
Aku duduk mematung di sisi ranjang Ralph. Ruangan itu cukup lebar dengan warna putih mendominasi seluruh dinding ruangan dan ranjangnya. Dia masih terbaring di sana dalam diam, tangannya yang terborgol telah terlepas. Aku sukses membuat para malaikat setuju membuka borgol di tangannya walaupun IPTU Candra jelas menolak keras permintaan itu.
Aku menatap lekat-lekat wajah itu. Mengukir indah wajahnya di hatiku. Nyaris sama dengan wajah yang dia pertunjukkan padaku ketika dia menjadi hantu. Rambut hitam Ralph yang lebat, alis matanya yang rapi bak semut berarak, hidung mancung dan bibir merahnya yang sensual. Rahangnya tegas dengan dagu yang sedikit terbelah dan wajahnya yang oval sempurna membingkai manis seluruh bagian itu.
Aku menahan nafasku dan menggerakkan jemari telunjukku dengan ragu. Menelusuri hidung mancungnya lalu turun ke ceruk mungil di bawah hidungnya untuk kemudian menyinggahi bibir tipisnya, dagunya, lehernya dan turun ke pakaian yang dia kenakan. Sesekali aku mencubit permukaan kulit pipinya dengan lembut hanya sekedar memastikan ini nyata. Dia benar-benar nyata. Aku bertanya-tanya apakah iblis itu mengizinkan rohnya masuk dalam jasadnya?
Tanganku masih berada tepat di dada Ralph ketika sebuah tangan memegang pergelangan tanganku dengan keras dan mengagetkanku. Matanya membuka dan menatapku dengan sorot penuh kemarahan dan kebencian.
"Ralph, kau sudah sadar? Aku senang kita bisa bertemu lagi. Aku pikir aku tidak akan melihatmu lagi." Mataku berkaca-kaca, aku tersenyum bahagia memandangnya. Aku menepiskan kenyataan bahwa dia terlihat sama sekali berbeda.
Dia akan selalu menjagaku.
Dia tidak akan menyakitiku.
Namun aku salah, tangannya berpindah mencengkram leherku. Melahirkan rasa sakit di batang leherku yang baru beberapa saat lalu menerima perlakuan yang sama darinya.
Aku buru-buru mencoba menarik tangannya dari leherku. Namun sia-sia. Dia bangkit dari posisi berbaringnya dan segera menarikku dengan keras hingga membentur dinding ruangan. Aku mencoba meronta dan melepaskan diri tanpa menyakitinya. Namun akhirnya dia malah menghempaskan tubuhku ke lantai ruangan. Aku memegangi tangannya yang makin keras mencekikku. Nafasku tersengal. Aku nyaris kehabisan udara.
Dia pernah bilang dia berbahaya bagiku. Satu karena dia laki-laki dan karena dia hantu...
"Manager Li!" Panggilan keras itu terdengar bersamaan dengan masuknya Iptu Candra ke dalam ruangan ini. Dibantu para malaikat, dia menghajar tubuh Ralph dengan keras dan sukses memborgol kembali tangan Ralph. "Kamu tidak apa-apa?" Aku memegangi leherku yang terasa sakit. Namun kesusksesan itu hanya berjalan sesaat. Entah bagaimana Ralph berhasil mematahkan borgol di tanganya dengan mudah, seakan borgol itu hanya terbuat dari tali plastik usang.
Itu baru pembalasannya yang pertama pada IPTU Candra, karena pembalasan keduanya lebih menyakitkan lagi, ketika Ralph menggerakkan tangannya, tubuh IPTU Candra dengan refleks terbang dan terbanting keras ke pojok ruangan. Dia diam dan tidak bergerak lagi.
Dia bersikap untuk melakukan pembalasan kepada para malaikat. Hanya butuh kematian satu malaikat di tangannya, lalu tatanan penciptaan akan porak poranda. Aku menepiskan egoisme diriku, meminta para malaikat menyingkir dari tempat ini dengan membawa IPTU Candra.
Aku berpikir untuk menyergapnya dengan keras untuk memecah perhatiannya pada para malaikat yang kuminta keluar dari tempat ini, tapi aku baru tiba beberapa langkah di hadapannya ketika dia menggerakkan tangannya dan entah bagaimana tubuhku mematung. Dia mencoba mengejar dua malaikat yang hendak keluar dengan membopong tubuh IPTU Candra. Aku berusaha keras melepaskan kekakuan tubuhku.
