
Setelah Bram keluar, Airin segera menyuapi Nara dan membantunya untuk meminum beberapa jenis obat.
“Kamu sama Bram ada hubungan apa?”
“Gak ada apa-apa bi”
“Kok dia panggil sayang-sayang”
“Becanda aja dia”
“Tapi kalau bibi lihat, dia gak becanda. Kayaknya dia suka sama kamu”
Ehmm.. Nara terdiam. “Jangan ngasih harapan kalau memang gak mau ngecewain cowok. Tapi kalau kamu juga suka sih gak masalah, tapi ingat kamu kan sekarang balikan lagi sama Elang. Ingat Ra, Elang butuh kamu. Jangan sampai kamu kecewain dia disaat seperti ini, itu sama saja kamu menambah beban penyakitnya, bisa-bisa..-“
“Iya bi, aku gak akan kecewain Elang. Kak Bram cuma temen kok. Nti Nara bakalan bilang sama kak Bram, kalau Nara sudah punya seseorang yang Nara cinta” Belum sempat Airin melanjutkan perkataannya, Nara sudah menyela.
Airin mengangguk, ia tidak ingin keponakannya terjebak dalam dua hati, meskipun ia tahu Nara sangat mencintai Elang, tapi perempuan mana yang tidak akan luluh dengan perhatian dan kasih sayang, apalagi saat ini kondisi Elang yang memang tidak bisa lagi seperti dulu, tidak bisa lagi Nara andalkan. Meskipun Airin yakin Nara tidak akan begitu saja meninggalkan Elang disaat seperti ini. Tapi laki-laki yang sudah dibutakan cinta terkadang bisa berbuat apa saja dan dia harap Bram tidak seperti itu.
***
Satu buket bunga terselip dibalik punggung Bram, dengan senyum merekah ia kembali mengunjungi Nara di rumah sakit pagi ini. perlahan dia membuka pintu ruang tempat Nara dirawat. Nara terkaget mendapati Bram yang telah berada di sofa, karena Nara baru saja keluar dari toilet. Tadi malam Nara hanya ditemani Licia, dan pagi-pagi sekali Licia sudah pulang karena harus ke pengadilan untuk mendampingi kliennya.
‘Kak Bram”
“Pagi Nara” sembari menyerahkan satu buket bunga kepada Nara. Ada semburat aneh di wajah Nara menerima buket bunga tersebut.
"Makasih kak, repot-repot segala"
"Gak repot kok, itu tadi metik di jalan punya tetangga"
__ADS_1
Nara terkekeh mendengarnya "Kalau gitu aku gak jadi terima, nanti kalau kakak ditangkap dan dituduh sebagai pencuri, aku ikutan tertuduh karena dianggap sebagai penadah"
Kali ini Bram yang tergelak mendengar ucapan Nara. "Gak apa-apa kalau di penjaranya berdua sama kamu" Celetuk Bram yang membuat Nara tersipu merona.
Bram pun membantu Nara memasang kembali botol infus di tempatnya dan kemudian membantu Nara untuk berbaring. Perlahan Bram menurunkan kepala Nara dan meletakkannya dibantal. Posisi mereka sangat dekat, bahkan Nara bisa merasakan hembusan nafas Bram dikeningnya. Nara mengangkat kepalanya dan sedikit melirik ke atas. Tatapan mata mereka bertemu. Sontak jantung Nara berdetak lebih cepat. Segera nara meletakkan kepalanya dan menggeser posisinya. Namun Bram masih mempertahankan posisinya dan tanpa diduga bibirnya menyentuh kening Nara, mengecupnya. Nara terkaget.
“Maaf mengganggu!” Suara seseorang mengagetkan mereka, Nara terbangun, untuk melihat siapa pemilik suara, karena pandangannya terlindungi oleh tubuh Bram, dan Bram tengah memunggungi orang tersebut. Nara terkejut
“Elang!” Entah sejak kapan Elang berdiri di balik pintu itu. Nara yakin Elang pasti salah paham, apalagi posisi mereka saat ini, saat Elang melihat memang bisa dibilang sangat dekat. Bahkan jika dilihat dari belakang posisi mereka sangat tidak enak dipandang.
Bram berbalik ketika mata mereka bertemu, keduanya pun menunjukkan keterkejutan.
