Aku Bisa Mendengar Hatimu

Aku Bisa Mendengar Hatimu
21. Youtuber 2


__ADS_3

"Emely!" Aku tidak mempedulikan suara panggilan itu. Aku terus berlari. Namun langkahku terhenti saat general manager berhasil menangkapku. Aku meronta.


"Berhentilah! Kau terluka! Kau pikir apa yang akan kulakukan padamu?! Jangan membuat semua orang memandangi kita seakan aku akan membunuhmu." Suaranya memelan. Aku mengikuti tatapan dan menemukan orang-orang kini memandangi kami. "Tidak ada apa-apa. Dia hanya panik ketika aku melukainya saat bermain anggar tadi." Dia menjelaskan pada orang-orang itu. Kemudian tangannya menuntunku menuju bangku panjang di sisi tepi arena senam palang. Tak bisa kabur lagi aku akhirnya menurut juga.


Dia mengikat lenganku yang masih berdarah. Luka itu tidak terlalu lebar ternyata. "Kalau aku ingin melukaimu dengan parah itu tidak sulit bagiku dan kau pasti tidak akan bisa mengelak."


"Siapa kau?"


"Aku general manager..."


"Kau tahu bukan itu yang kumaksud." Dia mengencangkan ikatan di lenganku. "Bagaimana kau tahu aku bisa mendengar suara hati orang lain?" Aku memelankan suaraku saat mengatakan hal itu agar tidak ada seorang pun yang bisa mendengar perkataanku.


"Karena aku mengenal seorang wanita sepertimu dulu."


"Apa?"


"Namanya Hayden. Dia gadis berkebangsaan Amerika."


"Kekasihmu? Wanita itu..."


"Kau harus tahu ada beberapa dari antara kita di seluruh dunia ini hidup dengan kemampuan spesial." Dia memotong ucapanku.


"Maksudmu? Kau juga...?" Aku menatapnya tidak percaya. "Bisa mendengar suara hati..."


"Kau jelas tidak menyimak ucapanku. Aku tidak mendengar suara hati siapa pun, aku bukan seorang penguping." Aku memandangnya, memasang wajah kesal. Memangnya siapa yang ingin memiliki kemampuan seperti ini? Oke, awalnya kemampuan ini menyenangkan. Aku bisa mendengar suara hati teman-teman dan mengetahui rahasia kecil-kecilan dari hidup mereka- sekedar untuk menyemarakkan hari dengan menggoda mereka dengan rahasia mereka. Tahu bahwa Sisi, teman SMP ku menyukai Pak Ardi, sang guru matematika. Tahu Pak Ardi menyukai Bu Rara, guru bahasa Indonesiaku dan berapa kali mereka berkencan serta dimana saja. Tahu juga Tomy menyelingkuhi Carita dengan cewek sekolah sebelah, tahu dimana mereka janjian dan tahu apa saja yang telah mereka lewati dalam hubungan mereka. Tahu Bryan, si bintang kelas ternyata pernah nyontek juga. Dan paling menyenangkan aku tahu soal dan jawaban ujian sebelum ujian dilakukan. Jelas itu salah satu keuntungan yang paling keren. Selainnya aku bergumul dengan kemampuan ini. Menolak Vano karena aku tahu yang dicintainya adalah Amira, sahabatku yang telah memiliki kekasih. Karena niatnya mendekatiku hanya agar dia punya kesempatan sekedar jalan bertiga bersama Amira, untung-untungan bisa membuat hati Amira beralih padanya. Dia jahat bukan?


Atau pernahkah kau berpikir apa yang harus kau lakukan saat usiamu baru tiga belas tahun dan seseorang yang melintasimu di jalanan berpikir malam ini dia akan melakukan niatnya membobol rumah orang kaya yang bahkan kau tak tahu dimana tepatnya? Dia hanya seseorang yang berlalu dari sisimu di penyeberangan jalan, sama seperti orang lain di hari itu- kulitmu saling bersentuhan karena tergesa lalu dia menghilang.


Apa kau pernah berpikir bagaimana rasanya saat keesokan pagi kau mendengar berita perampokan yang menyebabkan kematian si pemilik rumah dan beberapa orang rumah? Apa kau tahu rasanya?


Atau apa kau tahu rasanya digempur perasaan seseorang yang putus asa dan memilih mengakhiri hidupnya? Apa kau tahu bagaimana perasaan seseorang wanita yang jatuh hati pada seorang pria yang salah yang berakhir mendorongnya dari atas gedung hotel? Ada kecewa, ada ketakutan, ada kesedihan dan kemarahan. Marah pada semuanya termasuk pada Tuhan. Apa kau tahu seberapa kuat emosi itu hingga bahkan mampu mencekikku dan membuatku tak bernafas?


