
Perlahan kelopak mataku terbuka, tapi kepenatan di sekujur tubuhku membuatku menutup kembali kelopak mataku, mencoba mengingat apa yang terjadi kemarin malam. Lalu bayangan saat buku-buku di kamarku melayang dan tubuhku terhempas di ranjang membuat mataku refleks memblalak dan tubuhku bangkit.
Aku menatap sekeliling kamarku yang rapi dan bersih, tanpa terlihat sisa-sisa hantu mengamuk kemarin malam. Buku-buku terlihat tersusun rapi di rak buku, sesuai pengaturanku- tak ada tanda-tanda buku-buku itu kemarin malam terlempar ke sana kemari oleh ulah hantu brengsek.
Apa kenangan di pikiranku ini hanya mimpi? Tapi terasa terlalu nyata untuk sebuah mimpi. Lembam di pergelangan tanganku juga terlalu nyata.
Aku berhenti memikirkan tentang hantu dan kejadian yang terjadi kemarin malam, aku harus segera mandi dan melakukan tugasku. Aku telat bangun pagi ini. Jika hari ini aku terlambat ini akan jadi pertama kali bagiku. Namun tetap saja terasa aneh telat disaat tinggal di hotel tempat bekerja.
Aku lupa membawa pakaian seragam hotel ke kamar mandi. Berjingkat- jingkat aku menuju lemari pakaian dengan handuk melilit di tubuhku.
Aku ingat kemarin malam hantu itu mengatakan sesuatu tentang berpakaian di kamar mandi. Entah itu mimpi atau nyata, pikiran itu membuatku waspada saat harus membuka pintu lemari pakaianku dan meraih seragam yang tersangkut di hanger kayu lalu bergegas kabur kembali ke dalam kamar mandi.
Sial, aku merasa jadi orang bodoh karena berlari-lari ke kamar mandi untuk bersalin pakaian sementara logikanya aku sendiri yang tinggal di kamar ini.
Sebentar saja aku telah berdiri rapi di depan cermin rias dengan make up natural di wajahku. Kukenakan stoking warna kulit di kakiku sebelum memakai sepatu pantofel. Tak ada tanda-tanda bahwa ada makhluk lain nebeng hidup di kamarku apalagi itu hantu.
Fix, itu hanya mimpi.
Aku melangkah ke luar kamar dengan perasaan bahagia.
***
"Kenapa kau tidak datang kemarin?" Suara mengesalkan itu memenuhi ruangan Publik Relation. Untung cuma aku yang kini ada di ruangan ini kalau tidak apa jadinya? Aku tidak menggubris ucapannya sedang berkonsentrasi membuat artikel tentang hotel ini dengan beraneka ragam pendapat baik dari para pengunjung hotel yang pernah menginap di sini bersama ulasan singkat tentang kejadian yang menimpa Sarina dan pendapat kepolisian.
"Beraninya kau tidak menggubris ucapan seorang Perwira Menengah Kepolisian." Dia menarik tanganku, memaksaku berdiri dari kursiku.
Kami berhadapan kini. "Kau butuh laporan polisi bahwa aku sudah mencoba menurutimu dan karena berakhir nyaris mati?" Aku menyambar kertas di atas map dan menempelkannya di wajahnya dengan kesal. Aku sudah membaca pikirannya sebelum dia memasuki ruangan ini. Laporan kecelakaan yang akan membantuku mengurus premi asuransi atas mobilku.
__ADS_1
Dia meraih kertas itu dan melepaskan tanganku. Kuamati dia saat membaca laporan itu.
"Apa kau baik-baik saja?"
"Apa itu penting bagimu?" Aku berucap sarkastik. Tapi dia malah tersenyum dengan wajah not innocent. Ckckck. Sangat mengayomi masyarakat, decakku di dalam hati.
"Kuangggap itu berarti kau baik- baik saja. Rosta ada di sini. Ayo." Dia menarik tanganku. Nyaris lebih seperti menyeretku keluar ruangan. "Kita harus bertemu dengannya."
Aku ingin menghajarnya, tapi terhalang undang-undang yang melindunginya: menyerangnya berarti menyerang petugas negara yang sedang bertugas. Aku bisa dimasukkan ke penjara, jadi dengan tak rela kubiarkan saja dia menarikku.
