
Wow, gempa tadi keras sekali bukan?
Seperti di bawah rumah kita.
Seperti berada di bawah hotel ini.
Jika lebih lama dari tadi, aku yakin semua bisa rubuh.
Apa akan ada gempa susulan?
Apa aman bagi kita tidur di hotel malam ini?
Kita di lantai lima belas. Bahkan saat berlari turun pun hanya sampai lantai dua belas. Untung gempa itu tidak sampai lima menit dan segera berhenti.
__ADS_1
Kami tiba kembali di hotel. Diam tanpa kata. Seperti biasa, aku membiarkan suara-suara itu menyerbu memasuki diriku. Seharusnya aku suprise lalu bicara bawel panjang lebar karena Pak Mario ternyata memiliki kemampuan yang sama dengan Alex bisa melakukan teleportasi dan kenyataan bahwa dia adalah seorang malaikat, tapi aku tidak tertarik sama sekali. Air mataku masih menggenang di pipiku. Seberapa besar pun aku mencoba untuk tidak menangis, air mata ini selalu membobol mataku kembali.
Pak Mario mengetuk pintu kamar setelah mengantarkan teman Sanada- Rama, si pria gemuk berkaca mata kembali ke kamarnya. Pak Mario telah menghapus sebagian besar kenangan di bekas Hotel Lamara dari benak Rama dan menggantinya dengan sedikit gangguan hantu yang berakibat pada kematian ketiga rekan mereka saat melakukan syuting di suatu tempat lain di pinggiran kota yang bahkan tidak ada dalam google map dan untungnya mereka berdua bisa kabur dari tempat itu dengan mengendarai mobil mereka. Juga menanamkan dalam hati pria itu untuk tidak lagi memakai jimat atau benda apa pun dari dunia kegelapan. "Tuhan memberimu satu lagi kesempatan untuk hidup lebih baik dan setia pada-Nya atau berakhir dengan penghukuman yang sangat berat." Pak Mario sudah melemparkan kalung taring macan itu ke dalam lubang hitam di bekas hotel Lamara sebelum dia meneteskan darahnya ke mulut lubang itu. Bisa kuprediksi roh si dukun juga akan terseret ke dalam sana begitu juga dedemit yang menjadi simpanannya.
Ketika pintu membuka aku bisa melihat salah satu rekan Rama yang lain masih nampak ketakutan dan shock. Dia mempersilahkan Pak Mario dan aku masuk ke dalam kamarnya. Dia bau pesing. Begitu ketakutan hingga bahkan tidak berniat membenahi penampilannya lagi. Pak Mario memintanya membersihkan dirinya dan selama lima menit di kamar mandi dia terus memaksa kami berbicara. Aku yang sedang ogah bicara diam saja, akhirnya Pak Mario-lah yang terpaksa cuap-cuap.
Setelah dia muncul kembali dan duduk di sisi pembaringannya, Pak Mario melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya pada Rama, dia meniup wajah itu seperti angin meniup daun-daun kering yang berguguran hingga terbang jauh. Ingatannya pun hilang. Sama seperti Rama dia pun jatuh terlelap. Dia tidak akan pernah bisa mengingat kenangan buruk yang dia alami di bekas Hotel Lamara, tiupan Pak Mario berakibat pemanen.
Tangan Pak Mario meraih knop pintu dan menutupnya. Kami melangkah dalam diam. Sesekali aku menyeka air mataku yang masih mengalir. Dia mengantarkanku hingga ke depan pintu kamarku.
Aku menggeleng. "Kau yakin?"
"Ya, terima kasih," ucapku dengan suara parau sehabis menangis. "Aku hanya ingin sendiri malam ini. Dan jika Anda ingin membantuku sedikit, bisakah aku libur besok?" Pak Mario mengangguk. Matanya menatapku intens. Aku membuka pintu kamar dan masuk lalu menutup pintu itu setelah mengucapkan selamat malam padanya.
