Aku Melepasmu

Aku Melepasmu
Sakit


__ADS_3

Satu bulan sejak ditinggalkan Nara, Licia sangat kesepian. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah karena tidak ada teman untuk berbagai cerita. Hari ini Licia diminta papanya untuk menemani cek up ke rumah sakit. Sembari menunggu antrian pasien, tanpa sengaja mata Licia melihat salah seorang pasien yang sedang didorong menggunakan kursi roda, wajah pasien dan orang yang sedang berjalan bersamanya sangat tidak asing bagi Licia.


“Elang” Bisik Licia.


Licia ingin mengejar tapi tak lama nama papanya dipanggil, ia pun urung mengejar Elang dan menemani papanya masuk ke ruang dokter.


Selama berada diruang dokter, Licia tampak gelisah, pikirannya terfokus pada Elang dan kondisi yang ia lihat saat ini. setelah pemeriksaan selesai,dan pengambilan obat di apotik,  Licia pun mengantarkan papanya pulang.


Licia berfikir untuk kembali ke rumah sakit, karena di yakin ada sesuatu yang terjadi dan disembunyikan Elang dari sahabatnya. Licia pun bergegas kembali ke rumah sakit, tiba diparkiran, Licia melihat Elang dibawa masuk ke dalam mobilnya. Licia yakin ada yang tidak beres dengan kondisi Elang saat ini.


“Elang sakit parah kah? Sehingga ia tak mampu berjalan, tapi bukannya sebulan lalu lalu dia baik-baik saja” pikir Licia. Licia pun berusaha mengikuti Elang. Licia terus mengikuti mobil Elang hingga tiba di rumahnya, setelah melihat Elang dibantu turun dari mobil, Licia juga tampak turun dan menghampiri, Elang dan ibunya sangat terkejut melihat Licia.


“Licia” lirih Elang


“Apa yang terjadi Lang, kenapa kondisi kamu seperti ini” Tanya Licia.


Elang hanya terdiam dan menunduk.


“Kita masuk dulu ya” ajak mama Elang.


Licia pun mengangguk dan mereka berjalan masuk ke rumah Elang.


“Duduk dulu ya, tante buatkan minum” ucap mama Elang


“Iya, makasih tante” jawab Licia.


Sepeninggalan mama Elang, Licia sudah tidak sabar untuk menuntut cerita Elang.


“Apa yang terjadi Lang, kenapa kamu seperti ini”


Kondisi Elang jauh dari kata baik, berat badannya menurun drastis bahkan wajahnya semakin tirus meski masih terlihat tampan. Nafasnya begitu berat dan suaranya serak.


Mama Elang masuk membawa nampan berisi minuman dan dan beberapa cemilan.


“Tante, Elang” Licia ingin bertanya.


"Elang...."


“Biar Elang yang cerita ma” potong Elang

__ADS_1


Mamanya terdiam kemudian menatap sendu anaknya.


“Ya sudah, kalau begitu, mama tinggal ya. Tapi tolong jaga emosi kamu” ucap mamanya.


Elang tersenyum dan mengangguk. Begitupun Licia


“Makasih tan” ucap Licia.


“Minum Ca” ucap Elang


Licia pun meraih cangkir berisi teh hangat. Setelah meletakkan cangkirnya, Licia menatap Elang penuh tanda Tanya. Namun melihat kondisi Elang ia tak mau memaksa laki-laki itu untuk bicara.


Elang menarik nafas berat.


“Aku tidak tahu harus memulainya dari  mana... Aku sakit Ca, dan mungkin umurku tidak akan lama lagi” jelas Elang. Licia terkejut mendengar jawaban Elang.


“Sakit??? sakit apa?"


“Tumor otak”


Nara terlonjak, matanya membulat.


"Aku tidak tau pastinya" Jawab Elang berat.


Elang bercerita, bahwa sekitar dua bulan lalu ia seringkali merasa sakit di kepalanya, tubuhnya pun terkadang tiba-tiba hilang keseimbangan. Pada suatu hari ia pingsan di rumah dan mama membawanya ke rumah sakit, setelah melalui serangkaian pemeriksaan, Elang didiagnosa menderita tumor otak bahkan sudah stadium 4. Kini ia tengah menjalani terapi untuk menghambat perkembangan sel-sel tumor. Tapi semua yang dilakukan mungkin hanya untuk memperpanjang usia. Suara Elang semakin berat dan menahan sesak di dadanya.


“Nara tahu” Tanya Licia


Elang menggeleng


"Nara hanya tau kalau aku sering sakit kepala, beberapa kali ia mengajakku memeriksakan diri ke dokter, tapi aku tidak mau, karena aku pikir ini hanya sakit kepala biasa"


“Apakah ini alasan sebenarnya kamu meninggalkan Nara”


Elang mengangguk dan tatapannya kosong memandang ke segala arah untuk membuang kesedihannya.


