Aku Bisa Mendengar Hatimu

Aku Bisa Mendengar Hatimu
8. Hantu Pelindung 1


__ADS_3

"Siapa yang menghubungimu tadi?" Aku bertanya usai Rosta menyelesaikan berhahahihi di ponselnya dan saat makanan telah terhidang di meja. Dia menatapku. "Sepertinya dia memberitahu kabar bahagia. Apa ada yang akan kita rayakan di sini?" Aku bertanya dengan tawa lebar di bibirku untuk menepis kecurigaan di hatinya atau bahkan perasaan tak nyaman karena aku mencampuri urusannya.


Dia membalas tawaku dengan tawa yang lebih lebar. "Tidak sekarang, Sayang, mungkin beberapa saat nanti."


Wow, aku kaget mendengar dia mengatakan 'sayang' padaku. Kau tidak bisa mengatakan kata itu kepada lawan jenismu dengan sembarangan kecuali pada anak kecil dan aku bukan anak kecil.


Dia tersenyum dengan senang, sangat menikmati kekagetanku atas sikapnya. Mencoba bersikap santai aku berbisik penuh senyum padanya: "Wow, apa yang bisa menahan seorang Rosta merayakan sebuah kemenangan?" Dia menatapku lekat-lekat, telapak tangannya menangkup pipiku. Aku menurunkan tangan itu dan mengajaknya menikmati makanan yang ada dihadapan kami.


Dia benar. Apa yang menghalangiku merayakan kemenanganku? Aku sudah mendapatkan semua, hanya tinggal menunggu harga saham terendah sepanjang tiga puluh tahun Royal Garden Hotel berdiri dan itu adalah sebuah peristiwa yang sudah pasti terjadi. Orang-orang tidak berniat tidur di sebuah tempat dimana seseorang di temukan mati. Dan polisi.., mereka tidak punya bukti apapun. Ponsel Sarina tersimpan aman bersamaku.


Sarina, seperti keinginanmu satu bagian dari dirimu akan selalu menemani hariku. Dan tak ada rekaman cctv karena aku sudah menghapusnya.


Aku bisa melihat kedalam pikirannya saat Rosta memasuki ruangan cctv dan menghapus rekaman kamera 20 dari jam 21.00-21.15 wibb. Kamera itu mengarah ke koridor kamar VVIP, mereka bertengkar di depan dinding kaca mozaik dengan lukisan tuan putri yang cantik jelita. Sarina jelas mengacungkan ponselnya untuk mengancam Rosta agar menurutinya karena jika tidak, dia akan membongkar isi ponselnya dan membuat Rosta menyesali keputusannya yang tidak mau menikahi Sarina. Pertengkaran itu membuat Rosta mendorong tubuh Sarina hingga membentur dinding kaca mozaik hingga mengakibatkan dia terjatuh.


"Kau benar, apa yang bisa menghalangiku merayakan kemenangan?"


"Tidak ada, " sambutku menyenangkannya dan ya, dia terlihat sangat senang atas dukunganku.


"Liburlah hari ini dan kita akan merayakannya berdua saja di kamar hotelku." Aku sedikit tersedak saat kalimat itu meluncur dari mulutnya. Dia tertawa lagi dan aku buru-buru meraih segelas air di hadapanku. Meneguknya di bawah tatapan matanya yang terlihat nakal.


"Kenapa kau tidak memilih tinggal di kamar hotel kami?" Aku mencari topik pembicaraan hanya untuk mengalihkan pandangannya.


Karena aku harus memupus semangat kalian. Satu tamu baru akan meningkatkan semangat kalian untuk bertahan dan itu tidak bagus bagiku.


"Karena kali ini hotel itu lebih dekat dengan urusan bisnis yang ingin kuselesaikan."


Dasar pembohong.


Batinku memaki.


"Tapi aku lebih senang karena kau memilih menginap di hotel ...."


"Supreme. Dia tidak kalah bagus dengan Royal Garden Hotel kau pasti menyukainya."


Mungkin tahun depan aku juga akan mengakusisi nya.


