
Adrian berjalan keluar meninggalkan kantor Pt. Samudra biru, ia naik ojek menuju rumah sakit di pusat kota yang sudah ditunjuk untuk melakukan medical check up guna memenuhi persyaratan menjadi crew disalah satu kapal milik perusahaan itu.
Suasana rumah sakit sudah terlihat ramai saat Adrian tiba disana. Setelah mengambil nomor antrian dan duduk menunggu giliran, berselang 30 menit akhirnya ia pun masuk untuk melewati serangkaian pemeriksaan, pindah dari ruang pemeriksaan yang satu ke ruang pemeriksaan yang lain.
Setelah semua periksaannya selesai ia bergegas menuju ruang tunggu untuk bergabung dan duduk sejenak dengan beberapa orang pengunjung yang merupakan rekannya sesama pelaut.
" Hay bro, masih pada lama ya antriannya? " ucapnya Adrian.
" Hay.." jawab mereka hampir serempak.
" Setelah ini giliran aku.." rekan 1.
" Kita mah masih lama kayaknya, ini sebentar lagi jam istirahat. Nunggu lagi deh ampe selesai itu " rekan 2, dengan wajah lesuh.
" Hmm kalau gitu aku duluan ya bro..kirain ngak lama, biar kita kita bisa nongkrong bareng bareng dulu. Kapan lagi kan? kalau udah pada onboard susah buat ktemunya " ucap Adrian sebelum bergegas pergi.
" Atur jadwal mas bro, kita ngumpul dulu dalam waktu dekat ini " rekan 3.
" Okey kalian atur aja, dan segera hubungi aku " Adrian pun bangkit dari duduknya dan berlalu pergi.
*
Siang hari diapartement
" Suami kamu kapan pulang dek? " tanya Asbi abang Natasya, yang merupakan putra ke 2 dari pak Sujatmiko Rahardian.
" Mungkin sebentar lagi juga pulang, tadi bilangnya akan pulang sebelum makan siang " jawab Natasya, sambil meraih phonselnya.
Baru saja ia akan menelpon suaminya itu, " Ting tong ting tong " suara bell menggema diruangan apartement itu.
Natasya pun bergegas membuka pintu, " Nah ini orangnya datang, Panjang umur baru aja diomongin " ucap Natasya sambil meraih tangan suaminya untuk salim.
" Ada siapa Sya ? " tanya Adrian lalu berjalan masuk lalu membuka sepatunya dan menggantinya dengan sandal.
" Ada kak Asbi dan indra " ucap Natasya singkat.
Adrian pun masuk dan menghampiri abang iparnya, " Sudah lama bang? maaf baru pulang " ucap Adrian setelah salim.
__ADS_1
" Kata tasya, kamu ada panggilan..dari perusahaan mana? " tanya Asbi yang juga berprofesi sama dengan Adrian.
" Pt. Samudra biru bang, kapal dalam sih tapi ngak apa. Itung itung cari pengalaman dulu " Adrian merasa agak minder.
" Kenapa ngak nunggu Tasya lahiran dulu sambil cari perusahaan bagus? paling tidak kapal bendera luar dan beroperasi didalam " Asbi seakan ingin Adrian tidak meninggalkan adiknya dalam kondisi hamil muda.
" Bukan ngak mau bang, tapi kalau aku ngak kerja mau dapat dari mana buat nanti Tasya lahiran? " ucap Adrian menunduk malu.
" Hahahaha ini kamu memang ngak tau, atau pura pura ngak tau siapa Tasya istri kamu ini? kenapa khawatir sampe segitunya? " Asbi tertawa mendengar ucapan Adrian yang terlalu jujur.
" Abang apaan sih? kok tertawa kayak gitu? " Natasya melotot pada Asbi, " Bang Adrian jangan diambil hati ya, bang Asbi memang orangnya gitu " ucap Natasya, takut suaminya tersinggung.
" Maaf maaf..bukan abang menertawakan suamimu, abang cuma merasa Adrian ini terlalu jujur " ucap Asbi terlihat tulus.
" Ngak apa apa kok bang, aku orangnya memang suka terus terang bahkan kadang blak blakan hehehe " Adrian mencoba bercanda nanum terasa garing.
" Oiya, baiknya kita makan dulu, nanti makanannya keburu dingin ngak enak " ucap Natasya mengalihkan.
" Mari bang " Adrian bergegas berdiri dan mengajak Asbi abang iparnya.
" Dikit lagi nih bun, duluan aja tanggung banget " ucap Indra tanpa menoleh dan matanya tetap focus pada layar Tv 70 inc di depannya.
" Anak ini kalau udah ketemu game, jadi lupa segala galanya " gerutu Natasya sambil menggeleng.
