Aku Bisa Mendengar Hatimu

Aku Bisa Mendengar Hatimu
14. Sarang Setan


__ADS_3

"Aku mendapatkannya kembali. Semua yang kumiliki yang telah hilang termasuk Niken. Dia jatuh cinta kembali padaku seperti pertama dia mencintaiku. Kami bercinta nyaris setiap hari dan kembali hidup bersama. Lalu aku menyadari dia membohongiku. Dia mengandung putra Iko."


"Kau tahu darimana?"


"Iko memberitahuku dengan foto USG bayi itu."


"Kau mempercayainya?" Kami berbincang sambil berbisik-bisik. Dia mengangguk. "Lalu kau mengorbankannya di sini?" Aku membaca pikirannya. Dia mengangguk. Lalu kesunyian kembali terlahir diantara kami. Sama seperti aku yang tidak memahami mengapa dia menceritakan kisahnya secara langsung padaku, aku juga tidak memahami apa yang harus aku katakan saat dia berkata:


"Kebenarannya aku bukan seorang manusia lagi."


Malam semakin larut. Aku menggenggam erat sebuah pisau dapur satu-satunya yang kutemukan di balik kitchen set, lebih untuk melindungi diriku dari Rosta karena aku tidak yakin roh-roh pengabdi setan itu bisa dibunuh dengan pisau, sedang Rosta dia masih terikat dalam tubuh manusianya yang fana, luka di tubuhnya akan memperlambat geraknya karena rasa sakit dan jika dia mencoba mengejarku dengan keluar dari tubuhnya- dia akan benar-benar tamat. Dia tahu itu. Jadi disini lah kami half demon dan seorang manusia lemah bersembunyi dari setan-setan jahat di luar ruangan ini yang masih mencari kami.


Aku hanya merapal doa di dalam hatiku agar mereka tidak menemukanku dan agar ada seorang yang datang menyelamatkanku malam ini juga. Save me, God, please.


Rosta memejamkan matanya dalam diam. Hanya hatinya yang bertempur atas segala dosa yang telah dia lakukan. Atas perbuatannya menjadikan beberapa gadis yang mampu dia pikat sebagai tumbal untuk kehidupan baru yang dia dapatkan termasuk Sarina dan Niken.


***


Krek.


Suara pintu dapur terbuka. Tubuhku dan Rosta menegang. Kami menajamkan telinga. Hush..hush..hush... Suara nafas sesak itu terdengar, andai dia manusia, ini tak akan mengerikan bahkan jika dia bertitel pembunuh berdarah dingin pun dengan suara nafas sekencang itu aku yakin masih punya harapan untuk bertahan hidup. Namun ini setan.


Lalu mataku membentur pada sesosok aneh yang terbang di atas langit-langit dapur. Wanita bersayap kalilawar. Aku nyaris memekik andai Rosta tak dengan cepat membekap mulutku. Namun sialnya, karena Rosta bergerak terlalu cepat, lengannya membentur lemari bawah kitchen set yang terbuat dari kayu- tempat kami bersembunyi dan menimbulkan suara. Hanya suara pelan, tapi telinga runcing makhluk mistis itu sepertinya mendengarnya. Sayapnya mengepak dan dia terbang menuju kitchen set.


Rosta masih membekap mulutku, aku bahkan menahan nafasku- andai bisa aku akan menghentikan sebentar detak jantungku yang bergemuruh kencang agar makhluk itu tidak mendengar suara apa pun. Namun itu tidak mungkinkan? Dia mengendus. Lalu turun terbang mengitari dapur kembali. Cukup lama dia terbang tanpa arah, lalu entah bagaimana dia menungkik dan bertengger di kitchen set bawah tepat saat aku melongokkan kepala hendak memastikan keberadaannya. Mata kami bertemu.


"Akkkahh!" Dia berteriak dan aku menancapkan pisau yang ada di tanganku ke dalam mulutnya. "Aaaakkkkkaaaahh!" Makhluk itu berteriak lebih panjang dan keras.


