
Kelebatan berita sela itu membuat perasaanku yang nyaman terusik. Aku gagal berkonsentrasi. Jadi untuk menenangkan diri aku mengambil jeda sebentar mengitari hotel.
Aku melangkah pelan menuju taman bunga di belakang hotel yang dilengkapi kolam ikan dengan ayunan kayu untuk sepasang kekasih yang sedang kasmaran. Di atas kolam ikan membentang jembatan besi yang dicat dengan sempurna seperti sebuah kayu. Beberapa tamu terlihat berpose di sana. Sesekali aku mendapat tugas dadakan sebagai juru foto. Melihat tawa dan kebahagian mereka ini lebih dari kata menyenangkan.
Hotel yang indah dan menyenangkan, andai saja tragedi itu tidak terjadi mungkin liburan ini akan lebih menyenangkan lagi karena tidak perlu berpisah hotel dengan yang lain. Dasar penakut. Memangnya hantu bisa ngelakuin apa?
Great, kapan lagi hotel sebagus ini turun harga? Jadi bisa bobok di hotel bintang lima dengan harga bintang tiga kan.
Mantap! Saat kasus ini ditutup nanti mereka akan menyesali keputusannya nggak mau nginap di sini.
Aku membiarkan suara suara itu membenturku.
"Terima kasih." Wanita muda itu adalah pelanggan dadakanku yang ke lima selama sepuluh menit aku menginjakkan kaki di taman ini. Aku menjulurkan kamera mungil connon powershoot SX 740HS miliknya. Dia meraihnya dan sekali lagi berterima kasih sebelum kemudian berlalu dengan menggandeng mesra suaminya- pasangan bulan madu di kamar 2107.
"Manager Li." Seseorang menepuk pundakku, membuyarkan lamunan ngelantur di otakku. Kubalikkan tubuhku dan menemukan sosok yang tingginya lebih tinggi sejengkal dariku tersenyum lebar. Gigi-giginya yang putih bersih berderet rapi, matanya nampak kemerahan mungkin karena kekurangan tidur akibat kasus Sarina yang kini sedang dia tangani.
"Senang kau baik-baik saja. Kenapa tidak menghubungiku saat kau sudah kembali? Aku nyaris gila mencarimu." Dia memekik marah, beberapa tamu melirik pada kami dan aku yakin paling tidak salah satu dari mereka ada yang salah menafsirkan perkataannya sebagai kecemasan seorang kekasih.
Coba saja kamu ngomongnya semanis itu waktu aku menghilang kemarin, hubungan kita tidak akan berada pada perang dingin seperti ini.
"Karena aku bahkan tidak tahu kau mencariku, Pak Polisi." Aku menjawabnya simpel dan dia tertawa.
"Ayo, pergi dari sini ada yang harus aku bicarakan denganmu."
"Ini tentang kematian Sarina atau tentang penculikan yang dilakukan Rosta padaku?"
"Apa bedanya? Kasus ini saling berhubungan." IPTU Candra menjulurkan tangannya mempersilahkan aku melangkah lebih dulu. Aku menurutinya melangkah di depannya.
Kami meluncur dengan mobilnya menuju sebuah cafe terkenal dunia dengan kopinya yang nikmat yang terlihat sepi selepas jam makan siang kantoran, hanya karena dia tidak ingin makan ataupun minum di tempat kejadian perkara untuk melindungi integritasnya sebagai petugas penyidikan. Bukankah itu terlihat begitu idealis? Memangnya ada yang berniat menyuapnya? Kalau berita ini belum lepas ke media mungkin, tapi tragedi itu sudah lepas ke media di malam kejadian itu juga, jadi tak ada yang bisa dilakukan sebuah hotel yang mendapat tragedi seperti kami selain tabah dan bertahan sambil berharap masih ada pelanggan loyal yang tak perduli dengan keadaan itu atau banyak pelanggan baru yang walaupun muncul karena terpikat iming-iming diskon, tapi bisa menjadi mulut iklan bagi orang lain di luar sana bahwa keadaan hotel baik-baik saja, pelayanannya tetap bagus dan berkelas. Itu akan menjadi iklan yang lebih menguntungkan dari semua iklan yang disebar di media cetak, elektronik dan media luar ruang, media interaktif, media alternatif, atau bahkan digital advertising.
