
Rosta nampak cemas, keringat dingin mengalir dari sela-sela kulitnya padahal hari masih terlalu pagi untuk kepanasan. Dia menyetir nyaris kesetanan karena mungkin dia memang benar-benar setan? Aku mencoba menepis tangannya dari setir berharap kecelakaan kecil akan menghentikan laju mobilnya dan aku benar-benar bisa kabur darinya.
Sesuai harapanku, mobilnya membentur pembatas jalan dan berhenti. Aku bergegas membuka pintu mobil ketika tangan itu menahanku lalu dengan keras membenturkan kepalaku pada dasbord mobil.
***
Kepalaku masih sakit, aku merasa ada benjolan cukup besar di keningku walau tidak segede bakpao. Aku meraba tempatku kini tengah berbaring: tekstur keras, kasar dan dingin itu membuatku sontak membuka mataku yang masih terpejam. Aku tak tahu berapa lama aku tidak sadarkan diri dan terkapar di lantai granit ini. Bangkit dari tempatku berbaring, aku mencoba memahami di mana aku berada kini.
Tempat ini sunyi, kotor dan gelap- sepertinya akan semakin gelap jika hari mulai malam. Aku melangkah dalam suasana yang telah meredup. Aku yakin mungkin hari telah senja di luar sana. Cahaya matahari mulai meredup. Satu-satunya tempat yang bisa dimasuki cahaya yang menerangi ruangan ini adalah dari celah jendela dinding yang berlubang- sepertinya dahulu ada kaca yang menutup lubang itu. Namun kini dibiarkan terbuka begitu saja. Aku mulai merasakan perasaan tak nyaman dalam kesunyian ini dan bahwa aku tidak tahu kini aku berada di mana.
Aku menapaki ruangan itu dan menyadari bahwa pintu ruangan itu tertutup rapat. Lalu tiba-tiba perasaan itu menghantamku. Ada orang lain di tempat ini dan salah satunya sangat kukenal Rosta.
Kau melewati batasanmu. Tak ada yang bisa kau lakukan saat ini.
Aku membawa gadis itu, dia masih perawan. Aku hanya meminta satu hari lagi untuk menuntaskan semuanya dan hotel itu akan menjadi milik Tuanku. Tak bisakah kau mengatakan itu?
Ada satu hal yang dibenci Iblis dan Tuhan yaitu ketidak setiaan dan kau sudah melakukannya. Kau melakukannya pada orang yang memberimu kehidupan kembali.
Deg!
__ADS_1
Dan ada satu perbedaan dari Tuhan dan Iblis adalah soal memaafkan. Tuhan memaafkan sampai Dia kelihatan bodoh di depan ciptaan-Nya, tapi Tuanku tak akan melakukan kebodohan itu.
Jantungku berdetak lebih cepat. Aku harus keluar segera dari tempat ini. Hanya itu yang ada di pikiranku saat ini. Namun pintu ini bahkan tidak terbuka. Tak ada alasan berlama-lama, aku mencoba mendobrak pintu itu. Bukan hanya sekali, tapi berulang kali hingga lengan atasku terasa begitu sakit.
"Jangan pergi dari sini! Aku tidak mau tinggal di sini!" Suara keras Rosta menghantam telingaku. Ada ketakutan di nada suara itu dan entah bagaimana hal itu membuatku juga semakin ketakutan. Malam mulai datang.
Lalu aku mendengar sebuah suara aneh dari dalam ubin. Bunyinya kresek.. kresek disertai desahan nafas berat yang berulang-ulang, bukan dari satu makhluk, tapi banyak makhluk.
"Tolong! Buka pintunya! Tolong buka pintunya!" Aku memekik lebih keras lagi sambil mendobrak pintu yang ada di hadapanku.
"Tolong buka pintunya."
Telingaku mendengar suara lain mengulangi ucapanku. Suara itu lirih, tapi menakutkan. Mencoba membalikkan tubuh aku melihat sosok mengerikan tengah merayap di dinding. Aku terhenyak dan menjerit kembali. Makhluk itu memiliki tubuh yang hampir melepuh di seperti tersiram air panas mendidih atau air keras disekujur tubuhnya. Tubuhnya kurus bagai kulit tersampir di jemuran. Kepalanya yang melepuh botak. Gigi-giginya kecil dan runcing. Matanya yang merah bersinar bagai sebuah senter di keremangan ruangan ini. Dan dia kelihatannya sangat lapar sekali.