"Jangan tersinggung." Akhirnya dia berkata. "Dan apa kau pikir kita ada di dunia ini karena kesalahan takdir? Ayo, pergi dari sini. Kau harus tahu banyak hal."


"Apa maksudmu?"


"Diam dan ikuti saja. Takdirmu untuk menyelamatkan dunia ini."


Wow, memangnya dia pikir aku super hero?


***


Kami terjebak berdua di dalam mobil cap terbukanya karena kemacetan akibat event live music yang penontonnya meluber ke jalanan hingga memaksa kenderaan seperti kami yang tidak tahu akan acara tersebut berputar-putar mencari jalan alternatif. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, padahal kami bahkan belum makan malam apa pun. Coba saja Alex tahu ini. Dia pasti marah besar karena aku melupakan waktu makan. Lalu dengan cepat dia akan pergi menyiapkan hidangan spesial buatku. Memang pria perhatian itu langka. Dan aku merindukannya. Apa kabar dia malam ini? Sudahkah dia menanti kepulanganku di dalam kamar atau masih menghilang untuk menenangkan diri.


Breaking news. Kembali bersama saya Carita Angelita di newstv. Pagi ini polisi menemukan sebuah jasad yang membusuk di sisa-sisa gedung Hotel Lamara yang telah lama tidak dibuka. Penemuan ini terjadi setelah beberapa masyarakat melaporkan mendengar suara teriakan dan kebisingan dari arah gedung kosong bekas Hotel Lamara malam kemarin. Gedung Lamara Hotel memiliki sejarah menyeramkan menurut masyarakat sekitar.


Lo-lo yang hobby nonton berita pasti tahukan berita itu? Kisahnya baru banget, guys- polisi saja kita pastiin belum bisa menuntaskan kasus itu. Lo tahu kasus apa yang gue maksudkan? Sosok mayat membusuk yang ditemukan di hotel ini dan sekarang sesuai permintaan kalian guys, malam ini kami akan kasih kalian sebuah penelusuran spektakuler di bekas Hotel Lamara yang seperti lo-lo dengar tadi dari si Mbak pembawa berita memiliki sejarah menyeramkan menurut masyarakat sekitar.


Suara itu membenturku. Bersamaan dengan sebuah bayangan mengerikan yang entah apa berkelebat cepat di benakku. Sesosok makhluk mengerikan bertubuh besar berwarna hitam menarik tubuh itu. Gigi makhluk itu tajam dan matanya merah semerah darah.


Guys, lihat deh ada police line disini. Kita coba nggak ngerusaknya. Ini pasti keren banget, guys! Lo-lo pasti juga nggak sabar seperti gue ingin menelusuri setiap ruangan di gedung ini. Oke, kita masuk.

__ADS_1


Lalu sebuah suara lain menghantamku. Pria itu berteriak ketakutan bersama kedua temannya, mereka berlari.


Tuhan, gue belum mau mati.


"Kau tidak apa-apa?" General manager pasti terganggu saat aku mulai gelisah di atas kursiku. Aku jelas tidak tahu bayangan itu. Monster besar itu seperti kisah dalam film, tapi suara-suara mereka yang ketakutan terlalu nyata untuk sebuah film. "Kau mendengar sesuatu?"


Ini tidak nyatakan?


Hatiku bertanya. Lalu aku melihat sebuah bayangan di depan mobil. "Awas!" pekikku.


General manager merem dengan keras, lalu menatap ke jalan di depan sana. Dan turun dari dalam mobil. Dia bergerak perlahan lalu membungkuk di depan sana, memaksaku yang ingin tahu juga turun dari dalam mobil.


"Hey, apa yang terjadi." Ketika aku turun aku sudah disuguhi sebuah pemandangan seorang pria memeluk erat tubuh Mario dan terisak. "Tenanglah, kau aman."


"Mereka bukan manusia....mereka... setan...."


"Bukannya kau salah satu youtubers itu?" Aku berceletuk setelah mengitari punggung general manager dan mengenali wajahnya. Dia tidak ada di meja makan restoran tadi pagi bersama teman-temannya. Sepertinya dialah yang bertengkar tadi malam dengan Sadana. Dia adalah sang cenayang palsu. Jadi dia berubah pikiran demi rasa setia kawan diantara teman begitu?


General manager memegang pundaknya dengan keras memberi jarak diantara mereka. "Jangan bilang kalian benar-benar ke bekas Hotel Lamara."


