
Kota itu bersinar terang, tak ada malam di kota para malaikat. Waktu seakan tidak bergerak di sini dan aku baru menyadari bahwa tidak seluruh perkataan para malaikat itu bisa kupahami, sepertinya aku hanya memahami perkataan yang mereka tujukan atau peruntukkan buat kuketahui saja. Tak ada hingar-bingar suara yang membentur diriku, satu-satunya suara yang membenturku adalah suara hati Iptu Candra.
"Apa kau pernah membayangkan akan berada di negeri para malaikat saat kau masih hidup?" IPTU Candra bertanya dengan suara berbisik padaku saat kami berjalan-jalan di kota para malaikat. Matanya berbinar antusias bagai bocah kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru yang diimpikan.
Sejujurnya aku juga sama antusiasnya dengan dirinya, tapi karena aku tahu sekali misi apa yang akan kami hadapi nanti, aku jadi tak terlalu mempedulikan segala keindahan kota ini. Satu-satunya yang mungkin kusukai adalah ketenangan di tempat ini dan bahwa walaupun aku jauh dari dunia tempat kami tinggal, kami masih bisa melihat dan mengetahui segala informasi tentang dunia tempat kami tinggal.
Namun seluruh ketenangan itu berubah saat bayangan gelap menutupi langit kota malaikat.
"Ada apa?' Aku bertanya pada malaikat yang menjadi tour guide kami. Namun bukannya bicara dia malah berlari, merentangkan sayapnya yang sangat lebar, mengepakkan sayapnya dan terbang ke Utara negeri ini. Aku dan IPTU Candra berlari mengikutinya. Jejak kaki kami yang kecil menyadarkanku akan butuh waktu cukup lama untuk tiba di perbatasan kota.
Untuk kali pertama aku melihat ribuan malaikat muncul dari segala penjuru kota. Berterbangan di langit yang terang benderang. Lalu dari kejauhan aku bisa melihat mereka menyusun barisan dan berdiri berlapis-lapis. Aku dan IPTU Candra harus menutup telinga kami saat erangan keras penuh kemarahan dan kesombongan terdengar. Suaranya mirip desau angin topan yang keras dan menakutkan.
"Satu juta tahun yang lalu, Dia menciptakan mereka. Memanjakan mereka dengan taman berisi seluruh kebutuhan mereka. Menjadikan mereka di tangga paling atas bukan hanya dalam rantai makanan, tapi juga dalam hakikat diri. Membuat manusia-manusia bodoh itu mendominasi dari semua ciptaan dan membuat mereka terlihat padahal kitalah yang lebih sempurna daripada mereka. Tuhan telah bertindak tidak adil pada kita hanya karena Dia-Pencipta! Namun sekarang ini, kita yang tidak kasat mata juga akan terlihat. Kita akan mengambil posisi manusia-manusia itu. Posisi yang seharusnya menjadi milik kita sejak kita diciptakan. Kita tidak perlu lagi berpura-pura manis pada makhluk bodoh bernama manusia hanya agar mereka memberi tumbal dan membuat mereka tahu kita ada dan menyembah kita. Namun sebelumnya yang harus kita musnahkan adalah mantan teman sebangsa kita yang bodoh dan mau menjadi budak pelindung mereka."
__ADS_1
Aku bisa mendengar suara teriakan histeria massa yang cukup keras. Antusiasme mereka mendirikan bulu kudukku. Lalu pertempuran itu terjadi. Perang besar antara malaikat Tuhan dengan malaikat jatuh. Mereka bertempur dengan kekuatan pedang dan panah. Cahaya langit terasa lebih terang saat pedang para iblis membentur pedang para malaikat. Desingan anak panah memancarkan nyala api.
Cukup lama aku dan IPTU Candra berlari sambil menghindari serbuan nyala api hingga bisa kami tiba di tempat itu dengan utuh. Seorang pria terlihat diantara pertempuran itu, wajahnya yang tampan dan dengan sorot mata tajamnya membuatku tertegun untuk waktu yang cukup lama. Wajah itu menghipnotisku. Betapa aku merindukannya. Betapa aku bersyukur karena dia baik-baik saja. Aku nyaris berlari memeluknya seandainya aku tidak menyadari bahwa: dia -Alex atau Ralph Lauren telah menjadi sosok berbeda dari yang kukenal.
