AKU BUKAN SIMPANAN

AKU BUKAN SIMPANAN
WAKTUNYA SEMAKIN DEKAT


__ADS_3

Waktu terus bergulir dan tanpa terasa hampir tiga tahun sudah Adrian menempuh pendidikan untuk menjadi seorang Perwira. Dan sesuai peraturan kampus, hari ini adalah hari terakhir ia menempati barak dan selanjutnya akan tinggal diluar kampus.


Setelah mengemasi barang barangnya, Adrian pun memesan taksi online lewat phonselnya. Tak berselang beberapa saat ia pun berjalan keluar kampus dengan koper dan tas ransel ditangannya, diluar kampus sudah menunggu taksi online yang tadi dipesannya.


Begitu sopir selesai memasukkan koper ke bagasi dan mereka sudah sama sama duduk didalam mobil. Taksi pun melaju ke arah jalan raya.


Jalan kota yang saat itu tidak begitu macet sehingga hanya sekitar tiga puluh menit taksi itu pun sudah sampai pada tujuannya dan berhenti didepan pagar yang didalamnya terdapat beberapa rumah petak.


Setelah membayar dan barang barangnya diturunkan, Andrian kembali menarik koper dan menenteng tas ranselnya memasuki pagar dan berjalan melewati halaman yang cukup luas menuju salah satu rumah petak.


" Tok tok tok, Assalamualaikum.." Adrian mengetok pintu .


" Waalaikumsalam.." Jawaban salam dari dalam disertai terbukanya pintu.


" Kok barangnya dibawa pulang semua?.." Tanya wanita cantik yang tadi membuka pintu lalu mengulurkan tangan dan salim pada Adrian.


" Sya.. hari ini aku sudah keluar dari barak kampus, sudah lepas kuliah dan tinggal mengurus beberapa dokumen buat kelengkapan prala saja " Adrian menghempaskan tubuhnya berbaring diatas sofa.


" Gitu ya .." Sahut Natasya yang langsung berjalan menuju dapur.


Lima menit kemudian ia kembali dengan nampan berisi satu piring nasi lengkap dengan lauk dan satu gelas air putih lalu diletakkan diatas meja depan sofa, " Nih makan dulu, pasti kamu belum makan siang kan? " Ucapnya lalu duduk disisi laki laki itu.

__ADS_1


" Thank you sayang, kalau begitu aku cuci tangan dan muka dulu " Adrian pun bangkit dan berjalan ke kamar mandi.


Setelah keluar dari sana ia sudah terlihat segar, dan kembali berjalan menghampiri Natasya sambil mengusap wajahnya yang basah dengan handuk kecil yang tadinya tergantung didepan kamar mandi.


Ia pun duduk disamping Natasya dan  makan dengan lahap.


Malam hari setelah sholat magrib bersama, " Sya, ada yang mau aku omongin sama kamu " Menepuk sisi kiri sofa yang ia dudukinya, meminta wanita itu duduk disana.


Perlahan Adrian menarik nafas panjang lalu dihempas seketika, " Sya, sebentar lagi aku akan berangkat prala dan itu artinya kita akan terpisah selama setahun. Aku belum tau pasti apa nantinya kita bisa berkomunikasi atau tidak, yang jelasnya diatas kapal nanti aku sebagai cadet akan kurang leluasa bergerak karena semua harus dapat ijin dari perwira dulu " Ucapnya dengan nada berat.


Kemudian Adrian terdiam sejenak menatap Natasya yang duduk disisinya dengan wajah terlihat sedih, " Sejujurnya aku sangat berat ninggalin kamu sayang " Di raihnya tubuh wanita itu ke dalam dekapannya.


" Apa aku sanggup melewati waktu setahun itu tanpa kamu ? " Ucap Natasya yang mulai menangis dalam dekapan Adrian.


" Aaku..aku..takut kalau nantinya kamu lupa sama aku " Ucap Natasya terbata bata mulai sesengukan karena tak dapat menahan tangis.


" Hey..hey omongan apa sih ini? coba tatap mataku, disana cuma ada kamu sayang. Jadi, mana mungkin aku bisa lupa? " Adrian kembali mendekap wanita yang ia cintai itu dengan erat, diusapnya dengan lembut rambut kekasihnya dengan penuh rasa sayang. Seakan ingin memberi keyakinan pada wanita itu agar menampik segala ketakutan dan keraguan yang ada difikirannya.


Beberapa saat kemudian, " Oiya tunggu sebentar " Adrian berjalan ke arah kopernya dan mengambil sesuatu dari dalam sana.


Setelah kembali dan berdiri didepan Natasya tiba tiba Adrian berlutut sambil menyodorkan sebuah cincin.

__ADS_1


" will you marry me? " Sejenak Adrian memberi jeda pada ucapannya, " Aku tau ini terlalu cepat dan gila, karena aku tidak punya apa apa dan belum jadi apa apa malah nekat memintamu menjadi istri..Tapi aku ingin kita mempunyai status yang jelas, aku ingin kamu menjadi calon ibu dari anak anakku " lagi lagi Adrian menjeda dan sejenak terdiam menatap Natasya.


" kita tidak punya banyak waktu lagi sayang, keberangkatan itu semakin dekat. Dan asal kamu tau, semua ini sudah aku fikirkan sejak awal masuk pendidikan " Adrian mencoba terus membujuk Natasya.


Akhirnya Natasya pun luluh, ia mengangguk dan mengulurkan tangannya pada Adrian. Dan tanpa membuang buang waktu Adrian pun langsung memakaikan cincin bertabur permata itu ke jari manis calon istrinya itu.


" Baik lah, aku akan atur semuanya, kamu cukup mempersiapkan diri aja. Kebetulan temanku ada yang orang tuanya berprofesi imam nikah dan aku sudah pernah bicara soal ini pada beliau " Ucap Adrian antusias.


" Iya, atur aja..aku ikut apa kata kamu " Natasya mulai tersenyum kembali.


" Eh tapi gimana dengan orang tua kita? gimana kalau mereka tak merestui? " Natasya mulai cemas lagi.


" Kita nikah secara agama aja dulu, dan wali nikahnya biar diwakilkan keluarga dari temanku juga..orang tua kita tuk sementara ngak perlu tau..nanti setelah aku pulang, baru lah kita kasi tau ke mereka " Adrian menjelaskan panjang lebar agar Natasya mengerti.


Dan akhirnya wanita itu pun setuju dengan nikah secara agama yang diinginkan laki laki yang sudah bersamanya selama tiga tahun.


 


 


BERSAMBUNG

__ADS_1


 


__ADS_2