Aku Bisa Mendengar Hatimu

Aku Bisa Mendengar Hatimu
26. Black Hole in the Hotel


__ADS_3

Aku menatap Pak Mario dari depan pintu gedung hotel dia telah bersiap di depan gerbang, matanya menatap nanar para manusia yang seharusnya dia lindungi itu. Aku tahu dia punya kerisauan besar di hatinya tentang kaumnya saat nanti iblis dan pengikutnya menyerang, tapi dia harus tetap berada di Bumi sesuai dengan perutusannya untuk menjaga manusia di Bumi ini.


Dia meminta para satpam memasuki gedung hotel dan meminta kami menutup rapat pintu jendela dan semua lubang yang ada. Dia meletakkan sebuah materai di depan pintu. Dan dia tidak mengizinkan siapa pun melihat keluar. Dia juga tidak mengizinkan Iptu Candra membantunya dan meminta polisi itu membantuku. Membantuku. Apa maksud ucapannya. Jelas kami tak disibuki apa pun lagi disini, dia membuat yang kerasukan sembuh. Terbangun dari pingsan, mereka menjadi waras kembali. Aku hendak melangkah menuju lantai atas, tapi langkahku terhenti saat salah seorang tamu hotel memasang berita di televisi.


"Sama seperti gempa yang terjadi merata di seluruh permukaan bumi kemarin malam, hal sama juga terjadi sejak sore tadi. Ribuan orang dia seluruh Negara di dunia tiba-tiba bertingkah aneh dan reaktif. Beberapa ahli mengatakan dan menyangkutkan ini dengan gejala rabies baru atau new rabies. Belum diketahui darimana penyakit ini berasal dan bagaimana bisa menjangkiti seluruh negara dalam waktu yang nyaris bersamaan. Namun seluruh pemerintahan negara meminta agar seluruh masyarakat sebisa mungkin tetap di rumah saja. Who dan seluruh badan kesehatan dunia berjanji akan segera mencari obat untuk menyembuhkan penyakit baru ini."


"Sementara spekulasi bermunculan bahwa penyakit ini adalah hasil uji coba dari negara tertentu."


Aku mengintip dari balik jendela yang telah di tutup dengan lemari etalase. Pak Mario memilih kembali kewujud aslinya sebagai malaikat. Ketika sayap putihnya yang besar muncul dari balik punggungnya dia menghempas seluruh makhluk-makhluk itu.


Ya, Tuhanku tolonglah dia dan kami agar terlepas dari makhluk-makhluk jahat itu, aku berdoa di dalam hati.


"Sit, makhluk apa itu?" IPTU Candra memekik cukup keras dari belakang tubuhku, sepertinya dia ikut mengintip seperti aku. Aku membekap mulutnya buru-buru.


"Diamlah, tidak ada seorang pun yang perlu tahu hal ini," bisikku serius. "Kau bisa menyimpan rahasiakan?"


Ia mengangguk.


Tapi kau harus menceritakan hal itu padaku. Bagaimana bisa General Manager Pak Mario berubah menjadi... malaikat?


Hatinya bicara.


Aku menariknya menjauhi semua orang.

__ADS_1


***


Matanya membelalak usai aku menceritakan segala hal padanya. "Maksudmu ini semua masih berhubungan dengan kematian Sarina dan Rosta...?" Aku menatapnya dan mengangguk. "Pantas aku merasa ada keanehan dengan hasil DNA mayat itu karena hasil DNA-nya sama dan mirip dengan Rosta mencapai persentase seratus. Ini seperti tidak masuk akal..."


"Kau akan melihat hal mustahil lainnya sebentar lagi." Aku berpikir untuk membawa Iptu Candra dalam pertarungan tengah malam nanti, sepertinya inilah maksud Pak Mario, sang malaikat saat mengatakan pada polisi ini untuk membantuku.


"Maksudmu?"


"Aku harus menelpon ibu dan adikku dulu." Aku meraih ponselku dari dalam saku. "Mungkin kau juga harus menelpon keluargamu sebelum kita menyelamatkan dunia malam ini." Aku meliriknya dengan senyum misterius dan dia tersenyum. Terlihat lebih antusias dariku. Jelas dia berpikir ini akan bisa meningkatkan aldenarin- nya, aku malas menjelaskan lebih detail bahwa ini bukan hanya sekedar olah raga peningkatan aldenarin-ini lebih dari pertarungan hidup dan mati. Dan besar kemungkinan jika kami kalah, kami akan mati jauh dari planet tempat kami tinggal selain bahwa jika kami kalah berarti peradaban manusia juga berakhir.


Aku menanti panggilan telpon cukup lama hingga suara di seberang sana terdengar menyapaku. Ibuku.


"Emely, apa kau baik-baik saja?" Suara ibuku yang serak terdengar.


