi tak ingin mendesaknya aku memilih memberinya waktu untuk berpikir pada perasaannya.


Mungkin bukan hanya dia yang butuh menenangkan diri, mungkin aku juga. Butuh waktu memikirkan semua hal ini. Tentang kehadirannya di hidupku. Tentang artinya bagiku.

__ADS_1


__ADS_2