__ADS_1
Kamarku masih sama. Lampu menyala saat aku membuka pintu dan masuk. Lampu akan padam saat aku menutup pintu dan berada di luar kamar. Ranjangku masih rapi, jelas tidak ada seorang pun yang menidurinya usai housekeeping membenahinya. Televisiku mati. Biasanya..., nyaris sebulan ini dia menyala lebih cepat daripada aku membuka mataku di pagi hari dan masih menyala saat aku tiba di kamar ini di malam hari usai melakukan pekerjaanku. Lalu aku akan menemukan Alex menontonnya sambil tiduran di sofa kulit berwarna hitam di sisi pintu balkon sambil menantiku terbangun di pagi hari atau pulang di malam hari. Buku-buku di atas rak juga rapi, tak ada sebuah buku pun yang melayang dari deretan buku di rak dan lembarannya terbuka satu persatu secara ajaib. Mataku terpaku pada sebuah nampan kayu berbentuk kotak di atas meja televisi. Apa hari ini dia menyiapkan hidangan Jepang buatku? Makanan terakhir dari koki pribadiku yang sangat berbakat. Aku membiarkan tanganku menyentuh semuanya secara perlahan. Meraih sebuah buku di rak dan membuka lembarannya, lalu meletakkannya di sofa yang biasanya Alex tiduri. Menghidupkan televisiku dengan acara kartun lucu yang kini kubenci karena aku menangis saat seharusnya aku tertawa.
Aku membawa nampan itu ke tempat tidurku. Tak berniat mengganti pakaianku atau membersihkan diriku. Melipat kaki, aku menatap makanan yang kini terpampang di depanku. Aku disuguhi pemandangan kotak makan yang berisi beraneka hidangan. Kotak makan itu terdiri dari enam petak seperti petakan sawah. Di sana ada sashimi yang berisi beraneka potongan fresh ikan salmon, amberjack, tuna dan jeli asin. Ada petakan berisi ikan goreng dan dashimaki sejenis telur gulung, ada juga daging kukus, dan petakan lain berisi daging ikan tenggiri Jepang yang dipanggang dengan saos tare yang manis serta petakan lain berisi semangkuk sop miso dan nasi putih. Aku menyuap hidangan itu ke dalam mulutku dengan air mata berderai. Kenapa dia harus memasak sebanyak ini buatku...
Sashimi-nya jadi kurang fresh karena aku kelamaan pulang. Jika dia ada di sini aku akan memarahinya lalu menghukumnya untuk memasak makanan ini di lain hari buatku. Namun itu mustahil. Dia tidak akan pernah berada di sisiku lagi. Air mataku jatuh berderai lebih deras lagi sementara aku menyendok makanan ke dalam mulutku.
Dia pasti akan memarahiku jika melihat aku makan sambil menangis...Aku rindu amarahnya. Aku rindu saat dia berlari menerjangku dan membungkam mulutku dengan amarahnya. Aku rindu saat dia berceletuk kesal dan protes setelah mencuri dengar pikiranku.
Aku rindu kesederhanaan yang kami lewati di kamar ini. Dalam pertengkaran kecil yang tak berarti hanya karena hal hal spele selayaknya manusia biasa dalam keseharian.
Aku rindu dia.
Usai makan aku memilih membaringkan diri di sofa hitam, tempat Alex tidur selama ini. Pandangan ke arah televisiku bahkan tidak terlalu jelas dari sini, tapi aku bisa memandang ranjangku dengan bebas dari sini. Membayangkannya memandangiku dari sini dalam diam makin melukai hatiku.
__ADS_1
Aku tahu satu hal: jauh di dasar hatiku mungkin aku mulai jatuh cinta padanya. Namun karena takdir begitu kejam mempertemukan kami- dalam perbedaan yang sangat mendasar. Dia hantu dan aku manusia, aku tak merasa ada gunanya memikirkan artinya bagiku selain sebagai seorang room mate- teman sekamar sementara.
Air mataku jatuh lagi.