Aku Bisa Mendengar Hatimu

Aku Bisa Mendengar Hatimu
11. Ancaman dari Yang Pernah Mati


__ADS_3

Pagi yang indah. Aku terbangun lebih cepat dari hari biasanya dengan semangat yang lebih besar, senang rasanya akhirnya masalah tentang Rosta akan terselesaikan. Mungkin pagi ini para polisi bersama IPTU Candra akan melakukan penangkapan pada Rosta. Lalu mataku membentur layar televisiku yang menyala menanyangkan berita pagi.


"Selamat pagi," sapaku pada makhluk yang kini memilih kembali menjadi kasat mata, tapi jelas di salah satu sudut kamarku dia berada mungkin sedang bergolek malas diatas sofa sambil menonton televisi atau seperti seorang eksekutif muda yang tengah duduk di depan meja sambil menyeruput secangkir kopi dan menyantap sepotong sandwich isi sambil mempelototi televisi walau jelas aku tak tahu apa makanan hantu.


Penampilannya saat dia memadat dan duduk di samping tubuhku kemarin di dalam taksi- dengan kemeja putih, venset ( semacam rompi yang dikenakan sebelum mengenakan sebuah jas), jas hitam dan sepatu pentofel menyadarkanku bahwa mungkin dia seorang eksekutif muda yang boleh dikatakan sepertinya cukup sukses. Jadi apa yang mengakibatkan dia mati?


Sebenarnya aku ingin tahu, tapi mengingat ini pagi ini aku harus bekerja, aku menunda rasa ingin tahuku itu dan memilih beranjak ke kamar mandi.


"Jangan mengintipku!" aku mengultimatum dirinya seperti yang selalu kulakukan setiap kali aku akan mandi. Tepat di saat saluran televisiku berpindah ke flim kartun empat sekawan plus anjingnya yang penakut Scooby-Doo yang kini tengah melakukan investigasi tentang hantu yang menakuti kota.


"Yayaya. Siapa juga yang tertarik mengintipmu?" Dia menyambut dengan cepat dan membuatku menyadari dimana dia berada. Di sofa hitamku. Mungkin tengah berbaring malas sambil bertopang tangan di salah satu pipinya tentu saja sambil menonton film kartun Scooby- Doo yang baru saja dia putar. Ckckck. Sangat elegan. "Jadi kau ingin aku bagaimana? Menenteng setumpuk berkas di dalam tas dan membenamkan diri di dalam ruangan atau meja kerja? Aku ini hantu tahu, ya, tentu saja keseharianku hanya bersantai." Dia mendumel marah. Mungkin tersinggung.


"Salahmu sendiri kenapa terus membaca pikiranku."


Aku menyeringai meninggalkannya menuju kamar mandi tanpa rasa bersalah. Rasanya menyenangkan menggodanya.


***


"Pagi.Pagi." Aku membalas sapaan para rekan kerja yang kulintasi.


"Manager, Li untunglah Anda tidak kembali bekerja kemarin." Larisa seorang staf resepsionis hotel yang tengah berjalan di dalam hotel menahan langkahku sebelum aku tiba di bagian resepsionis. Aku menatapnya lekat-lekat. "Seorang pria mencarimu. Dia menuduhmu mencuri beberapa berkasnya."


"Oya?" tanyaku pura-pura tidak tahu.


"Dia bahkan memaksa memasuki kamarmu dan agar tidak membuat keributan makin besar dan menganggu kenyamanan para tamu hotel, Manager Ardian mengizinkannya memasuki kamarmu."


Sepertinya kita membuat kesalahan yang fatal. Sangat fatal untuk bisa dimaafkan. Dia tahu apa yang kita lakukan.

__ADS_1


You are so amazing.


Kau seharusnya mengangkat telponnya. Dia tahu kita akan menjual hotel itu pada orang lain.


Prospektus, proposal, laporan keuangan semua sudah ready. Ini waktu untuk memenangkan kesepakatan.


Ini bukan lagi masalah seberapa keuntungan yang kita raih. Dia gila! Berikan semua saham yang sudah kita miliki. Mungkin itu akan sedikit menyenangkannya.


Wanita sialan itu mengambil semuanya. Semua ada di dalam tasku yang akan kuberikan kepadanya.


Kalimat terakhir itu membuatku menyadari siapa pemilik salah satu suara yang kini membenturku. Rosta. Aku baru akan kabur. Namun dia telah berlari menghampiriku. Matanya penuh kilatan amarah.


"Kembalikan apa yang kau ambil dariku!" Dia berteriak marah dan mencengkram kuat pergelangan tanganku. Aku berusaha melepaskan cengkraman itu. Namun aku gagal, cengkeraman itu terlalu kuat.


"Benda itu tidak ada padaku."


"Kenapa aku harus berbohong?! Lepaskan tanganku." Larisa berusaha membantuku. Namun malah mendapat tepisan keras dari pria itu yang membuatnya terlempar dan terhempas jatuh di ubin hotel. Beberapa orang terpekik melihatnya. Aku berlari ke arah Larisa dan mencoba membantunya ketika tangan itu kembali menarikku. Kali ini bahkan jauh lebih kasar.