“Elang”
“Bram”
Nara mengerenyitkan keningnya, mereka saling mengenal?
Elang menatap Nara dingin tanpa ekspresi, padahal tadi dia begitu bersemangat untuk bertemu Nara, tapi tidak disangka pertama kali melihat gadisnya yang sangat dirindukan,, justru bersama seorang pria dengan posisi yang menyakitkan mata. Jika saat itu Nara dan Bram hanya sekedar ngobrol mungkin Elang masih bisa menerima. Tapi.. entahla Elang tak bisa berkata saat ini. apalagi ia melihat buket bunga disebelah Nara, bunga yang masih segar. Dia yakin bunga itu dari Bram. Sebagai seorang cowok dia tahu, jika ada cowok yang membawa bunga untuk seorang wanita, tandanya wanita itu adalah seseorang yang special baginya.
“Aku hanya mengantarkan ini, mama menitipkannya untukmu” Elang meletakkan bungkusan makanan di meja.
Tak lama kemudian ia melayangkan tinju ke perut Bram, dengan sigap Bram menangkis kepalan tangan Elang dan mendaratkan pukulan kecil di kepala Elang. "Auuuwwww" Elang mengaduh kesakitan. Nara terperanjat dengan aksi dua pria di depannya, Nara ingin berteriak untuk menghentikan aksi keduanya namun justru terdengar gelak tawa dari mereka berdua
"Ah payah lu Lang, dari dulu kalah mulu!" Ucap Bram.
" Untuk yang satu itu aku memang selalu mengalah" Elang tergelak. " Apa kabar bro? lama gak ketemu"
"Baik"
__ADS_1
Nara masih melongo dengan aksi mereka berdua. Dia pikir Elang beneran mendaratkan tinjunya pada Bram karena cemburu, ternyata..
"Kok kamu bisa disini? " Tanya Elang.
Bram menggaruk kepalanya bingung untuk menjawab "Eng... iya ngejenguk orang sakit lah, memang mau ngapain coba kalu ke rumah sakit, piknik"
"Maksudnya bisa ada di ruangan Nara, kamu"
"Kak Bram kakak kelasku dulu di sekolah, trus kami kemarin penelitian di tempat yang sama" Kali Nara yang menjawab, dia tidak mau ada kesalahpahaman diantara mereka, meskipun mereka berteman.
"Owh.." Ucap Elang yang kemudian mendekati Nara.
"Trus kamu?" Bram berbalik menanyai Elang, sembari mengerenyitkan kening, penasaran.
"Ehmmm... Elang pacarku kak" Nara menjawab.
Sontak Bram terkejut, dia tidak menyangka jika gadis pujaan hatinya memiliki pacar, padahal beberapa waktu lalu dia bilang gak punya pacar, tapi kenapa sekarang dia bilang punya. Apalagi yang dia sebut sebagai pacar adalah Elang, sahabat masa kecilnya dulu. Atau mungkin Nara sengaja mengatakan itu, agar aku menjauh darinya. Semburat kekecewaan terlihat di mata Bram.
Maaf kak Bram, aku belum sempat menjelaskan apapun. Lirih Nara.
Tidak hanya Nara, Elang juga menangkap kekecewaan di mata Bram. Sesaat semua terdiam dengan tatapannya masing-masing. Untuk mencairkan suasana Elang pun mengalihkan obrolan.
Tak berselang lama, Bram pun pamit pulang.
Ya Bram pulang dengan membawa semangat yang terpatah-patah, padahal tadi saat dia pergi semangat itu begitu segar, sesegar bunga yang dia bawa, namun kini semangat itu layu, kering kemudian terbang terbawa angin.
***
Hari ini dokter mengizinkan Nara pulang dengan catatan tetap jaga pola makan dan asupan nutrisi yang sehat. Airin dan Wisnu pun membawa Nara pulang, untuk beberapa hari ke depan Airin meminta Nara untuk menginap di rumahnya agar ia bisa lebih mengontrol pola makan keponakannya. Meskipun Nara bersikeras bisa sendiri di rumah, Namun Airin tetap tak percaya pada gadis yang dianggapnya ceroboh soal menjaga pola makan dan menjaga kesehatan.
__ADS_1
Mau tak mau Nara pun tak bisa menolak permintaan bibinya, karena meskipun bibinya sangat cerewet tapi Nara tau, Airin sangat menyayanginya..