
"Kau tidur dimana?" Setelah duduk di ranjang usai mandi, aku menyapanya. Terlihat agak konyol saat aku menyadari kini aku terlihat berbicara sendiri atau berbicara pada ruangan kamarku.
"Aku bisa tidur dimana saja, di atas lemari atau di kursi bacamu."
"Tidurlah di kursi baca. Kenapa kau harus tidur di atas lemari?" Aku menyerobot ucapannya dengan cepat. Dia tidak membalas. Aku masih menatap sekelilingku mencari tahu keberadaan hantu ganteng itu. Lalu aku menemukan signal keberadaannya dari buku-buku yang bergeser di rak, sepertinya dia sedang asyik memilih bacaannya. Kami melewati beberapa waktu dalam kesibukan sendiri. Aku sibuk menelpon IPTU Candra dan dia sepertinya sibuk membaca koleksi bukuku. Aku hanya melihat satu persatu kertas terbuka bagai ditiup angin. Dia kembali kepada bentuknya yang kasat mata.
"Nomor yang Anda tuju sedang berada di luar jangkauan cobalah setelah nada berikutnya. The number you are calling..." Aku mematikan ponselku dengan perasaan kesal. Bagaimana bisa seorang polisi bisa tidak bertanggung jawab seperti itu. Dia mengabaikan panggilanku padahal karena idenya aku berada dalam posisi berbahaya.
Bagaimana jika nanti malam atau besok pagi Rosta datang kembali? Mengambil bukti-bukti itu dan melukaiku? Lalu tanpa bukti-bukti ini dia bisa melenggang bebas. Aku tidak menyukai hal itu. Walaupun aku akan terluka, tapi memastikan Rosta menerima balasannya itu lebih adil dalam benakku.
Aku mondar-mandir tak karuan lalu memutuskan untuk menemui IPTU Candra sendiri di kantor polisi atau jika dia tidak ada di kantor polisi, paling tidak para polisi di kantor polisi tahukan dimana aku bisa menemukannya?
Aku beralih ke lemari pakaianku, meraih cardigan hitam dan sebuah celana panjang. Lalu berlari ke kamar mandi untuk mengganti baju tidurku. Jam telah menunjukkan pukul delapan malam saat itu.
"Aku akan menemanimu." Aku menatap ke rak buku saat pernyataan itu terdengar. Tak ada tanda-tanda dia ada di sana. Buku-buku telah tersusun rapi. Aku tidak mengetahui keberadaannya, tak juga bisa mendengar hatinya- aku benar-benar menjadi terlalu normal bila tentang dia. Tapi, yah, terserahlah dia sedang berdiri dimana sekarang yang penting dia akan menemaniku.
Ternyata walaupun dia kadang-kadang garang, dia cukup perhatian sebagai seorang hantu.
"Oke." Aku menyambut, menepis rasa dingin di sekitar tubuhku. Aku bergerak meraih tas kerja Rosta dari balik cermin di kamar mandi dan sebentar saja aku telah berada di luar pintu kamar. "Kau sudah diluar kamarkan?" Aku memastikan.
"Kenapa?" Bagai suara angin suara itu terdengar.
"Karena aku harus mengunci pintu." Ucapku lugu. Dia tertawa geli seakan baru menonton lelucon paling menggelikan saat mendengar kalimatku. Kemudian saat dia berkata-kata, aku baru menyadari kebodohanku.
__ADS_1
"Aku hantu. Aku bisa menembus pintu."
Tentu saja. Dia hantu. Dia bisa menembus pintu. Dasar kau, Emely yang bodoh.
Aku mendumel pada diriku.
"Ini kali pertama aku bertemu hantu, tentu saja aku bisa salah." Aku melakukan pembelaan diri sambil melangkah. Dia terkekeh. Kami keluar dari belakang hotel lalu menyetop taksi yang sedang melintas.
Apa kau ada di sisiku? Kau sudah masuk ke dalam taksikan?
Aku ingin menanyakan itu dengan mulutku, tapi malas jadi bahan tertawaan, lagi pula ada supir taksi di sini yang akan dengan senang hati menjustifikasi aku gila dan sorry saja aku tidak berniat masuk dalam golongan itu.
"Aku ada di sisimu." Dia berbisik di sisi telingaku, sepertinya baru membaca kembali pikiranku. Suaranya menenangkanku. "Kalau kau takut dijustifikasi sebagai orang gila, kau boleh bicara padaku dengan hatimu. Aku akan menjawabmu dengan berbisik." Aku melirik ke sisi kananku, tempat dimana dia kuyakini tengah berada.
"Baiklah, Tuan Putri, perintahmu adalah kewajiban bagiku." Sepertinya dia suka bercanda dan aku tersenyum lebar. Menampikkan bahwa mungkin saja supir taksi yang kutumpangi akan melihat aneh padaku yang tersenyum sendiri.