Ralph Lauren yang kini ada di hadapanku, berdiri dengan tangan terhunus pedang dan bertempur acak dengan para malaikat. Tubuhnya bergerak cepat ke segala arah untuk menyerang para malaikat yang juga tengah bertempur dengan para iblis. Mata Ralph jelas menunjukkan kemarahan yang besar. Geraknya sigap, tubuhnya yang lentur meloncat dan berlari ke sana kemari, tak ada satu pun penghalang baginya untuk melancarkan serangannya walaupun yang dia hadapi adalah para malaikat dengan tubuh besar bak raksasa. Dia siap mati dalam pertempuran ini. Lalu pedangnya menyabet cepat kaki salah satu malaikat, malaikat itu meringis kesakitan dan terjatuh bersimpuh di hadapannya. Pedang di tangan Ralph terangkat, dia siap menghujamkan pedang itu ke punggung sang malaikat tanpa tahu resiko perbuatannya.
Aku meloncat cepat dengan sebuah ranting pohon di tanganku menghadang pedangnya. Ranting yang dipegang terpenggal menjadi dua bagian yang tidak sama besarnya. IPTU Candra bergerak membatu sang malaikat untuk berdiri. Dibantu para malaikat, malaikat yang terluka itu akhirnya ditarik mundur. Aku meraih pedang sang malaikat yang terjatuh dan mengalami kesulitan karena besarnya pedang itu, jelas pedang itu berbeda dengan milik malaikat 'general manager' yang bisa berubah ukuran sesuai yang memegang.
Melompat di hadapanku Ralph Lauren berusaha menghujamkan pedangnya di dadaku. Aku mencoba menghindar, tapi berakhir dengan terjengkang jatuh ke belakang. Dia menerkam bak seekor harimau dan sebentar saja dia sudah berada di atas tubuhku dengan pedang terhunus dan satu tangan mencekik leherku. Dadaku terasa sakit dan pedih. Nafasku sesak.
Dia mengerang, marah di depan wajahku. Suaranya mengirimkan getaran mengerikan.
"Raaa...lph Lau..re...ren...." Suaraku terputus-putus. "Itu...nana..ma..mu."
__ADS_1
Buukkk!
Tubuh itu terjatuh menindih tubuhku. IPTU Candra menatapku dengan senyum bangga. Sebuah pedang malaikat masih ada di tangannya, jelas pegangan tangan benda itulah yang dia gunakan untuk memukul tubuh Ralph. Pertempuran antara malaikat dan iblis masih terjadi. Dia mendorong keras tubuh Ralph dari atas tubuhku. Tubuh Ralph jatuh ke permukaan tanah di samping tubuhku. Chandra mengulurkan tangannya dan aku menyambut uluran tangan itu. Dia menarikku. Wajahnya nampak tersenyum sumringah sebelum aku menarik krah bajunya dengan keras dan disusul pekikan penuh amarah atas perbuatannya pada Ralph.
"Apa yang kau lakukan padanya?!'
"Aku menyelamatkanmu! Dia bisa saja membunuhmu tadi!'
"Tapi kau tidak perlu memukulnya dengan sekeras itu!"
"Kau mulai tidak rasional. Apa kau ingin terbunuh di tangannya?!" Dia memekik sama kerasnya denganku, tangannya menepis cengkramanku pada krah bajunya. Lalu dia meraih borgol di sakunya.
"Apa kau harus melakukan itu?" Aku menahan tangannya. Dia menatapku.
__ADS_1
"Menurutmu?" Dia hanya mengatakan satu kata itu lalu tanpa mau mendengarkanku lagi, dia memasangkan borgolnya pada tangan Ralph.
Para malaikat sukses mengusir mundur para iblis untuk saat ini.