Aku Melepasmu

Aku Melepasmu
Tertidur


__ADS_3

Keluar dari pintu kedatangan, Nara menoleh ke kiri dan kanan mencari keberadaan bibinya.


"Sayaaang... Naraaa" Panggil Airin dari kejauhan.


Nara menoleh mencari sumber suara. Airin pun sedikit berlari untuk segera mendekati Nara, setelah bertemu mereka saling berpelukan, seperti menyimpan kerinduan terlalu lama padahal baru satu bulan. Tampak mereka berdua menjadi pusat perhatian.


"Bibi kangen banget.. kamu koq gendutan.. betah ya disana"


"Nara juga kangen banget sama bibi, gimana gak gendut, makan aja di sana" ucap Nara sembari mengecup pipi Airin.


Bram hanya terdiam menatap kedua wanita disampingnya. begitupun dengan suami Airin.


"Sudah kangen-kangenannya... nanti disambung di rumah aja" ucap Wisnu Suami Airin.


"Iya yuk.. pulang" Ajak Airin


"Ini kopernya Ra" Ucap Bram yang sedari tadi diam.


"Eh ini siapa Ra? " tanya Airin karena belum pernah melihat Bram sebelumnya.


"Oh ya bi, ini Kak Bram, kami sama2 dari sana, kebetulan kak Bram sedang penelitian di tempat yang sama dengan Nara. Kak Bram ini juga dulu kakak kelas Nara di SMA"


"Bram" Bram menyebutkan namanya dan mengulurkan tangan pada Airin dan juga Wisnu untuk memperkenalkan diri dan disambut oleh keduanya.


"Terimakasih sudah mengawal Nara" ucap Airin.


Bram tersenyum dan mengangguk.


"Ayok kita pulang, kamu mau sekalian bareng kita" tanya Airin pada Bram.


"Saya nanti juga dijemput, makasih"


"Kalau gitu kami duluan ya"


"Nara duluan ya kak, makasih sudah bantuin" ucap Nara sembari tersenyum dan kemudian melambaikan tangan. Bram pun tersenyum dan mengangguk.


"Sampai jumpa lagi Nara" ucap Bram lirih yang mungkin hampir tak terdengar ditelinga Nara. Bram terus memperhatikan Nara hingga hilang dari pandangan matanya. setelah itu Bram pun bergegas mengambil handphonenya untuk menghubungi supirnya.


***


Setelah membereskan barang-barangnya, Nara berbaring di ranjangnya yang sudah lama ia rindukan. Memandangi setiap sudut kamarnya, dan matanya berhenti pada pigura foto dirinya dan Licia di sudut dinding. Nara langsung teringat, bahwa ia belum menghubungi Licia dan memberitahukan kepulangannya. Nara bergegas mengambil handphone dan mencari kontak Licia.


"Hallo Assalamualaikum Sayangku, " Ucap Nara ketika panggilannya diangkat.


" Waalaikumsalam... Heeeiii Suara yang nyebelin dan ngangenin, tumben dapet sinyal sore-sore gini" jawab Licia diseberang sana


"Hahaha... Jaringan sudah aku beli, jadi bisa pake signal kapan aja" Ucap Nara Asal.


"Gak sekalian towernya di beli, diangkut trus pasang depan basecamp" Ucap Licia


"Rencana sih gitu, tapi terlalu beraaat... biar Dilan aja yang beli"


"Jjjiiiaaah Rindu kali"

__ADS_1


"Ntar malam aku ke rumah ya, kangen nih"


"Hah" Licia terkaget


"Ke rumah lewat mimpi?" tanya Licia yang tak percaya.


"Nyata kali, ngapain mimpi"


"Kamu udah pulang?"


"Udah"


"Beneran"


"Iya bener, ngapain bohong"


"Iiiih Jahat banget, pulang gak bilang-bilang, kan aku bisa jemput kamu sambil bawa red carpet dan nyiapin tarian persembahan untuk menyambut kedatanganmu"


"Ah lebay"


Buahahaha keduanya tertawa lepas.


"Emang kapan kamu pulang"


"Baru juga sampe siang tadi, dijemput bibi Airin, terus ke rumahnya dulu sambil kangen-kangenan. nih juga baru nyampe rumah habis beres-beres"


"Ya udah, kalau gitu biar aku aja yang ke rumahmu, kamu pasti capek kan"


"Naah tu ide bagus banget, aku tunggu di rumah ya... jangan lupa bawa makanan. di rumah lagi gak ada stok makanan dan minuman, hihihi" ucap Nara.


"Waalaikumsalam"


Panggilan berakhir, Nara meletakkan hanphonenya di nakas. Nara melirik Jam di dinding kamarnya, ada waktu satu jam untuk memejamkan mata sebelum magrib tiba. meskipun sebenarnya tidak boleh tidur di waktu-waktu seperti ini, namun mata Nara seakan berat, mungkin karena kelelahan di perjalanan. Akhirnya Nara pun tertidur.


