Aku Bisa Mendengar Hatimu

Aku Bisa Mendengar Hatimu
25. Kekacauan di Jalanan


__ADS_3

Aku dan sang malaikat duduk dianjungan tower menara tertinggi di kota ini. Kalau ada yang melihat kami mungkin kami akan dikira mau bunuh diri. Setelah menenangkan diri kami turun dari menara itu. Menaiki mobilku dan meluncur kembali ke hotel. Aku membiarkan jendela mobilku terbuka, membuka rambutku yang tergulung rapi dengan hairbun dan membiarkan angin mempermainkan anak rambutku. Dahulu ketika aku masih kuliah aku sering membiarkan rambutku tergerai dan berterbangan di permainkan angin. Ibuku dan dosenku selalu mengomeliku agar aku mulai belajar menjadi wanita yang rapi, mengikat rambutku, menata cara berpakaian ku dan demi nilai aku mulai berubah menjadi diriku yang sekarang: Emely yang rapi dengan rambut yang selalu dicepol. Aku masih mengemudi, sambil mengemudi kuhirup udara sebanyak-banyaknya karena aku tahu usai malam ini kemungkinan besar aku tidak akan menghirupnya lagi.


Lampu merah yang menyala memaksaku menghentikan laju mobilku lalu aku melihat sosok itu diantara beratus mobil yang berhenti. Sosok yang sangat kukenal, sedang mengendarai mobil sport merah dengan atap terbuka. Aku baru akan memanggilnya, tapi lampu merah keburu berubah menjadi hijau.


"Aku melihat Alex!" Aku memekik keras dan mendapati wajah malaikat yang ada di sampingku menatapku serius. "Mungkinkah setelah terjun ke lubang setan itu Alex masih hidup?"


"Alex?"


"Dia hantu di kamarku." Jeda sebentar. Aku teringat sesuatu. "Kau bilang hantu tidak akan bisa memasuki Royal Garden Hotel, tapi Alex bisa memasukinya." Aku melihat wajah Pak Mario- sang malaikat itu memucat.


"Aku harus segera ke hotel."


"Ada apa? Aku akan mempercepat lajuku." Dia memintaku keluar dari jalanan yang ramai dan memasuki gang sepi tanpa mau menjawab apa pun pertanyaan dari bibirku. Lalu dia meloncat dari pintu yang terbuka, sinar tubuhnya menyilaukan kedua mataku. Aku hanya bisa melihat semacam bayangan kabur dengan cahaya begitu terang seakan sebuah sosok di film. Dia mengepakkan sayapnya yang sangat lebar dan terbang begitu tinggi. Dia tidak mau menungguku.


Hatiku digelayuti beribu tanda tanya, butuh waktu bagiku untuk kembali pada pengelihatan normalku. Mataku menyipit sedikit-masih sakit dan silau, tapi aku mulai melajukan lagi mobilku. Aku ingin segera tiba di hotel. Intuisi manusiaku mengatakan Pak Mario- malaikat itu menyembunyikan sesuatu dariku tentang Alex. Apa dia tahu siapa Alex? Dengan wajah manusianya yang memucat itu, apa berarti Alex sosok yang perlu ditakuti?


Alex pernah bilang padaku: aku harus takut padanya karena dia laki-laki dan dia hantu. Dia bisa merasukiku. Namun aku tidak percaya dan setelah yang dia lakukan padaku aku tidak akan pernah percaya Alex mampu menyakiti siapa pun.


Lihat ada malaikat.


Yaya aku tahu. Wajahku ini memang seperti malaikat.


Bukan kamu maksudku, ini beneran malaikat kalau kamu bukan malaikat, tapi setan tau.. Setan yang selalu goda aku untuk jatuh ke dalam dosa.


Lalu si wanita pemilik suara hati terkikik.


What ever, tapi kamu suka kan setan yang satu ini?


Pocong, Dra!


Maksud kamu.. Aku? Ihhh, pilih pilih kali masak nyamain aku sama itu. Yang lebih keren nggak ada gitu?


Bukan kamu. Itu!


Bisa kubayangkan bagaimana gadis itu kemudian menunjuk ke suatu arah lalu...

__ADS_1


Set...set...setann!


Mereka histeris. Lalu lebih banyak lagi suara-suara histeria massa. Aku merem keras mobilku saat beberapa pengguna jalan merem mendadak dan menggelinjang dengan tubuh terguncang keras. Banyak pengguna jalan yang histeris melihat kejadian itu. Namun beberapa detik kemudian malah mengalami kejadian yang sama. Ada yang menggelepar di jalanan atau di dalam mobil. Ada yang melompat tinggi bagai seekor hewan pemangsa. Ada yang meloncat-loncat bagai seorang pocong. Mereka kerasukan. Jalanan yang tertib berubah ricuh dengan kejadian ini.