"Aku rasa aku pasti akan menyukainya karena kau ada di sana." Dia tertawa. Ckckck, aku benar-benar bisa menjadi perayu yang ulung. "Karena akan aneh jika orang-orang melihatku bersamamu setelah kau bersama Sarina." Dia tertawa, mengakui kebenaran pemikiranku. Aku meraih gelas di hadapanku dan menegak isinya. Butuh konsentrasi lebih untuk permainan kata ini diantara serbuan pikiran-pikiran orang-orang di sekitarku yang semakin ramai menjelang waktu makan siang.


"Kita baru bertemu kembali dan baru bersama selama dua jam, tapi kau terus membuatku tertawa," katanyanya, lalu menyambung ucapannya lagi: "Seharusnya yang menjadi butler ku saat itu adalah kau."


"Now I am here. Don't wasting time. Jadi kapan kita akan ke hotel tempatmu menginap?"


Wow, gadis yang sangat mengerikan. Baru beberapa saat yang lalu wajahnya merah merona hanya karena sebuah sentuhan di jemarinya dan kini dia terlihat sangat tidak sabar untuk ke hotel bersamaku, pada hal hari masih siang.


Ini pasti karena aku terlalu menarik untuk ditolak.


Aku membiarkan dia berpikir sesuka hatinya.


"Bagaimana jika sekarang juga?" Dia menangkap umpan yang kulemparkan. Aku menyambut dengan senyuman termanis seorang manager hotel kepada tamunya yang kurang ajar- senyum kepura-puraan.

__ADS_1


***


Rosta membunuh Sarina, katanya buktinya ada disekitar dia. Sekarang aku ikut bersamanya untuk mencari bukti itu.Kami pergi ke Hotel Supreme. Datanglah segera. Kau yang polisinya bukan aku!


Send.


Aku mengirimi IPTU Candra pesan itu saat aku meminta waktu sebentar kepada Rosta untuk ke toilet sebelum pergi bersamanya. Aku menanti lebih dari lima menit untuk memastikan IPTU Candra membalas pesan WhatsApp yang kukirim kepadanya, tapi jangankan membalas- membaca saja pun tidak. Dua centang itu masih tak berwarna biru.


Menarik nafas dalam-dalam, aku meneguhkan hati untuk melangkah. Ini bukan hanya buat Sarina, tapi buat Hotel tempatku dan rekan-rekanku bekerja selama ini. Dan bagiku pribadi Royal Garden Hotel bukan hanya tempat bekerja, tapi sebuah rumah. Jadi siapa yang mau menghancurkan rumahku harus berhadapan denganku.


"Kau sudah siap? Kita pergi sekarang?" Rosta telah menantiku di ujung toilet cafe. Sekali lagi dia membuatku kaget. Namun aku pura-pura tersenyum senang.


"Oke, ayo, pergi."


***


Hotel Supreme berbintang empat dengan gedung hotel megah yang berdiri di atas tanah empat hektar dengan fasilitas setara Royal Garden Hotel dan pelayanan yang sangat bagus.


Rosta mengajakku menuju kamarnya. Sebuah kamar sederhana- jika diingat dahulu dia menginap di penthouse hotel tempatku bekerja. Di kamar itu hanya ada sebuah tempat tidur queen size dengan dua nakas di sisi kiri dan kanan ranjang, sebuah lemari pakaian, satu buah meja kerja yang di atasnya- menempel di dindingnya sebuah televisi dua puluh empat inchi dan sebuah kamar mandi. Hanya itu. Tak ada fasilitas lain seperti kulkas dan isinya, ruang tamu dengan sofa berkwalitas terbaik, apalagi dapur dengan panci-panci dengan merk internasional.


"Ini sangat sederhana."


Aku hanya sedang mengintai saat ini- situasi kerja dan keadaan tamu hotel ini sebelum mencari informasi lebih lanjut untuk akusisi. Menjadi tamu biasa akan membuatku mendapatkan informasi sebenarnya tentang operasional hotel di mata konsumen.


"Aku suka kesederhanaan."


Aku mencoba mengingat apakah pria ini pernah datang ke Royal Garden Hotel dengan cara seperti ini- berpura-pura sebagai tamu biasa untuk mengawasi kami?


"Aku juga suka kesederhanaan. Mungkin sedikit kaget karena bayangan kemewahan yang kau pamerkan di Royal Garden Hotel," kataku jujur. Dia tertawa saat tanganku membentur sesuatu di saku jasnya.


Ponsel Sarina.


Dia benar-benar menjaga ponsel itu dan takut isi di ponsel itu menyebar.