Natasya pun berjalan menyusul suami dan abangnya ke meja makan, sebelum duduk ia mengambil piring lalu mengisinya dengan nasi dan beberapa macam laut. Kemudian kembali menghampiri ponakannya lagi, " Nih sambil makan, awas kalau ngak abis " ucapnya sedikit mengancam.
" Thank you bundaku sayang, yang paling baik dan paling cantik seindonesia raya " canda Indra menjawab ancaman Natasya.
" Dasar bocah gendeng, buruan makan " ucap Natasya berlalu, yang hanya dibalas senyum oleh Indra ponakannya.
Kemudian mereka pun makan bertiga dengan lahap dan tanpa suara, hanya bunyi dentingan sendok dan garpu yang beradu diatas piring yang terdengar diruang makan itu.
**
Sore harinya Asbi mengajak Adrian dan Natasya pulang untuk bertemu semua keluarga termasuk kedua orang tuanya yang sudah tak sabar ingin bertemu setelah mendengar cerita dari anak sulungnya soal pernikahan dan kehamilan Natasya putri mereka satu satunya.
Jarak apartement dan kediaman keluarga Rahardian sebenarnya terbilang dekat, namun karena aturan satu arah pada jalan yang mereka lalui mengharuskan mobil yang dikemudikan Indra harus memutar balik yang cukup jauh.
__ADS_1
" Ndra, gimana sekolah kamu? setahun lagi lulus kan? mau lanjut kemana? " Natasya memecah keheningan dengan membuka obrolan.
" Lancar bun, iya setahun lagi dan kalau memang nanti papi ijinin..InsyaAllah Indra juga pengen masuk kampus pelayaran " ucap Indra sambil mengemudi dan sesekali melihat Natasya dari spion depan.
" Kok gitu? kenapa ngak ambil menejemen atau semacamnya? kan bisa bantu bantu mengelola perusahaan keluarga? " protes Natasya.
" Itu sih tugas para putri keturunan dari Rahardian " ucap Indra santai dan terdengar bercanda, " Bunda dan kiki maksudnya " tambahnya mempertegas namun masih dengan intonasi candaan.
" Itu mah curang namanya, apa iya kami yang harus memikul tanggung jawab atas kelangsungan bisnis keluarga? enakkan kalian dong para putra Rahardian " Natasya membalas dengan candaan namun terdengar nada penekanan pada kalimatnya.
" Kalian ini sebenarnya membahas apaan? dari tadi satu sama lain saling mau lempar tanggung jawab sepertinya, sudahlah putri Rahardian dan putra Rahardian sekali sekali akur kalau ketemu napa sih? " timpal Asbi ikut melempar candaan.
" Hahahaha " mereka seketika tertawa bersama, begitu pun dengan Adrian yang baru kali ini melihat sisi lain dari Natasya yang begitu gokil jika bercanda bersama keluarga.
" Om Adrian, gimana menurut om soal tadi? apa om mau dikasih tanggung jawab juga? secara saat ini om sudah menyandang gelar menantu Rahardian loh " Indra mengedipkan matanya melalui spion depan memberi kode pada Adrian.
" Lah kan tadi bilangnya cuma putra dan putri Rahardian, ngak ada menantu Rahardian. Jadi, aku bebas dong dari jatah tanggung jawab itu " ucap Adrian mulai ikut bercanda.
" Nah loh, hahahaha " Indra lalu tertawa.
" Udah ah, kalian bisanya main keroyokan. Kamu juga bang, bukannya belain istri malah ikut ikutan mereka " omel Natasya sambil cemberut.
" Hahahahaha " Asbi dan Indra tertawa terbahak bahak, melihat ekspresi Adrian saat diomelin Natasya.
" Aku ngak ikutan mereka tertawa loh sayang, nih lihat wajahku " ucap Adrian sambil mengangkat ke 2 tangannya dan memutar badan ke arah istrinya.
Melihat itu Asbi dan Indra spontan tertawa lepas, " Rupanya om Adrian anggota ISTI juga ya? ikatan suami takut istri hahahaha " celoteh Indra.
Karena candaan mereka itu, tak terasa mobil mewah berwarna putih itu pun berhenti di depan pintu gerbang tinggi yang terbuat dari besi plat tebal berwarna hitam dengan hiasan ukiran disegala sisi membingkai pinggirannya dan warna gold yang memberi kesan mewah.
" Tintin tintin tintin " Indra membunyikan klakson, tak berselang lama sebelah pintu gerbang itu pun dibuka oleh seorang security, " Selamat malam den Indra " ucap security itu hanya melihat sosok Indra yang membuka sedikit kaca jendela mobil disisi pintu kursi pengemudi.
Setelah mengeluarkan tangan dan mengangkat telapaknya guna membalas ucapan salam dari security itu, Indra pun kembali melajukan mobilnya memasuki halaman rumah mewah bak istana yang cukup luas itu.
BERSAMBUNG
__ADS_1