
Senja berlalu meninggalkan alamat luka pada rembulan yang sedang mencari peraduan
disudut senja seorang gadis sedang mencari sisa-sisa rona kesetiaan mentari pada tajuk kerinduan
namun rinai hujan tiba-tiba menggelapkan semua
sekelabu senja yang berlalu di sore-sore itu.....
Entah sudah berapa bait puisi luka yg ditorehkan Nara ditiap halaman buku hariannya, bahkan beberapa kata hampir hilang karena tersapu tetesan air mata.
"aaaghhh" Nara berteriak untuk melepaskan sesak didadanya...
matanya sembab karena seharian ini ia hanya menangis.
Nara kembali menatap sebuah pigura yang terpampang fotonya saat menggunakan pakaian wisuda beserta toga dan disebelahnya ada pria tampan berjas dan berdasi. dialah Elang pria yang sudah 3 tahun ini bersamanya... Namun secara tiba-tiba Elang memutuskan hubungan mereka secara sepihak, padahal sebelumnya hubungan mereka baik-baik saja.
" Maaf, kita tidak bisa bersama lagi, aku harap kau bisa melupakanku"
Hanya kata itu yg diucapkan Elang kemudian dia pergi. nara masih terpaku bahkan setelah kepergian Elang pun dia masih berfikir ini mimpi dan semua akan baik-baik saja.
Namun hingga detik ini Nara harus menerima kenyataan bahwa semua sudah berakhir..
Pagi menjelang, nara menghapus sisa sisa air mata semalam, ia mematut diri di cermin dan terlihat matanya yang bengkak.. "Aku harus menemui Elang, setidaknya meminta sedikit alasan" ucap Nara pada dirinya sendiri. Ia segera mencari ponselnya untuk menghubungi Elang. dua kali panggilan namun tidak ada jawaban dan akhirnya ia mengetik pesan
[apa kita bisa bertemu, setidaknya untuk mengucap salam perpisahan] Nara..
pesan terkirim Nara masih menunggu jawaban.
__ADS_1
"Jika dia tidak membalas aku akan menemuinya langsung"
Nara bergegas mandi dan mempersiapkan diri, memoleskan sedikit make up untuk menutupi sembab di kantung matanya dan lipstik agar tidak terlalu pucat.
Elang memiliki sebuah perusahaan kecil dibidang advertising, usaha yang sudah dirintisnya sejak dibangku kuliah, hingga kini usaha tersebut terus berkembang meski belum terlalu besar namun sudah mampu bersaing dengan perusahaan besar lainnya, karena Elang terus mengikuti perkembangan teknologi dibidang tersebut.
Tiba dikantor Elang, nara langsung masuk ke ruang kerjanya, namun matanya terbelalak dan tak bisa berucap kala melihat Elang sedang berpelukan dengan seorang wanita..
"Jadi ini yang membuatmu memutuskan hubungan kita!!" ucap Nara dengan suara bergetar karena menahan marah, emosi dan sedih.
Namun bukan terkejut dengan kehadiran Nara, Elang justru acuh, tanpa memperdulikan Nara, ia mencium kening wanita tersebut.
"Kau sudah melihatnya, jadi aku tak perlu lagi memberikan alasan" ucap Elang dengan suara datar tanpa ekspresi.
Nara mendekat dan PLAAK, sebuah tamparan mendarat di pipi Elang, seakan belum puas Nara memberikan pukulan bertubi-tubi di tubuh Elang untuk melampiaskan kemarahannya. Elang hanya diam membiarkan Nara melampiaskan seluruh emosinya.
"sudah puas" ucap Elang sembari menatap Nara yang masih menahan emosinya.
"Tenanglah, bukankah kau sudah terbiasa meninggalkan dan ditinggalkan seperti ini dan kau bahkan lupa berapa banyak mantan pacarmu, anggap saja aku bagian dari mereka dan kau tak perlu sesedih ini" ucap Elang.
Nara terperangah dengan ucapan elang. gemuruh di dada Nara semakin memuncak, darahnya seolah mendidih mendengar ucapan Elang yang mengungkit masa lalunya..
