Aku Melepasmu

Aku Melepasmu
Kecewa


__ADS_3

Setelah beberapa hari berencana menjenguk Elang, baru hari ini Licia sempat untuk melihat lelaki itu.


Tubuh pria itu semakin kurus, wajahnya yang masih terlihat tampan tertutup rambut-rambut tipis yang memenuhi dagu dan atas bibirnya. Matanya terpejam dan sesekali nafasnya terasa berat. Selang infus terpasang di tangannya. Ya, kini Elang sedang terbaring di rumah sakit karena kondisi tubuhnya drop kembali.


Licia datang ke rumah Elang, namun asisten rumah tangganya mengatakan tidak ada orang di rumah, karena semua orang sedang berada di rumah sakit.


Maka disinilah Alicia, duduk melihat mantan kekasih sahabatnya, matanya berkaca-kaca melihat pria yang biasa ceria dan penuh perhatian itu kini berbaring lemah.


"Semalam Elang tak sadarkan diri" ucap Mamanya Elang pada Licia. "Beberapa malam lalu Elang juga sering mengigau, dia menyebut nama Nara. Tante tidak tau pasti apa yang terjadi antara Elang dan Nara. Tiap kali tante bertanya, Elang selalu marah dan dia melarang tante untuk menghubungi Nara. Awalnya tante ingin marah, karena mengapa disaat kondisi Elang seperti ini dia justru pergi meninggalkannya. Padahal tante tau Elang sangat mencintai gadis itu, tapi melihat emosinya seperti itu setiap tante menyebut namanya, tante tidak lagi membahasnya, meskipun tante tahu dia sangat merindukan gadis itu" Cerita mama Elang pada Licia.


"Elang juga melarang Licia untuk memberitahu Nara"


"Apa yang terjadi antara mereka" tanya mama Elang.


Licia pun menceritakan apa yang terjadi antara Elang dan Nara serta alasan Elang untuk menutupi kenyataan ini dari Nara.


"Sebenarnya Nara juga sangat terpukul tante, dia pikir Elang benar-benar meninggalkannya hanya demi perempuan lain. Tapi seandainya dia tahu kondisi Elang, tidak mungkin dia meninggalkannya sendirian, Licia tau, Nara pasti akan selalu bersama Elang, memberikan semangat untuknya"


Mama Elang mengangguk-angguk mengerti, airmata tak henti menetes di pipi wanita paruh baya tersebut, tatapan matanya sendu karena melihat kondisi anak semata wayangnya.


"Apakah tante keberatan jika Licia membawa Nara kemari"


Tante Lina menggeleng " Jangan, kamu sudah berjanji pada Elang bukan"


"Tapi Licia yakin, Nara akan membawa kebaikan pada Elang. Licia yakin, Nara perempuan kuat, ia pasti bisa memberikan semangat pada Elang"


"Terserah Licia mana yang terbaik, tante sudah tidak punya pilihan lain. Tante hanya bisa berdoa untuk kesembuhan Elang, berbagai upaya sudah kami lakukan, tapi tetap tidak membuat ia bersemangat untuk sembuh" Ucap mama Elang, ada nada frustasi dan menyerah dalam setiap ucapannya.


"Kalau begitu, Licia permisi dulu tante. Elang juga lagi tidur, nanti sampein salam Licia untuk Elang ya tan"


" Iya Ca, terimakasih sudah menjenguk Elang"

__ADS_1


Licia memeluk tubuh wanita paruh baya itu. Wanita yang mencoba kuat demi anaknya.


"Tante yang kuat ya, jaga kesehatan" bisik Licia di telinga tante Lina sebelum melepas pelukannya.


***


Licia sudah memikirkan segalanya, termasuk jika Elang marah nantinya. Tapi ini harus dilakukan, dia tidak mau sahabatnya terus-terusan membenci orang yang sangat mencintainya.


"Kamu mau bawa aku kemana Ca" Ucap Nara ketika Licia tiba-tiba menjemputnya dan membawa Nara pergi.


"Ke suatu tempat, ada seseorang yang sedang menunggu kamu di sana"


"Siapa"


"Kamu bisa lihat sendiri nanti"


Licia memarkirkan mobilnya di pelataran parkir sebuah rumah sakit.