“Aku tidak mau Nara juga menderita melihat kondisiku saat ini. aku tidak bisa lagi menjadi pelindungnya, aku tidak bisa menjadi tempat untuk dia bersandar, aku tidak mau melihat ia bersedih karena melihatku seperti ini, Nara pasti sangat menderita nantinya. Aku sengaja melepasnya saat kondisiku seperti ini. mungkin lebih baik aku melihat di membenciku daripada nanti dia harus bersedih meratapi kepergianku. Aku tahu waktuku tidak akan lama lagi, aku hanya ingin melihatnya bahagia. Kau tahu Licia, dulu dia sangat menyalahkan dirinya sendiri ketika orangtuanya dan adiknya pergi. Bahkan ia menyakiti dirinya sendiri dan menganggap dirinya pembawa sial. Aku tidak mau itu terjadi lagi. Apa yang terjadi nanti jika aku benar-benar pergi, sementara dia terpuruk sendiri. Aku tidak mau Licia” ucap Elang dengan nada suara lirih dan terguncang.


Butiran bening meleleh dari sudut mata Elang. Begitupun Licia, sejak tadi ia tak mampu menahan airmatanya. Sebegitu besar cinta Elang pada Nara, bahkan mungkin diakhir waktunya dia masih memikirkan kebahagiaan Nara, padahal sebenarnya dia juga berhak bahagia. Mungkin saat ini jika Nara ada disampingnya, dia akan lebih kuat menghadapi semua ini, karena Nara pasti akan memberikan semangat. Licia melihat cinta yang begitu besar dalam diri Elang untuk Nara.

__ADS_1


“Tapi Nara berhak tahu, apakah kau pikir Nara tidak sakit saat ini? Nara benar-benar sakit, bahkan kini dia sedang berada di pelosok Negri ini hanya untuk melupakan rasa sakitnya” ucap Licia


“Maksudmu” Tanya Elang.


Licia menceritakan bahwa sudah 1 bulan ini Nara pergi dari kota ini, ia menerima tawaran bosnya untuk penelitian lapangan di kawasan hutan Sumatera. Mungkin bukan hanya sekedar pekerjaan, Nara menerima semua itu karena juga ingin memulihkan hatinya mengisi waktunya dengan kesibukan kerja sehingga ia bisa lupa akan sakit hatinya.


“Sejujurnya aku tak sanggup jauh dari dirinya, sejak aku memutuskannya kondisiku semakin tidak baik, karena aku selalu memikirkan dia. Aku benar-benar rapuh tanpanya. Tapi aku juga tidak bisa membiarkan ia menanggung kesedihan tanpa diriku nantinya” ucap Elang.


“Biarkan Nara tahu, biarkan Nara menguatkanmu, kamu pasti sembuh Lang, kamu butuh Nara saat ini” ucap Licia perlahan.


 “Tidak Ca, jangan beritahu Nara. Biarkan dia tetap membenciku. Itu lebih baik” ucap Elang.


“Tapi perempuan itu, perempuan yang Nara lihat” Tanya Licia


“Dia temanku, aku sengaja memintanya bersandiwara untuk membuat Nara kecewa. Hanya itu alasan yang bisa aku lakukan agar Nara membenciku” Jelas Elang.


Melihat kondisi Elang yang juga sudah tidak stabil saat ini, Licia pun tidak mau memaksa, mungkin ini yang terbaik yang ada dalam pikiran Elang.


“Istirahatlah Lang, kau mungkin sudah terlalu lelah. Maafkan aku yang membuatmu semakin sedih” ucap Licia.


“Aku mohon Ca, jangan beritahu Nara” ucap Elang Lirih.


Licia mengangguk kemudian ia berpamitan pulang.


Sepeninggalan Licia, Elang tak mampu menahan lagi butiran airmatanya. Ia sangat mencintai Nara bahkan lebih dari dirinya sendiri. Bahkan sebenarnya Elang sudah mempersiapkan sebuah cincin untuk melamar Nara, namun sebelum hal itu terjadi Elang sudah menerima kenyataan pahit bahwa ia mengidap Tumor ganas yang menyerang otaknya. Dia tidak ingin egois membawa Nara terpuruk bersamanya.  Yang Elang inginkan hanya kebahagiaan Nara.


Sejujurnya saat ini ia benar-benar merindukan Nara.


Aku terlalu rapuh melihatmu bersedih


Mencoba mengingkari hati meski semburat rindu terus mengikis tak terperi


Jika nanti kita tak pernah bertemu lagi


Akan kubawa rindu dan cintaku..


Hingga penghujung waktu...


***

__ADS_1


 


__ADS_2