"Ralph, aku mau kau melepaskan tubuhku!" Aku balas menatap matanya saat dia terhenti secara mendadak dan memplototiku. Entah bagaimana kekakuan di tubuhku sirna. Suatu hal yang kemudian mengaggetkannya.
Dia melompat kembali ke arahku. Menyergapku. Aku mengelak. Ke kanan dan dia telah berada di kananku. Aku terjatuh di ranjang rawatnya dengan tubuhnya di atas tubuhku. Kami bergulat hingga terjatuh dari atas ranjang itu dan terbanting ke lantai kamar rawat. Tangannya mencekikku kembali.
Dia jelas bukan orang yang kukenal dulu. Entah apa yang para iblis itu lakukan kepadanya. Aku tidak bisa membayangkannya.
Dia pernah mengatakan dia akan menjagaku. Dia akan selalu ada di sisiku. Karena dia mencintaiku.
Semua bayangan yang kualami bersamanya berpendaran di benakku. Saat dia muncul tiba-tiba di kamarku dalam amarah yang tidak aku pahami, atau saat dia muncul dan menangkap tubuhku yang terjatuh dari atap hotel Supreme, saat dia melindungiku dari Rosta yang muncul di kamarku dengan memelukku di bathtub, atau saat dia membawaku kabur dari iblis-iblis di bekas hotel Lamara. Dan akhirnya saat dia menyerahkan diri dengan terjun ke lubang setan untuk menyelamatkanku.
Aku mencengkram lengan bajunya, menarik wajahnya pada wajahku. Air mataku mengalir lebih karena rasa sakit akan sikapnya walaupun leherku juga seperti hampir remuk.
Apakah ini akhir hidupku?
Jika iya, aku rela mati di tangannya seperti dia yang rela mati untuk menyelamatkanku. Aku menarik kerah bajunya lebih kuat, wajahnya yang tampan tertarik mendekat dan cup. Aku mengecupnya di akhir hidupku. "Selamat tinggal. Terima kasih karena masuk dalam hidupku."
Terima kasih karena mengizinkanku berada di sisimu.
Ralph ingat dia pernah mengatakan hal yang sama..... Kabut memenuhi benaknya.
"Arrrrghhh!" Dia berteriak dan memegangi kepalanya seakan sebuah rasa sakit berat menghantamnya.
***
...
__ADS_1
"Tapi...wait..." Emely menghentikan makannya yang telah nyaris habis dalam waktu singkat karena kelezatan masakanku. Dia mengalihkan pandangannya untuk memandangi diriku dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Dia punya wajah yang rupawan. Sepasang mata abu-abu yang berbinar, hidung mancung dan bibir merah sensual.
Emely berkata dalam hatinya sambil menebak-nebak dengan gadis mana aku pernah berciuman.
"Berhenti memikirkan yang bukan-bukan," ujarku ketus dengan wajah yang bersemu merah.
Hah? sepertinya dia kembali membaca pikiranku. Dan wajahnya bersemu merah, wow ini hanya tebakanku atau memang benar dia mengingat seseorang yang dia cium. Apakah orang tersebut cinta pertamanya?
Aku mendengar lagi hati Emely berbicara.
"Kalau kau tahu siapa gadis itu, mungkin kita bisa mencari tahu siapa keluargamu."
"Selesaikan saja makanmu dan kembali tidur." Aku berucap ketus karena aku sadar gadis itu tidak akan bisa membantuku menemukan keluargaku atau pun jati diriku. Karena gadis itu Emely. Dia yang mencuri ciuman pertamaku. Saat pertama kami berinteraksi di dalam kamarnya. Saat dia mencoba mengusirku dan aku berlari menerjang tubuhnya hingga terbanting di kasur, lalu bibir Emely menyentuh bibirku....
"Kenapa wajahmu bersemu merah? Kau ingat sesuatu?" burunya membuatku frustasi. "Beritahu aku siapa gadis itu, aku akan mencari tahu tentang dirinya. Kau terlalu tampan untuk tidak memiliki kekasih dan ciuman pertama terlalu berkesan untuk bisa dilupakan begitu saja. Jadi kau pasti ingat....Siapa gadis itu? Beritahu aku."
"Berhentilah menggodaku. Aku benar-benar tidak suka manusia sepertimu. Kau terlalu berani, terlalu intim..."
"Maksudmu seperti ini?" Emely meloncat mendekatiku menahan tubuhku dengan dua tangannya yang terentang di tembok, dia mengunciku di tengah-tengah. Kedekatan itu menggetarkanku. Aku benci saat menyadari perasaanku yang makin dalam padanya. Dengan jahil dia menatap fisikku.
