Aku Bisa Mendengar Hatimu

Aku Bisa Mendengar Hatimu
16. Rantai Memori yang Hilang


__ADS_3

"Thanks, God finally your wake up." Dia menyapaku. Duduk tepat di sisi pembaringan- ku. Aku kembali melihat kelegaan di wajahnya saat melihat mataku membuka. Dia berdiri dari duduknya dan beranjak pergi.


"Selamat pagi." Aku menyapanya penuh senyum, dia membalikkan badannya dan menatapku dalam diam seperti menyimpan rahasia dalam diam. Sementara aku bangkit dari tidurku. "Auuww." Aku merasakan sakit di sekujur tubuhku.


"Kenapa?" tanyanya dan kakinya melesat bagai busur menghampiriku saat aku baru saja hendak memeriksa kulitku. Ada bekas benjolan di keningku yang ketika kutekan masih terasa sakit, menyibak bedcover aku menemukan ada beberapa memar di lengan kanan dan kiriku juga di kakiku. Rasanya masih sakit.


Aku mendongakkan wajahku menatapnya yang telah berdiri di sisi ranjangku. Kini terpaku dalam diam menatap apa yang aku lakukan.


"Ada banyak memar di kulitku. Ini sangat aneh bukan? Tubuhku juga terasa sakit padahal aku bahkan tidak melakukan apa-apa." Dia tidak mengatakan apa pun, duduk di sisiku. Dia meraih wajahku menghembus benjolan di keningku, lalu turun meniup lembam di tangan kanan dan kiriku. Aku tahu itu tidak akan menyembuhkan. Namun aku suka saat dia memberiku seluruh perhatiannya.


"Bukankah ada kepercayaan pada manusia, jika kau bangun dan menemukan kulitku lembam berarti ada hantu yang menciummu tadi malam? Dan aku menciummu tadi malam." Aku bisa merasakan wajahku memerah karena ucapannya. Ya, aku pernah dengar mitos itu. Namun aku tidak menyukai kenyataan bahwa aku merasakan perubahan di rona wajahku karena ucapannya. "Maaf."


Jujur aku masih bisa merasakan sensasi panas di tubuhku hanya karena membayangkan ciuman kami tadi malam...


Aku menggetok kepalaku saat menyadari pikiran bodoh yang bergelayutan di kepalaku. Aku harap dia tidak sedang membaca pikiranku lagi.


Fokus, Emely, fokus. Aku memperingati diriku sendiri sambil bangkit dari ranjang.


"Aku harus mandi dan bekerja."


Dia mengangguk. "Aku tidak akan mengintipmu." Dia mengatakannya bahkan sebelum aku mengeluarkan ultimatum dan entah mengapa aku baru menyadari bahwa sangat kasar mengatakan hal itu setiap kali padanya saat aku ingin mandi seakan aku benar-benar tidak mempercayainya.


Aku meraih pakaian dari lemari dan berjingkat ke kamar mandi. "Maaf, jika membuatmu tidak nyaman atas perkataanku."


"Bukan begitu... Sandwich dan susu akan siap saat kau selesai mandi." Dia beranjak cepat sebelum aku sempat meneriakinya untuk membatalkan niatnya. Hari sudah pagi dan aku tak bisa membayangkan kehebohan apa yang akan terjadi di dapur jika kru dapur melihat bahan-bahan makanan atau gelas dan piring berterbangan.


Aku memilih berlari mengejarnya menuju dapur hotel. Meneriakkan namanya di dalam hatiku. Dan dug... Aku membentur tubuhnya yang ternyata juga berlari panik menghampiriku dari arah dapur hotel. Dia memelukku erat seakan memastikan tak seorang pun akan menyakitiku. Aneh bukan?


Kau tidak bisa menyiapkan sarapan pagi di dapur, para kru dapur sudah ada di sana. Aku lupa memberitahumu hal itu tadi.


Lalu wajahnya berangsur-angsur tenang.

__ADS_1


Aku bisa sarapan di restoran hotel nanti.


Dia mengangguk paham, meraih jemariku. Rasanya aneh. Kami berjalan bergandengan tangan berdua di koridor yang menghubungkan dapur dan resto hotel, menuju lobby hotel yang masih sepi. Aku berbicara dengannya sepanjang jalan menuju lift, tentunya di dalam hatiku.


Apa kau tahu namamu siapa?


Dia menggeleng.


Apa kau keberatan kalau aku memberimu nama?


"Kau ingin memberiku nama apa?" Dia bertanya serius dan tampak sangat tertarik akan ideku.


"James? Jon? Jo? Alex? Raphael? Michael?" Aku sampai capek menyebut banyak nama untuknya hingga kami keluar dari lift. Lalu mataku bersiobok dengan mata sepasang tamu di koridor kamar hotel yang menatapiku dengan tatapan ngeri karena merasa aku sedang bicara sendiri. Terlalu tua untuk mencari alasan logis aku merapalkan berpuluh nama lelaki kalau tadi aku hanyalah seorang anak sekolah berusia dua belas bahkan lima belas tahun orang-orang bisa berpikir aku sedang dihukum guru menghapal nama teman-teman sekelas. Aku mendengus kesal padanya.


Lihat karenamu mereka berpikir aku gila. Seharusnya kau memilih salah satu nama itu. Semoga saja mereka tidak tahu aku salah satu manager hotel di sini.


Protesanku malah disambut tawa ngakak darinya.


Oke, dia benar. Mungkin aku sedkit **** dan dia lebih banyak karena aku wanita dan wanita tidak pernah salah.


"Ckckckckck." Dia mendecak.