Namun aku kini baru saja menyadari siapapun gerangan orang yang memberi tahu kecelakaan itu kepada para awak media- kejadian itu bahkan langsung turun di situs berita online adalah orang yang berniat menjatuhkan Royal Garden Hotel. Ini bukan hanya pembunuhan manusia, ini pembunuhan bisnis dan Rosta..dihari kedatangannya ke hotel kemarin mengatakan itu padaku...
__ADS_1
Kembalikan semua berkas itu padaku! Itu akan lebih baik bagi semua orang. Kau tidak tahu siapa yang kau hadapi. Dia menginginkan hotel ini.
"Coffee?" IPTU Candra menawarkan saat kami menjejakkan kaki di dalam cafe. "Aku yang bayar sebagai ucapan terima kasih dan maaf karena tidak bisa menjagamu."
"Berikan aku yang paling mahal," ucapku santai bahkan tanpa rasa bersalah saat melihat wajahnya melotot. Salahnya sendiri menawarkan padaku. Free selalu menggiurkan hati. "with sponge cake, please."
Aku berlalu dari meja bar, mencari kursi yang paling nyaman buat kami berbincang nanti. Aku memilih kursi di pojok jendela kaca. Dari jendela itu aku bisa mengamati keramaian jalan di depan cafe. Lima menit kemudian IPTU Candra muncul di hadapanku. Meletakkan sebuah amplop coklat yang sepertinya baru saja dia ambil dari dalam mobil- karena ketika kami turun bersamaan dari dalam mobil dia tidak membawa apapun. Dia meletakkan amplop itu diatas meja.
"Bisakah kau ceritakan apa yang sebenarnya terjadi kemarin?" IPTU Candra bicara langsung pada point' yang hendak dia ketahui sebagai penyidik.
"Pagi itu aku baru saja turun dari kamarku dan berbincang dengan Larisa, dia salah satu bawahanku di front office. Larisa bilang Rosta membuat kegaduhan di hotel karena ingin bertemu denganku. Ini persoalan berkas yang kuambil darinya." Aku berbisik pada kalimat terakhir takut ada orang lain yang bisa mendengar hal itu. Lalu aku menjeda ucapanku saat seorang waiters datang meletakkan pesanan di atas meja.
Aku menyeruput kopi yang ada di hadapanku. Membiarkan mataku menatap waiters laki-laki dengan celemek panjang berwarna hitam dua jengkal di bawah lutut yang kini beranjak dari meja kami sebelum melanjutkan lagi kisahku, "Lalu tiba-tiba dia muncul di pagi itu. Memaksaku mengembalikan berkas itu. Aku memberi tahunya bahwa berkas itu sudah kuserahkan kepada kepolisian. Hasilnya dia gelap mata dan mengamuk. Dia memaksaku untuk ikut dengannya. Dia bahkan menghajar petugas keamanan dan Larisa yang mencoba membantuku. Dia sukses membawaku masuk ke dalam mobil. Aku tidak tahu kemana di akan membawaku, yang kuingat terakhir kali adalah aku mencoba menghentikan laju mobil itu dengan mengganggu setir dan menyebabkan mobil itu menabrak sebuah trotoar..."
"Di jalan mana?"
"Jalan Sudirman."
"Salah satu pengguna jalan melaporkan itu ke kepolisian karena mobil sedan BMW hitam itu membentur bumper mobilnya saat menuruni trotoar jalan." Rosta meraih amplop coklat yang ada di atas meja. Dia mengeluarkan dua buah foto mobil BMW hitam ukuran jumbo dan memintaku memilih salah satunya. Aku mendorong salah satu foto itu kearahnya. Dia meraih foto itu dan menatap foto itu lekat-lekat. Lalu berganti menatapku. "Kau yakin?"
"Apa dia membawamu ke bekas Hotel Lamara?"
"Apa?!" Aku lebih terkejut atas pertanyaannya padaku.
"Jadi kemana?"
"Aku tidak ingat. Kenangan terakhirku adalah kejadian di atas mobil. Berakhir saat mobil menabrak terotoar jalan dan aku berusaha membuka pintu, tapi dia membenturkan kepalaku ke dasbord mobil. Aku pingsan dan ketika aku sadar aku sudah di kamarku."
