
Apa yang terjadi pada Manager Li?
Suara-suara itu segera memberondongku. Bukan dari satu orang, tapi banyak orang.
Bajuku basah kuyup, penampilanku aut- utan. Seluruh pegawai hotel melihatku muncul di antar mobil patroli polisi, tapi aku tidak punya niat menceritakan apapun pada mereka. Setelah mengucapkan terima kasih kepada polisi yang mengantarku dengan selamat, aku berniat langsung masuk ke dalam lift yang akan membawaku ke kamar kediamanku di bawah tatapan mata seluruh penghuni hotel. Namun pintu lift belum terbuka. Jadi mau tak mau aku harus menunggu.
Chen dari enggineering and maintenance departemen baru saja mengalami kecelakaan saat mencat kamar.
Apa? Aku cukup kaget dengan berita terbaru itu. Chen termasuk orang yang telaten dan sangat hati-hati saat menjalankan tugasnya. Keselamatan adalah nomor satu dalam aturan kerjanya.
Aku melirik beberapa karyawan yang saling berbisik satu sama lain.
Polisi bilang Manager Li mengalami kecelakaan di curug Clpamingkis.
Bisik-bisik itu diulang di dalam pikiran mereka. Dan aku dengan mudah mengetahuinya, seperti seorang penguping.
Apa hotel kita sedang dikutuk? Kenapa sekarang semua orang harus bersiap dengan masalah? Kalau tidak tentang pertanyaan perihal kematian Sarina, berkurangnya pengunjung hotel sekarang kecelakaan beruntun yang dialami Chen dan Manager Li.
"Berhenti bicara tentang kutukan." Aku mendatangi Cindy di meja resepsionis, tak peduli dia akan kaget mendengar perkataanku. Dan benar saja dia kaget sekaget- kagetnya. Mungkin berpikir bagaimana aku bisa mengetahui isi pikirannya. Dia menunduk. "Ini hanya sebuah kecelakaan. Tidak lebih. Bekerjalah dengan fokus." Seluruh mata bawahanku di bagian resepsionis menatapku. Ada kecemasan di mata mereka.
Ketakutan itu menerjangku juga. Ini sudah minggu ketiga dan perlahan kejadian kematian Sarina memukul jumlah tamu di hotel. Beberapa dari mereka cemas jika hal ini akan membuat hotel harus melakukan efesiensi dan perumahan karyawan atau memindahkan mereka ke hotel di kota lain bahkan provinsi lain.
"Semua akan baik-baik saja. Masalah ini akan selesai dengan baik. Kita hanya perlu bekerja lebih giat lagi."
Aku mencoba membesarkan hati mereka. Berharap mereka bisa benar-benar tenang. Lalu aku berpamitan menuju kamarku. Memasuki lift yang terbuka dan mengantarku ke kamarku. Hari sudah malam saat itu.
***
Selesai membersihkan diri, masih dengan pakaian mandi sejenis piyama, tapi berbahan katun yang masih melekat di tubuhku, aku memilih selonjoran di tempat tidurku. Aku tahu pakaianku sedikit tersingkap, tapi aku sendiri di kamar jadi tidak perlu terlalu memikirkan hal itu. Pikiranku kembali pada kejadian yang kualami di hutan pinus.
Bruuukkk!
__ADS_1
Aku terperanjat kaget dan bangkit dari posisi berbaringku. Membeku duduk sambil menatap sebuah buku di rak buku yang entah bagaimana bisa melayang jatuh dan kini teronggok di lantai kamar. Jelas dia ada di deretan rak, diantara buku lainnya yang bahkan tidak bergeser dari posisinya.
Fokus. Aku meminta pada diriku sendiri.
Aku tidak percaya hal mistis.
Aku tidak percaya pada hantu.
Anginlah yang menjatuhkan buku itu.
