Aku Bisa Mendengar Hatimu

Aku Bisa Mendengar Hatimu
18. Youtubers 1


__ADS_3

"Kalian dimana? Aku sudah di hotel. Kenapa kalian belum tiba juga?"


Saya sudah di dalam. Menurut penerawangan saya sih, di hotel ini memang benar ada hantu.


Di lobby hotel ada meja resepsionis, sofa panjang putar tepat di sebuah tiang besar ada di hadapan meja itu. Dan di dinding belakang meja resepsionis terdapat sebuah televisi layar lebar yang menanyangkan profil hotel termasuk fasilitas dan promo yang sedang berlangsung.


Wow, hari ini terdapat potongan harga kamar nyaris enam puluh persen.


Di kanan lobby terdapat ruangan yang lebih luas berisi sofa kulit yang cukup panjang dengan meja-meja kaca untuk tempat para tamu singgah sambil menunggu menyelesaikan registrasi kamar. Dan dinding ruangan ini dipahat dengan ukiran kayu yang sangat indah tentang pertempuran antara wanita-wanita rupawan dan sosok makhluk jelek bertubuh raksasa.


Gila, gue udah dapat format kalimat pembuka yang bakal gue gunain di liputan kali ini. Insting gue bilang penelusuran malam ini bakal sempurna. Mungkin hantu lain juga bakalan muncul kan seru hehehe.


"Ini kunci kamar..."


Aku bergegas meraih kunci yang baru saja diletakkan Caty. "Maaf, kamar ini sudah terisi."


"Tapi, Manager.... Data di komputer..."


"Aku belum memperbaharui data. Semua kamar telah dibooking.Tidak ada kamar kosong." Caty menatapku dengan penuh tanda tanya, aku memberinya kode agar menurut walaupun aku tahu dia keberatan untuk menurut.


Gak ngerti deh, jalan pikiran manager Li sekarang. Kan banyak kamar kosong kok malah dibilang nggak ada kamar kosong?


Aku bisa mendengar hati Caty mendumel padaku.


"Saya nggak lama kok disini, Manager. Cuma dua hari saja. Cuma untuk malam ini saja, besok pagi langsung cabut, please."


Aku memandang sosok di hadapanku itu dengan setenang mungkin. Dia punya penampilan yang cukup eksentrik. Rambut yang berwarna ombre, dia bahkan memakai celak di garis matanya. Pakaiannya sebuah jump suit yang dipadukan dengan celana jeans belel dan sepatu laras untuk para pendaki gunung.


"Tapi benar-benar tidak ada kamar kosong."


"Kami akan membooking beberapa kamar bahkan tidak akan memakai potongan harga juga."


"Tapi kami tidak bisa menjual apa yang tidak ada." Aku baru selesai menjelaskan kepada Youtubers gendeng itu ketika sebuah tangan mencekal lengan atasku dengan cukup keras. Aku bisa melihat roman kaget di wajah Caty dan Rudi sama kagetnya denganku saat aku menemukan sosok itu di depan wajahku.


"Kita harus bicara," suara General manager terdengar mengerang menahan amarah saat berbisik. Aku ciut seketika. "Siapa namanya?" General manager bertanya pada Caty setelah lirik youtuber yang telah beranjak pergi sambil menarik kopernya.


"Sanada, Pak."


General manager langsung melesat bagai anak panah meninggalkan busurnya untuk mengejar youtuber itu. Sebentar kemudian pria dengan rambut warna-warni telah kembali ke depan meja resepsionis.


"Ada beberapa kamar yang mengalami pembatalan beberapa menit yang lalu dan bagian resepsionis belum mengetahui itu. Hehehehe." General manager melirikku dengan sorot mata tajam. Si youtuber balas tertawa.


"Bagus deh, Pak. Emang rezeki nggak kemana, yah. Hehehehe." Dia melirik ke arahku seakan berkata penuh ejekan kepadaku: ketauan kan lo?


"Kamu mau menginap berapa hari?"


Great bahkan general manager mengambil alih tugas resepsionis untuk melayani makhluk itu yang cengengesan nggak jelas.


"Kita datang sama tim, Pak. Ada berlima dan kita niatnya mau syuting beberapa hari di Bandung buat konten youtube."


"Oya?" General manager bersuara kaget, "Jadi youtuber dong?" Dia terkekeh bersama si youtuber konten rumah hantu. Coba saja dia tahu hal itu, aku mau lihat bakal sekaget apa general managerku ini. "Banyak followers nya dong?"