Kuraih tangan Rosta dan kami berlari sekencang mungkin keluar dari ruang dapur. Dari kejauhan kami bisa melihat sepasukan iblis berlari menuju ke arah kami. Yang terdepan adalah makhluk jelek dengan tubuh melepuh oleh air keras, bayangan hitam tinggi besar seperti raksasa dan makhluk berperawakan tubuh seperti manusia dengan kaki seperti anjing, tubuhnya dipenuhi bulu-bulu lebat dan giginya bertaring panjang.

__ADS_1


"Dia adalah hasil dari pernikahan antara manusia dan anjing, dia mencintai ibunya sendiri dan membunuh ayahnya, bahkan memakan jantung ayahnya. Jangan sampai tergigit olehnya," Rosta memberi tahuku saat kami berlari. "Temperamennya yang buruk dengan mengorbankan sendiri ayahnya serta moralnya yang ingin menikahi ibunya sendiri, mungkin membuatnya terjebak dalam rupa itu."


Kami memilih memasuki sebuah ruangan lalu bergegas menyangga pintu ruangan itu dengan sebuah sofa tua yang bahkan telah rusak, kotor, berdebu dan dipenuhi sarang laba-laba.


Dbumm! Dbumm!


Pintu itu didobrak dari luar sana. Suara kerasnya membuat jantungku nyaris melompat dari rongga dadaku. Rosta bergerak berdiri lebih di depan. Matanya bergantian menatapku dan pintu yang makin rapuh.


"Aku tidak tahu bagaimana..., tapi berjanjilah untuk melepaskan jiwaku dari makhluk itu. Bahkan di neraka pun sepertinya masih lebih baik daripada menjadi abdinya."


"Aku tidak bisa berjanji." Ucapanku membuatnya menatapku putus asa. Namun aku tidak mau mendustainya dengan sebuah harapan palsu. Lepas dari sini saja akan menjadi sebuah anugerah bagiku dan aku pastikan aku tidak sudi lagi terlibat pada hal semacam ini lagi.


Aku masih berada pada pikiranku ketika suara keras dari arah pintu terdengar dan pintu itu bukan hanya terbuka lebar, tapi melayang keras ke arahku. Rosta menarik tubuhku sebelum benda itu menghantamku. Dia menepiskanku hingga aku berputar dan masih dengan kepala pusing jatuh bersimpuh di sisi lain lantai.


"Aaarrrghhh!" Makhluk itu menyergap Rosta. Rosta kini ada di bawah tubuhnya. Aku mencoba mencari- cari belati yang tadi masih ada di tanganku. Namun nihil. Aku tidak menemukannya. "Lari Emely. Lari!" Rosta berteriak saat makhluk itu mencakarnya. Aku menikam punggung itu dengan pisau belati berkarat yang kutemukan di ujung ruangan.


Makhluk itu menatapku. Melemparkan Rosta, dia beralih mengejarku. Namun Rosta menahanya.


"Ikikikikikik! Ikikikikikik!!"


Lalu sosok lain muncul di ruangan itu. Seorang wanita dengan rambut tergerai panjang. Wajahnya pucat pasi. Dia tertawa dikemunculannya walaupun tak ada ekspresi bahagia di wajahnya. Suara tawanya membuat hatiku menjadi ciut.


Makhluk berbulu itu menatap hantu wanita itu saat dia menarik tangan Rosta. Tak senang mangsanya diambil makhluk berbulu lebat bertubuh manusia berwajahkan anjing itu menghajar hantu wanita itu.


"Niken!" Rosta melindungi hantu wanita itu.


Oke. Ini sepertinya menjadi urusan pribadi antara Rosta dan hantu wanita itu. Namun bukannya mau dilindungi, wanita itu menatap Rosta dengan marah. Dia menghajar Rosta dengan keras hingga terbang beberapa meter dan terbanting jatuh lalu tangisnya terdengar. Tangis yang bahkan bisa membuat telingaku begitu sakit.


"Kembalikan putraku!"

__ADS_1


Makhluk berbulu itu beralih padaku, dia bergerak cepat menyergapku dan langsung menarikku keluar ruangan itu. Jangan bayangkan aku ditarik seperti seorang manusia ditarik manusia lain, makhluk itu menarik kakiku dan tubuhku yang terlentang terseret seret di sepanjang koridor gedung tua ini.