Menarik nafas aku mencoba mensugesti diriku bahwa semua ini fatamorgana. Aku tidak percaya hantu. Aku tidak percaya makhluk itu ada. Lalu tes... tes...sesuatu yang bau dan anyir menetes di atas kepalaku. Aku menyentuh cairan itu, mencium aroma busuk dan anyir dari bangkai yang lama tak terkubur. Perutku bergolak hebat. Aku muntah.
Ini nyata. Ada sosok makhluk mengerikan menatapku dari atas langit-langit ruangan yang nyaris dengan tinggi dua meter. Aku mempercepat tubuhku mendobrak pintu dengan histeris. Kemudian semakin lama aku bisa mendengar suara-suara lain di belakangku. Menoleh ke belakang. Aku menemukan makhluk-makhluk itu keluar dari sebuah lubang yang entah bagaimana muncul secara ajaib di lantai ruangan ini. Padahal aku yakin, tadi tak ada lubang apa pun di ruangan ini apalagi lubang yang nyaris berukuran 2mx2m. Lubang itu terlalu besar untuk membuatku bisa tidak melihatnya walaupun, hanya dengan bantuan temaram cahaya bulan.
Seorang wanita berambut panjang yang menangisi bayinya dengan tubuh penuh darah keluar dari dalam lubang itu setelah sukses menang dalam adu panjat panjatan antar sesama setan, lalu sosok-sosok lain muncul ke permukaan. Mereka bergerak mendekatiku dengan mata buas seakan aku sebuah hidangan makan malam bagi mereka.
__ADS_1
Raksasa besar bertubuh gelap, makhluk jelek dengan tubuh seperti tertumpah cairan keras dan hantu berdarah di atas langit-langit kemudian bergerak bersamaan menerjangku tepat di saat itu pintu yang telah kudobrak entah berapa puluh kali terbanting keras terbuka. Thanks God. Aku berlari keluar ruangan itu. Melewati koridor-koridor yang telah usang dengan dinding terkelupas di sana sini sementara di belakangku setan-setan itu masih berlari mengejar.
Cukup jauh aku berlari, tapi sepertinya tak ada pintu untuk keluar. Aku hanya berputar-putar tak berhenti dan tak bisa keluar dari sarang setan ini. Kakiku sudah lelah naik turun tangga, keringatku bercucuran dan sepatu high heels pentofel ku entah sudah dimana, aku melemparnya tadi ke arah setan-setan kelaparan itu. Berharap bisa mengganjal perut mereka yang kelaparan sebelum menyantap ku.
Lalu aku bertemu Rosta yang juga tengah berlari dari kejaran makhluk-makhluk itu. Sama seperti aku, dia juga tampak sangat ketakutan.
Aku meraih sebuah talam dari atas meja makan tua yang nampak berdebu. Namun terlihat masih kokoh, mungkin karena terbuat dari kayu jati.
Plang!
Aku menempeleng wajah makhluk mengerikan dengan rambut menjuntai panjang menutupi wajahnya hingga ke lantai. Dia baru saja mencekik Rosta. Sayangnya makhluk itu hanya jatuh sebentar lalu bangkit kembali.
Aku menarik Rosta, satu-satunya makhluk dengan wajah manusia selain diriku di sini walau, aku tahu dia bukan manusia sesungguhnya. Kami bersembunyi di bawah meja dapur.
Malam semakin larut. Aku melirik arlojiku, sebentar lagi jam dua belas malam. Pagi masih cukup lama. Aku tidak yakin akan bisa keluar hidup-hidup dari tempat ini ketika pagi tiba nanti, sama seperti aku tidak yakin apakah pagi nanti semua makhluk ini akan hilang lenyap.
Lalu aku merasakan perasaan Rosta membenturku.
Ini bukan persoalan hidup atau mati, ini adalah persoalan bisakah kau mempertahankan hatimu untuk tidak memohon padanya untuk apa pun juga. Bahkan untuk kehidupanmu atau pun orang-orang terkasihmu.
__ADS_1
Deg!
Jantungku berdegup lebih kencang lagi. Sebuah teror berkekuatan tinggi menghantam ku.