
"Kami ingin cek out sekarang juga."
Aku menatap sepasang suami-istri yang nampak menarik koper mereka dari depan resepsionis sebelum aku memberi isyarat kepada concierge hotel untuk membantu mereka mengangkat barang-barang mereka menuju sebuah taksi yang tengah menanti di depan lobby.
Entah untuk yang keberapa kalinya di hari ini setelah Sarina, mantan manager marketing departemen ditemukan tewas mengenaskan di halaman samping ballroom mini para tamu hotel memilih melakukan cek out.
Beberapa penyidik kepolisian masih mendatangi tempat kejadian perkara. General Manager meminta kasus ini tidak sampai keluar dan menjadi konsumsi publik. Namun entah bagaimana kabar ini telah menjadi konsumsi media. Mereka menanti bagai lalat mengerubungi bangkai busuk di depan lobby.
Apa sih yang dipikirkan Sarina? Tak bisakah dia mati tanpa menyusahkan orang lain? Sudah hidup seperti wanita murahan, mati masih saja nyusahin.
Suara mendumel terdengar dari batin Roland, Publik Relation hotel. Dia harus memasang wajah penuh keramahan dan senyum pada para awak media saat menemui mereka untuk pernyataan singkat dari perusahaan tentang kejadian tersebut. Tidak di ruang pertemuan, tapi hanya di depan lobby dan membiarkan para awak media itu berdiri di sana.
Aku menatap semua itu dari balik meja resepsionis, mengambil alih sedikit tugas bawahanku.
"Terima kasih atas kepercayaan Anda pada kami Royal Garden hotel and resort: Bapak Surya Kencana dan Ibu Amara." Aku menyapa sepasang suami-istri yang dari hatinya sudah kuprediksi akan ikut melakukan cek out seperti tamu lainnya. "Kami senang sekali saat Anda memilih kembali menginap di Hotel ini saat kedatangan Anda kembali ke kota Bandung ini. Saya ingat waktu itu Bapak dan Ibu datang bersama putra dan menantu Anda serta cucu perempuan Anda yang manis. Bagaimana kesehatannya?"
Aku ingat enam bulan yang lalu cucu perempuannya tersedak karena tanpa sengaja menelan bola karet mungil yang sering dia mainkan dan karena iseng dia malah memasukkan bola itu ke dalam mulutnya dan berakibat dia nyaris mati tersedak. Aku senang bisa menolongnya saat itu hingga bola bekel itu melompat keluar dari dalam mulutnya.
"Dia sehat. Sangat sehat." Bu Amara menjawab dengan senyum ramah seperti biasanya. " Bagaimana keadaanmu, Emely?" Dia balik bertanya tentang keadaanku. " Ketika kami cek in kami tidak melihatmu."
"Oh, baguslah. Saya senang mendengar Erica sehat dan ketika Anda datang memang saat itu saya ada sedikit pekerjaan lain yang harus diurus. Tapi saya sangat baik. Terima kasih sudah menanyakan keadaan saya." Aku tersenyum manis sambil melirik pada arah mata mereka yang kini menatap kumpulan awak media yang tengah mendengarkan penjelasan Roland. Aku berharap dia tidak salah bicara dan membuat kami malah makin kehilangan tamu.
Kenapa sih dia tidak mengumpulkan para awak media di ballroom atau dimana saja dan bicara dengan mereka di tempat yang lebih tertutup? Kali ini batinku yang mendumel pada putusannya.
"Sebenarnya ada kejadian apa kemarin malam?" Nyonya Amara bicara agak pelan.
"Sebenarnya kami juga belum mengetahui fakta sebenarnya, tapi ya, benar kemarin malam salah satu staff kami mengalami kecelakaan dan terjatuh dari lantai atas. Tapi kami menjamin hal itu tidak akan mempengaruhi operasional dan pelayanan kami kepada Anda sebagai tamu kehormatan kami." Aku mencoba meyakinkan hati mereka yang ragu. "Tolong, percayalah pada kami. Izinkan kami membuktikannya pada Anda."
Bisakah kita percaya?
Mata Bu Amara menatap suaminya.
Aku tidak nyaman dengan pikiranku bahwa aku menginap di tempat seseorang tewas.
Aku kehilangan kata saat pikiran mereka menghujam pikiranku. Bukan hanya dari benak Bu Amara, pikiran itu seakan disuarakan bersama-sama dari benak beberapa tamu yang terlihat mulai menggeret kopernya menuju ke arah kami. Tepat di saat itu suara tangis seorang gadis kecil terdengar. Dia terjatuh dan seorang staff hotel menghampirinya. Membujuknya dan menghantarkannya kepada kami di resepsionis.
Aku membuka laci dan mengeluarkan kotak P3K dari dalam laci. Yuvia menggandeng anak itu dan mendudukkannya di salah satu kursi yang kami miliki. Dia masih menangis sepertinya lebih karena ketakutan berada di tengah orang-orang asing tanpa ayah dan ibunya daripada karena lukanya, karena luka itu sama sekali tidak terlihat besar tidak juga berdarah.