Ada kabut lain memenuhi benak Ralph. Sebuah kenangan lain tentang Emely yang mirip dengan wajah wanita di hadapannya itu dan dia....Saat dia tengah berendam di dalam sebuah bathub dan Emely berlari memasuki kamar mandi dan menemukan air dalam bathub yang tumpah kepenuhan dan bergoyang seakan ada seseorang yang berendam di sana. Dia hantu saat itu dan tak terlihat oleh Emely...
Dan suara hati wanita itu membenturnya. Ada sebuah memori yang merasukinya juga. Kenangan yang sama dengan yang dia miliki...
Ah, ini jaman apa? Jangan bilang padaku hantu zaman sekarang juga suka berendam di dalam bathub.
Dan bicara soal berendam di dalam bathtub, apa seorang hantu juga mandi telanjang? Seperti apa tubuh seorang hantu? Apa kalau dia hantu pria tubuhnya juga seperti seorang pria? Haha, jadi bagaimana bentuk tubuhnya? Apakah dia seorang bapak-bapak setengah baya dengan perut membuncit gendut atau seorang pria muda kurus? Atau pria gagah dengan body sixpack hasil olah raga rutin di fitness center? Kalau itu wow, lumayan ada yang bisa dijadikan bahan cuci mata seha...
Siapa yang menyuruhmu membaca pikiranku?
Aku protes.
Pikiranku adalah milikku, aku bisa memikirkan apa pun sesukaku. Termasuk jika aku berpikir: di kamarku ada hantu. Hantu pria yang galak. Mungkin dia mati karena bunuh diri akibat diselingkuhi isterinya atau dibunuh oleh selingkuhan isterinya karena itu dia benci pada semua wanita....
"Aku tidak mati bunuh diri atau pun dibunuh."
Oh, dia tidak mati bunuh diri atau pun dibunuh, mungkin sebuah kecelakaan merengut nyawanya dan karena dia punya banyak dosa dia tertahan di dunia ini dan kini berdiam di kamarku.
***
Ralph mencengkram erat kepalanya. Para malaikat sudah berkata kepadanya bahwa para iblis telah menculik dan membunuh kekasihnya... Lalu siapa wanita ini? Dia mirip sekali dengan Emely nya... dan wanita itu juga memiliki memori yang sama dengannya...
"Bagaimana kalau kita buat kesepakatan diantara kita. " Kenangan itu membentur pikirannya lagi. Dia bisa mendengar wanita di depannya ini juga mengenang kisah ini. "Aku akan berhenti menggodamu asal kau menceritakan siapa dirimu. Namamu, asalmu, keluargamu dan bagaimana kau mati?"
"Apa itu penting?"
"Tentu sangat penting."
"Bagaimana jika tidak?"
"Aku tidak akan berhenti menggodamu," ancamku.
__ADS_1
"Kau tahu? Aku berbahaya." Aku balik mengancamnya. Dia tersenyum mengejek. "Pertama karena aku berjenis kelamin laki-laki dan kedua karena aku hantu." Dia bahkan tetap tak nampak takut padaku dan malah menyambut ancamanku dengan terkekeh. Tak ingin diintimidasi. "Aku bisa mengambil nyawamu, merasukimu..."
Dia tidak mempedulikan ucapanku. Dia berpikir aku terlalu baik untuk melakukan itu padanya. Aku menarik tubuhnya dan kemudian dia merasakan sesuatu yang membuatnya membeku. Bibirku yang menurutnya empuk dan lembut itu terasa menyentuh bibirnya.
Sebelah tanganku melingkar di pinggangnya dan tanganku yang lain terasa berada di leher belakangnya. Aku mendengar dia berkata dalam hatinya: 'ini bukan ciuman pertamaku, aku pernah berciuman dengan pacarku di waktu kuliah dulu. Namun tentu saja ini pengalaman pertama kali bagiku berciuman dengan seorang hantu dan aku tidak tahu kenapa aku menyukainya. Menyukai sensasi panas yang menghantam tubuhku karena aktivitas ini. Menyukai sensasi bibirnya dan sentuhannya yang nyatanya hanya di tengkuk dan pinggangku, tapi membawa imbas yang besar bagai angin sepoi-sepoi menggelitik seluruh tubuhku.'
