
Aku terbangun malam ini, meraba ranjang yang kini kutiduri dan merasakan sesuatu menghilang. Apa? Aku tidak ingat. Lalu perutku terasa sakit.
Kriuuuk.
Lapar. Sepertinya aku melupakan makan.
"Kau lapar?" Sosok itu duduk di sisi ranjangku dan menatapku dengan intens. Dia memadat hingga bisa kulihat dengan jelas. Wajahnya yang tampan menggurat dan mata abu-abunya yang indah terlihat khwatir padaku.
"Aku hanya lapar bukan akan mati," godaku, "kenapa kau terlihat begitu khwatir?" Dia tertawa kecil dan kikuk sambil menggaruk rambut hitamnya yang terpotong rapi. Cute. Hantu ternyata bisa begitu cute.
"Aku akan menyiapkan makanan untukmu."
"Bagaimana cara? Apa kau bisa masak? Apa seorang hantu..." Kalimatku terhenti, aku bisa melihat dia memandangku tajam. Aku tersenyum semanis mungkin padanya sambil berharap dia tidak marah. Aku tahu dia benci disebut hantu.
Dasar mulutku.
"Aku akan masak di dapur hotel. Dan setelah mencicipinya kau akan tahu apa hantu ini bisa masak atau tidak. Simpel bukan?" Aku tahu dia mulai kesal.
Bukan menyesal, aku malah ingin tergelak mendengar ucapannya. Namun aku mencoba mengontrol diriku untuk tidak menertawainya. Bisa rugi aku kalau ternyata dia memang berniat baik dan sungguhan tahu memasak.
"Maaf, tapi aku hanya sedikit khwatir kau akan membuat benda-benda di dapur berterbangan." Aku mengingatkannya satu hal yang mungkin dia lupakan. "Bagaimana jika kemudian ada yang melihatmu?"
"Ini sudah terlalu larut bagi kru dapur untuk berada di dapur. Jangan khwatir. Tidur saja karena aku akan membangunkanmu setelah selesai." Dia meraih bedcover dan menutupi sekujur tubuhku dari kepala hingga kaki. Aku menyingkap bedcover itu dan memandanginya melangkah menuju pintu. Dan sebuah perasaan cemas menggelayuti ku.
"Hey," aku memanggilnya dan menyadari bahwa aku bahkan tidak tahu siapa namanya. "Tolong jangan lama," pintaku membuat langkahnya terhenti. Tubuhnya berbalik dan matanya menatapku lekat-lekat. Seharusnya aku bilang aku cemas. Seharusnya aku bilang aku takut walau aku bahkan tidak tahu karena apa. Lucu dan kekanak-kanakan, mungkin itulah yang akan dia pikirkan tentang sikapku. Lalu aku memilih berbohong, mengatakan: "Aku lapar sekali." Dia mengangguk paham lalu melanjutkan langkahnya, aku bahkan bisa melihat dia tidak perlu membuka pintu kamarku. Dia melangkah cepat seakan terburu-buru dan menembus pintu begitu saja.
Dasar pamer, bisik hatiku. Namun aku tersenyum juga. Semoga saja dia memasak tidak terlalu lama karena memang aku benar-benar sudah lapar sekali, tapi jujur sampai saat ini aku benar-benar lupa apa yang tengah kukerjakan seharian ini hingga aku melupakan jadwal makanku.
***
"Makan. Habiskan." Setelah lima belas menit dia muncul di hadapanku dengan kereta penyaji makan hotel dan kini meletakkan nampan berisi makanan hasil masakannya di atas ranjangku. Lalu mundur dan bersandar di meja depan televisi. Menatapku serius.
Aku menyendok makanan itu ke dalam mulutku. Shabu-shabu with fish and chips potato dalam porsi kecil dan semangkuk kecil nasi yang sepertinya sisa hotel. Oke memasak nasi butuh waktu cukup lama, tapi wow it's so amazing. Hatiku memekik melihat jumlah makanan yang dia masak berbanding waktu yang dia habiskan.
Dan aku tidak keberatan menghabiskan semua ini walaupun hari sudah dini.
"Dari mana kau belajar memasak?"
"Aku tidak ingat." Dia mengangkat bahunya.
"Masakanmu seperti masakan seorang chef restoran ternama. Apa kau tahu itu?" Dia tidak menjawabku. "Mungkinkah kau dahulu seorang chef?"
"Entahlah."
"Tapi...wait..." Aku menghentikan makanku yang telah nyaris habis dalam waktu singkat karena kelezatan masakannya. Kualihkan pandanganku untuk memandangi dirinya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Dia punya wajah yang rupawan. Sepasang mata abu-abu yang berbinar, hidung mancung dan bibir merah sensual. Aku menebak-nebak dengan gadis mana dia pernah berciuman.
__ADS_1
"Berhenti memikirkan yang bukan-bukan," ujarnya ketus dengan wajah yang bersemu merah.
Hah? sepertinya dia kembali membaca pikiranku. Dan wajahnya bersemu merah, wow ini hanya tebakanku atau memang benar dia mengingat seseorang yang dia cium. Apakah orang tersebut cinta pertamanya?
