Aku Bisa Mendengar Hatimu

Aku Bisa Mendengar Hatimu
13. Rosta


__ADS_3

Malam itu hujan masih turun dengan derasnya. Seorang pria melangkah tertatih meninggalkan mobilnya yang telah hancur lebur karena kecelakaan fatal yang menimpanya. Untungnya dia merasa dirinya baik-baik saja. Gamang dia melangkah menyusuri hutan luas dan lebat yang sepertinya tak bertepi itu. Hanya cahaya bulan dan kemarahan yang menemaninya. Tak ada suara apapun di hutan itu. Sunyi dan sepi.


"Lihat aku masih hidup walaupun Kau mencoba membunuhku, Tuhan!" Dia memekik marah.


Lalu sebuah kabut tebal datang perlahan membentuk rupa mirip sosok manusia. Namun cahaya putih yang menyelimutinya tak membuatnya dapat tergambar jelas. "Tuhan menyayangimu."


"Who are you?"


"Aku hanya seorang hamba yang diutus menjemputmu." Lelaki itu terhenyak. Tubuhnya refleks terdorong ke belakang. "Dia ingin kau bersamanya. Kau sudah mati." Dug! Tubuh pria itu terjatuh ke tanah dengan posisi terduduk. Ia menatap makhluk itu dengan perasaan takut dan tak rela. "Ikutlah denganku."


"Aku masih hidup, Sialan! Aku masih hidup!" pekiknya sambil beringsut dengan pantatnya menjauhi makhluk berkabut putih itu. Lalu perlahan dia bangkit dan benar-benar kabur. Dia berlari begitu jauh hingga bahkan tak sadar langkah kakinya membawanya ke dalam hutan yang lebih dalam lagi. Cahaya bulan yang hanya seperempat tak sanggup menembus rimbunan pepohonan yang ada- menamengi hutan itu bagai sebuah perisai kegelapan. Dia baru berhenti saat menyadari makhluk itu tidak lagi mengejarnya.


Entah bagaimana kemudian telinganya menangkap suara-suara denting dari gamelan Jawa seakan manggilnya untuk makin mendekat. Ada aroma mistis dalam suara itu seperti sebuah pemikat hati. Pria itu menurut, kakinya melangkah hingga dia tiba di sebuah gubuk kecil di tengah hutan.


Seorang wanita cantik dan pria setengah baya menyambutnya di pintu masuk. Mereka mengenakan pakaian tradisional, nampak cantik dan gagah, tapi anehnya bau tubuh mereka nyaris sama seperti bau bunga Kamboja di pemakaman dan bau bangkai.


Dia dipersilahkan masuk. Masuk ke dalam rumah- berbeda dengan di luar, rumah itu terlihat besar, namun hanya terlihat seperti sebuah lapangan luas tanpa sekat. Ada sebuah dapur di sana dengan kuali-kuali dari tanah liat, ada bunga-bunga rampai di lempar di jalanan yang akan dia lalui bagai seorang pengantin. Dan dia baru menyadari di tengah ruangan duduk seorang pria setengah baya, tidak terlihat terlalu tua- dia sedang terpekur di depan sebuah tikar yang ditutupi sebuah kain panjang putih dan hitam. Mulutnya komat-kamit. Entah apa yang ada di balik kain dua warna itu.


Lalu sepasang insan yang mempersilahkan dua masuk ke dalam rumah itu, mempersilahkannya duduk di depan tikar itu, tepat dihadapan pria setengah baya yang mulutnya tak henti berkomat- kamit sedari tadi. Lalu dia mencium bau yang amat busuk dari balik kain yang ada dihadapannya itu. Dia muntah-muntah.

__ADS_1


Ada ketakutan yang bercokol di dadanya saat melihat semua itu, mungkin dia terlambat menyadarinya bahwa ini aneh. Bahwa orang-orang itu terlihat tidak baik. Lalu ketakutannya makin bertambah dengan rasa shock saat kedua insan itu membuka kain penutup tikar, ada sesosok tubuh tergolek kaku di sana dengan wajah hancur lebur dan telah membusuk mengeluarkan aroma menyengat yang lebih parah lagi.


Dia mengenal sosok itu dari pakaian, jam tangan dan sepatu yang dikenakannya. Orang itu adalah dirinya. Rosta.


"Siapa kalian?" tanya Rosta gemetar, keringat dingin bercucuran di dahinya. Dia sangat ketakutan. Dia ingin berlari seperti yang dia lakukan pada malaikat maut itu, tapi tubuhnya terlalu kaku, seolah-olah sesuatu tengah memeganginya hingga dia bahkan tak sanggup bergerak.


"Kau sudah mati tiga hari yang lalu."


