
Pendar langit malam melukis indah wajahmu
Garis halus lembut yang selalu ingin ku sentuh
Namun kini aku ragu, akankah selamanya kita bersama, sementara aku tak mampu membuatmu bahagia...
Elang menarik nafas dalam, mengingat pertemuannya dengan Bram dan juga Nara. Saat itu Elang sebenarnya ingin marah melihat orang yang ia cintai bersama pria lain dengan posisi yang sangat dekat. Namun kesadarannya segera memenuhi ruang tubuh, mungkin ini yang ia inginkan, Nara bisa mendapat laki-laki baik selain dirinya. Elang sangat mengenal Bram, mereka bersahabat dekat sebelum Bram pergi ke kota lain untuk melanjutkan pendidikan. Elang yakin Bram laki-laki yang layak untuk Nara.
Elang sangat yakin ada kedekatan lain selain teman diantara mereka, terutama pada Bram, karena tatapan Bram dan mimik wajah keterkejutan yang Bram perlihatkan saat Nara memperkenalkan dirinya sebagai pacar. Kecewa, itulah tatapan yang terpancar dari laki-laki itu. Haruskah Elang marah, karena sejujurnya dia pernah melepas perempuan itu, mungkin pertemuan mereka terjadi antara waktu kekosongan saat Nara berupaya melupakannya.
Elang mengerenyitkan keningnya, tangan kirinya mengepal kuat dan tangan kanannya meremas rambutnya, denyut kepalanya semakin kuat menimbulkan rasa sakit yang begitu hebat. bulir keringat mulai membasahi wajahnya. Sebisa mungkin ia berjalan untuk mencari obat yang dapat meredakan rasa sakitnya.
***
__ADS_1
"Maaf" Kata itu yang pertama kali keluar dari mulut Nara membuka percakapannya dengan Bram.
Sore ini sepulang kerja Nara memang menghubungi Bram dan mengajaknya bertemu untuk membicarakan kesalahpahaman yang terjadi. Maka di sinilah mereka, di sebuah taman kecil yang tak jauh dari rumah Nara.
"Maaf untuk apa?" Tanya Bram.
"Maaf untuk semua, aku harap kakak tidak salah paham dengan hubunganku dan Elang" Nara menarik nafas dalam.
Bram masih terdiam menunggu Nara melanjutkan kata-katanya.
Nara tak kuasa menahan butiran air matanya.
"Kamu masih mencintainya atau kini rasa itu hanya sebuah rasa bersalah atau tepatnya kasihan?" Bram bertanya pelan.
__ADS_1
Nara menoleh ke arah Bram, menajamkan tatapannya pada Bram, untuk sebuah pertanyaan yang ia rasa sangat menyinggung perasaannya.
"Maksud kakak? Aku hanya kasihan dengan kondisi Elang saat ini? Sejahat itukah aku?" Nara menyipitkan matanya, mencari jawaban atas apa yang pria itu katakan.
"Aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya ingin dirimu meyakinkan perasaanmu"
"Tentu aku masih mencintainya! untuk itulah aku disini ingin bertemu dengan kakak. menjelaskan semuanya agar kakak tak lagi berharap!" Tegas Nara dengan nada suara yang cukup tinggi. Menahan getaran di tubuhnya. bisa-bisanya laki-laki itu berkata seperti itu. "Meskipun Elang bukan lagi laki-laki kuat yang mampu melindungiku, aku akan tetap mencintainya, aku akan tetap berada disampingnya sampai kapanpun! jadi kakak jangan pernah meragukan perasaanku. Aku mencintainya, paham!" Tegas Nara, kemudian berdiri dan hendak meninggalkan tempat itu. Namun sebelum ia memulai langkahnya, Bram menarik tangan Nara dan membalikkan tubuh wanita itu hingga kini mereka berhadapan. Bram menatap Nara lekat, mata sembab yang masih dipenuhi airmata. Terpancar kejujuran dan ketakutan disana, ketakutan akan kehilangan orang yang dicintainya. Mendapat tatapan sedemikian rupa, membuat Nara tertunduk, entah perasaan apa yang berkecamuk di dalam tubuhnya. Kecewa, sedih dan marah menjadi satu. Namun ia hanya bisa menangis .
Bram tersenyum dan mengelus lembut pipi Nara. "Aku percaya, tapi tolong jangan menjauh dariku" kedua tangan Bram mencengkram erat bahu Nara "Kita akan bersama-sama memberikan semangat untuk Elang. Aku yakin dengan wanita yang sangat kuat dan mencintainya Elang bisa sembuh"
Nara terkejut demi mendengar ucapan Bram. Tak salah dengarkah dia. Nara perlahan mengangkat wajahnya, menatap Bram.
"Elang sahabatku, aku juga ingin yang terbaik untuknya. Jangan lagi berfikir macam-macam , meskipun aku memiliki perasaan untukmu tapi tak akan seegois itu untuk memaksamu. Sekarang lupakan tentang kita. Aku akan selalu mendukungmu untuk bersama Elang" Bram menghapus butiran air mata yang semakin menderas di pipi Nara. Kemudian menarik lembut perempuan itu dan membawanya dalam pelukannya.
__ADS_1
Bram menarik nafas panjang dan menghembuskan berulangkali, untuk mengenyahkan rasa yang bersarang dalam dirinya. Jujur saja mungkin ini sangat menyakitkan, tapi dia yakin ini yang terbaik. Mungkin benar, cinta tak harus memiliki, namun melihat orang yang dicintai bahagia bersama orang yang ia cinta mungkin akan cukup membuatnya bahagia.. Mungkin...