
Hanya beberapa saat istirahat dikontrakan Adrian dan Natasya pun menuju bandara untuk segera berangkat ke kota J, kota Natasya dilahirkan dan dibesarkan serta tempat dimana keluarga besar wanita itu tinggal dan menetap.
Sekitar 2 jam terbang diudara, pesawat yang membawa sepasang suami istri itu pun landing dengan mulus dibandara internasional kota J. setelah mengurus bagasi dan langsung mencari taksi mereka bergegas menuju apartement, " Ini kawasan elit sayang, apa apartement itu milik keluargamu? " tanya Adrian cemas.
" Milik aku pribadi, keluarga hampir tidak pernah datang kemari kecuali aku minta " ucap Natasya.
Adrian merasa sedikit minder mendengar ucapan istrinya, " Hmm apa istriku akan tetap menghormatiku setelah ini? " gumamnya dalam hati.
Taksi berhenti tepat di pelataran sebuah apartemen megah. Adrian sibuk menurunkan barang barang, " Sayang kamu tunggu disana ya, aku ke pos keamanan ambil kunci " ucap Natasya yang dibalas anggukan oleh suaminya itu.
Bebera menit kemudian Natasya kembali menghampiri suaminya ditempat yang tadi ia tunjukkan, lalu mereka pun berjalan beriringan memasuki lobi dan naik lift menuju lantai 15.
" Letakkan disana dulu, nanti aku yang beresin, abang istirahat aja " ucap Natasya pada suaminya yang sejak tadi mengeret koper dan beberapa jinjingan.
Setelah meletakkan barang barang bawaan Adrian pun duduk disofa, matanya terus mengamati tiap sudut apartemen mewah milik Natasya, " Sungguh jauh berbeda dengan kontrakan petak, benar benar istriku penuh kejutan "
" Sayang, maaf aku belum bisa masak hari ini..kamu mau makan apa? biar aku pesan aja nih " ucap Natasya yang sejak tadi sibuk dengan phonselnya.
" Eh ngak apa apa sayang, makan apa aja terserah kamu " Adrian seolah gugup.
" Kamu kenapa bang? kok sejak tadi terlihat ngak focus gitu? apa ada masalah dengan kerjaanmu? " tanya Natasya.
" Ngak kok, kan baru besok ke kantor itu. Aku cuma mikirin harus gimana kalau berhadapan dengan keluargamu " ucap Adrian sambil menunduk.
" Hmm aku kan sudah bilang, soal keluargaku biar aku yang urus. Abang cukup dukung apa pun nanti tindakanku " Natasya meyakinkan suaminya.
" Ting tong ting tong " bunyi bell yang tiba tiba dipencet dari luar.
Natasya berjalan membuka pintu, " Tolong langsung bawa kedalam, sekalian atur dikulkas bahan mentahnya " perintah Natasya pada pelayan yang membawa bahan makanan dari swalayan milik pengelola apartement yang terletak di basement.
Setelah tugasnya selesai, pelayan itu pun segera pamit dan bergegas meninggalkan ruangan itu, " Trimakasih bu, ini ada sedikit uang buat ibu " Natasya memberi 2 lembaran berwarna merah, " Oiya bu, billnya nanti masukin aja ke tagihan bulanan saya sekalian dengan uang keamanannya.
" Baik Non, kalau gitu ibu permisi..Trimakasih " ibu itu pun menghilang dibalik pintu.
" Abang mau makan sekarang atau mau mandi dulu? " Tanya Natasya pada suaminya yang sejak tadi hanya diam.
__ADS_1
" Mandi dulu aja kali ya, lengket ini " ucapnya.
" Iya deh, abang mandi diatas..sekalian bawa koper koper itu ke kamar. Kamar kita dilantai atas paling pojok " ucap Natasya menjelaskan, " kamar itu ruang kerja aku " tambahnya seolah tau fikiran suaminya yang keningnya berkerut dan matanya mengarah ke sebuah pintu kamar yang tak jauh dari ruang tamu.
Sepeninggal Adrian ke atas, Natasya pun menyiapkan makanan yang tadi dibawah oleh pelayan. Setelah itu ia pun masuk ke kamar yang merupakan ruang kerjanya untuk mandi.
Tak berselang 30 menit, Natasya selesai dengan ritual mandinya dan kembali keluar, " Sudah nunggu lama sayang? " sambil berjalan menghampiri suaminya yang duduk disofa membelakanginya.
" Aku kirain kamu keluar " ucap Adrian sambil menoleh kearah terdengarnya suara istrinya.
" Aku mandi di ruang kerja biar cepat, ayo bang kita makan sekarang " ucap Natasya singkat.
Mereka pun segera kemeja makan dan menyantap hidangan ala resto apartement dengan lahap tanpa bersuara.
