
Aku mengajak kru media melangkah menuju ruang press release. Entah bagaimana General Manager memilihku sebagai humas khusus untuk berita kematian Sarina. Aku menghadirkan IPTU Candra dalam press release itu juga.
"Terima kasih untuk kehadiran para rekan media semua baik dari media cetak, televisi maupun online. Terima kasih atas perhatian kalian hingga seminggu kasus ini, kami berharap ini bisa menekan pihak kepolisian untuk bekerja lebih cepat lagi untuk menuntaskan kasus ini setelah menetapkan kasus ini sebagai kasus pidana dan bukan bunuh diri. " Aku jelas melirik tajam pada IPTU Candra yang malah nampak santai menanggapi tatapan sinisku.
Dia hamil. Bagaimana kau bisa tahu sementara dia saja baru melakukan pemeriksaan kehamilan tanpa sengaja dua jam sebelum dia meninggal. Dan bayinya masih terlalu kecil untuk bisa terlihat.
Ucapan dari dalam benak IPTU Candra jelas mengguncangkan pikiranku.
"Sebenarnya kami, Royal Garden Hotel juga belum mengetahui fakta sebenarnya, tapi, ya, benar seminggu lalu tanggal 24 February 2020 tepat pukul 8.39 malam salah satu staff kami mengalami kecelakaan dan terjatuh dari lantai atas. Tapi kami menjamin hal itu tidak akan mempengaruhi operasional dan pelayanan kami kepada para tamu-tamu hotel kami. Kami akan tetap memberikan pelayanan terbaik dan sepenuh hati seperti sebuah keluarga."
Aku tidak mendengar dengan jelas apa yang kemudian dijelaskan IPTU Candra sebagai perwakilan kepolisian. Kepalaku terlalu mumet.
Lepas dari IPTU Candra seusai press release ternyata tidak mudah. Dia mengejarku seakan aku pelaku kejahatan.
"Aku nampak sangat buru-buru, Manager Emely."
"Aku banyak pekerjaan."
"General Manager sudah memberiku izin untuk mengambil waktumu kapan saja demi menuntaskan kasus ini. Kau tidak punya alasan melarikan diri dariku karena pekerjaan."
Aku melihat senyum puas di wajahnya saat melihat wajahku pasrah. Kami berjalan berdua di koridor hotel. Lalu memasuki lift untuk turun ke lantai dasar. Hanya ada kami di dalam lift itu. Aku di depan dan dia dibelakangku. Mengesalkan.
"Dia hamil dua bulan."
Aku menyesal menyatakan hal itu padanya. Kini aku baru sadar ini akan berbuntut panjang dan hidupku bisa tak damai lagi.
"Bukan berarti kau bisa menuduhku. Aku tidak mungkin menghamilinya."
Tawanya terlihat dari dinding kaca pintu lift. Mungkin akan terlihat manis di mataku, jika kami tidak bertemu karena masalah ini, tapi sekarang terlihat sangat mengesalkan.
"Darimana kau tahu dia hamil?" Dia memaksaku menatapnya, memutar tubuhku dengan paksa dan membuatku terpojok di dinding kaca lift. Jelas ingin mengetahui rona wajahku.
Darimana aku tahu?
***
__ADS_1
Enam bulan lalu.
Aku melirik pada seorang tamu pria yang baru saja melintasiku dengan berkoper-koper bawaan yang tentu saja bukan dia yang membawakan, tapi concierge hotel dan berhenti di depan resepsionis hotel yang segera menyapanya dengan ramah.
Cantik. Semok. Apalagi bokongnya yang terlihat padat. Teman yang sempurna untuk bermain di tempat tidur.
Hati pria itu bergumam. Mata nakalnya menatap pada para pegawai hotel yang melintas.
Mungkin dia seorang sultan, dia memilih penthouse, sebuah gedung yang lebih mirip rumah pribadi terletak di belakang gedung hotel. Jangan bayangkan rumah sederhana di pikiranmu, ini rumah mewah dengan fasilitas modern dan sempurna di dalamnya. Dari sebuah kamar tidur yang setara dengan president's suit, kamar tamu dengan perabot-perabot berkelas dan dapur yang diisi dengan panci-panci modern setara milik dapur hotel dengan merk internasional. Namun bukan berarti tamu penthouse harus masak sendiri, seperti tamu hotel yang lain dia juga punya hak untuk memesan makanan hotel yang akan dengan senang hati diantarkan langsung oleh waiters resto hotel ke penthouse. Tentu saja tak ada yang gratis di dunia ini.
Harga sebuah kemewahan membuatmu harus merogoh kocek lebih dalam lagi. Penthouse dihargai sepuluh juta rupiah semalam, belum termasuk pelayanan ekstra seperti pemesanan makanan di restoran hotel dan penyembahan isi kulkas sesuai yang diinginkan pengguna penthouse.
"Siang, Manager Li." Bawahanku di resepsionis menyapaku saat aku melintas di depan mereka.