Seseorang kemudian meloncat keras ke atas cap mesin mobilku bagai seekor harimau. Matanya yang tajam dan merah menatapku kosong dari balik jendela mobil yang membatasi jarak kami. Dia mengerang. Aku buru-buru memundurkan mobilku. Satu hentakan keras akibat rem-an yang keras membuat makhluk itu terjatuh. Dia berteriak dan mengejar yang diikuti oleh hampir sebagai besar orang-orang yang telah kerasukan. Aku melajukan mobilku lebih kencang lagi. Sialnya kini mereka ada dimana-mana. Di jalan depan, di belakang, di samping kanan dan kiri. Aku merasa berada dalam film zombie. Di film itu pemain utamanya akan menabrak para zombie itu dengan mobilnya agar bisa selamat, tapi mereka bukan zombie-mereka hanya kerasukan setan, yang mereka butuhkan adalah seseorang yang bisa mengeluarkan setan itu dari dalam diri mereka. Aku baru akan berniat memanggil polisi ketika aku melihat beberapa orang dengan uniform itu berada dalam kerumunan orang yang mencoba mengejarku.


Bukankah masih terlalu sore untuk kedatangan makhluk-makhluk astral itu? Kami kira makhluk-makhluk itu akan menyerang Royal Garden Hotel, tapi mereka menunjukkan kuasanya dengan menyerang lebih banyak manusia. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi di Royal Garden Hotel. Tidak ada yang sesuai prediksi. Aku memundurkan mobilku, sesuatu terasa membenturnya- perduli setan, aku menguatkan hati lalu memilih berbelok ke gang kecil di sebelah Utara berharap tak ada orang kerasukan di sana.


Mereka masih mengejarku. Aku sudah cukup lama masuk ke dalam gang itu ketika aku menyadari bahwa gang itu tidak rata- semakin masuk ke dalam jalanan makin gang itu semakin menyempit dan akhirnya mobilku tidak bisa kemana-mana lagi. Mereka masih mengejarku di belakang sana, mau tak mau aku memilih keluar dari dalam mobil dari kaca jendela mobil yang kubuka lalu aku memanjat ke atap mobil dan menuruni bumper mobil untuk kemudian berada di sisi lain gang itu. Aku berlari keluar dari gang itu.


Aku harus berlari lebih kencang lagi karenanya aku memilih membuka sepatu pantofel berhak tinggi yang semakin menyakiti kakiku dan memperlambat gerakku. Di satu simpang- seratus meter dari Royal Garden Hotel aku bertemu dengan Iptu Candra yang terlihat kewalahan menghadapi makhluk-makhluk itu dan akhirnya memilih kabur bersamaku.


Kami tiba di Royal Garden Hotel saat dua satpam hotel telah menutup pintu gerbang hotel yang cukup tinggi.


"Pak Hari, buka pintunya!" Aku berteriak dari kejauhan, Pak Hari bergerak cepat membuka sebagian kecil gerbang untukku dan Iptu Candra lalu dengan cepat menutupnya kembali. "Dimana general manager?" Aku bertanya dengan nafas yang masih terengah-engah sehabis berlari seribu lima ratus meter, ini kali pertama aku berlari sejauh itu setelah lomba lari yang kuikuti di masa kuliah dulu.


"Beliau sedang sibuk mengatasi para staf dan tamu hotel bahkan beberapa manager hotel yang kerasukan di dalam sana, Manager Li." Aku berlari ke dalam hotel. Benar saja aku bisa menemukan para staf dan tamu hotel yang tergeletak di lantai hotel dan sepanjang ruangan hotel dari lobby hingga koridor kamar.


Langkahku makin kupercepat saat aku melihat Pak Mario sedang bertarung dengan seseorang dengan wajah Alex di koridor kamar kerjanya. Dia mengangkat pedangnya, pedang yang seharusnya tidak boleh dia gunakan, menggunakan pedang itu berarti...


"Pedang itu.. Bagaimana kau..???" Kami tidak memperdulikan pertanyaan IPTU Candra yang pasti shock melihat bagaimana pedang itu menghilang bagai trik sulap di depan matanya. Aku memanggil Alex-atau pria dengan wajah seperti Alex, tapi pria itu bahkan tidak mempedulikanku. Dia berlari masuk ke dalam ruangan kerja General Manager. Aku mengejarnya. Dan general manager mengejarku.


"Alex!"


Tak ada siapa-siapa di ruangan itu. Alex atau pria dengan rupa Alex itu telah menghilang entah kemana bagai ditelan Bumi setelah dia berada tepat di depan lemari etalase pedang malaikat.