"Sadana... bilang... itu... tidak apa-apa. Dia... bilang...mungkin...saja...sebenarnya...tidak..


ada...hantu...disana...sama... seperti...di tempat...lainnya...dalam konten kami..."


"Tenangkan dirimu, pergilah dari sini. Kembali ke hotel sekarang juga, kau akan aman di sana. Gunakan mobil ini." General manager menyerahkan kunci mobil buggy-nya kepada youtuber itu yang nampak meragu.


"Tapi.... mereka...masih.. terjebak...di dalam sana.."


"Kami akan kesana. Menolong mereka. Bersembunyilah di kamarmu. Tunggu kami di sana." Lalu general manager menatapku. "Ayo."


"Tapi kau lahir untuk itu, tepatnya bukan pemburu hantu, tapi setan."


"Aku bukan malaikat!" Dia menarik tanganku dengan keras, kali ini bahkan kami telah berlari.


***


Areal Hotel Lamara nampak sangat gelap di malam-malam seperti ini, tidak ada satupun penerangan di dalam areal hotel ini. Kami masuk dari dalam celah pagar yang sepertinya baru saja dirusak oleh Sadana dan rombongannya untuk sebuah konten youtube.


Lumut-lumut terlihat di lantai pelataran depan hotel yang terbuat dari granit. Pohon-pohon besar melingkupi beberapa sisi halaman depan dan belakang. Semuanya begitu sunyi. Kami melangkah perlahan mendekati pintu depan gedung hotel itu. Pintu kayunya terbuat dari kayu aras besar dan kelihatan begitu kuat. Dinding-dinding luar gedung itu sama seperti nasib lantai pelataran depan berlumut dengan cat yang terkopek di sana-sini.


"Tetap di sampingku." General manager mengingatkan hal yang sebenarnya tidak terlalu penting, karena demi Tuhan aku tahu aku pasti akan menempel erat seperti permen karet di sol sepatunya, butuh kekuatan besar untuk mencabutnya.


Pintu kayu itu dibuka. Dentuman suaranya bahkan telah bisa membangunkan setan yang tertidur jika disini memang ada setan. Pintu itu tidak pernah diminyaki dan sedikit sulit dibuka. Kami disuguhi pemandangan lantai satu yang luas. Lobby hotel yang berdebu dan dipenuhi sarang laba-laba. Sebuah meja panjang resepsionis. Lampu gantung yang masih bergantung di langit-langit bergoyang seakan menertawaiku lalu bukan hanya fatamorgana, aku bisa melihat beberapa anak kecil tertawa menyeramkan sambil bergelantungan di tiang-tiang lampu gantung. Leher mereka menjuntai dengan luka menganga bagai boneka-bonekaan di dasbord mobil dengan leher dari per itu.


Aku memekik dan refleks menarik bagian belakang pakaian Pak Mario yang segera menoleh padaku.


"Pelajaran pertama kita tidak boleh memulai perang."


Apa dia bodoh? Jika dia tidak ingin memulai perang untuk apa kami kesini? Apa dia mau menjadi pasukan perdamaian PMM (Perserikatan Manusia Manusia)?


Aku mendumel dalam hatiku.

__ADS_1


"Kau memakiku?" Dia selalu tahu apa yang aku pikirkan padahal katanya dia tidak mendengar hatiku. Dia menarikku pergi dari tempat itu. Kami menaiki anak tangga karena lift sudah pasti tidak berfungsi. "Mereka adalah tumbal tiang pancang gedung hotel ini."


"Apa?"


"Yang di depan."


"Mereka masih anak-anak."


"Mereka bukan anak-anak lagi. Mereka bahkan lebih tua darimu. Hati mereka penuh kemarahan dan kebencian serta rasa iri pada anak lainnya karena itu mereka memangsa anak-anak. Jika kau kesini ketika kanak-kanak pasti kau akan menjadi korban mereka. Mungkin awalnya hidup memang bersikap tidak adil pada mereka saat mereka bertemu dengan para petugas bangunan yang menjadikan mereka tumbal dan membuat mereka kehilangan kehidupan mereka. Direnggut paksa dari keluarga mereka. Tapi mereka tertahan di dunia ini karena mereka memilih menjadi pembenci. Mereka bahkan benci saat keluarga mereka melantunkan doa bagi jiwa mereka karena itu mengingatkan mereka bahwa mereka telah mati."


"Tolong, jangan bunuh aku!"


"Tolong, jangan bunuh aku!"