***
Kami butuh waktu lebih dari dua puluh menit untuk tiba di kepolisian. Aku diminta menjawab sederet pertanyaan tentang awal perjumpaanku dan Rosta, sementara Rosta di ruangan lain menjawab sederet pertanyaan juga. Aku sampai pada pertanyaan dari mana aku tahu kalau Sarina mengandung.
Fix itu bukan pertanyaan mudah. Bagaimana jika aku bilang aku mendengarnya dari hatinya? Apa kepolisian akan percaya?
"Aku harap kau menjawab semuanya dengan jujur." Lalu dia beralih pada lembar jawabanku. "Kau belum menjawab dari mana kau tahu Almarhumah Sarina hamil?" Dia menatapku tajam. "Aku jadi ingat bahwa aku pernah menanyakan hal itu secara langsung padamu, tapi aku tak ingat kau menjawabnya."
"Kalau aku bilang, aku tahu begitu saja. Kau pasti tidak akan percayakan?"
"Sialan! Kau mau mempermainkan seorang polisi?!" Dia membentakku. Aku baru menyadari sejak beberapa hari ini wajahnya terlihat sama seperti itu saat bertemu denganku. Dia kesal, tapi karena di hotel dia masih mengekang kemarahannya dan kini dia benar-benar marah.
"Brengsek," Dia terlihat kaget atas ucapanku, tapi sebelum dia mengamuk aku sudah melanjutkan: "aku tidak akan membiarkan wanita ini mempermainkanku. Ini hanya kisah dua wanita hotel memperebutkan pria kaya raya." Dia sedikit kaget saat mendengar apa yang kusampaikan.
Aku menatapnya santai. Menyandarkan punggungku yang kaku lebih rileks lagi sambil menatap sekelilingku.
Brengsek, dari mana dia tahu apa yang kupikirkan?
__ADS_1
"Brengsek, dari mana dia tahu apa yang kupikirkan?"
Sialan! Apa mungkin wanita ini membaca pikiranku? Jangan konyol, Candra tidak ada manusia yang bisa melakukan hal itu. Fokuslah.
"Sialan! Apa mungkin wanita ini membaca pikiranku? Jangan konyol, Candra tidak ada manusia yang bisa melakukan hal itu. Fokuslah."
Polisi itu terhuyung ke belakang. Manik hitamnya yang legam kini menatapku tajam, penuh rasa tak percaya dan ngeri.
"Aku bisa mendengar hatinya. Dari situlah aku tahu dia mengandung." Aku menambah alasan buatnya mengapa dia pantas merasa ngeri padaku.
"Omong kosong."
"Pikirkan sesuatu yang mungkin hanya kau yang tahu dan aku akan membaca pikiranmu." Aku menantangnya.
Ada kabut di pikirannya. Sebuah kejadian. 14 February 2009. Malam hari seorang bocah laki-laki berusia kisaran empat belas tahun di jalanan kota kecil yang sepi.
"Malam hari di jalanan kota yang sepi di tanganmu ada sebuah bunga dan coklat batang di saku kanan celana jens belelmu. Kau berjalan dengan girang."
Lalu sebuah kecelakaan terjadi di depan matanya, kecelakaan berat antara sebuah mobil Van dan sebuah sedan hitam.
"Malam itu sebuah kecelakaan terjadi di depan matamu, tepat sekitar satu dua meter dari sisimu berhenti di sisi taman perdu jalan. Mobil van itu berhenti. Seseorang dengan wajah bertopeng menggeser pintu belakang dengan cepat lalu menghampiri pengguna mobil sedan hitam yang sekarat. Beberapa orang di dalam van berteriak padanya agar pria itu masuk kembali ke mobil sebelum polisi yang mengejar mereka tiba. Namun pria itu tak menggubris teman-temannya, meraih sesuatu dari tangan wanita di sisi supir sedan hitam. Sebuah handycam dan menembak wanita dan juga pria di sedan itu."
IPTU Candra bersembunyi di balik tumbuhan perdu di pinggir jalan dengan gemetar..Apa harus kukatakan juga dia kencing celana saat itu?
"Darimana kau mendapatkan kemampuan itu?" Pertanyaan itu membuatku yakin dia kini percaya padaku.
Aku mengangkat bahuku. "Datang begitu saja. Bagai sebuah kutukan sekaligus anugerah."
__ADS_1
"Great, kalau begitu kemari." Dia menarikku lagi dan aku benci apa yang kini ada di pikirannya.