Licia masih tak mau menjawab. Licia akan membawa Nara untuk melihat Elang, ia memang belum menceritakan kondisi Elang pada Nara. Ia ingin Nara melihat dulu bagaimana kondidi laki-laki itu.


Licia dan Nara berdiri di depan sebuah kamar rawat inap. Nara masih bingung kenapa Licia membawanya ke tempat ini.


"Kamu bisa lihat sendiri di dalam" Ucap Licia


"Siapa Ca?" Nara mengerutkan keningnya mencari jawaban pada sahabatnya itu.


Licia membuka pintu dan membawa Nara masuk ke dalam ruangan itu. Tampak seorang pria sedang berbaring lemah dengan selang infus dan beberapa alat bantu di tubuhnya. Tubuh Nara bergetar, detak jantungnya berpacu cepat, semakin mendekat ia semakin gemetar dan sampai di depan ranjang dengan tubuh terbaring di atasnya, Nara membelalakkan matanya, menutup kedua mulutnya. Ia hampir berteriak karena tak mampu menahan rasa terkejutnya.


Gemuruh aliran darahnya serasa begitu cepat dengan detak jantung tak beraturan, air mata meleleh begitu saja melihat sosok yang selama ini mati-matian ingin dibencinya namun kini dalam kondisi yang tak pernah ia duga.


"Elang.. "Lirihnya. Mata itu masih terpejam, tapi dari guratan wajahnya tampak ia sedang menahan kesakitan. Tubuhnya kurus dan cekungan di kedua matanya.

__ADS_1


Nara menatap Licia untuk mencari jawaban atas apa yang terjadi.


Ada sorot kekecewaan di mata Nara saat menatap Alicia, kecewa kenapa Licia menyembunyikan semua ini darinya.


Nara tak sanggup lagi berada di dalam ruangan ini, ia ingin menangis meraung tapi tidak disini, karena logikanya masih bisa berfikir, dia tidak ingin membangunkan Elang.


Nara menutup mulutnya dan segera berlari keluar, air matanya semakin menderas di pipi. Ia berlari menuju taman rumah sakit, duduk di bangku taman dan menangis sejadi-jadinya, mencerna apa yang barusan ia lihat. Seakan tak percaya bahwa laki-laki yang terbaring itu adalah laki-laki yang sama yang namanya masih terukir di hatinya.


Licia datang menghampiri dan memeluk Nara. Tapi Nara segera menjauhkan tubuh sahabatnya itu.


"Apa yang terjadi Licia? Kenapa kamu sembunyikan ini dari aku?" Pertanyaan Nara lontarkan dengan nada kecewa dan sesenggukan. Nara mengguncang bahu Licia.


Licia juga tak mampu menahan tangisnya.


"Tenang dulu, aku akan menceritakan semuanya, aku tidak berencana menyembunyikan semua ini, tapi aku juga belum lama mengetahui inj" Licia menghela nafas. Suaranya semakin berat, ia bingung harus memulai dari mana.


"Please Licia katakan, apa yang terjadi? dia baik-baik saja kan?" Lirih Nara. Tiba-tiba ia teringat mimpinya, mimpi yang sempat datang beberapa kali. Mimpi bahwa Elang akan pergi. "Tidak!! tidak! ini hanya mimpi!" Teriak Nara.


Licia mencoba menenangkan Nara.


"Tenanglah dulu, aku akan menceritakan semuanya jika kau tenang"


"Aku tidak bisa tenang sebelum tahu apa yang terjadi!"


"Aku akan bercerita, tapi tidak dengan kondisimu seperti ini"


Nara menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Beberapa kali ia ulangi untuk menenangkan diri. Menghapus air matanya berulang kali. Ada sesak yang tiba-tiba menderanya, seperti benda besar yang menghimpit dadanya. Rasanya begitu sakit, mungkin akan semakin sakit jika ia mengetahui kondisi lelaki yang dicintainya. Ia harus siap menghadapi kemungkinan terburuk sekalipun, melihat kondisi Elang, ia tahu ada yang tidak baik. Bukan hanya sekedar sakit, tapi entahlah dia tak mau menerka-nerka.


"Tolong Licia, katakan apa yang terjadi"


Licia menarik nafas, mengatur kata untuk memulai ceritanya....

__ADS_1


 


__ADS_2