Suara kedua berbeda dari suara yang pertama. Entah bagaimana aku bisa merasakan kengerian dibalik kalimat yang dia ulangi. Pak Mario menarik tanganku saat suara teriakan keras terdengar dari balik sebuah kamar di lantai tiga ini. Kami berlari.


Tempat ini sunyi, kotor dan gelap. Satu-satunya tempat yang bisa dimasuki cahaya yang menerangi ruangan ini adalah dari celah jendela dinding yang berlubang- sepertinya dahulu ada kaca yang menutup lubang itu. Namun kini dibiarkan terbuka begitu saja.


Mencoba membalikkan tubuh aku melihat sosok mengerikan tengah merayap di dinding. Aku terhenyak dan nyaris menjerit kembali andai Pak Mario tidak buru-buru membekap mulutku. Aku melihat sesosok makhluk mengerikan yang kini tengah menikmati sosok tubuh yang tergeletak dengan mengenaskan di lantai ruangan kamar itu yang kemudian berubah mengering dan menjadi debu. Makhluk itu memiliki tubuh yang hampir melepuh seperti tersiram air panas mendidih atau air keras disekujur tubuhnya. Tubuhnya kurus bagai kulit tersampir di jemuran. Kepalanya yang melepuh botak. Gigi-giginya kecil dan runcing. Matanya yang merah bersinar bagai sebuah senter di keremangan ruangan ini. Dan dia kelihatannya sangat lapar sekali.


Deg!


Dia membalikkan tubuhnya. Mataku dan mata merahnya yang menyala bersua. Lalu aku merasakan sesuatu yang aneh. Aku merasa pernah melihat makhluk itu.


***


Kepalaku masih sakit, aku merasa ada benjolan cukup besar di keningku walau tidak segede bakpao. Aku meraba tempatku kini tengah berbaring: tekstur keras, kasar dan dingin itu membuatku sontak membuka mataku yang masih terpejam. Aku tak tahu berapa lama aku tidak sadarkan diri dan terkapar di lantai granit ini. Bangkit dari tempatku berbaring, aku mencoba memahami dimana aku berada kini.


Aku menapaki ruangan itu dan menyadari bahwa pintu ruangan itu tertutup rapat. Lalu tiba-tiba perasaan itu menghantamku. Ada orang lain di tempat ini dan salah satunya sangat kukenal Rosta.


Kau melewati batasanmu. Tak ada yang bisa kau lakukan saat ini.


Aku membawa gadis itu, dia masih perawan. Aku hanya meminta satu hari lagi untuk menuntaskan semuanya dan hotel itu akan menjadi milik Tuanku. Tak bisakah kau mengatakan itu?


Ada satu hal yang dibenci Iblis dan Tuhan yaitu ketidak setiaan dan kau sudah melakukannya. Kau melakukannya pada orang yang memberimu kehidupan kembali.


Deg!


Dan ada satu perbedaan dari Tuhan dan Iblis adalah soal memaafkan. Tuhan memaafkan sampai Dia kelihatan bodoh di depan ciptaan-Nya, tapi Tuanku tak akan melakukan kebodohan itu.


Jantungku berdetak lebih cepat. Aku harus keluar segera dari tempat ini, aku mencoba mendobrak pintu itu. Bukan hanya sekali, tapi berulang kali hingga lengan atasku terasa begitu sakit.


"Jangan pergi dari sini! Aku tidak mau tinggal di sini!" Suara keras Rosta menghantam telingaku. Ada ketakutan di nada suara itu dan entah bagaimana hal itu membuatku juga semakin ketakutan. Malam mulai datang.


Lalu aku mendengar sebuah suara aneh dari dalam ubin. Bunyinya kresek.. kresek disertai desahan nafas berat yang berulang-ulang, bukan dari satu makhluk, tapi banyak makhluk.


"Tolong! Buka pintunya! Tolong buka pintunya!" Aku memekik lebih keras lagi sambil mendobrak pintu yang ada di hadapanku.


"Tolong buka pintunya."


Telingaku mendengar suara lain mengulangi ucapanku. Suara itu lirih, tapi menakutkan. Mencoba membalikkan tubuh aku melihat sosok mengerikan tengah merayap di dinding. Aku terhenyak dan menjerit kembali. Makhluk itu memiliki tubuh yang hampir melepuh di seperti tersiram air panas mendidih atau air keras disekujur tubuhnya.

__ADS_1


Aku menjerit histeris.


Sama seperti yang dulu kulakukan. Aku pernah kemari. Rosta menculikku kemudian membawaku kemari. Kenapa aku bisa melupakan ini?


__ADS_2