"Bagaimana semua? "
"Baik, Manager Li." Mereka menjawab serentak dan tepat setelah beberapa detik menatapiku, pria itu bicara:
"Anda seorang Manager?" Aku mengangguk. "Saya akan lama di sini dan saya tidak menyukai kamar hotel biasa. Saya ingin seperti sebuah rumah, beberapa teman mengatakan hotel ini memilikinya." Aku mengangguk dan meminta Intan meraih buku penthouse, mengajaknya duduk di sofa lobby yang lebih nyaman dengan segelas air minum dan kudapan ringan.
Aku mensensor pikirannya yang memasukiku. Fix. Aku telah menilai seberapa brengseknya pria yang kala itu ada di sisiku.
"Apa kau ingin punya pekerjaan tambahan? Atau uang tambahan? Aku mungkin membutuhkan seorang butler. Dan aku ingin kau menjadi butler buatku."
Butler adalah personal asisten untuk VIP Guest. Seorang butler harus memiliki kualifikasi pendidikan dan kecakapan dalam beraneka hal mulai dari bahasa, komunikasi dan segala lingkup hotel dan bahkan jalanan dan tempat wisata di daerah hotel berada karena berhubungan dengan tamu yang super duper tajir yang harus diberikan pelayanan super duper excellent.
"Maaf, tapi saya tidak bisa."
"Kenapa?"
"Aku sudah memilih menjadi butler Presiden Jokowi." Aku bicara asal. Dia jelas terlihat kecewa. "Jadi apa Anda sudah memilih dimana Anda akan menginap? Penthouse atau Presiden suit?"
"Dari awal saya ingin di penthouse."
"Berapa lama, Bapak?"
__ADS_1
"Akan lama jika kamu mau menjadi butler-ku." Jemarinya merayap di atas rok spanku yang tertutup hingga lutut.
"Baiklah saya akan meminta resepsionis menyiapkan semua hitungan biaya yang akan Anda keluarkan termasuk deposit box yang harus Anda masukkan." Aku baru berdiri ketika tangannya dengan keras menarikku.
"Aku ingin kau memikirkan kembali menjadi butler ku." Ia bicara di sisi telingaku. Aku jatuh kepangkuannya sebentar lalu buru-buru berdiri. " Mana tahu presiden sedang berhalangan atau tidak jadi datang." Wajahnya tersenyum menggoda, aku memendam kemarahan, namun masih bisa tersenyum berbasa-basi. Sebelum benar-benar kabur dari makhluk itu.
***
"Darimana kau tahu dia hamil?" suara itu kini sedikit meninggi. "Bicara atau kau ingin aku memasukkanmu ke penjara?!"
Aku masih berpikir apakah ada gunanya jika aku memberitahu kebenaran padanya bahwa aku bisa mendengar apa yang ada dipikiran orang lain. Alih-alih diakui, bisa bisa aku diseret ke rumah sakit jiwa.
"Jangan membuat kesabaranku habis, Manager Emely. Kau tidak akan tahan berada di penjara. Jadi bicaralah."
"Pikirkan sesuatu."
"Apa?"
"Apa saja."
"Jangan bergurau denganku." Lalu ponselnya berbunyi. I' m save to the phone. Ia membaca note di ponselnya. Mengingat sesuatu.
Melamar Rosa di ultahnya yang ke dua puluh enam tahun dengan sebuket bunga mawar merah, cincin di restoran kenanga- tempat pertama kami bertemu. Kali ini tidak boleh terlambat. Memo dua tahun yang lalu.
Lalu aku melihat kelebatan lain di otaknya. Bukan sebuah kejadian yang menyenangkan. Pertengkaran dengan Rosa di sebuah resto yang sepertinya habis dilakukan pesta. Meja- meja yang telah dipenuhi peralatan makan yang kotor dan kursi- kursi kosong. Hanya ada seorang wanita yang sepertinya Rosa dan keluarganya.
Kami keluar bersama dari dalam lift tepat ketika pemasok bunga hotel datang di depan hotel dan baru akan memasuki lift untuk mengedarkan bunga kepada room service. Aku meraih satu tumpuk bunga mawar merah yang masih terikat bagus dengan kertas bunga dari keranjang mereka. Lalu berlari mengejar IPTU Candra.
"IPTU!" Aku memanggil, dia berhenti dan membalikkan badannya. Kuletakkan sebuket mawar merah yang masih sangat segar ke dalam pelukannya. Mungkin semua orang yang ada di lobby hotel kini menatap kami. "Sebuket mawar merah buat Rosa di ultahnya yang ke dua puluh enam tahun."
Dia berpikir sesaat. Namun sepertinya karena sangat buru-buru tak sempat menanyakan bagaimana aku mengetahui segalanya. Ia berlari pergi. "Semoga kau sukses melamarnya dan kejadian dua tahun lalu tidak terulang!"
Aku bisa melihat dia berbalik dengan wajah yang kali ini tidak menyembunyikan bahwa dia benar-benar bertanya- tanya dari mana aku mengetahui hal itu.
Aku hanya tersenyum jahil.
__ADS_1
Itu makanya percaya saja padaku.