
Hari ini hujan turun cukup deras dan aku membenci polisi itu. Kenapa dia malah harus menyuruhku datang ke kediaman Rosta, pria kaya yang mesum itu untuk mengkonfrontir data. Data apa? Aku tak punya data apapun selain tahu bahwa Sarina meninggal dalam keadaan hamil dan kecurigaanku pada hubungan keduanya. Seharusnya dia sebagai polisi yang melakukan pencarian bukti, data atau apa pun namanya.
Aku tahu mencak-mencak tak menyelesaikan masalah, tapi aku tidak bisa menghentikan rasa kesalku. Dan aku makin kesal pada diriku karena bisa diintimidasi makhluk itu dengan profesinya. Aku melajukan mobilku dengan kencang menuju Jakarta.
Gue bakal berkabung dua bulan buat cinta kita yang telah terjalanin tujuh tahun dan lo hianati. Cuma itu yang bisa gue lakuin untuk nunjukin sama lo- gue ngehargai cinta ini. Lepas itu, lo bakal lihat gue bakal punya cowok yang lebih segalanya dari lo.
Sebentar lagi kita tiba di rumah kakek. Tapi semua tidak akan sama kakek sudah pergi.
Kenapa sih harus ke kampung? Enakan juga di Jakarta.
Apa saya barusan mendengar tantangan? Tangannya di lingkarkan ke pinggul Reina, lalu menggunakan sedikit tenaga untuk membuat kaki mereka saling menempel. Misi saya yang baru adalah.. Jao mengecup pipi Reina, membuat kamu, lalu dilanjutkan ke ciuman kecil di sudut bibir, berubah pikiran tentang saya.
Aku rasa aku tidak sanggup lagi dengan pernikahan ini.
Anak-anak butuh uang lebih banyak di tahun ajaran baru nanti. Uang sekolah Lani, uang buku, uang seragam, uang kuliah Idon. Ya, Gusti Allah moga-moga hujan nggak turun terus dan hasil panen musim ini bagus.
Akhirnya liburan tiba! Suasana baru. Siapa tahu di Bandung jumpa coker... buat jadi gebetan baru hehehehe... Tapi kan gue udah punya cowok? Selingkuh dong? Nggak -kan gue cuma butuh cadangan. Pacaran itu nggak butuh kesetiaan totalitas, nanti kalau putus berakhirnya kayak yang di samping tuh...Kerjanya bengong aja sebulanan bukan cuma seharian. Hidup gue terlalu berharga buat nangisin satu cowok walaupun itu Alondra- cowok impian cewek-cewek satu sekolahan.
Seperti biasa suara-suara itu berseliweran di sekelilingku. Ada ungkapan perasaan atau sekedar membaca novel di dalam hati. Ada emosi bahagia. Ada kesedihan. Mengganggu sangat mengganggu konsentrasi menyetirku apalagi kini aku juga menyetir dalam emosi yang lagi kesal.
__ADS_1
Rute pegunungan yang berkelok-kelok di tengah hujan yang deras membuatku harus melaju lebih hati-hati lagi. Tapi baru mencapai Curug Clpamingkis atau hutan Pinus mobilku oleng saat sebuah mobil lain mencoba menyerobot lajuku. Mobilku meluncur turun diantara pohon-pohon pinus yang besar lalu beberapa saat kemudian benar-benar berhenti.
Hujan masih turun. Aku mencoba menstater kembali mesin mobil. Sia- sia. Aku beralih pada ponselku, mencoba menghubungi layanan derek mobil walaupun aku tahu mereka akan datang usai hujan reda. Namun mengetahui ada yang datang memastikan keamanan diriku itu akan menenangkan hatiku. Namun aku tidak bisa menghubungi siapa pun. Turus di ponselku untuk telpon berbayar maupun internetan hilang, benar-benar hilang. Pohon-pohon pinus yang tinggi menjulang seakan melingkupi semua di bawahnya bagai sebuah selimut, tapi selimut ini tidak meninggalkan kesan hangat melainkan dingin lebih dingin lagi karena menyebarkan aroma kesepian yang mencekam.
Hujan masih turun, kali ini rinai gerimis telah mengganti guyuran deras hujan selama dua jam ini. Aku masih bertahan di dalam mobil setengah jam setelah hujan berganti menjadi gerimis sambil terus berusaha menemukan signal, jaringan atau apa pun namanya di ponselku yang bisa menghubungkan ku dengan makhluk di luar hutan pinus ini. Namun gagal.
Memaksakan diri, aku melangkah di rinai gerimis hujan yang tak jua hendak berhenti. Hari akan semakin sore dan aku tidak ingin bermalam di tengah hutan. Aku mengunci mobil, memasukkan kunci itu ke dalam tasku bersama ponsel mahal yang ternyata tak bisa membantu sama sekali di saat aku membutuhkan pertolongan lalu menyilang tali tas di leherku sebelum berjalan menyusuri hutan.
Tetes-tetes air hujan di dahan pohon membasahi seragam hotel yang aku kenakan. Ya, tadi aku bahkan tidak berniat membuang waktu dengan mengganti pakaianku dengan pakaian yang lebih nyaman saat IPTU Candra menelponku- sebuah kaos oblong dengan sweter dan celana jeans pasti lebih memberiku kehangatan saat ini. Menyesal tidak akan ada gunanya, hanya menambah berat beban langkahku saja. Jadi aku berhenti menyesali diri.
