
Aku terjerembab dan terbanting keras ke tumpukan bunga di padang. Perlahan mataku membuka dan menatap burung raksasa yang terbang di angkasa. Burung raksasa? Tunggu...Aku melihat manusia dengan sayap putih lebar menungkik ke arahku. Mengucek mataku aku menyadari makhluk-makhluk itu telah berkeliling di sekitarku. Dan salah satu dari makhluk itu memegangi Iptu Candra yang berada pada posisi bersimpuh.
Suara bagaikan desau air bah itu menerpa pendengaranku. Aku bergegas bangkit dari posisiku yang masih berbaring. Mereka malaikat asli atau iblis? Setahuku iblis juga adalah malaikat yang jatuh dalam dosakan? Dosa memegahkan diri sehingga menyamakan dirinya dengan Tuhan dan berakhir dengan melakukan pemberontakan pada Penciptaannya.
Aku menatap semuanya dengan pandangan curiga. Namun kusadari bukan hanya aku yang menatap dengan pandangan curiga, makhluk-makhluk itu juga menatapku lebih curiga lagi.
"Bagaimana bisa manusia kesini?" Suara seperti air bah itu membentur telingaku.
"Apa mereka bisa melihat kita seperti kita bisa melihat mereka?" Entah bagaimana, aku memahami semua perkataan mereka. Mungkin atas bantuan Malaikat 'general manager' aku bisa memahami pembicaraan bangsanya bahkan bisa melihat beberapa makhluk roh ini karena aku tidak menemukan banyak malaikat di tempat ini.
"Ini adalah pertanda bahwa Panglima Michael mungkin mengalami kesulitan di Bumi."
"Apa dia menyerah pada manusia di Bumi?"
Deg. Jelas yang dimaksud malaikat-malaikat itu adalah General manager Pak Mario.
"Malaikat yang kalian maksud itu mengutusku kesini." Mereka menatapku. Mata-mata mereka yang tajam dan panas bagai api menembus hati dan pikiranku. Mereka melihat hatiku seutuhnya. Membaca pertimbangan dan fakta yang ada di benakku. Siapa yang bisa membohongi malaikat apalagi sepasukan malaikat? "Malaikat di duniaku memintaku memberitahu kalian bahwa iblis mungkin akan menggunakan seorang anak manusia untuk membunuh kalian lalu akhirnya menghancurkan dunia kami. Mereka ingin membuat diri mereka yang tak kasat mata menjadi kasat mata. Merubah penciptaan."
Aku bisa melihat keterkejutan di wajah mereka, tapi tidak kecemasan. Mereka jauh dari kata cemas ataupun khwatir, jelas mereka begitu percaya bahwa Tuhan akan menjaga mereka. Namun aku menemukan perubahan dari sikap mereka yang awalnya jauh dari kata bersahabat kini nampak bersahabat. Mereka melepaskan Iptu Candra. Lalu salah satu malaikat yang menurutku mungkin memiliki kekuasaan lebih tinggi dari yang lainnya berjalan menghampiriku. Sayapnya yang lebar terbentang dan mendekapku.
__ADS_1
***
Apa yang kau pikirkan akan kau lihat di istana para malaikat selain sebuah istana megah yang lebarnya begitu luas dan tingginya melebihi seluruh gedung tertinggi di Bumi? Di istana para malaikat, dalam dinding-dinding istananya, bagai sebuah layar tipis televisi, kau bisa melihat segala hal yang terjadi di dunia manusia.
Layar itu menunjukkan semua informasi dari berbagai negara, juga termasuk kehidupan pribadi kaum manusia. Para malaikat tidak begitu memperhatikannya. Tidak seantusias aku dan IPTU Candra yang kemudian mematung menatap seluruh informasi itu. Ada milyaran cell layar di sana. Tak ada teknologi informasi secanggih ini di Bumi. Seorang malaikat tertinggi di tempat ini menjadi tour guide kami, dia memilihkan sebuah informasi bagi kami. Lalu layar membesar.