"Kalau kau tahu siapa gadis itu, mungkin kita bisa mencari tahu siapa keluargamu."
"Selesaikan saja makanmu dan kembali tidur."
"Kenapa wajahmu bersemu merah? Kau ingat sesuatu?" buruku membuatnya frustasi. "Beritahu aku siapa gadis itu, aku akan mencari tahu tentang dirinya. Kau terlalu tampan untuk tidak memiliki kekasih dan ciuman pertama terlalu berkesan untuk bisa dilupakan begitu saja. Jadi kau pasti ingat....Siapa garis itu? Beritahu aku."
"Berhentilah menggodaku. Aku benar-benar tidak suka manusia sepertimu. Kau terlalu berani, terlalu intim..."
"Maksudmu seperti ini?" Aku meloncat mendekatinya sebenarnya untuk mengambil air mineral di atas meja depan televisi. Namun reaksinya yang malah hendak kabur membuatku makin ingin menggodanya. Menahan tubuhnya dengan dua tanganku yang terentang di tembok, aku menguncinya di tengah-tengah. Dengan jahil aku menatap fisiknya.
"Bagaimana kalau kita buat kesepakatan diantara kita. Aku akan berhenti menggodamu asal kau menceritakan siapa dirimu. Namamu, asalmu, keluargamu dan bagaimana kau mati?"
"Apa itu penting?"
"Tentu sangat penting."
"Bagaimana jika tidak?"
"Aku tidak akan berhenti menggodamu," ancamku.
"Kau tahu? Aku berbahaya." Dia balik mengancamku. Aku tersenyum mengejek. "Pertama karena aku berjenis kelamin laki-laki dan kedua karena aku hantu." Aku terkekeh. Tak ingin diintimidasi. "Aku bisa mengambil nyawamu, merasukimu..."
Aku menyentuh hangat permukaan jasnya. Menebak inikah pakaian yang dia gunakan ketika dia mati? Tanganku masih menelusuri dadanya...maksudku permukaan jasnya. Memastikan bahan jas yang dia gunakan. Jelas bukan sebuah jas murahan. Lalu tanganku menarik dasi merah yang menggantung di lehernya, nyaris membuat wajahnya membentur wajahku. Memerah. Salahkan kulit wajahnya yang putih dan halus itu hingga dia bahkan tak mungkin menyembunyikan bagaimana warna di sana berubah semerah kepiting rebus. Aku menikmati setiap reaksinya atas godaanku. Salahkan dirinya yang tidak mau mengakui segalanya tentang identitas dirinya karena setahuku hantu juga ingat masa lalu.
Deg.
Aku ingat seorang hantu wanita yang menangis marah di hadapan seorang pria karena pria itu membunuhnya dan bayinya. Amarahnya terlalu nyata bagiku...
Woow. Bayangan dari mana itu tadi? Apa itu adegan dari sebuah film? Karena aku tidak punya kenalan hantu lain selain hantu tampan yang kini ada di hadapanku. Oke. Hentikan intermezo itu. Aku beralih pada makhluk astral yang kini ada di hadapanku. Satu-satunya makhluk astral ganteng, menarik yang ingin kutemui setiap hari.
Dia mencoba menahan tarikanku atas dasinya yang membuat tubuhnya juga ikut tertarik, aku menemukan matanya menatapku tajam saat aku mengembalikan fokusku padanya. Lalu buru-buru membuang pandangannya ke arah lain. Aku meniru tingkahnya dan yeahhh.... Dia kembali melirikku.
Tuhkan, aku memergoki lagi bagaimana dia selau mencuri lihat ke arahku.
Namun kali ini aku berpura-pura mengamati dengan serius merk dasi dan penjepit yang dia kenakan. Ralph Lauren dengan bahan dasi dari sutera. Mungkin dasinya saja dibandrol dengan harga dua hingga tiga jutaan seharga dengan penjepit dasi berlapis emas yang dia kenakan. Lalu jariku bergerak pada pocket square di saku jasnya (sapu tangan yang dilipat sedemikian rupa untuk menambah kesan dalam penampilan resmi) ada inisial disana RF- mungkin juga berarti Ralph Lauren.
Jelas dia bukan orang sembarangan.
"Mungkin kau bukan hanya koki, pakaianmu terlalu resmi." Inilah yang ingin kusampaikan tadi, tapi teralihkan karena berhadapan dengan wajah tampannya dan sikap imutnya kala kugoda. Aku berpikir serius. "Mungkin kau juga seorang manager hotel? Atau...malah pemilik hotel?"
Tapi tetap saja sudah mati dan hanya hantu.
Apa itu tadi? Apa dia mengizinkanku mendengar hatinya?
__ADS_1
Aku menatapnya tak percaya.
"Bagaimana jika kita saling berkenalan. Secara lebih baik." Aku mengulurkan tanganku. " Namaku Emely."
"Makanan apa yang kau sukai?" Dia bertanya tanpa menjabat tanganku. Jadi aku menurunkan tanganku dan melepaskannya dari kungkungan tanganku. Aku beranjak meraih gelas minumku di meja bufet di bawah televisi. Kemudian menegak air minumku di bawah tatapannya.