"Delapan juta subscribers, lumayan deh, Boss sudah bisa makan sendiri sama kasih orang makan." Ngakak lagi dan general manager juga ikut ngakak.


"Tapi kontennya cari hantu," celetukku nggak sopan. Dan dor! Mata general manager langsung melotot menatapku. Dia shock.


Tuhkan rasain.


"Tapi kamu nggak berpikir di sini ada hantukan? Kamu bukan mau cari hantu disinikan?" Mata general manager menatap ngeri. Si youtuber tertawa tanpa dosa.


"Nggak lah, Pak. Kita mau keliling Bandung kok cari tempat angker."


Dasar pembohong.


"Kenapa nggak ke bekas Hotel Lamara saja?" Rudi berceletuk. "Beritanya di sana angker."

__ADS_1


"Iya. Iya. Kemarin saya baru nonton beritanya," timpal general manager setuju lebih karena tidak ingin hotel ini dijadikan tempat syuting pencarian dedemit kali.


"Serius, Pak?" Mata youtuber itu berkilat penasaran dan entah bagaimana malah ketertarikannya membuatku merinding ngeri.


"Jangan main-main dengan tempat itu. Jangan pernah kesana!" Aku berkata dengan nada cukup tinggi seperti slice yang selalu ada dalam adegan film horor. Biasanya sih si pemain ketemu nenek atau kakek tua di tepi jalan untuk memperingati para pemain utama dan rombongannya. Lalu aku menyadari hal itu membuat semua mata kini terarah padaku.


"Mbaknya sudah pernah ke sana? Dan bisa ngelihat gitu?" Aku melihat semua mata kini menunggu jawabanku. Aku merasa mengenal tempat itu. Aku memang merasa pernah kesana, dengan pengalaman yang tidak bisa dibilang menyenangkan, malah sepertinya lebih dari menakutkan: mengerikan- tepatnya, mungkin karena aku tidak yakin itu bukan fatamorganaku saja.


Aku ingat bagaimana aku tertidur sebentar di dalam mobil IPTU Candra dan berakhir dengan mimpi dikejar-kejar beribu setan mengerikan di sebuah gedung kosong dan tak terurus yang aku yakini bekas gedung Hotel Laguna. Aku tidak yakin apa mimpi itu muncul karena ketakutanku atas pertanyaan IPTU Candra beberapa menit lalu ketika di gerai kopi bahwa aku dibawa ke hotel Laguna.


"Saya menonton berita itu kemarin. Menurut saya, masyarakat sekitar tidak akan berbohong tentang hal mengerikan seperti itu. Mereka tidak mendapat keuntungan apa-apa bahkan dengan resiko kawasan rumah mereka akan dianggap menakutkan." Aku berpikir logis. "Selain bahwa..." Tit... aku merem mulutku yang nyaris kelepasan lagi. "Tidak jadi."


"Sejujurnya saya juga cuma bergurau tentang tempat itu." General manager memperjelas omongannya. "Ada aturan-aturan alam semesta dimana kita seharusnya tidak mengusiknya. Ada perbedaan antara kita dan mereka, dimana mereka berada kita tidak bisa memasukinya dimana kita berada mereka tidak bisa memasukinya."


Wow, haruskah aku mempercayai ini? General managerku yang terkenal rasional percaya pada hal gaib di luar nalar?


"Jadi maksudnya Anda percaya keberadaan hantu?"


"Saya membaginya menjadi demon and angel."


Si youtuber terkekeh. "Kalau begitu Bos wajib nonton dong konten kita tak kasat mata. Seru bossku." Ujung-ujungnya dia berakhir dengan mempromosikan kontennya. "Si Mbak Manager kayaknya viewer juga nih." Dia berbalik kepadaku.


Pinginnya aku berkata: mimipi kali lo.


Buat apa juga aku nonton hantu jelek menakutkan di acaranya dia sementara di kamarku ada hantu ganteng lebih ganteng dari Siwon-bintang Korea itu-yang nyata dan bisa disentuh.., ya itu kalau dia lagi memberi izin sih. Namun aku mengekang mulutku.


"Nih, saya kasih tanda tangan saya buat, Mbak Manager." Aku menolak halus, tapi dia memaksa jadi aku mendapatkan selembar kertas berisi tanda tangan dan memonya: untuk penggemar tercantikku. "Jadi balik ke tadi, Mbak Manager mau ngomong apa tadi?"