"Untuk yang kesekian kali fenomena terjadi bersamaan di seluruh dunia, saat beribu orang di seluruh dunia mengalami ilusinasi dan reaktif berlebihan atas segala sesuatu. Para ahli berkeyakinan penyakit tersebut adalah new rabies yang diyakini menyebar dari percikan sputum atau air ludah dan bahkan bersin penderita. Karenanya seluruh masyarakat dunia diminta untuk tetap di rumah saja. WHO dan seluruh lembaga kesehatan dunia akan berjuang keras untuk mencari tahu penyakit ini dan menemukan pengobatan yang tepat sesegera mungkin."
Sementara perbincangan lain terjadi di layar lebar itu. Nara sumber dengan pakaian rapi memotong ucapan sang pembawa acara. "My, friend, dengan segala respek....Umat manusia sejatinya sama seperti virus bagi Bumi ini. Kita berkembang terlalu cepat dan menyedot sumber daya hingga habis. Maka seperti virus, hanya obat yang paling keraslah yang bisa menghentikannya. Saya tidak bicara soal perang dan bencana alam biasa...puluhan bahkan beratus perang dan bencana alam biasa berlalu manusia justru tumbuh makin berlipat ganda."
"Percakapan kita mulai terasa horor, Profesor," pembawa acara memotong.
"Kamu pikir Bumi ini benda mati?" Narasumber memperbaiki posisi duduknya. "Kamu yang meminta saya menjawab pertanyaan itu. Saya tahu semua orang pasti tak suka mendengarnya. Pendapatku selalu dibenci banyak orang...Namun pernahkah kalian berpikir akan tiba masanya Bumi membalas seluruh perbuatan kita padanya? Bencana alam, wabah..."
"Anda terlalu agamais."
"Lalu Anda?"
"Maksud saya ini bukan soal agama. Kita butuh ilmu untuk menyelesaikan seluruh persoalan ini. Memang kita harus berdoa pada Tuhan, tapi doa tidak membuat Tuhan turun ke dunia dan menyelesaikan persoalan kita kan?" Aku melirik sang malaikat saat ahli itu mengatakan pendapatnya. Sang malaikat hanya diam. Aku menemukan gurat yang sama seperti yang kutemukan di wajah malaikat 'general manager' saat pemilik hotel menghinanya dan dia cuma bisa diam. "Kita harus menyadari bahwa Bumi ini tumbuh dan berkembang, bergerak dan hidup seperti kita."
__ADS_1
Aku menatap layar itu dengan tatapan kosong. Dunia tempatku dilahirkan masih berjalan seperti biasa dengan teori-teori omong kosong mereka. Lebih mudah bagi seorang ilmuwan mengatakan bahwa dunia berevolusi, bahwa oksigen lebih nyata daripada keberadaan Tuhan sendiri. Malaikat yang menjadi tour guide kami mengajak kami melangkah lagi. Kali ini dia berbicara tentang musuh bersama kami si iblis.
Iblis punya lima orang panglima dan seorang panglima tertinggi yang mereka sebut raja yaitu: sang raja iblis: Lucifer atau Setan. Lucifer awalnya adalah malaikat yang paling dekat dengan Tuhan karenanya Tuhan mengizinkannya menjadi pengawas atas Bumi dengan ketentuan sana seperti Tuhan, dia juga tidak boleh terlihat oleh manusia. Namun kekuasaan itu membuat dia sombong dan ingin menguasai surga, maka terjadilah pertempuran dasyat antara Lucifer dan antek-anteknya dengan panglima malaikat Michael dan para malaikat yang diakhiri dengan kekalahan dipihak Lucifer dan antek-anteknya. Mereka pun terusir dari surga. Terusir dari surga membuat Lucifer dipenuhi kemarahan dan berjanji akan menaklukan manusia dengan sifat pongah (kemegahan dan kesombongan) serta sifat emosional (penuh kemarahan).
Panglima pertama para iblis digambarkan sebagai iblis gendut berjenggot dengan tanduk dan kuku yang panjang dengan ekor panjang berduri, dia memegang kekuasaan untuk menaklukan hati manusia dengan iming-iming kemewahan yang kemudian melahirkan ketamakan di hati manusia, hingga manusia akhirnya tidak memperdulikan dari mana dan bagaimana caranya dia memperoleh kekayaan. Ketamakan menimbulkan beraneka kejahatan dari pencurian dan perampokan hingga korupsi dan suap. Namun bersamaan dengan kekayaan yang makin banyak, manusia yang telah ditaklukkan panglima pertama iblis ini memiliki sifat kikir yang bahkan tidak akan berniat berbagai hartanya bagi orang lain.