"Dia tidak menemukan orang tuanya, Bu. Dia bilang kamarnya di 3255." Aku mengangguk. Melirik Caty membersihkan kulit itu dengan alkohol. Dan aku sibuk melihat informasi tentang penghuni nomor 3255 di daftar buku masuk tamu.
"Kalian harus menghubungi keluarganya." Bu Amara angkat suara. Aku mengangguk sambil mengangkat telpon. Tapi nomor itu bahkan tak diangkat. Gadis kecil itu masih menangis ketika aku meraih sebuah lolypop dari saku bajuku lalu menghampirinya.
"Kamu mau permen?"
Pesan mama: tidak boleh menerima apapun dari orang asing. Tidak boleh bicara dengan orang asing. Jika orang asing itu terlihat jahat, berlarilah pada gurumu atau cari kantor polisi terdekat.
Gadis kecil itu mengingat pesan yang disampaikan orangtuanya padanya.
Gadis kecil itu tidak meraih permen lollipop yang kusodorkan padanya. Dia hanya menatapnya. Matanya seakan berkata kami orang asing yang harus dia waspadai. Tentu saja dia harus waspada pada orang asing. Aku tidak bisa menyalahkannya. "Aku belum bisa menghubungi ayah atau ibumu, tapi aku janji mereka akan datang menjemputmu. Kau tidak perlu kwatir. Karena kami adalah keluargamu. Karena kita adalah keluarga dan kami akan menjagamu." Aku menunjukkan bet namaku. "Ini namaku. Emely, Ini Tante Titik dan Caty, Ini Kak Mawar dan Reno." Aku memperkenalkan seluruh bagian resepsionis padanya termasuk Pak Surya dan Bu Amara. "Kita adalah keluarga disini. Jadi boleh kami tahu siapa namamu?"
"Susanti."
__ADS_1
"Nama yang bagus." Titik memuji. Kami tersenyum. Aku kembali menyodorkan lollipop di tanganku padanya, kali ini dia menerima walau tangannya masih nampak ragu.
"Kita akan menunggu orang tuamu disini. Oke? Kami tidak akan meninggalkanmu. Kami akan pastikan kau bertemu dengan orang tuamu."
"Terima kasih, Tante."
Aku mengangguk lalu kembali menatap Bapak Surya dan Bu Amara. "Maaf, karena membuat Anda harus menunggu."
"Tidak apa." Pak Surya tersenyum lebar. Pria setengah abad itu kemudian berkata; "karena kita keluarga tidak apa menunggu untuk menjaga anggota keluarga terkecil bukan? " Aku tersenyum. "Aku rasa kami tidak jadi cek out. Ada beberapa urusan bisnis yang belum selesai. Dan berada di rumah adalah hal yang paling benar bukan?"
Aku mengangguk dengan senyum mengembang lebar. "We will make you comfortable as in your home."
"We trust you." Pak Suryadi dan Bu Amara menarik kembali koper mereka kembali dibantu seorang room boy. Beberapa orang kemudian mengikuti mereka. Beberapa lainnya butuh kepastian tentang kejadian kemarin malam bahwa itu cuma sebuah accident. Beberapa lainnya tak bisa kami tahan untuk benar-benar cek out.
***
Aku baru makan siang bersama Susanti di resto hotel ketika seorang pria dengan pakaian kasual muncul di hadapan kami.
"Bisa kita bicara tentang Almarhum Sarina?"
Aku menatapnya tajam. "Saya Kapten Candra dari kepolisian."
Aku menatap wajah polisi itu dengan seksama sebelum mengambil keputusan. Dia tidak sedang bicara apa pun di dalam hatinya. Aku jelas tidak mengenal Sarina secara pribadi, kami cuma dua orang yang bekerja di sebuah hotel yang sama. Aku bahkan tidak terlalu sering berpapasan dengannya.
"Papa!" Susanti meletakkan minumannya dengan sangat terburu-buru begitu saja dan berlari dari kursinya.
"Maaf, aku harus menjaga Susanti." Aku berkata pada polisi yang ada di hadapanku lalu tanpa menunggu izinnya buru-buru berlari mengejar Susanti. Langkahku sedikit terhenti saat seorang lelaki gagah memeluknya di ambang pintu resto hotel.
"Tidak menyusahkan sama sekali. Susanti anak yang baik dan manis dan saya senang bisa menjaganya dan mengenalnya."
"Aku dan Mamanya punya sedikit urusan pekerjaan yang mendesak tadi pagi, kami menggunakan dua kenderaan. Aku pikir Susanti mengikuti Mamanya dan Mamanya pikir Susanti mengikutiku. Kami baru menyadarinya siang ini. Benar-benar terima kasih karena menjaganya dengan baik." Pria itu terlihat sangat lega. Aku hanya tersenyum. Pria itu ingin menyelipkan beberapa lembar uang padaku. Namun aku menolaknya.
"Tidak perlu, Bapak. Saya senang melakukannya. Dan semoga Anda sekeluarga juga merasa nyaman dan senang menginap di hotel ini. "
"Tentu, kami sangat merasa nyaman menginap di sini."
