Aku Melepasmu

Aku Melepasmu
Pulang


__ADS_3

Pagi ini Nara sangat bahagia karena akan kembali ke rumahnya setelah sebulan berjibaku dengan segala pekerjaan dan aktifitasnya di desa ini. Dengan semangat Nara mulai membereskan barang-barangnya memasukkan ke koper serta tak lupa membersihkan kamarnya.  Berkali-kali Nara mengelilingi kamar hingga kamar mandi agar tak ada satupun barangnya terlupa, karena meskipun ia betah berada disini, namun ia berharap tidak akan kemari lagi.


“Tok..Tok… Mbak Nara, sarapan sudah siap” terdengar wak atun memanggil dari balik pintu.


“Iya wak, sebentar lagi” sahut Nara.


Tak lama Nara pun keluar dengan membawa dua buah koper dan juga satu buah tas ransel. Di ruang makan sudah ada Dodi, Lisa dan juga Bram.


“Semangat banget nih yang udah mau pulang” Tanya Dodi


“Iya dong, kan mau kembali ke habitat.. dah gak sabar pengen ke mall dan nongkrong di café” sahut Nara.


“Nongkrong di Café apa ketemuan Pacar”  Sindir Dodi lagi.


“ehmmm…. Tau aja” ucap Nara sembari tersenyum.


“Pacar… ya harusnya sih gitu tapi kalau punya pacar” batin Nara


“Uuhhuk..uhuuk” Bram seketika tersedak saat Dodi mengatakan pacar.


“Pelan-pelan makannya bro, kamu kenapa udah gak sabar juga mau ketemu pacar sampe buru-buru gitu makannya” ledek Dodi.


Bram terdiam dan wajahnya memerah karena makanan yang menyangkut di tenggrorokan. Segera ia meneguk air putih untuk menetralisir tenggorokannya.


Dodi hanya tertawa melihat reaksi Bram.


“Waduh gimana ni Dodi, temennnya keselek koq malah diketawain, dibantuin  dong” ucap Nara


Nara lalu menepuk-nepuh punggung Bram, agar makanan yang tersangkut ditenggorokan turun. Ada segurat senyum bahagia di wajah Bram mendapat perhatian dari Nara.


“Udah enakan kak” Tanya Nara.

__ADS_1


“Udah, makasih ya” jawab Bram.


“Kelewatan kamu Dodi, kalau aku mati tersedak, kamu yang bakal aku datangin pertama kali buat minta pertanggungjawaban”


“Hah mana ada orang mati kesedak! apalagi kalau Cuma tesedak sebiji nasi, nah kalu tesedak kulit durian mungkin, hahaha…” jawab Dodi sembari tertawa.


“Udah berisik amat, cepetan makannya.. ntar kesiangan lagi. Kalau telat, pak pilot gak mau nunggu” Ucap Nara.


“Supir angkot kali yang mau nungguin” Jawab Dodi.


“Makanya itu, buruan” ujar Nara.


Usai sarapan Nara dan Bram pun berpamitan dengan Lisa dan wak Atun. Nara memeluk mereka secara bergantian.


“Makasih ya Lisa dan wak Atun selama ini sudah direpotin, udah banyak ngebantuin Nara. Semuanya Nara gak mungkin bisa ngebalas jasa-jasa Lisa dan wak Atun. Nara pasti bakalan rindu sama kalian, maafin kalau selama ini Nara ada salah baik ucapan ataupun perbuatan” Ucap Nara.


“Sama-sama non, uwak juga minta maaf kalau ada salah, sering-sering main kesini non, wak pasti seneng banget kalau non disini”


“Lisa juga mbak, minta maaf kalu selama ini ada salah atau membuat mbak kesal. Lisa Cuma bisa bantuin dikit-dikit kerjaan mbak Nara” 


“Ini aja udah banyak dibantuin, seneng banget bisa ketemu Lisa disini, ntar kalu mau Nikah jangan lupa ngundang ya” ucap Nara


“Pasti diundang, awas gak datang!!” Timpal Dodi                 


“Aku ngomong sama Lisa, kok situ yang jawab!! Jangan mau kalau yang ngajak nikah Dodi, sa.. itu sama anak pak Kades aja, atau kalau nggak sama kak bram aja, daripada sama Dodi!” ejek Nara.


“Koq aku”  Jawab Bram yang sedari tadi diam tapi kemudian namanya ikut terseret.


“Hehe,. becanda, iya juga gak apa-apa” ucap Nara


“Ya gak apa-apa sih, kalau nikahnya sama kamu” Jawab Bram sembari menepuk bahu Nara.

__ADS_1


“Kode” timpal Dodi sembari m


“Udah ah, kelamaan pamit-pamitnya ntar sampe sore lagi” ucap Dodi.


Untuk ketiga kalinya Nara, Lisa dan Wak atun berpelukan hingga akhirnya Nara masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangan ke arah wak Atun dan Lisa.


***


Tiba di bandara Nara dan Bram langsung menuju pintu keberangkatan, 30 menit lagi pesawat akan take off.  Nara sudah menghubungi bibi Airin untuk menjemputnya dibandara, sebelum lepas landas Nara mengirimkan pesan kepada bibinya agar ia memiliki estimasi waktu berjalan dari rumah ke bandara, dan tidak terlalu lama menunggu.


Nara duduk disamping jendela, sembari mengamati bumi dari langit. tampak hijaunya hutan namun ditengah-tengah ada yang hanya nampak tanah berwarna kuning, karena pepohonannya habis akibat ilegal loging.


"Nanti, ada yang jemput" tanya Bram


"Iya, aku sudah menghubungi bibiku" jawab Nara.


"Setelah dari sini, apa kita masih bisa bertemu lagi" tanya Bram lagi.


Nara mengerenyitkan kening dan tersenyum..


"Ya bisa dong kak, kalau gak sibuk, pasti juga nanti kakak yang sibuk" ucap Nara sembari tertawa.


"Untuk kamu sesibuk apapun, pasti aku luangkan waktu" jawab Bram, tapi hanya dalam hatinya. Bram masih belum bisa mengartikan sikap Nara, untuk itu ia tidak mau mengatakan hal yang berlebihan, ia takut justru Nara akan menjauh.


Ada resah yang tak terungkap


Saat binar mata tak mampu membaca isyarat


Lelah menahan rasa, tapi hati tak tahu harus memulainya darimana


Pilu merayu kalbu ketika lekat rindu menelusur lirih jiwaku...

__ADS_1


***


__ADS_2