Lalu aku melihat kilatan kengerian di dalam dirinya. Teriakan ngeri seorang wanita yang ditarik ke sebuah ruangan gelap di sebuah gedung megah dengan aroma kematian.


***


Hari itu hujan turun sangat deras seperti memang sengaja dicurahkan ke Bumi. Seorang pria dengan tubuh kucel dan putus asa nampak keluar menyusul seorang wanita cantik yang tengah menarik dua buah koper dari dalam sebuah rumah yang walau tak bisa dikatakan mewah namun cukup besar. Seorang pria keluar dari dalam sebuah mobil sedan hitam dan segera menghampiri wanita itu, meraih salah satu koper itu dan segera memasukkannya ke dalam bagasi.


"Dari kapan kalian berdua bersama?" pria itu menatap mata lelaki dengan sedan hitam itu penuh kemarahan.


"Mungkin enam atau delapan bulan yang lalu saat kau menyerahkannya padaku di pesta perayaan keberhasilanmu menyabet gelar marketing terbaik." Pria itu tersenyum kecil. "Semua ada waktunya, Rosta. Kemarin kau mungkin di atas, tapi sekarang kau ada di bawah."

__ADS_1


"Bulshit! Kau pikir dia mencintaimu?! Kau pikir kau akan mendapatkan dirinya seutuhnya?! Dia menyelingkuhiku dan pergi dari hidupku saat aku kehilangan segalanya dan dia akan melakukan hal itu juga kepadamu!"


"Apa yang kau harap dariku?! Hubungan diantara kita tidak akan pernah berhasil! Ketika aku menginkan pernikahan, kau menginginkan karirmu. Kita hanya hidup bersama. Dari awalnya cuma having fun. I get have and you get fun, not more. Itu yang kau katakankan?"


Wanita itu...yang mati dalam sebuah lubang gelap di dalam sebuah gedung.... menepis sentuhan Rosta lalu meraih koper lainnya dan masukkan koper itu ke dalam bagasi mobil.


"Berhenti bermain drama!" suara dari ambang pintu rumah itu terdengar berat dan keras. Seorang pria kekar dengan tubuh penuh tato melemparkan sebuah koper lain. "Itu koper yang tersisa yang bisa kau bawa karena semua isi rumah ini bukan lagi milikmu!"


Hujan turun masih sederas tadi saat pria itu menatap kosong pada mobil sedan yang melaju pergi meninggalkannya. Dia memungut koper coklat tua yang berkapar di bawah deras hujan dan perlahan memasuki sebuah mobil mungil berwarna keperakan. Lalu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi siap untuk mati. Mobil itu melaju lebih kencang lagi menuju luar kota.


Rute pegunungan yang berkelok-kelok di tengah hujan yang deras membuat mobil mungil itu oleng saat sebuah mobil lain mencoba menyerobot lajunya. Mobil itu meluncur turun diantara pohon-pohon pinus yang besar lalu beberapa saat kemudian benar-benar berhenti dengan posisi mobil yang terbalik dan hancur total.


Aku bisa melihat darah mengalir keluar dari dalam mobil itu begitu banyak. Sunyi sepi. Dingin.


***


Apa dia hidup untuk yang kedua kalinya?


Deg! Sesuatu yang muncul di hatiku membuatku meremang takut. Aku mungkin tidak berhadapan dengan manusia, tapi hantu...hantu yang berbeda dengan hantu yang ada di kamarku, hantu ini hantu jahat.


"Kembalikan semua berkas itu padaku! Itu akan lebih baik bagi semua orang." Rosta bicara mencoba membujukku saat jantungku sendiri sepertinya sudah melompat kabur. "Kau tidak tahu siapa yang kau hadapi. Dia menginginkan hotel ini."


"Aaa..ku.. titiddaak meme..mimi..likinya lala...gii." Aku berusaha membuka mulut dengan sekuat tenaga. Matanya yang tajam dan suram menghujamku seperti sebuah tombak yang mengarah ke ulu hatiku. "Aa... ku susu..dah me..meme..nyerahkannnya papa..da popolisi.."


Dia menarik tanganku, lebih seperti menyeretku. Menghajar setiap orang yang coba menghadangnya termasuk para sekuriti hotel tanpa melepaskan cengkraman tangannya dari pergelangan tanganku. Tubuhku meliuk-liuk ke kanan dan ke kiri, tertarik sesuai pergerakan tubuhnya.


Suara teriakan panik orang-orang bercampur dengan pekikan di hati mereka membenturku. Tubuh-tubuh itu berjatuhan dan aku berharap mereka hanya tak sadarkan diri.

__ADS_1


Aku meronta, tapi sia-sia. "Tolong aku! Tolong aku!" Aku berteriak minta tolong, juga sia-sia. Tubuhku ditarik dengan keras dan di dorong di pojok jok mobil. Lalu dengan kecepatan tinggi mobil itu melaju. Aku diculik oleh seorang hantu!


__ADS_2