Dia membiarkan nalurinya menuntunnya membalas ciumanku. Tangannya bergerak perlahan di rambutku. Lalu dia menyadari sesuatu, dia tidak bisa menyentuhku. Aku memang sengaja berubah transparan dan membiarkan sentuhannya menembusku.
"Aku tidak bisa menyentuhmu."
Dia memekik. Aku menyeringai nakal. "Tapi aku bisa menyentuhmu," ucapku lalu menyatukan kembali bibir kami. Itu ciuman kedua kami dan andai dia tahu, aku berharap masih hidup agar bisa bersamanya selamanya.
***
Makhluk-makhluk astral itu kembali berhasil menangkapnya. Dia berteriak histeris. Lalu, aku, sesosok bayangan bagai kabut menyerang makhluk-makhluk tidak kasat mata itu dan menyelamatkannya. Aku melempar jatuh makhluk yang menyerangnya, kembali ke dalam lubang itu. Dan pria itu, di general manager hotel bernama Pak Mario menolongnya bangkit saat aku bahkan tidak bisa membantunya, dia terduduk kesakitan sambil memegangi lehernya. Hatiku sakit saat dia terluka.
Lalu kenangan berpendaran di benaknya, dia ingat sama seperti saat ini, beberapa hari lalu aku jugalah yang menyelamatkannya dari makhluk-makhluk jahat ini. Menampung tubuhnya di dalam pelukanku. Bersiap menghadapi mahkluk-mahkluk itu demi menyelamatkannya. Jelas dia juga menebak bahwa akulah yang membuatnya melupakan kenangan ini karena terlalu mengerikan baginya. Karena lebih dari itu, aku ingin melindunginya dari makhluk-makhluk jahat itu agar tidak bisa mengetahui dimana dia berada. Menghilangkan kenangan itu dari pikiranannya seperti menghapus jejak agar para iblis itu tidak mengetahui keberadaannya karena mereka tidak bisa membaca pikirannya tentang kejadian mistis itu.
Makhluk astral lainnya kompak bergerak menyerangku. Membantingku. Mereka mengeroyokku.
"Gunakan pedangmu dan selamatkan dia!" Aku mendengar dia berteriak pada Pak General Manager itu. "Selamatkan Alex!"
"Kita harus pergi dari sini secepatnya sebelum gedung ini benar-benar roboh."
Dia merampas pedang itu dari tangan Pak General Manager disaat aku terbanting jatuh kembali setelah setan-setan jahat itu melemparku ke dinding dengan keras.
Aku masih berjuang di sana memasukkan setan-setan itu kembali ke lubang mereka. Akhirnya tinggal dua setan yang tersisa disaat General Manager yang tak bisa memaksanya untuk pergi malah menariknya ke pelukannya. Dia meronta, tapi sia-sia... Matanya terkunci menatapku.
Ada kesedihan di kubangan matanya ketika mata kami bersua.
Aku akan selalu menjagamu.
Aku berjanji.
Apa kau sudah makan malam ini?
Bila belum. Aku sudah menyiapkannya untukmu di kamar. Mungkin sudah sangat dingin.
Aku membiarkannya mendengar isi hatiku. Mataku menatapnya dalam sebelum aku melompat ke dalam lubang setan itu bersama dua setan dalam rangkulan tanganku.
"Alex!" Dia berteriak begitu keras. Meronta agar Pak Mario melepaskan pelukannya.
Terima kasih karena mengizinkanku berada di sisimu.
Dia menangis sangat deras. Hatiku sakit sekali. Rasanya seperti mati kembali saat menyadari aku akan kehilangan dia untuk selamanya.
Jika Tuhan memberiku kesempatan, aku akan menjaganya seumur hidupku.
Deg!
"Kau harus hidup." Suaranya terdengar samar, tapi aku bisa merasakan saat tubuhnya mendekapku begitu erat. Ada air mata yang terasa jatuh di wajahku. Dia menangis untukku. Tangannya gemetar saat menarikku ke dalam pelukannya untuk beberapa saat sebelum kembali meletakkan tubuhku di lantai. Dia mendobrak pintu ruang rawat dengan seluruh kekuatannya. Seharusnya pintu itu tidak bisa didobrak karena ruangan itu terbuat dari bahan paling keras di dunia, tapi setelah beberapa kali dia sukses menjatuhkan pintu.
Kemudian dengan tergesa dia menggendong tubuhku ke luar ruangan dan membuat para malaikat kabur menghindar.
__ADS_1
"Tolong selamatkan dia!"
Aku mendengar teriakan itu sebelum aku terjatuh tidak sadarkan diri.