Deg!


Pria yang sedari tadi berkomat- kamit itu berhenti merapal mantranya dan menjawabnya dengan santai. Suaranya berat bagai datang dari alam lain.


"Kami adalah teman. Dan pertanyaanmu salah: bukan apa yang kami inginkan darimu, tapi apa yang kau inginkan dari Tuan. Kami mendengar suaramu saat menolak kematian."


"Maksudmu?"


"Kau yang memanggil kami."


"Aku tidak memanggil kalian."

__ADS_1


Dug!


Ada sebuah kabut putih muncul dari balik jendela rumah itu. Mata Rosta bisa melihat kabut itu, malaikat kematian menantinya di luar rumah ini. Dia tidak ingin mati. Masih banyak yang ingin dia kerjakan, masih banyak yang ingin dia lakukan, masih banyak yang ingin dia gapai dan masih ada kebencian yang ingin dia balaskan. Dia ingin Iko meratapi diri karena berani merebut kekasihnya Niken. Dia ingin Niken meratapi diri karena berani menghianatinya dengan berselingkuh dengan Iko. Dia ingin dua makhluk itu yang mati bukan dirinya!


"Kau yakin apa yang kau inginkan?" pria itu bicara lagi. Rosta mengangguk. Tepat disaat itu dia melihat malaikat kematian menatapnya dengan rasa sedih lalu perlahan menghilang. "Perjanjian ini dimateraikan dengan darahmu dan kau tidak bisa mundur. Mulai hari ini segala keinginanmu akan terwujud. Kau akan menjadi satu-satunya agen properti kelas atas di negara ini, kau akan memiliki kekayaan yang berlimpah yang bahkan tak akan habis hingga berpuluh-puluh turunan asal kau tetap setia pada Tuanmu. Apa kau setuju?"


Rosta mengangguk. Dia lalu melihat pria itu meraih sesuatu dari dalam sakunya. Lalu udara menjadi semakin dingin, terlalu dingin seakan musim salju di Benua Eropa kini berpindah ke tempat ini. Angin bertiup kencang hingga daun-daun pohon mengepak ngepak ketakutan seakan ingin kabur dari batang pohon dan berlari dari hutan itu.


Pria itu merapal mantra makin kencang dan kencang, makin kencang pula suara angin yang bertiup di luar sana. Suasana makin mencekam saat sebuah pohon besar di luar sana terbanting jatuh dan mengeluarkan bunyi kedebum yang keras. Jika Rosta masih punya jantung yang berdetak, dia yakin jantungnya bisa copot saat ini juga.


Lalu entah bagaimana jiwanya tersedot masuk ke dalam raganya yang busuk dan rusak. Dia hidup kembali. Dia baru saja bangkit dari tidurnya ketika sebuah belati menyabet lengannya. Sabetan itu begitu cepat hingga dia bahkan tidak sempat protes. Darahnya mengucur membasahi sebuah kertas ajaib yang entah darimana muncul menampung darahnya lalu menghilang.


"Perjanjian telah dibuat, kau tidak bisa mundur lagi atau kau akan mati dalam kengerian. Dihitung mulai hari ini, seminggu lagi kau harus menyerahkan seorang wanita sebagai tumbal untuk hidup barumu. Lalu setiap bulan di purnama minggu pertama kau harus menyiapkannya kembali. Kau tidak boleh berbuat baik. Tidak ada pernikahan karena pernikahan adalah perjanjian antara dua manusia dengan Tuhan, tidak ada menolong orang lain kecuali untuk memamerkan diri atas kekayaan dan hartamu. Lakukan semua yang dibenci Tuhan. Not havent forgiveness for your enemy. Itulah perintah Tuanmu sekarang."


Rosta pingsan malam itu. Ketika dia bangun pagi hari dia berada dia sebuah gubuk kecil kumal dan kotor di tengah hutan Pinus. Satu-satunya benda berharga di rumah itu adalah sebuah lemari pajangan. Di lemari itu tampak botol-botol kaca berdebu entah berisi apa. Dia menatap wajahnya dari pantulan kaca di lemari itu. Tampan dan rapi. Tak ada tanda-tanda bahwa kemarin tubuhnya telah membusuk dan wajahnya rusak parah.


Dia siap untuk hidup bebas yang lebih liar dan keras. Tuhan tidak akan bisa menghalanginya kali ini.


"Kau senang?" suara itu berat. Seorang pria setengah baya menyembul dari balik pintu gubuk yang tertutup. Dia sang dukun atau harus kubilang penyihir? Terserah apa pun namanya.

__ADS_1


Aku mencuri memori itu dari pikiran Rosta dan kini aku menatapnya dengan ngeri.


__ADS_2