Tidak apa. Dia tidak akan tahu. Semua orang punya ponsel, Rosta.


Dia menenangkan dirinya sendiri lalu berusaha mengecup bibirku, tanganku refleks mendorongnya. "Bagaimana jika kau mandi dulu?"


"Setelah itu?" Dia memberi penawaran.


"Terserah padamu, pria tampan." Dia tertawa mendengar godaanku. Bagai bocah kecil yang diiming-imingi permen oleh ibunya agar mandi, dia berlari ke kamar mandi tanpa diminta untuk yang kedua kalinya. Dia menutup pintu kamar mandi sesaat lalu membukanya kembali dan melemparkan jasnya di depan pintu- tepat di nakas dekat lemari pakaian yang berada tepat di depan pintu kamar mandi. Beberapa kali dia masih membuka dan menutup pintu kamar mandi dan melemparkan pakaian-pakaiannya hingga pintu kamar mandi itu benar-benar tertutup dan suara air shower terdengar, aku melancarkan aksiku.


Kuraih handel laci lemari kerja dan kutarik saja seluruh kertas yang berada di dalam laci itu lalu meraih sebuah tas kerja di sisi bawah meja untuk memasukkan seluruh kertas-kertas itu lalu aku mengendap ke depan pintu kamar mandi dengan satu tujuan, mengambil ponsel Sarina di kantong atas jas Rosta. Aku baru saja meraih ponsel itu ketika pintu kamar mandi terbuka dan Rosta muncul dengan hanya mengenakan handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya, sedang tubuh bagian atasnya terpampang jelas di depan mataku. Tangannya menangkapku.


"Apa yang kau....?! Kembalikan tas dan ponselku!" Dia berteriak dan menarik tali tas kerjanya yang kusilang di bahuku, aku mendorongnya dengan keras hingga dia tergelincir jatuh dan masih sempat kutarik handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya untuk memperlambat geraknya. Tubuhnya terekspos. Dia tidak memakai pakaian dalamannya.


Kabur. Hanya itu yang ada di pikiranku.


"Kembali kau!" Dia berteriak marah. Aku berlari ke lift, tapi satu-satunya lift yang mempersilahkan aku masuk adalah lift yang menuju lantai atas padahal aku butuh ke lantai bawah.

__ADS_1


Tak melihat pilihan lain, aku masuk juga. Tepat saat lift hendak menutup Rosta tiba di depan pintu lift- dia kini mengenakan piyama mandi alih-alih handuk, aku berusaha menghalanginya masuk dengan menggigit tangannya yang telah menyelonong ke dalam pintu lift dan membuat pintu lift terhalang tertutup. Ketika dia menarik tangannya karena kesakitan, pintu lift pun menutup.


Aku berniat keluar di lantai delapan , lalu berniat memasuki lift untuk turun karena ada dua lantai lagi yang harus dikunjungi lift yang tadi kugunakan. Namun ketika baru menanti di depan pintu lift turun, aku melihatnya muncul dari anak tangga. Tak memiliki pilihan lain, aku berlari menuju anak tangga darurat ke lantai atas.


"Berhenti! Serahkan saja tas dan ponsel itu maka aku akan melepaskanmu."


Aku tidak bisa mempercayainya karena aku melihat hatinya berkata sebaliknya, jadi aku terus berlari. Membuka pintu palka lantai atas yang benar-benar bak lapangan luas. Seharusnya lantai ini diperuntukkan hanya untuk pendaratan darurat helikopter militer, medis dan kadang digunakan untuk pendaratan helikopter swasta seperti heli yang digunakan para kuli tinta dan media saat meliput berita dan tamu VVIP yang kaya raya dan muncul dengan helikopter pribadi atau sewaan mereka.


Benar-benar tidak ada tempat untuk bersembunyi. Aku mundur saat Rosta muncul dari balik pintu palka.


"Aku sudah memberimu peringatan untuk mengembalikan tas dan ponselku." Dia bergerak maju mendekatiku, aku berlari menjauhinya. "Jangan membuatku marah, Manager. Ini seharusnya menjadi awal yang baik bagi kita, tapi kau merusak semuanya. Mungkin memang aku tidak memiliki garis percintaan yang bagus dengan wanita-wanita dari Royal Garden Hotel." Dia kini ada di depanku. Tak ada jalan lain selain menaiki tembok pembatas, tapi itu terlalu beresiko- aku akan jatuh.