"Mas Bro!" teriakan dari empat orang pria terdengar dari jarak satu meteran menyelamatkanku dari keharusan menjelaskan potongan ucapanku. Aku menarik nafas lega sambil menatap rombongan itu. Jelas mereka adalah kru sang youtuber. Si youtuber Sanada melambaikan tangannya bersamaan dengan Caty yang menyerahkan tiga kunci kamar pada sang youtuber dan juga mengembalikan kartu kredit platinum si youtuber. Mereka berbicara riuh. Ternyata nggak laki nggak cewek kalau ngumpul selalu heboh. Lalu sebentar kemudian mereka telah melangkah pergi menuju kamar diantar tiga orang room boys.


Sepeninggal mereka aku menanti general manager berbicara padaku.


"Bagaimana kasus Sarina menurut kepolisian?" Dia bertanya hal yang lain, jelas memahami mengapa aku menolak para youtuber itu.


Karena suasana lobby sudah sepi kembali aku menjawab: "Mereka menemukan bukti bahwa kematian Sarina erat kaitannya dengan urusan bisnis hotel." Intonasi suaraku memelan. General manager yang menyadari hal itu serius mengajakku ke tempat yang lebih privat apalagi kalau bukan ruangannya.


"Rosta ternyata meminta Sarina untuk mencari berkas tentang para pemilik hotel. Sepertinya dia berniat mengakuisisi seluruh saham hotel untuk dijual kepada seseorang."


General manager melirikku dari sisi dispenser tempat dia berdiri. "Kau tahu menurut polisi pada siapa dia akan menjualnya?" Aku menggeleng jujur. Dia mendesah. "Dan tadi...apa yang akan kau katakan sebenarnya?"


Deg!


Itu bukan informasi kepolisian, tapi sesuatu yang kuketahui dari mencuri dengar pikiran IPTU Candra. Apa aku harus mengatakannya pada atasanku ini?


Kayaknya kurang sopan menyebarkan informasi yang masih disimpan IPTU Candra dariku.


"Aku hanya ingin mengatakan bahwa sekarang di tempat itu dipasangi garis polisi, Pak yang menandakan tidak sembarangan orang boleh memasuki bekas hotel Laguna karenanya mereka bisa diancam hukuman sebagai perusak TKP."


General manager mengangguk-angguk paham. Ternyata aku pandai juga mencari alasan.


"Menurutmu..." General manager membuat jeda sebentar. Dia menatapku serius. "Kau merasakan sesuatu yang aneh di sini?"


Aneh? Aneh apa? Anjirrr. Aku selalu merasa tidak nyaman dengan kata itu. Tidak tahu kenapa. Seakan ada sebuah kejadian buruk yang pernah menimpaku...kejadian yang aneh. Entah apa.


"Maksud Anda?"


"Kau percaya mistis?"


Deg! Mata kami bersua kembali.


Satu-satunya makhluk mistis yang dipercayai ada di dunia ini yaitu Alex.


General manager masih menatapku. Aku memberinya tatapan aneh. Dia mengusap rambut belakangnya lalu tertawa. " Saya hanya kepikiran tentang youtuber-youtuber tadi. Kamu tidak merasakan ada hantu di hotel inikan?"


Deg! Aku kaget luar biasa. Apa mungkin general manager bisa melihat Alex, si hantu ganteng di kamarku? Aku berpura-pura celingak-celinguk ke seluruh ruangannya dan dia tertawa.

__ADS_1


"Saya tidak bermaksud menertawai kamu atau menakuti kamu karena saya jamin di hotel ini tidak ada hantu atau setan yang bisa tinggal."


Ya, ya, whatever lah, Mister karena ada satu di kamarku.


Coba kalau aku bicara seperti itu pasti GM ku ini kaget setengah ******. Namun aku juga tidak sudi memberitahunya dan berakibat bisa kehilangan Alex.


Aku menatap ruangan general manager ku yang tidak sering dimasuki siapa pun. Ada banyak buku di rak bukunya yang berada di belakang kursi managerialnya. Sebuah pedang disimpan dalam lemari kaca bersama beberapa figur super hero. Aku tidak tahu dia penyuka karakter super hero dari kartun Marvel. Ketika menatap lekat-lekat pedang itu mataku melihat pedang itu bergerak kecil seperti terguncang karena lemari penyimpanannya diguncang seseorang, tapi tidak ada yang mengguncang.


