
Setelah Nara berlalu, Elang membalikan tubuhnya dan melihat ke arah Nara. Terlihat sekali tatapan kebencian di mata Nara, sementara Elang justru sebaliknya, mata itu menatap penuh kerinduan. Lama berdiri di pintu restoran, seorang perempuan paruh baya menghampirinya, tepukan dipundak Elang membuyarkan lamunannya.
“Kamu sedang apa Lang, koq berdiri disini” Ucap Perempuan tersebut yang tak lain adalah mamanya. Mamanya pun kemudian melihat ke arah tatapan Elang, namun tidak ada satu orang pun di sana.
“Ayo masuk” ajak mama Elang
“Iya ma” jawab Elang dan langsung mengikuti mamanya dari belakang.
Sementara itu, di dalam mobil, wajah Nara berubah muram.
“Kamu kenapa Ra? Koq abis makan malah cemberut? Tenang aja uang yang tadi untuk bayar jangan dibalikin, aku yang traktir” Ucap Licia
“Yaelah buk, sejak kapan aku mempermasalahkan uang makan, mau kamu traktir mau ngutang juga gak peduli. Paling juga kalu kamu gak ada duit mintanya ke mamamu bukan aku” rungut Nara
“Trus apa dong” bujuk Licia yang seolah-olah tidak tahu jika Nara tadi sempat bertemu Elang.
“Tadi abis lihat setan, makanya aku langsung kesal”
“kalau lihat setan itu baca ayat kursi atau ayat-ayat pendek, bukannya cemberut. Emang setan takut dicemberutin? Apalagi kalau kamu cemberut makin manis, bukannya lari, setannya malah deket” ucap Licia sembari melirik Nara.
“Makanya daripada dia makin deket, jadinya aku yang pergi”
“Setannya ganteng gak? Tanya Licia sembari mengedip-ngedipkan matanya
“Ganteng sih, tapi tetap aja setan” sungut Nara
“Ya iyalah ganteng, orang setannya masih ada di hati dan pikiran” Ups!! Licia menutup mulutnya karena kelepasan
“maksud L” balas Nara
“Hehehe, aku tadi lihat insiden tabrakan menegangkan kalian” jawab Licia sembari tertawa.
“Kalau gak berhenti ketawa, aku turunin di jalan nih” ancam Nara
“jangan dong beb, ntar aku diculik. Okay aku diam” Kata Licia kemudian memalingkan muka dan menatap ke arah luar jendela mobil.
Tak lama mobil pun sampai di depan rumah Licia. Sebelum Licia turun Nara pun memanggilnya
“Licia maaf, tadi aku…”
“hahaha.. kamu pikir aku marah? Aku tu dari tadi cuma nahan ketawa aja” potong Nara
“Sialan” umpat Nara yang tadi ingin minta maaf menjadi kesal.
Licia pun pun berlari masuk ke rumahnya sembari tertawa.
****
Tiba di rumah, Nara langsung mandi dan kemudian salat Isya. Setelah itu Nara berbaring di ranjangnya sembari membaca buku. Tak lama kemudian Nara baru teringat jika ia ingin menghubungi bibinya. Dilihatnya jam menunjukkan pukul 21.00. Nara masih berfikir untuk menghubungi bibinya, jika tidak malam ini, Nara khawatir lupa.
“Mudah-mudahan bibi belum tidur” batin Nara
Ia pun mengambil ponsel dan segera menghubungi bibinya, panggilan pertama tak terjawab.
“sekali lagi deh, kalu gak dijawab juga, besok pagi aja aku hubungi lagi, mungkin bibi sudah tidur” Nara kembali menelpon bibinya. Panggilan kedua diangkat.
“Hallo, Assalamualaikum sayang” ucap suara di seberang sana.
“Waalaikumsalam bibiku tersayang, bibi udah tidur? Maaf ya malam-malam Nara ganggu” balas Nara
__ADS_1
“Belum koq, gak apa-apa sayang, tumben nih, ada apa sayang? Apa ada masalah?” Tanya Airin.
Nara pun menceritakan masalah pekerjaannya, diseberang sana Airin hanya terdiam mendengarkan penjelasan Nara. Terdengar nafasnya semakin berat setelah Nara bercerita.
“Gak bisa diganti yang lain” tanya Airin.
“Sepertinya begitu bi” jawab Nara
“Sebenarnya bibi sangat berat melepasmu pergi jauh, bibi sangat khawatir karena kamu perempuan. kalau kamu laki-laki ya mungkin bibi akan bebaskan. Tapi kalau ini memang sudah tuntutan pekerjaan ya mau gimana lagi. Kalau kamunya setuju ya bibi hanya bisa mendukung saja, yang penting kamu bisa jaga diri. Kamu juga gak sendirian kan disana?
“Ada tim koq bi disana, kita kan juga punya kantor kecil disana, ada juga karyawan perempuan yang orang asli daerah situ disana” Ucapa Nara meyakinkan bibinya.