"Rosta!" Aku memanggil namanya meminta tolong. Namun kelebatan rasa sakit menghujam tubuhku. Hantu wanita itu membantai Rosta. Dia dilemparkannya kesana kemari. Rosta hanya diam.


Aku ingin kau mati! Kau sudah membunuh putra kita!


Aku mendengar kelebatan kalimat itu dalam pikiran Rosta yang shock. Aku bisa merasakan bagaimana hancurnya hati Rosta saat tahu bahwa Niken pergi darinya bukan karena berselingkuh, tapi karena dia tengah mengandung. Dan malam kemarin sebelum kepergiannya- saat dia berandai-andai pada Rosta, Rosta bilang dia tidak butuh seorang anak. Rosta bilang pernikahan bukan merupakan prioritasnya saat ini apalagi di saat keterpurukan kariernya. Niken hanya ingin Rosta menyadari arti pentingnya dia bagi hidup pria itu. Ia meminta Iko menjemputnya karena pria itu selama ini bersikap baik dan manis padanya, Niken tidak pernah tahu Iko bisa bersilat kata. Namun Rosta malah terjebak pada ucapan Iko dan mengorbankan mereka berdua.


"Kau boleh mengambil nyawaku." Rosta terlihat pasrah. "Lagi pula aku sudah mati di hari kau pergi dari hidupku."


"Jangan mencoba merayuku!" hantu wanita itu berteriak marah, suaranya bahkan sampai ke seluruh gedung. Lalu aku merasakan sebuah kebahagian dari hati Rosta.


Oke. Aku pikir, mereka butuh waktu untuk bicara dari hati ke hati. Jika hantu punya hati.


Gedebug!


Sekelebat bayangan hitam legam menyerang makhluk berbulu itu. Dan makhluk berbulu itu malah menjadikan aku semacam senjatanya untuk menghajar lawannya. Kakiku terasa mau copot karena ditarik-tarik, badanku sakit saat dihantamkan ke setan-setan itu. Mereka bertarung.


Lalu kelebatan bayangan lain menghantam tubuh makhluk berbulu itu. Makhluk itu mengalami kesakitan, tepat saat dia terjatuh-bayangan putih itu menangkap tubuhku sebelum setan-setan itu berhasil menggapaiku terlebih dahulu. Bayangan itu memeluk tubuhku. Perlahan kabut itu memadat dan aku bisa melihat rupanya dengan jelas. Hantu ganteng di kamarku.


Aku terisak di pelukannya hingga terguncang. Rasanya menyenangkan bisa memeluknya kembali. "Aku pikir aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi," isakku sambil memeluknya lebih erat lagi. Tak bicara, dia hanya balas memelukku. Meredakan tangisku.


"Aku akan menghadapi mereka." Dia yang berada dalam posisi melayang kini mendarat dan perlahan dia menurunkanku. Siap menghadapi ratusan setan yang kini berlari cepat dengan bergerombol menuju ke arah kami.


Aku menahannya. Memegang lengannya, kali ini benar-benar bisa memegangnya. Kepalaku menggeleng. Mata kami bertemu. "Tetap di sisiku," pintaku.


Dia memeluk tubuhku sebelum terjatuh kembali karena rasa sakit di sekujur tubuhku. Bisa kupastikan banyak luka yang membekas di tubuhku. Tangannya melingkar di pinggangku sebelum dia menggendong tubuhku. Aku melingkarkan kedua lenganku di lehernya dan mataku hanya menatap wajahnya- satu-satunya keindahan di tempat ini.


"Selalu," bisiknya di telingaku mengalirkan sebuah ketenangan dan keamanan bagiku. Entah bagaimana kata itu memberiku sebuah keyakinan bahwa aku akan selalu aman bersamanya.

__ADS_1


Aku mau pulang.


Hatiku memohon. Matanya menatapku lembut. Tak ada penolakan dari bibirnya. Saat kami pergi aku bisa mendengar erangan keras penuh kemarahan dari para setan-setan penghuni gedung hotel yang terbengkalai ini.


__ADS_2