"Apa yang terjadi? Aku yakin kau tahu apa yang terjadi. Kemana Alex pergi?!" Aku memekik pada seorang malaikat. Memaksanya bicara.


Pak Mario atau harus kusebut malaikat pelindung itu diam sesaat lalu seakan tidak punya pilihan dia bicara:


"Makhluk itu bukan Alex, dia menguasai tubuhnya. Alex yang kau sebut itu adalah Ralph Lauren. Dia salah satu pemilik Hotel Galaxy dan juga pemilik Restoran Delicious submit. Terlalu panjang untuk dikisahkan, tapi karena suatu hal roh Ralph Lauren berpisah dari tubuhnya dan kuasa kegelapan, kini ingin menggunakan tubuh itu untuk memutar penciptaan: membuat yang tak kasat mata menjadi kasat mata dan yang kasat mata menjadi tak terlihat."


Aku merasakan kengerian hanya dengan mendengar kalimat itu. Tak bisa kubayangkan jika hal itu terjadi. Berarti kaum manusia akan menjadi hantu dan hantu-hantu itu akan menjadi seperti kami?


"Kisah apa ini?" IPTU Candra nampak tak suka atas pembicaraan yang tidak dia pahami ini. "Aku hanya perlu mengetahui apa ada salah satu dari kalian yang tahu apa yang sebenarnya terjadi diluar sana?"

__ADS_1


"Apa itu berarti Alex.. maksudku Ralph Lauren masih hidup?" Aku mengacuhkan pertanyaan IPTU Candra untuk kesekian kalinya.


"Ya. Satu-satunya alasan dia bisa masuk kemari adalah karena dia bukan roh yang kabur dari Malaikat maut dan dia bukan orang yang menyentuh kekuatan kegelapan. Saat menjadi sebuah roh dia masih menjaga hatinya. Dan itu yang kutakutkan..." Aku tidak begitu mempedulikan ucapan Pak Mario, yang ada dibenakku adalah kalimatnya: dia bukan roh yang kabur dari malaikat maut... itu berarti Alex atau Ralph Lauren masih hidup. Itu berarti ada kemungkinan bagi kami untuk bersatu? Dadaku berdegup kencang membayangkan hal itu. Berarti cinta ini bukan hal yang mustahil?


"Kemana dia pergi? Kemana makhluk itu pergi?" Aku bertanya antusias.


"Aku tidak bisa memberitahumu. Yang hidup tidak seharusnya berada di sana." General manager melangkah, aku mengejarnya.


"Apa yang ingin kau katakan?"


Aku harus keluar. Jaga mereka. Jangan sampai siapa pun melihat perubahan wujudku.


Dia membiarkan aku mendengar suara hatinya agar Iptu Candra tak makin bertanya-tanya.


Mereka tidak akan mati tanpa pedangmu.


Aku mengingatkannya.


Dan kau sudah menggunakan pedang itu kemarin malam untuk menyelamatkanku. Alih-alih mengusir mereka kau malah bisa membuat kaumku di luar sana ketakutan karenamu lalu menembakimu.


Dia terkekeh.


Apa kau pikir aku akan mati oleh peluru? Kau terlalu sering menonton film Amerika atau Eropa. Itu sangat melecehkan harga diriku dan kaumku. Mereka percaya Superman tahan peluru, tapi mereka berpikir makhluk-makhluk seperti kami bisa mati diterjang peluru buatan manusia.


Jadi kau tidak akan mati? Itu melegakan.


Aku berkata jujur. Dia yang masih berjalan menuju pintu lobby berhenti sejenak.


Hanya kau yang bisa menghadapinya. Kami tidak boleh dan tidak bisa melukai apalagi membunuh manusia yang tidak bersalah seperti Ralph. Hal itu akan menghancurkan aturan penciptaan, tapi konsekuensi yang sama akan terjadi jika dia digunakan para iblis itu untuk membunuh kaumku. Kita akan musnah bersama sama.


Hening lagi.


$_&88&&7$_((&+$(__((_8$8_(_(_)_9&9&(&(7_$7$&))--9---0&9&8_&6$_77&-&


Dia kembali menggunakan bahasa anehnya, tapi aku bisa memahaminya. Dia mengambil resiko besar untuk dihukum atas pembocoran rahasia para malaikat padaku. Aku mengangguk sebelum dia berlalu. Ini adalah pertarungan antara malaikat dan manusia melawan iblis. Seperti dia menjaga kami, aku berjanji akan menjaga keluarganya juga. Alex atau Ralph tak akan menyentuh kaumnya karena Alex akan menghadapiku. Subuh nanti semua akan dimulai.

__ADS_1


Penciptaan harus tetap dalam aturan- Nya.


__ADS_2