Tutup mulutmu, Alex! hardikku dalam hati membuatnya terdiam kaget. Aku menatapnya dengan senyum kemenangan sambil membuka pintu kamar dan berlari mendahuluinya memasuki kamar.


"Mulai hari ini aku akan memanggilmu: Alex!" ucapku yakin tepat saat dia menutup pintu kamar.


***


"Manager Li!" Serombongan rekanku datang berlarian menghampiriku saat aku baru saja keluar dari lift dan menjejakkan kakiku di lantai dasar hotel.


Mereka memelukku. "Apa Manager baik-baik saja?"

__ADS_1


"Kapan Anda kembali?"


"Bagaimana Anda kembali?"


"Kami mengkhwatirkan Anda. Kami segera memanggil polisi usai pria itu membawa Anda pergi."


Ya, aku ingat kemarin pagi saat aku tengah berbincang dengan Larisa, Rosta datang dengan wajah penuh emosi. Dia meminta berkas yang kuambil dari kamar hotel tempat dia menginap. Aku ingat dia menghajar semua orang yang berusaha menghalanginya membawaku. Aku ingat dia membawaku dengan mobil BMW hitamnya. Aku ingat bagaimana aku meronta dan berusaha menghentikan laju mobilnya. Aku ingat ketika mobil itu membentur terotoar jalan dan berhenti, lalu tangannya menangkap lenganku saat aku baru akan membuka pintu mobil. Aku ingat dia membenturkan kepalaku ke dasboard mobil. Aku ingat semua itu lalu semuanya gelap.


"Aku baik-baik saja. Terima kasih telah mengkhwatirkanku dan memanggil polisi untuk menyelamatkanku. Mungkin aku tiba larut malam..tapi aku juga tidak yakin. Aku tidak ingat apa-apa."


Cedar, manager personalia mendekatiku. Matanya yang berlapis kaca mata minus tiga koma empat puluh mempelototi jidatku. Perlahan aku merasakan jemarinya memencet benjol di jidatku. Aku meringis kesakitan.


"Apa dia membenturkan kepalamu hingga kau jadi lupa ingatan?"


Aku ingin mengatakan bukan begitu, tapi aku juga tidak punya penjelasan tentang apa yang terjadi pada diriku kemarin saat dibawa paksa oleh Rosta sampai dibenturkannya kepalaku di dasbord mobil. Semua hilang bagai kabut tebal di labirin otakku.


Aku mencoba mengingatnya pelan-pelan ketika aku mulai bekerja, tapi nihil. Mencoba menyingkirkan semua itu, aku memilih membenamkan diri dalam pekerjaanku. Lalu langkahku terhenti pada layar televisi di lobby hotel yang tengah menayangkan acara televisi dan bukannya iklan promosi hotel. Aku tidak tahu siapa dari para resepsionis yang kubawahi yang melakukan keteledoran ini.


"Breaking news. Kembali bersama saya Carita Angelita di newstv. Pagi ini polisi menemukan sebuah jasad yang membusuk di sisa-sisa gedung Hotel Lamara yang telah lama tidak dibuka. Penemuan ini terjadi setelah beberapa masyarakat melaporkan mendengar suara teriakan dan kebisingan dari arah gedung kosong bekas Hotel Lamara malam kemarin. Gedung Lamara Hotel memiliki sejarah menyeramkan menurut masyarakat sekitar."


Hotel adalah tempat nyaman untuk bersantai, menikmati liburan dan memanjakan diri. Tempat teraman tanpa tenggat waktu bagi para tamu, itu kenapa di kamar hotel tidak dipasangi jam dinding. Dan tempat ternyaman itu tidak membutuhkan berita berat di area umum hotel. Aku bergegas menuju meja panjang reservasi hotel.


"Siapa yang memasang berita itu?" tanyaku membuat para bawahanku menunduk. "Kemarikan remotenya." Aku menengadahkan tanganku. Cindy bergegas mencari apa yang kumaksud dalam laci meja resepsionis. Cukup lama. Sebenarnya aku bahkan tidak berniat sedikitpun untuk menatap berita itu, tapi sesuatu di layar televisi itu membuatku menoleh.


Ruangan tempat mayat itu ditemukan. Entah bagaimana aku merasa mengenalnya. Entah kapan, tapi aku merasa pernah berada di tempat itu, tapi bukan dengan kebahagian.


"Di halaman belakang Lamara Hotel ditemukan juga sebuah mobil mewah dengan plat polisi Jakarta. Berdasarkan dugaan polisi setelah melihat kondisi jasad yang telah sangat membusuk besar kemungkinan korban telah dibunuh dan disembunyikan cukup lama di tempat lain dan kemudian untuk menghilangkan jejak dibuang kembali di gedung bekas Hotel Lamara. Polisi masih mencari tahu siapa pemilik mobil mewah tersebut dan sosok mayat yang ditemukan. Demikian info terkini dari kami. Selamat menunaikan rutinitas Anda kembali dan sampai bertemu kembali dalam breaking news terkini satu jam ke depan."


"Ini remotenya, Bu." Cindy meletakkan benda itu di tanganku. Menatapku yang mematung diam untuk beberapa saat. "Bu? Ibu tidak apa-apakan?" Dia menggamit lengan atasku.


Menoleh menatap wajahnya, aku melempar senyum. "Tidak apa-apa." Aku memutar kembali televisi layar lebar itu dan menggantinya dengan vidio promosi hotel. "Jangan mengganti acara ini, bahkan walaupun tamu semakin sedikit. Mereka datang untuk mendapatkan kenyamanan bukan teror menakutkan. Tugas kita memastikan hal itu."

__ADS_1


"Baik, Bu." Aku dengar jawaban serentak dari para bawahanku. Selalu menyenangkan bekerja di sini.


__ADS_2