"Terima kasih atas kepercayaan Anda sekeluarga pada Royal Garden Hotel dan Resort." Aku menunduk hormat padanya. Dia tersenyum simpatik.
"Makanannya biar saya yang bayar." Aku ingin bicara, tapi papa Susanti sudah memotong, "Kali ini saya tidak menerima penolakan." Dia tersenyum dan aku balas mengangguk dan tersenyum.
Susanti melambaikan tangannya ketika berlalu dari hadapanku. Gadis kecil berusia empat tahun itu tampak bahagia, dia terdengar berceloteh girang menceritakan pengalamannya duduk di meja resepsionis nyaris seharian saat papanya menuju kasir. Papanya tertawa. Aku masih memandangi mereka ketika, polisi itu muncul kembali di sisiku.
"Ibu Emely, apa kita sudah bisa bicara?"
Aku menatapnya lalu mengangguk dan dengan isyarat tangan mengajaknya kembali ke meja resto tempat yang kududuki bersama Susanti tadi.
Aku menyusun piring makan yang kugunakan bersama Susanti, memanggil waiters resto untuk mengangkat peralatan makan itu.
"Anda mau makan?" Polisi itu menggeleng cepat. " Segelas kopi atau teh?"
"Tidak perlu. Mungkin ini hanya butuh waktu sebentar jika Anda mau bekerja sama."
__ADS_1
Wow, dia menggunakan pemilihan kata yang sangat tepat untuk membuatku merasa tidak nyaman.
"Bagaimana menurut Anda- Almarhumah?"
"Tidak cukup baik...Maksud saya, saya tidak mengenalnya dengan cukup baik untuk dimintai keterangan tentangnya."
Wajah polisi itu berkerut mendengar ucapanku. Aku tak tahu apa yang salah. Oke, aku mungkin mengenalnya dengan cukup baik setelah mengintip isi kepalanya. Tapi apa harus kukatakan bahwa Sarina adalah wanita dengan sejuta obsesi di kepalanya?
Bahwa...
"Saya dengar Anda dan Almarhumah bertengkar karena. posisi personal assisten yang diminta seorang tamu beberapa bulan yang lalu."
Nonsense! Omong kosong dari mana ini? Aku mencibir dalam hati. Jelas bukan begitu keadaannya. Tapi jika aku cerita, apa polisi ini bisa percaya? Jangan-jangan aku malah disangka gila lagi.
"Mungkin informasi yang Anda miliki sedikit keliru. Kami tidak memiliki masalah pribadi satu dengan yang lainnya. Saya meminta secara umum pada managerial hotel bahwa tamu pria sebaiknya diberikan seorang asisten personal atau butler seorang pria juga begitu sebaliknya."
"Anda tidak pernah komplain pada urusan itu dahulu. Tamu hotel bisa meminta sesuai keinginan mereka, jadi kenapa kemudian Anda keberatan saat Almarhumah menjadi seorang butler?" Polisi itu menatapku penuh selidik. Apa sekarang aku jadi tersangka?
"Tamu itu menginap cukup lama, jauh lebih lama dari tamu lainnya yang pernah meminta asisten personal atau butler."
"Anda mencurigai akan terjadi hubungan diantara mereka?"
"Setiap perjumpaan akan melahirkan hubungan. Saya rasa Anda dan saya juga akan memiliki hubungan." Aku berucap ketus.
Gadis yang lucu. Tersangka?
"Saya senang jika Anda menganggap saya cukup lucu dan bisa membuat Anda tertawa." Aku berucap kesal karena isi kepalanya yang ngaco.
Aku hamil.
Kau wanita dewasa.
Lupakanlah.
Karena kita tidak akan menjalaninya bersama.
Kalimat- kalimat yang kudengar sebelum tubuh Sarina terhempas jatuh ke ubin di sisi luar ballroom mini kini berpendaran di otakku.
"Jangan menyia-nyiakan waktu Anda untuk saya, mulai saja dengan itu." Aku beranjak dari meja itu.
"Informasi apa lagi yang Anda tahu?" Dia mencekal tanganku. Aku ingin mengatakan semua yang kuketahui, tapi aku tidak yakin dia akan percaya. Jemarinya masih menempel tepat di nadiku.
Pupil mata membesar. Detak jantung meningkat. Mencoba mengindari pembicaraan. Benar-benar seorang yang perlu dicurigai.
"Jika hatimu mengatakan kau harus mencurigaiku...kau boleh mencurigaiku sesuka hatimu, Pak polisi. Dia hamil. Mulailah dari situ." Aku menarik tanganku, jelas dia terlihat kaget atas ucapanku. "Waktu istarahat saya sudah selesai. Saya harus kembali bekerja. Selamat siang."
Aku meninggalkannya.
Kau pikir kau bisa lari? Kau boleh punya alibi berada di pesta, tapi aku akan punya cara membuktikan kecurigaanku.
Buktikan sesukamu.
__ADS_1
Aku tidak bisa menahan kekesalanku atas pikiran polisi itu yang kini menerjang diriku.