“Ya udah, apapun keputusanmu bibi akan dukung sepenuhnya. Kapan berangkatnya? “
“Lusa”
“Pakai apa?”
“Dari sini naik pesawat ke ibu kota kabupaten, terus dilanjuti jalan darat ke desanya”
“kabarin bibi ya nanti berangkat”
“baik bi”
Nara pun mengucapkan salam dan menutup sambungan teleponnya. Setelah menelepon bibinya, Nara pun beranjak ke meja kerjanya dan menulis daftar perlengkapan yang harus disiapkan dan beberapa juga harus dibeli.
***
Keesokan paginya di tiba dikantor Nara langsung di sambut kedua teman ruanganya
“Cieee yang besok mau tugas luar” seru Amel
“Udah dong, mang kenapa? Kangen ya? Pasti kangen kan selama gak ada kami gak rame” balas Amel.
“Wah kepedean, kalau gak ada kalian tu, dunia serasa aman dan tentram” balas Nara. Padahal di dalam hatinya Nara mengiyakan ucapan Amel, memang beberapa hari ini ruangan mereka sepi karena hanya ada dirinya dan mas Andi
“Bo’ong nih, orang mas Andi aja bilang, kalau dua hari kemarin ruangan kayak kuburan… sepiii” ucap Amel.
“Iyaian aja deh! Mana nih oleh-olehnya? Awas kalau gak ada” ucap Nara
“Tenang aja, pasti ada koq. Tapi nanti ya” balas Amel.
“Tu, si Rido kenapa diam aja” Tanya Nara, karena melihat Rido yang biasanya riang gembira tak jauh beda dengan Amel hanya terdiam.
“Dia lagi patah hati, disana dia punya gebetan, eh taunya tu gebetan anaknya pada Kades udah tunangan. Untuknya ketahuan pas udah mau pulang, kalau belum kan bisa berabe kerjaan disana gak kelar-kelar” ucap Amel
“Sing sabar yo mas” ledek Nara.
Rido menoleh ke arah duo perempuan yang tengah membicarakannya
“Puas-puasin ledeknya!!" ketus Rido.
"Idiiih marah dia, ssstt diem" ucap Nara ke Amel.
Ruangan pun kembali Hening. Tak lama Andi masuk ke ruangan.
“Ra, kamu dipanggil pak bos tu” ucap Andi.
"Sekarang mas?" tanya Nara
__ADS_1
"Tahun depan" balas Andi
"Yeee" balas Nara sembari memanyunkan bibir.
Nara pun berdiri dan bersiap ke ruangan atasannya. Nara berfikir mungkin atasannya mau menanyakan kesiapannya berangkat besok.
***
Di ruang pak Darwin
Nara mengetuk pintu terlebih dahulu, setelah mendengar sahutan dari dalam baru kemudian Nara masuk.
“Bapak panggil saya” Tanya Nara Sopan
“Iya, duduk” jawab paka Darwin seraya memerintahkan Nara duduk.
“Bagaimana permintaan kemarin, sudah ada keputusan” Tanya Darwin
“Sudah pak, saya bersedia” jawab Nara mantap
“Yakin?” balas Darwin sembari mengerutkan kening.
“InshaAllah yakin pak” balas Nara.
“Nah gitu dong, jangan ragu dan jangan bimbang, karena keragu-raguan itu temennya setan” jawab Darwin sembari tertawa.
“Setan Lagi” batin Nara
“Maaf, saya hanya bercanda. Saya senang kamu menerima tawaran saya. Kalaupun kamu menolak, saya juga tidak akan marah karena itu hakmu saya tidak akan memaksa. Karena sesuatu yang dipaksakan itu hasilnya tidak baik” ucap Darwin.
"Ya sudah, kamu bersiap. terus minta bagian Administrasi untuk mengurus semua, tiket dan juga kebutuhanmu disana. untuk makan dan penginapan nanti kamu di mess kantor saja. hubungi Dodi biar dia bisa jemput kamu di bandara. ada yang mau ditanyakan" tanya Darwin
"hmmm, tidak ada pak" jawab Nara.
"Selamat bertugas ya"
"Terimakasih pak, saya permisi"
Darwin mengangguk, Nara pun meninggalkan ruangannya.
***
Tiba di ruangan, Nara pun mempersiapkan berkas-berkas pekerjaan yang akan dibawa.
"Jadi, besok kamu berangkat? tanya Amel.
"Iya, tapi belum tau jam berapa, soalnyo belum dapat tiket dari bagian adm"
"Ya... gak ada temen rumpi dong... baru juga sehari masuk dah sepi lagi.. trus berapa lama kamu disana"
"mungkin untuk tahap awal sekitar dua minggu atau bisa juga satu bulan, tergantung kondisi sih. maunya sih cepet selesai"
"bawa lotion anti nyamuk ya, kan di hutan... ntar pulang-pulang kulitmu bentol" ucap Amel sembari tertawa.
Nara pun segera menyelesaikan pekerjaannya...
__ADS_1