Panglima kedua memegang kekuasaan atas iri hati dan dengki yang melahirkan kebencian dan cemburu yang menimbulkan beraneka kejahatan di hati manusia mulai dari hujatan, fitnah sampai pembunuhan antar manusia.
Panglima ketiga yang dikenal dengan nama Asmodeus, digambarkan muncul degan tiga kepala: yang pertama adalah seprti banteng, yang kedua seperti laki-laki dengan mahkota di kepalanya dan yang ketiga seperti domba. Dia memiliki ekor ular dan duduk di atas api. Asmodeus memiliki seekor tunggangan berupa seekor naga dan memegang tombak. Dia memegang kekuasaan atas nafsu biologis yang menimbulkan percabulan baik di pikiran maupun perbuatan manusia mulai dari kesukaan atas film porno dan buku-buku porno. Menjebak manusia yang telah menikah dalam perselingkuhan. Kejahatan lain yang timbul dari hasutan panglima ketiga si iblis adalah pemerkosaan dan melakukan pernikahan sedarah dan/atau sejenis antara pria dengan pria, wanita dengan wanita bahkan manusia dengan binatang dan pelakunya bahkan tak merasa berdosa sedikit pun.
Panglima keempat memegang kekuasaan atas kerakusan atas makanan disebut Ba' al az' Zubab. Dia digambarkan sebagai manusia lalat yang bertugas membuat hati manusia menginginkan segala jenis makanan yang ada di pandangan mata, tapi bukan untuk dihabiskan melainkan untuk dibuang-buang, tidak juga untuk diberikan kepada yang membutuhkan.
Panglima kelima memegang kekuasaan untuk menimbulkan kemalasan di hati manusia. Kekuasaan ini terlihat menimbulkan dosa remeh dan tidak penting, tapi iblis tahu kemalasan menimbulkan hal yang besar. Ketika panglima kelima menguasai seorang siswa sekolah saja maka si siswa akan melahirkan perbuatan lain: kecurangan dan segala kebohongan. Ketika kemalasan bergabung dengan kemarahan bahkan bisa menimbulkan penghilangan nyawa manusia. Pembunuhan adalah sebuah dosa besar.
Setelah pemberontakan di surga yang gagal itu, Tuhan mengurung Lucifer dan antek-anteknya di sebuah tempat antara Bumi dan Surga, meletakkan para malaikat berjaga di luar tempat hukuman itu dan juga di Bumi. Tak hilang akal para iblis itu berubah sedekat Tuhan dan malaikat di hati manusia dengan godaan tawaran-tawaran jahat yang masuk akal dan menggiurkan. Makin manusia jatuh ke dalam dosa, manusia makin memberi daya bagi para iblis untuk lepas dari kurungannya.
Aku mendengar semua kisah yang diceritakan para malaikat padaku dan IPTU Candra. Kami dijamu di sebuah gedung istana megah, yang lebarnya berhasta-hasta dan tingginya melebihi ketinggian gedung tertinggi di Bumi dan keindahannya tiada bandingan walau pun mereka sebut ini bukan surga. Satu lagi, para malaikat sebenarnya memiliki ukuran tubuh yang sangat tinggi layaknya seorang raksasa, tapi mereka bisa merubah ukuran tubuh mereka seperti manusia dan memastikan kami merasa nyaman.
"Lalu bagaimana cara kita menghadapi mereka? Kalian sudah punya rencanakan?" Aku bertanya sungguh-sungguh kepada malaikat itu.
__ADS_1
"Yang ada kini, sekarang dan selamanya-sang Pencipta kita akan menuntun dan memimpin peperangan ini. Jika kemenangan adalah milik kita akan menjadi milik kita. Jika kekalahan ada dipihak kita, adalah sebuah kehormatan mati untuk Dia yang menciptakan kita."
Oke, fix, malaikat bukan manusia. Aku tidak bisa memaksa mereka bertindak seperti kaumku. Kaumku, manusia selalu ribet soal perencanaan dan malaikat selalu santai menjalani takdir mereka karena iman mereka. Kami berada dalam kutub yang berbeda.