"Ooh jadi kau ingin seperti mereka yang aku buang begitu saja, bahkan namanya pun tak berbekas di hatiku!!!" ucap Nara lantang
"Baiklah kalau begitu, setelah ini aku tak akan bersedih lagi ataupun meratapi ******** sepertimu" sebelum berlalu Nara menatap tajam wanita yang sedari tadi berdiri diujung ruangan melihat mereka.
"Dan kau perempuan yang sudah berhasil mengambil alih dia, berbahagialah semoga nasibmu tidak sepertiku!!!" ucap Nara dengan tersenyum sinis. Nara mengerjapkan matanya berulang kali, menahan agar butiran air matanya tak menetes. Dia tidak ingin terlihat lemah didepan kekasihnya, mantan kekasih tepatnya.
__ADS_1
Setelah puas meluapkan emosinya, Nara berbalik dan meninggalkan ruangan itu.
Tiba diparkiran Nara langsung masuk ke dalam mobilnya, menghempaskan tubuhnya secara kasar dan menumpahkan air mata yang sejak tadi ditahannya.
Ia tak pernah menyangka, Elang orang yang sangat ia cintai dengan begitu teganya meninggalkan dirinya hanya demi wanita lain, bahkan ia mengungkit masa lalunya yang pernah memiliki banyak kekasih sebelum bertemu Elang
"aku tidak percaya kau setega ini Lang" meskipun tadi dihadapan Elang, Nara mengatakan tidak akan bersedih dan membuang semua tentangnya seperti mantan-mantan pacarnya dulu. Tapi ia tak bisa membohongi hati kecilnya bahwa hanya Elang yang bisa membuatnya jatuh cinta.
Dahulu ia berganti-ganti pacar hanya untuk kesenangan sesaat, bahkan tidak ada yang benar-benar ia cintai. mereka berpacaran hanya atas dasar suka semata, bahkan beberapa diantaranya hanya menjalani hubungan beberapa hari saja.
Elang tau semua itu, karena Nara memang menceritakannya, bersama Elang ia menjadi dirinya sendiri dan tak ada satu rahasia pun yang ia sembunyikan karena dia terlalu percaya.
Mungkin benar, tidak ada orang yang bisa diberi kepercayaan seratus persen, bahkan pada orang yang kau cintai sekalipun. karena justru orang yang dicintai adalah orang yang berpotensi memberikan luka bahkan luka terdalam.
Jika kau jatuh cinta jangan terlalu dalam karena ketika cinta itu menghilang kau tak bisa berdiri untuk bangkit lagi. Cinta yang hakiki adalah cinta pencipta pada ciptaannya dan cinta yang sempurna adalah cinta orang tua terhadap anaknya.
Nara mengambil ponselnya, menghubungi sahabat karibnya Licia. Nara butuh teman berbagi kesedihan.
Setelah membuat janji dengan Licia, Nara mulai melajukan mobilnya, perlahan ia mengemudikan mobil meninggalkan kantor Elang, rasanya seluruh tubuhnya begitu lemas bahkan kakinya hampir tak sanggup untuk menginjak pedal gas dan beberapa kali ia melakukan rem mendadak untuk menghindari kendaraan lain, karena ia benar-benar tak fokus menyetir. Sesekali ia mengusap pipinya yang basah air mata, dan membuang air yang juga meleleh dari hidungnya.
Tanpa ia sadari jok sebelahnya sudah penuh dengan tisu bekas air mata dan cairan hidungnya.
Nara membelokkan mobilnya ke sebuah perumahan. Ia memang sengaja ingin menemui Licia dirumahnya, karena jika bertemu diluar dia tidak akan bisa bercerita dan meluapkan emosinya.
Nara yakin ia akan menangis sejadi-jadinya jika bersama Licia, karena selain Elang, Licia adalah orang yg paling Nara percaya dan juga sahabatnya sejak kecil. tidak ada satupun rahasia antara Nara dan Licia, meski terkadang mereka berbeda pendapat tapi persahabatan mereka sangat erat.
Tiba dihalaman rumah yang begitu asri, Nara memencet klakson mobil berkali-kali untuk memanggil pemilik rumah....
__ADS_1