Namun hal sama juga akan terjadi jika Rosta berhasil menangkapku, dia akan mendorongku dari tempat ini setelah mengambil tas dan ponsel ini. Pikiranku blank. Rosta menarik tali tas di pundakku, aku berjuang mempertahankan tas itu. Lalu tubuhku terdolak keras.


Lupakanlah.


Karena kita tidak akan menjalaninya bersama.


Ketakutan dan kesedihan menghujamku dan mengguncangku. Keringat membanjiriku dan aku menggigil, bahkan menarik nafas pun terasa begitu sulit. Dadaku sakit dan sesak. Aku tahu aku mendapatkan sebuah bakat aneh untuk mendengar suara hati setiap orang yang ada di sekitarku, tapi aku tidak tahu jelas apa perasaan ini.


Aku mengingat kembali sesuatu yang kurasakan saat party di ballroom mini dilakukan. Inilah perasaan yang dirasakan Sarina saat Rosta mendorongnya jatuh malam itu.


Aku merasa melayang.


"Ayah!" Aku memanggil ayahku. Lalu menyadari apakah ayahku masih menganggapku sebagai anak? Dia adalah korban pertama dari kekuatan yang juga merupakan kutukan bagiku.


Waktu itu aku baru sepuluh tahun dan melihat dia bercumbu ( maksudku di dalam pikirannya) dengan seorang wanita yang bukan ibuku di kantornya. Dia jatuh cinta pada wanita itu. Aku mendengar hatinya bernyanyi lagu cinta buat wanita itu. Ayah tidak pernah mengizinkan aku menonton flim bahkan sinetron percintaan. Namun dia sendiri yang memainkan itu di depanku. Aku memberi tahu ibuku dan ibuku mengamuk pada ayahku.


Mereka berpisah karenaku. Ayahku sudah menikah dengan wanita lain dan memiliki tiga orang anak normal. Dia mendapatkan hidup bahagianya dan tidak pernah mengunjungiku lagi. Ibuku kini tinggal bersama adikku yang tidak pernah bisa memaafkan perbuatanku yang mengakibatkan perpisahan kedua orang tua kami.


Dia bilang semua orang punya rahasia dan aku tidak sepantasnya melewati privasi itu. Namun dalam sebuah hubungan, apakah menyelingkuhi pasanganmu, lalu menyimpan rahasia itu di dalam hati bisa dibenarkan? Kami bertengkar untuk hal itu.


Perasaan dan pikiran semua orang menggempurku saat tubuhku makin turun ke permukaan bumi. Lalu sesuatu melingkupiku. Sebuah bayangan putih yang membuat tubuhku menggigil kesakitan.


Apa aku sudah mati?


Apa ini surga?Kenapa terlihat terlalu duniawi?


"Kau belum mati dan tidak boleh mati." Suara itu terdengar bagai suara angin di telingaku. Dia meletakkanku di pinggiran halaman belakang Hotel Supreme yang berumput.


"Pergilah dari sini sebelum dia datang mengejarmu. Kembalilah ke hotel." Suara itu terdengar lagi.


Wait.


Aku menemukan kembali kesadaranku, ini jelas bukan mimpi dan makhluk bagai sosok manusia yang terselubung kabut atau kabut berbentuk sosok manusia ini...


Hantu di kamar hotelku?! Jadi hantu brengsek yang mengobrak-abrik dan melempariku dengan buku-buku dari rak buku benaran ada? Bukan mimpi?


Seharusnya tubuhku mengejang ketakutan saat ini karena bertemu dengan hantu. Namun tidak, aku tidak takut sama sekali.

__ADS_1


Tapi bukannya hantu takut pada siang hari? Atau hanya vampir dan drakula yang takut pada siang hari? Ah.., referensi ku tentang hantu cuma dari buku-buku novel fiksi semata.


"Dia sebentar lagi akan tiba." Dia bicara seakan putus asa melihat kesantaianku. Lalu tanpa menunggu reaksiku, dia kembali menggendongku. Menyelimutiku dengan tubuhnya dan membawaku terbang dengan tubuhnya yang terasa dingin sedingin es di kulitku.


__ADS_2