Serius? Aku mengucek mataku. Kemudian kembali menatap pedang itu lekat-lekat.


"Mau berkencan denganku?"


What?! Pertanyaan itu membuyarkan semua konsentrasiku pada si pedang perak. Aku menatap general manager dengan serius. Oke. General managerku cukup ganteng walaupun usianya sudah kepala lima. Tubuhnya juga sangat terawat melebihi seorang atlet. Dia menduda...eh tepatnya dia memilih tidak menikah dan menjalin hubungan dengan wanita manapun setelah kekasihnya meninggal. Kabarnya kekasihnya meninggal misterius. Jasadnya saja tidak ditemukan. Hanya itu yang kutahu tentang dia.


"Maaf, Pak, tapi saya tidak bisa."


"Sudah punya kekasih?"


Lalu aku melihat sebuah bayangan putih memadat berdiri di sisi general manager. Siapa lagi kalau bukan Alex. Lalu aku menyadari bahwa kemungkinan besar yang kulihat di belakang jok mobil IPTU Candra juga dia. Kenapa dia terus mengawasiku? Apa yang dia sembunyikan dariku?


Kenapa kemari?


"Kau tidak pulang ke kamar. Ini sudah malam. Waktu kerjamu sudah selesai."


Ckckckckck. Apa sekarang kau menghapal jadwal kerjaku dan menjadi posesif? Hehehehe.


"Emely?" General manager memutar tubuhnya melihat ke arah pandanganku. Tentu saja tidak menemukan apa pun. Tak ingin membuat kesalahan lain aku buru-buru mengalihkan pandangan hanya pada general manager


"Beritahu dia."


"Jadi bagaimana?"


"Apa?"


"Your in relationship." Aku kaget mendengar kalimatnya. Namun aku tetap mencoba fokus hanya pada general manager hotelku saja.


"Mau berkencan denganku?" Mataku terpahat pada wajah setengah baya yang nampak menarik itu. Suaranya yang serak juga terdengar seksi.


"Kau bilang apa? Dia menarik? Dia seksi?" Alex memekik marah. Jelas lagi-lagi dia membaca pikiranku.


Setahuku kita belum pacaran jadi aku masih boleh memuji dan jalan dengan pria manapun.


"Apa maksudmu?" Dia menyerbu ke arahku. Tangannya mencoba memaksa wajahku menatapnya, aku menahan wajahku untuk tidak menoleh dari general manager. Akhirnya entah bagaimana kepalaku berakhir terangguk-angguk. "Kita sudah berciuman!" Alex memekik.


"Baiklah. Besok pukul tujuh malam. Mari berkencan?"


"Apa?!" Aku terpekik kaget. Namun general manager santai saja.


"Kau mengangguk setujukan tadi?"


Alex menatapku kesal lalu berlalu.


Eh, kok jadi dia yang marah? Kan dia yang buat kepalaku jadi nggak terkontrol dan berakhir dengan angguk-angguk. Lagian serius dia benaran jatuh hati padaku? Diakan hantu.


"Permisi, Pak. Saya ada urusan mendadak." Aku pamit sesegera mungkin hendak mengejar Alex. General manager menatapku lekat-lekat seakan mau tahu apa yang dimaksud dengan urusan mendadak dalam kalimatku itu. Namun aku nggak mungkin kan jujur kalau aku mau pamit untuk mengejar cowok ganteng tak kasat mata yang tadi ada di ruangan ini bersama kami dan kabur karena ngambek? Bisa-bisa general manager pingsan seketika. "Mau ke toilet, Pak." Jadinya aku membuat alasan tidak intelek.


"Silahkan. Tapi ingat besok on time, ya?"


Aduhh! Siapa juga yang mau berkencan dengan kamu Pak GM? Oke, Bapak ganteng, tapi aku masih ingat waktu pertama Anda menggetok kepala saya di awal karier saya- di depan umum lagi. Malu-maluin.


"Tidak ada tapi-tapi loh. Tidak ada berubah pikiran."


Deg.


Apaan sih? GM ku ini kok tahu apa yang sedang aku pikirkan?

__ADS_1


Akhirnya aku mengangguk saja lalu bergegas kabur mencari Alex.


__ADS_2