Dan dia benar-benar melakukannya bagai sebuah perintah yang tidak bisa dia tampik: dari kasat mata dia berubah menjadi kabut yang membentuk rupa, tapi tidak padat lalu perlahan aku bisa melihat rupanya memadat dan benar-benar nyata. Seorang pria tampan nampak tengah duduk dengan keanggunan yang penuh karisma di sisiku. Steleannya sedikit mengangetkanku. Jauh dari bayangan dekil dan jorok seperti kisah hantu-hantu di flim, dia nampak gagah dengan kemeja putih, jas hitam dan sepatu pantofelnya yang terlihat mahal. Dia menolehkan wajahnya dan tersenyum seadanya padaku. Matanya yang abu-abu berbinar cerah lebih cerah dari langit malam.
Tepat saat itu taksi berhenti di depan kantor polisi. Kami bergegas turun. Melapor di pos piket jaga yang letaknya berada di depan pintu masuk kantor polisi. Ada tiga orang petugas kepolisian disana dengan pangkat Bintara. Salah satu melayani kami dan meminta kami menunggu saat dia menghubungi kantor.
"IPTU Candra tidak berada di kantor saat ini."
"Apa saya bisa tahu dimana alamatnya? Ada sesuatu yang mendesak untuk saya berikan padanya, tapi dia tidak bisa dihubungi sedari tadi."
__ADS_1
"Kami tidak bisa memberitahu alamat anggota kepolisian tanpa izin yang bersangkutan."
"Tapi sangat mendesak."
"Jika Anda memiliki nomor telepon IPTU Candra ada baiknya Anda menelponnya kembali. Mungkin kali ini akan diangkat."
Aku mendesah kesal. Mau tak mau meraih kembali ponselku menghubungi nomor itu. Saat aku baru mulai menghubunginya kembali, sebuah mobil berhenti di depan gerbang kantor kepolisian, kaca mobil membuka dan IPTU Candra menyembulkan wajahnya. Tiga Bintara itu segera memberi hormat padanya.
"Manager Li. Aku baru kembali dari hotel karena mencarimu." Aku menatap ke arah suara itu dan menutup cell phoneku. IPTU Candra tersenyum dan aku menyambutnya dengan wajah asam.
"Ini semua bukti yang kau butuhkan." Aku memasukkan tas kerja Rosta dari dalam kaca jendela mobil yang terbuka. " Dan mulai sekarang jangan coba membuatku dalam bahaya saat kau bahkan tidak bisa menjagaku."
Lalu aku melihat kelebatan kejadian siang tadi yang memaksa dia memutar mobilnya yang tadinya mengikutiku. Perampokan di siang hari di sebuah toko perhiasan. Satu orang pelaku perampokan meninggal di TKP oleh timah panas yang dilepaskan IPTU Candra dan tiga orang kawanan melarikan diri. IPTU Candra mengejar mereka.
Kejadian itu memaksaku memberi simpati lalu menepis rasa marah dan kesal di hatiku tanpa dia harus minta maaf atau menjelaskan alasannya. Itu salah satu keuntungan dari kemampuan yang kumiliki, menepis salah pahaman. "Aku paham kau punya tugas lain. Aku balik. Ini sudah cukup malam."
Aku baru akan beranjak ketika tangan IPTU Candra meraihku dan membuat langkahku tertahan. " Aku mengaku salah. Tapi... apa kau mengambil bukti itu dari Rosta?" Dia menatapku dengan kaget. " Aku tidak minta kau melakukan sejauh itu. Itu pasti sangat menakutkan." Dia merangkul pundakku. Aku ingin menceritakan peristiwa yang kulalui demi mengambil bukti-bukti itu: bagaimana aku terjatuh dari gedung berlantai sepuluh dan seorang hantu menyelamatkanku lalu membawaku kembali ke kamar hotel dengan aman, atau bagaimana tiba-tiba Rosta menggeledah isi kamarku untuk mencariku dan bukti-bukti itu dan hantu yang sama, seorang hantu tampan yang kini berdiam bersamaku melindungiku.
Kami berdiri berpelukan di bathtub. Rasanya aneh saat mataku bisa melihat mereka semua. Namun mereka bahkan tidak bisa melihatku.
Namun aku tidak menceritakan semuanya. Hanya sebagian saja dan aku jelas melihat kekwatiran di mata IPTU Candra. " Kita ke dalam dulu. Aku akan membuat surat penahanan padanya dan mengantarmu kembali ke hotel."
IPTU Candra membukakan pintu mobilnya kepadaku dan langsung melaju ke dalam area kantor kepolisian. Sesaat aku melirik jok belakang mobil memastikan hantu gantengku tidak ketinggalan di luar sana.
__ADS_1