Lalu aku menyadari tak ada angin sama sekali di kamar ini, mungkin sedikit dari tiupan air conditioner di dinding, tapi tidak mungkin menjatuhkan sebuah buku setebal dua ratus halaman.
Mencari alasan logis, aku menyadari pagi tadi baru membaca buku itu. Pengembalianku mungkin sedikit serampangan dan membuat buku itu kini terjatuh. Alasan yang bisa diterima akalku yang logis.
Aku berjongkok memungut buku itu lalu meletakkannya kembali di rak buku, kali ini dengan lebih teliti. Lalu beralih ke lemari pakaianku, aku meraih sebuah gaun tidur sutra berwarna hitam dari balik lemari. Membuka tali pengikat pada pakaian mandiku dan baru akan menyibak pakaian mandi itu ketika sebuah suara keras terdengar memukul pendengaranku.
Seketika jantungku berpacu cepat. Adrenalin ku terpacu kencang. Menutup kembali pakaianku, aku berbalik dan membayangkan akan melihat sesuatu jatuh lagi di belakangku.
Tidak ada siapapun. Hanya aku sendiri di kamar ini. Dan tidak ada yang terjatuh.
Tapi tidak ada seseorang pun disini. Aku tidak melihat tanda-tanda ada manusia lain di kamarku.
"Jangan berganti pakaian disini."
Aku tersentak, menoleh ke sekelilingku mencari sumber suara yang lebih mirip desau angin kencang yang berhasil membuat bulu kudukku meremang. Aku tidak melihat siapa- siapa di sini.
Ada hantu di sini.
Apakah Sarina kini menjadi hantu dan menakutiku?
Memang apa salahku padanya?
__ADS_1
Oke, mungkin aku sedikit percaya bahwa makhluk astral itu ada di dunia ini karena dia kini menggangguku. Tapi aku menolak terintimidasi oleh makhluk itu apalagi oleh Sarina. Memangnya aku salah apa padanya sehingga dia menggangguku sekarang? Aku sudah memperingatkannya untuk tidak mendekati pria mesum itu.
"Aku bukan Sarina temanmu itu."
Wow, aku kaget luar biasa mendapat jawabannya. Mungkin sama kagetnya dengan yang dirasakan Cindy saat aku menjawab isi kepalanya. Makhluk ini membaca isi kepalaku sedangkan aku, jangankan membaca isi kepalanya, melihat keberadaannya saja aku tidak bisa.
Lalu aku meralat pikiranku. Bukan berarti aku mau melihat keberadaannya. Bagaimana jika makhluk itu seperti yang terdapat dalam profil di film-film horor? Wajah buruk rupa. Gigi tajam dengan darah dan luka disekujur tubuh.
******.
Anjirr.
Aku tidak mau bertemu makhluk seperti itu.
"Keluar dari kamarku! Siapa pun kau! Pergi dari kamarku!" Aku menggunakan semua keberanianku untuk mengusir makhluk itu.
"Kau tidak boleh mengusirku!" Ia mengerang marah.
Brakkk
Klontang!
Bruuukkk!
Dia melempar semua barang-barang di rak buku berharap aku takut dan mungkin menutup mulutku lalu kabur.
"Aku tidak takut padamu! Ini kamarku dan sekarang juga kau harus keluar dari kamarku!" Aku menolak intimidasinya.
Sebagai tanggapan atas kemarahanku, lampu-lampu mati seketika, kegelapan menyelubungiku sepenuhnya. Lalu sesuatu menyerangku dengan cepat seakan menubrukku. Dadaku terasa sakit dan pedih. Nafasku sesak dan tubuhku terdorong ke atas ranjang. Saat aku hendak bangkit, sesuatu yang berat terasa menindihku.
Dia mengerang, marah di depan wajahku. Suaranya mengirimkan getaran mengerikan.
__ADS_1
"Per.."
Aku tidak bisa menyelesaikan ucapanku. Pikiranku kalut. Kegelapan itu kini benar-benar menyelubungi diriku.