"Tidak mungkin kau tidak mengingatnya. Cobalah mengingatnya. Karena ini sangat aneh."
"Apa yang aneh?"
__ADS_1
Dia bicara agak pelan. "Masyarakat melaporkan keributan yang terjadi di bekas Hotel Lamara."
"Aku sudah nonton beritanya." Aku memotong cepat sambil memasukkan sepotong sponge cake ke dalam mulutku lagi. Rasanya tidak manis, tapi pas di lidahku bahkan dengan sedikit rasa asin. Dia meletakkan foto jumbo di hadapanku kembali kali ini berhasil membuatku mual dan tak berniat makan lagi. Dasar! Jadi ini alasan dia menolak sponge cake yang kutawarkan? Buru-buru dia menyimpan kembali foto jasad membusuk yang bahkan sebagian bagian tubuhnya telah ada yang tinggal tulang benulang itu. "Brengsek, kau!" Aku memaki diantara seruputanku pada kopiku. Untungnya aroma kopi dan rasa kopi yang lengket di lidahku menyamarkan bayangan bau busuk dari foto yang dipamerkan IPTU Candra padaku.
"Aku bahkan belum makan sedari pagi karena itu."
"Jadi aku harus berterima kasih karena kau menunjukkannya setelah aku makan siang? Begitu?" Dia terkekeh. "Bilang saja kau tidak rela membelikanku kopi mahal."
Dia terkekeh lagi. "Bagus kalau kau tahu. Jadi sekali lagi kau tidak akan memintaku membelikanmu kopi mahalkan?"
"Dasar pelit."
"Aku pelit pada orang lain, tapi tidak pada kekasihku jadi, kau harus menjadi kekasihku dulu agar tahu betapa royalnya aku."
"Ha ha ha." Ucapku jutek menyambut gombalannya yang tidak bermutu dan itu membuat dia ngakak kembali. "Berhenti tertawa. Aku bukan badut. Apa lagi yang ingin kau tanya, Pak Polisi? Anda tahukan saya cukup sibuk?" Aku beramah tamah dengan kesal.
"Aku tidak ingin bertanya apa pun lagi," katanya, "Soalnya kau tidak tahu. Jadi aku akan mencari tahu sendiri. Termasuk mencari tahu kenapa kau bisa melupakan hal penting ini. Terima kasih untuk kerjasamanya." Dia bangkit dari kursinya. "Jadi kita pergi?"
Aku melirik sponge cake yang masih tertinggal setengah bagian di atas piring, sebenarnya aku merasa sayang membuangnya, tapi mau apa lagi- aku mungkin bahkan tak berniat makan lagi karena foto ajaib yang ditunjukkan IPTU Candra barusan. Aku melangkah malas sambil mengingat ucapannya: 'mencari tahu kenapa kau bisa melupakan hal penting ini.'
Ya, kenapa aku melupakannya? Apakah aku kejendot di sebuah batu lalu mengalami amnesia parsial (melupakan kenangan tertentu)? Atau ini dampak dari kemampuanku membaca pikiran orang lain? Dan aku kehilangan kenanganku sendiri? Kehilangan kemampuan pikirku sendiri?
Aku merasa ngeri sendiri memikirkan perandai-andaian yang kulakukan.
Kenapa jasad itu menggunakan semua pakaian yang digunakan Rosta bahkan memiliki dompet berisi KTP, SIM dan bahkan Stnk dan kunci mobil Rosta di saku jasnya. Apa untuk menghindari hukum dia memilih pura-pura mati? Ya, ampun penjahat satu ini benar-benar lihai.
Lihat saja aku akan menangkapmu, Keparat! Selepas tes DNA pada jasad itu akan ada saksi yang pernah menemuimu dan aku akan mengejarmu bahkan hingga ke lubang kubur sekali pun.
Kami masuk ke dalam mobil dengan pikiran kami masing-masing walaupun aku juga mendengar pikirannya.
IPTU Candra melajukan mobilnya dengan perlahan keluar dari gerai kopi itu lalu ketika aku melihat spion mobil, aku melihat sebuah bayangan di jok belakang mobil. Aku menolehkan kepalaku dengan cepat melihat jok belakang. Menemukan jok itu kosong.
__ADS_1
Bukan apa-apa, mungkin hanya pikiranku saja.
Aku mencoba menenangkan hatiku.