Aku Melepasmu

Aku Melepasmu
Setuju


__ADS_3

Usai melaksanakan salat Ashar, Nara menuju parkiran dan akan menjemput Licia ditempat kerjanya. Ia dan Licia memang memiliki  latar belakang pendidikan berbeda. Jika Nara sarjana pendidikan yang bekerja di bidang kehutanan, sementara Licia bekerja sesuai dengan gelar akademiknya yakni  hukum dan bekerja di sebuah lembaga bantuan Hukum. Sebenarnya lembaga bantuan hukum tersebut milik orang tua Licia, namun Licia tidak serta merta langsung memimpin, dia memulai dari Nol bahkan dari mulai Magang. Satu hal yang membuat Nara kagum, Licia sangat ringan tangan membantu setiap orang yang butuh bantuan hukum tapi tidak memiliki keuangan yang cukup. Selama ini kuasa hukum dipandang hanya dimiliki oleh orang-orang yang memiliki uang, padahal tidak, karena seluruh warga  Negara memiliki hak dan kewajiban yang sama di mata hukum.  Semestinya di Negara yang berdasarkan Hukum ini, tidak ada seorang pun yang kebal hukum, namun pada kenyataannya memang sulit untuk diungkapkan.


Nara telah sampai di depan kantor Licia, ia sengaja menunggu di mobil dan menghubungi Licia agar kelaur karena nara malas untuk berjalan masuk.


“aku udah di depan kantormu nih” ucap Nara disambungan teleponnya.


“masuk aja ke dalam, aku masih ada sedikit pembahasan dengan klien” jawab Licia


“ malas jalan, aku tunggu di mobil aja”


“beneran gak apa-apa tunggu di mobil”


“its okey sayang, sekalian aku mau memejamkan mata bentaran, ngantuk banget nih, hehe”


“Ok” Licia menutup teleponya.


“eh kebiasasaan ni orang, aku yang nelpon koq dia yang matiin” rungut Nara


Sembari menunggu Licia Nara mengunci pintu mobil, menurunkan sedikit seluruh kaca mobilnya dan mendengarkan alunan musik dari player musik mobilnya. Nara menurunkan sandaran kursi mobil dan mulai memejamkan matanya.


 


Dalam tidurnya lamat-lamat Nara mendengar suara orang mengetuk-ngetuk dan memanggil namanya. Nara membuka mata,  ternyata suara itu bukan mimpi tapi nyata, karena Licia memang sedang mengetuk kaca mobil dan memanggil namanya. Nara mmebuka pintu mobil  sembari mengucek matanya.


“ngagetin aja, orang lagi tidur juga”


“mau tidur nyenyak di kamar non, bukan di mobil, apalagi di parkiran gini. Kena rampok ntar lu” ucap Licia

__ADS_1


“jahat banget doanya” balas Nara.


“ ya abisnya, dari tadi aku panggil-panggil gak bangun, untung gak aku pecahin kaca mobilmu dan teriak kalau kamu pingsan” ejek Licia.


“ya udah, kita kemana nih” Tanya nara


“ke masjid aja dulu, salat magrib, abis tu baru deh makan sembari ngobrol”


“ ok, lets go girs” ucap Nara dan langsung tancap gas.


 


Tiba di sebuah masjid yang cukup besar dan parkiran luas, mereka berdua langsung menuju tempat wudhu wanita. Setelah itu masuk ke barisan jemaah perempuan. Meski terkesan wanita karir yang sibuk, namun kedua sahabat ini termasuk wanita yang rajin salat terutama salat wajib lima waktu. Kemanapun mereka pergi selalu membawa mukena di dalam tasnya, kecuali saat sedang PMS.


Meski penampilan keduanya masih jauh dikatakan sebagai perempuan muslimah karena tidak menggunakan hijab, namun dalam kehidupan sehari-hari mereka selalu menjalankan salat lima waktu dan tidak pernah mengikuti pergaulan diluar batas dan norma agama. Jangan kita hanya melihat dari kulitnya saja, artinya kita tidak bisa menilai seseorang dari penampilan luarnya saja.