"Apa kau ingin membuatkan makan malamku setiap malam?" tanyaku ingin tahu maksud pertanyaannya.
"Akan kupikirkan jika kau bersikap baik." Aku tertawa ngakak. Memangnya aku kurang baik apa? Membiarkan dia menginap di kamarku ini secara gratis bahkan menguasai televisiku dari pagi hingga malam hari.
"Aku tidak pilih-pilih makanan. Aku akan memakan semua makanan yang kau masak asal jangan mencampurnya dengan racun." Dia melototot kesal menatapku. Aku tersenyum puas.
"Aku memikirkan melakukan itu, jika sikapmu tidak membaik," ancamnya yang malah membuatku tertawa ngakak. Dia mengerucutkan mulutnya. Sangat menggemaskan. "Apa warna kesukaanmu?" Katanya membuka pembicaraan kembali.
"Biru."
"Seperti langit atau seperti laut?"
"Langit." Aku berkata. "Kalau kau?" Kutatap wajahnya. "Apa warna kesukaanmu?"
"Oranye."
"Seperti kulit Citrus atau..."
"Lebih lembut. Seperti cahaya matahari saat terbenam." Dia memandangku hangat, lebih hangat dari sinar mentari. Matanya teduh. Aku selalu merasa nyaman menatap matanya.
"Wanita seperti apa yang kau sukai?" Aku benar-benar ingin tahu tentang dia.
"Pertanyaan macam apa itu?" Dia menolak. "Ingat aku sudah mati."
"Walaupun kau sudah meninggal." aku memakai tanda kutip pada kata itu, "mungkin seleramu masih sama seperti ketika kau hidupkan? jadi beritahu aku siapa wanita yang kau ingat tadi?" Aku kembali menarik dasi yang mengalungi lehernya. Wajahnya terlihat memerah lucu. Aku suka saat melihat dia seperti itu. Menyenangkan bisa menggodanya.
"Jangan menggodaku." Aku tergelak atas peringatannya. Mengacuhkan kenyataan bahwa wajahnya nampak kesal. "Bagaimana jika kemudian aku yang menggodamu?" Dia akhirnya membalasku, matanya mengerling nakal. Aku refleks melepaskan tarikanku dari dasi yang dia kenakan. Namun telapak tangannya yang kekar menangkup seluruh genggamanku dan hanya dengan satu hentakan, aku dan dia berubah tanpa batas. Aku mungkin salah menilainya. Walaupun dia hantu, tapi sama seperti lelaki lainnya, dia tidak suka ditantang. Tubuh kami saling menempel. Dan kemudian aku merasakan sesuatu yang membuatku membeku. Bibir yang empuk dan lembut itu terasa menyentuh bibirku.
Sebelah tangannya melingkar di pinggangku dan tangannya yang lain terasa berada di leher belakangku. Ini bukan ciuman pertamaku, aku pernah berciuman dengan pacarku di waktu kuliah dulu. Namun tentu saja ini pengalaman pertama kali bagiku berciuman dengan seorang hantu dan aku tidak tahu kenapa aku menyukainya. Menyukai sensasi panas yang menghantam tubuhku karena aktivitas ini. Menyukai sensasi bibirnya dan sentuhannya yang nyatanya hanya di tengkuk dan pinggangku, tapi membawa imbas yang besar bagai angin sepoi-sepoi menggelitik seluruh tubuhku. Jadi aku membiarkan naluriku menuntunku membalas ciumannya.
Tanganku bergerak perlahan di rambutnya. Lalu aku menyadari sesuatu, aku tidak bisa menyentuhnya. Dia berubah transparan dan sentuhanku menembusnya. Dia melakukan ini padaku.
"Aku tidak bisa menyentuhmu."
Dia menyeringai nakal. "Tapi aku bisa menyentuhmu," ucapnya lalu menyatukan kembali bibir kami. "Ini penutup hari," tambahnya. Aku ingin protes saat mataku menatap jam di atas dinding kamarku. Pukul 02.29 wibb dini hari. Ini penutup hari atau pembuka hari? What ever.
Aku menerima ciuman terakhirnya sebelum dia mengendongku ke tempat tidur dan membaringkanku. "Kau harus tidur. Happy nice dream," bisiknya sambil menarik bedcover menutupi tubuhku. Kemudian membenahi peralatan makan.
Aku mengawasinya dalam diam. Mungkin orang-orang akan mengatakan aku gila jika ada yang mengetahui pikiranku. Namun dia adalah kekasih yang sempurna di mataku. Pertama aku tidak bisa mendengar hatinya, kedua dia baik dan sangat perhatian, ketiga dia tampan, keempat...dia melindungiku bahkan bertaruh nyawa untukku.
Aku merasa de javu. Ada sebuah bayangan kabur di benakku saat dia menolongku dari makhluk mengerikan. Namun aku tahu itu tidak pernah terjadi.
__ADS_1
Uppss... aku meralat, tidak sampai bertaruh nyawa. Namun entah bagaimana hatiku yakin dia akan selalu di sisiku untuk menjagaku bahkan bertaruh nyawa buatku.