"Kami juga baik. Paling tidak sampai tadi pagi..." Kalimatnya menggantung. "Rachel belum pulang..." Dug. Jantungku berdetak kencang. "Dia juga tidak bisa dihubungi...Ibu khwatir..." Dia tidak perlu mengutarakan isi hatinya, aku jelas paham semua yang ada di hatinya. Suara itu membenturku jelas.


"Dia akan baik-baik saja, Bu." Aku tahu itu tak akan bisa menenangkannya sepenuhnya, seperti aku yang juga tidak bisa tenang. Aku berdoa berulang-ulang di dalam hatiku agar dimana pun Rachel berada dia tetap dalam keadaan baik-baik saja. "Ibu, " setelah jeda sesaat aku angkat suara lagi, "Aku minta maaf untuk semuanya....karena menghancurkan pernikahanmu dan Ayah....dan membuatmu harus menjadi janda dalam usia semuda itu..."


"Itu bukan salahmu..."


"Rachel bilang itu salahku."


"Dia hanya emosi. Dia tidak menyalahkanmu.."

__ADS_1


"Dia menyalahkanku sampai saat ini, Bu, kau tidak bisa membohongiku. Aku bisa mendengar hatimu..." Ibu terdiam. Terisak.


"Tapi Ibu tidak menyalakanmu. Kau memberitahu Ibu, tapi keputusan untuk berpisah dengan Ayahmu adalah keputusan Ibu. Ibu bisa saja memaafkan ayah kalian dan melupakan semua... Kadang ketika kau mencintai seseorang mempertahankan hubungan bukan sebuah pilihan untuk membuktikan cinta, melepas adalah bagian dari mencintai seseorang agar dia bahagia. Maaf, jika pilihan Ibu membuat kalian akhirnya terluka." Ibu terisak. Aku menyeka air mata di pipiku.


Lalu sebuah tangan menjulurkan sapu tangan padaku. Aku meraih sapu tangan itu dengan ragu, menemukan wajah Iptu Candra yang entah sejak kapan telah berada di depanku, menatapku dengan intens. Kuseka air mataku dan kusadari malam telah makin tinggi. Namun tidak ada yang berniat tidur di kamar malam ini. Seluruh tamu hotel dan staf hotel berkumpul di restoran hotel dalam diam. Hanya hati mereka yang bicara menunjukkan ketakutan dan kecemasan mereka tentang keluarga mereka di luar sana, tentang apa yang sedang terjadi. Semua itu membenturku.


Aku menutup telepon setelah berpamitan pada ibu dan mengatakan betapa aku menyayanginya dan Rachel.


Hanya aku dan IPTU Candra yang tidak bergabung bersama para staf dan tamu hotel di resto, kami melangkah pelan menuju kamar kerja general manager tepat di saat aku mendengar suara amarah wakil general manager yang menanyakan keberadaanku pada para staf hotel.


Butuh waktu baginya mencerna semua ini. Namun kini dia menyadari salah satu ucapanku di ruang rapat.


"Jadi ini persoalan uang?! Oke, ayo, kita buka hotel ini dan biarkan kalian melihat setan-setan itu merusak semuanya. Datanglah malam ini, ini akan jadi malam yang tidak akan kalian lupakan jika kita masih hidup dan dunia ini masih ada. Karena malam ini pertempuran antara manusia dan setan akan dimulai. Saat ini juga kau harus memilih kau dipihak siapa: Tuhan atau setan?"


Sialnya setelah menyadarinya dia malah berpikir kalau aku adalah penyebab semua ini. Aku dan IPTU Candra telah memasuki ruangan kerja sang malaikat. Aku berdiri tepat di sisi lemari pajang pedang malaikat dan mencari knop diantara lemari itu yang akan menghubungkan kami ke sebuah tempat.


"Tak ada apapun disini." IPTU Candra yang telah memeriksa segala penjuru ruangan memberitahu. Aku menghentakkan kakiku di lantai yang ada di sekitar lemari pajang pedang malaikat. Sia-sia. IPTU Candra telah berada di lemari buku yang berada di belakang meja kerja sang malaikat. Sementara aku masih meyakini pengelihatanku bahwa Ralph Lauren atau orang dengan wajah Ralph Lauren itu menghilang disekitaran lemari pajangan. "Emely, aku menemukannya..."


Aku mendongakkan wajah lalu menyadari bahwa IPTU Candra juga telah menghilang. Aku berlari ke sisi lemari buku. Memanggilnya. Namun tidak mendengar suaranya. Dia ada dimana sekarang? Dia bahkan tidak tahu apa yang akan dia hadapi. Panik. Aku memegang semua hal di rak buku itu. Menarik setiap buku berharap salah satu buku itu akan menjadi kunci ke ruang rahasia.


Lalu... Aku mendorong lemari itu tanpa sengaja....Lemari itu berputar dan ada sebuah lubang kosong di belakang lemari itu. Tubuhku terjatuh jauh sekali di dalam sebuah lubang gelap yang sangat-sangat dalam dan tidak berujung....


Apa ini lubang setan?

__ADS_1


Ketakutan menguasaiku.


__ADS_2