Usai salat magrib, Nara dan Licia lanjut mencari tempat makan. mereka memilih restoran dengan konsep saung. Lokasi seperti ini memang sangat cocok bagi pengunjung yang ingin lebih privacy saat makan, karena satu saung hanya ditempati satu rombongan pengunjung. Saung yang disediakan pun berbagai ukuran, untuk dua orang, empat orang ataupun satu rombongan serta ruang ada VIP dan ruang khusus untuk pertemuan.


Setelah memesan makanan, keduanya mulai bercerita.


“kamu mau ngomong apa, kayaknya ada yang penting”  Tanya Licia


“iya, aku mau minta pendapatmu nih, pak bos memintaku turun langsung ke lapangan lusa. Dia ingin untuk buku yang sedang aku garap ini langsung aku sendiri yang ke desa. Dia bilang biar lebih bisa menjiwai serta berbaur dengan masyarakat biar feellnya dapet” Nara menjelaskan semua pekerjaan yang harus dia kerjakan disana serta kegelisahannya karena lokasi itu cukup jauh.


“menurut aku nih, ambil aja selama kesempatan itu ada, lagian kamu masih muda. Ntar kalau udah punya suami belum tentu kamu bisa kesana-kemari. Pengalaman itu adalag guru yang paling hebat. Mungkin sekarang kamu merasa ini tidak baik, bisa jadi nanti kamu akan menyukainya”jawab Licia


“hmm,, mak-mak mulai nasehatin, emang kamu pernah punya pengalaman apa” ucap Nara

__ADS_1


“eh gini-gini akau udah menjelajah beberapa daerah di Indonesia ya” balas Licia bangga.


Sejak Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas, Licia memang berpindah-pindah tempat mengikuti kedua orangtuanya yang pindah tugas. Selesai SMA, ayah Licia pensiun dan untuk mengisi hari-hari pensiunnya, ia membuka lembaga bantuan hukum, tempat dimana Licia bekerja saat ini. banyak hal yang diceritakan Licia pada Nara. Berkenalan dengan banyak orang, butuh adaptasi memang, tapi jika bisa berbaur dengan baik maka hal tersebut akan menjadi kenangan tersendiri.


 “ kalau kamu minta saran aku, ambil aja. Siapa tau nanti bakalan ketemu jodoh disana, ya mungkin burung balam pengganti Elang”  tambah Licia dilanjutkan tawanya.


“bahagianya kalau sudah ngebully temen” sungut Nara.


Pesanan makanan datang mereka pun melanjutkan makan malamnya.  Setelah lama bercerita dan mendapat semangat dari Licia, nara pun memutuskan untuk mencoba kesempatan ini.


"Okay, sepertinya aku bakal coba, tapi aku mau tanya bibi Airin juga" ucap Nara


"harus itu, bibi Airin kan pengganti orang tuamu. oh ya kemarin waktu aku bilang kamu putus, dia khawatir banget"


"iya, dia langsung ke rumahku mau lihat kondisiku, dia panik banget" Nara pun menceritakan bagaimana reaksi bibinya saat itu. Nara tersenyum dan bahagia karena masih memiliki keluarga yang sangat menyayangi dan mengkhawatirkan dirinya.


"yuk pulang" ajak Licia


"kamu ke kasir ya, bayarin dulu aku mau ke toilet" ucap Nara


Licia pun menuju kasir setelah itu ia berdiri di parkiran menunggu Nara. sembari melihat sekitar, tak sengaja Licia melihat sosok pria yang ia kenal " Elang" lirih Licia


sosok itu masuk ke dalam dan saat bersamaan seorang perempuan keluar dengan menunduk merapihkan pakaiannya.


"Braaaaakkk" perempuan itu menabrak sosok laki-laki tersebut. keduanya saling menyeimbangkan tubuh sebelum akhirnya kedua mata mereka bertemu dan sama-terkejut. Keduanya diam, tak ada satupun dari mereka yang meminta maaf, justru setelah terkejut mereka langsung berlalu.


Dari kejauhan, Licia menepuk jidatnya melihat dua orang yang abis tabrakan itu saling diam seperti tak mengenal satu sama lain...

__ADS_1


__ADS_2