***


Berkali-kali Licia menekan bel di samping pintu rumah Nara, namun tak juga ada jawaban. Bahkan rumah tersebut tampak gelap gulita, lampu teras mati dan dari luar juga terlihat tidak ada lampu di dalam rumah yang hidup.


"Kemana sih ni anak, tadi dibilang mau nungguin di rumah, tapi rumah kosong" ucap Licia kesal. Licia pun mengambil handphone dari dalam tasnya dan mencoba menghubungi Nara. Beberapa kali panggilannya masuk tapi tidak ada jawaban.


"Awas aja ni anak kalau ngerjain, aku bikin ayam penyet juga nih" Kesal Licia. Sekali lagi Licia mencoba menghubungi Nara.


Nara terkejut mendengar suara berisik yang ternyata berasal dari handphonenya, ia meraba-raba mencari keberadaan benda itu, karena suasana kamar gelap.


"Hall...."


"Kamu dimana si!! dari tadi ditelpon gak diangkat! aku sudah di depan rumah ni! bilang kek kalau lagi gak di rumah, jadi aku gak buru-buru kesini, mana ni rumah gelap gulita lagi"


Nara terkaget mendengar suara Licia yang sedang marah dan ngomel di telepon


"Iya tunggu bentar, aku bukain pintu ya.. hee"


Jawab Nara sembari berlari kecil ke arah pintu, tak lupa sebelumnya mencari stop kontak untuk menghidupkan beberapa lampu.

__ADS_1


Nara membuka pintu rumahnya, di sana sudah berdiri Licia dengan muka kesalnya.


"Maaf aku tadi ketiduran" Ucap Nara


"Astagfirullah... aku juga lewatin magrib" tambah Nara lagi sembari menepuk keningnya.


"Makanya kalu mau magrib tu ngaji bukan tidur"


"Iya bu Haji, maaf... yok masuk" ajak Nara.


"Untung kamu angkat telepon, kalau gak aku bakalan pulang trus ni makanan aku buang di tong sampah" ucap Licia yg masih kesal.


"Eiit jangan dong, kata nenek gak baik buang makanan.. nanti makanannya nangis terus kita kualat jadi gak bisa makan" ucap Nara sambil nyengir...


"Abisnya kamu tu ya.. "


"Kan aku udah minta maaf, kamu kok marah-marah sih.. gak kangen ya sama aku.. sahabat kami yang paling cantik ini"


Akhirnya Licia pun menyerah dan memeluk sahabatnya itu.


"Nah gini kan enak, gak pake marah-marah" ucal Nara.


Mereka berdua pun saling melepas rindu dan menceritakan aktifitas masing-masing selama terpisah.


"Aku laper nih, kita makan dulu yuk.. kan sayang makanan yang udah kamu bawa dianggurin" ajak Nara


Licia mengiyakan, kemudian Nara beranjak ke dapur untuk mengambil piring, sendok dan juga air minum.


Licia tengah menimbang-nimbang untuk menceritakan kondisi Elang pada Nara. Tapi ia sudah berjanji pada Elang untuk tidak memberitahukan kondisinya pada Nara.


Tak lama Nara pun kembali membawa peralatan makan dan mereka mulai makan nasi goreng yang tadi sempat dibeli Licia.


Sembari makan mereka pun kembali bercerita. Tak lupa Nara menceritakan tentang Bram.


""Oh jadi kak Bram yang bikin kamu betah disana" sindir Licia


Nara tertawa dan mencubit lengan Licia.


"Apaan sih, kami cuma temenan kok"


"Demenan juga gak apa-apa, jomblo gini" ejek Licia


"Buat kamu aja mau nggak, dia baik lho"


"Ogaah.. dia maunya sama kamu, ntar aku jadi pelarian doang" balas Licia sembari menaikkan bahu. Nara pun tertawa melihat tingkah sahabatnya itu.


"Oh ya Ca, kamu pernah ketemu Elang gak selama ini" tanya Nara


"Enggak" jawab Licia tanpa menoleh Nara


"Hmmm... aneh ya, beberapa waktu lalu tu aku pernah mimpiin Elang, dia pake baju putih terus melambaikan tangan sama aku" cerita Nara


"Uuhhuuukk" Licia langsung tersedak mendengar ucapan Nara

__ADS_1


"Pelan-pelan dong makannya"


Licia meminum air putih untuk menetralkan tenggorokannya. sesaat ia terdiam mencerna perkataan Nara barusan. Wajah Licia pun berubah sendu, ingin sekali ia menceritakan kondisi Elang pada Nara..


__ADS_2