*
Bersantai sore sejenak dibalkon menikmati keindahan kota dari ketinggian, " Sayang, nanti malam bang Rey mau kesini. Tadi aku udah sempat ngomong dikit soal pernikahan kita " Natasya membuka obrolan.
" Lalu tanggapannya? apa dia marah atau gimana? " Adrian dengan wajah serius.
" Kata abang pengen ngomong sama kamu sayang " ucap Natasya.
" Ngak kok, abang itu orangnya bijaksana dan pengertian " ucap Natasya.
Mereka ngobrol hingga matahari terbemam dan malam menjelang, setelah melaksanakan sholat magrib Adrian bersiap siap menanti kedatangan abang iparnya. Segala kata telah disiapkannya agar tidak terlihat gugup didepan abang dari istrinya itu.
Begitu pun Natasya, ia sibuk menyiapkan beberapa macam kue dan minuman. Tak tampak gambaran kegugupan atau kecemasan diwajah cantiknya, malah sebaliknya ia nampak ceria dan bahagia menyambut kedatangan abangnya.
Jam menunjukkan pukul 8 tepat saat suara bell berbunyi, Natasya yang masih sibuk memberi kode pada suaminya untuk membukakan pintu.
Adrian pun bergegas membuka pintu, " Silahkan masuk bang, tasyanya ada di dalam " ucapnya meraih tangan laki laki berperawakan tegap yang terlihat berusia jauh diatasnya.
Laki laki itu pun menyambut uluran tangan Adrian dan tersenyum, " Oiya ini indra putra pertamaku, ponakan tasya dan artinya ponakanmu juga " ucap laki laki yang bernama lengkap Reynaldi itu.
" Salam kenal om, aku indra " ucap remaja tanggung itu sambil mengulurkan tangan memberi salam, dan disambut oleh Adrian.
__ADS_1
Setelah acara perkenalan, mereka pun masuk dan duduk diruang tamu, " Sehat bang? Indra apa kabar nak? " ucap Natasya yang muncul dari dapur dan menyapa abang dan ponakannya.
" Alhamdulillah dek " ucap Rey mengulurkan tangan dan dijabat oleh adiknya.
" Baik baik aja, seperti yang bunda lihat " ucap Indra sambil mencium tangan Natasya, lalu anak itu pun menuju ruang tengah untuk bermain PS.
Adrian, Natasya dan Rey pun larut dalam obrolan panjang. Suami istri itu dengan jujur menceritakan awal pertemuan hingga alasan mengapa pernikahan itu mereka jalani.
Rey menanggapi dengan bijak dan penuh pengertian cerita ke dua adiknya itu, ia pun berjanji akan langsung membahas ini dengan kedua orang tuanya serta saudara saudaranya yang lain.
" Oiya dek, gimana perusahaan dan bisnis cafe kamu? lancar? " tanya Rey berbasa basi.
" Alhamdulillah bang, laporan bulan kemaren menunjukkan kemajuan yang luar biasa.
Adrian menatap istrinya penuh tanda tanya dengan apa yang ia dengar, " Perusahaan? cafe? ah aku benar benar tidak mengenal istriku yang sesungguhnya " ucapnya dalam hati.
" Oiya, kalau begitu abang pamit dulu. Besok abang kabari lagi " ucap Rey.
Sebelum meninggalkan apartement adiknya Rey menyempatkan berfoto dengan Adrian adik iparnya, " Buat ditunjukin ke orang rumah " ucapnya.
**
Setelah beres beres Natasya pun menyusul suaminya ke kamar, " Sudah tidur sayang? " tanyanya begitu masuk kamar dan melihat suaminya berbaring memunggunginya.
" Belum, rebahan aja ini nungguin kamu. Ayo sini sayang " jawab Adrian memutar badan menghadap istrinya.
Natasya pun menghampiri suaminya dan duduk dibibir tempat tidur, " Apa ada yang mau abang omongin? " tanya Natasya yang mencoba menebak fikiran suaminya.
" Harusnya aku yang nanyak gitu sya? apa ada yang perlu kamu jelasin ke aku? " jawab Adrian seketika posisi duduk disamping istrinya.
" Hmm perusahaan dan cafe kan bang? maaf kalau selama ini aku ngak ngomong soal itu, alasan aku karena semuanya masih milik orang tua. Aku cuma bantu menjalangkan aja " Natasya mencoba menjelaskan, " Oiya masih ada beberapa bisnis yang aku punya dan itu semua dikelola sama orang orang kepercayaan aku, nanti abang akan tau sendiri kok " tambah Natasya.
Adrian terperangah mendengar penjelasan istrinya, disatu sisi ia takjub karena kehebatan Natasya namun disisi lain ia merasa takut dan rendah diri dengan kenyataan yang sebenarnya, ia sangat jauh dibanding istrinya.
Tanpa banyak bicara lagi, mereka pun berbaring dan tenggelam dalam fikiran masing masing.
__ADS_1
BERSAMBUNG