Aku berjalan menyusuri hutan entah untuk berapa lama. Sunyi.
Satu-satunya suara yang kudengar hanyalah suara burung pipit di senja hari. Selain itu yang ada hanya kesunyian dan kedamaian. Tak ada suara-suara yang menerjang masuk ke dalam diriku. Seharusnya itu menyenangkan. Pikiranku adalah milikku sendiri. Namun entah mengapa kini semua terasa ganjil di benakku. Aku mengikuti burung pipit itu. Setelah berjalan jauh, aku menemukan sebuah rumah mungil.
Siapa yang berpikir ada sebuah rumah di kedalaman hutan seperti ini? Aku berhenti di salah satu batang pohon pinus. Mengintip rumah kayu yang mungil dan sedikit berantakan itu. Berpikir mungkin dari dalam rumah itu akan keluar segerombolan orang jahat yang akan segera menangkapku saat mereka mengetahui keberadaanku di sini.
Aku menunggu cukup lama dalam kesunyian yang mencekam ini untuk bisa menemukan keberanian di dalam diriku dan melangkah menuju rumah itu. Aku mendorong pintu itu. Terkunci. Berarti memang rumah itu dimiliki seseorang bukan?
Berpindah ke belakang rumah. Aku menemukan sebuah pintu lain yang ketika kudorong segera terbuka, sepertinya pintu belakang rumah ini rusak dan pemilik rumah belum sempat menggantinya. Rumah itu gelap. Aku menggunakan senter di ponsel untuk memberikan sedikit cahaya di dalam rumah ini.
__ADS_1
Rumah itu kotor, jorok dan tak terurus. Laba- laba membuat sarangnya. Debu tebal menutupi hampir setiap perabotan usang dan tua yang terbuat dari tanah liat. Memasukinya membuat bulu kudukku meremang dan berdiri. Tak ada benda berharga apa pun di situ, bahkan tak ada air minum. Sebotol aqua gelas atau apa pun untuk meredakan haus di tenggorokanku, yang sebenarnya jika pun ada mungkin butuh seribu kali pertimbangan untukku meminumnya karena melihat kotornya isi dalam rumah ini.
Lalu pandanganku terarah pada deretan botol-botol di atas lemari. Satu-satunya perabot terbagus di tempat ini. Botol- botol kaca berderet rapi di sana. Isinya tak terlihat jelas karena permukaan kaca yang kusam akibat berdebu, aku menatap lekat-lekat botol-botol kaca itu mencoba memeriksa isinya. Seperti sebuah benda praktikum di fakultas kedokteran. Tanganku meraih salah satu botol itu, melap debu di dinding kaca itu lalu mengamatinya. Janin bayi.
Dengan tangan gemetar aku mencoba mengembalikan botol itu ke dalam lemari, tapi aku malah menjatuhkannya. Janin bayi itu kini teronggok di lantai tanah rumah itu, menggelepar bagai seorang bayi tak berdaya. Kaget membuatku sontak melompat lebih jauh dan membentur dinding kayu rumah itu, lalu sesuatu yang lain terjatuh dari atas langit langit rumah itu.
Sebuah botol yang terikat dengan simpul tali di atas anjungan rumah yang talinya tersambung dan terikat di sisi dinding kayu meluncur jatuh. Besar kemungkinan aku menyenggol tali itu dan membuat tali itu terlepas dari ikatannya pada paku di dinding kayu. Serpihannya nyaris mengenaiku. Aku tidak sempat melihat wujud apa lagi yang tersimpan di botol itu. Aku memilih kabur. Kali ini benar-benar kabur keluar rumah aneh itu.
Dalam dongeng Hansel and Gretel, Hansel dan Gretel yang dibuang ayah dan ibu tirinya di dalam hutan akhirnya bertemu seorang penyihir. Apakah itu rumah seorang penyihir? Dan aku telah memasuki rumah seorang penyihir? Menghancurkan barangnya. Lalu kabur. Bagaimana jika dia tiba-tiba datang lalu menemukan keadaan rumahnya yang seperti itu dan mengejarku?
Gretel memasukkan penyihir itu ke dalam oven saat penyihir itu hendak memanggang abangnya- Hansel. Namun di rumah itu bahkan tidak ada pemanggang, jadi aku tidak akan bisa menggunakan trik Gretel.
Aku berlari lebih kencang dan lebih kencang lagi tanpa mempedulikan apa pun juga. Aku tidak berniat berhenti untuk apa pun lagi. Hutan selalu bukan tempat yang aman bagiku.
***
Aku berlari nyaris satu jam hingga kakiku terasa mau copot. Namun aku tak bisa berhenti. Suara sirene panjang mobil polisi menuntunku ke tempat itu. Kerumunan orang yang tengah menyisir hutan pinus untuk mencariku.
Aku selamat. Salah satu pengendara melihat mobilku terjatuh ke curug dan menghubungi polisi serta mobil derek. Siapa pun orang itu aku berterima kasih padanya. Tidak perlu diminta dua kali, aku bergegas masuk ke dalam mobil polisi itu. Duduk di jok mobil sambil memandangi hutan pinus itu dan berharap dengan tak sabar polisi akan membawaku segera keluar dari hutan ini. Lima belas menit kemudian mobil polisi itu mulai bergerak meninggalkan hutan yang menakutkan itu.
__ADS_1