
Pukul 9.30 Nara sudah berada di bandara, diantar bibinya Airin dan juga pamannya Wisnu. Pesawat akan take off 30 menit lagi. Setelah berpelukan dan mengucap salam pada bibi dan pamannya, ia pun segera masuk ke ruang keberangkatan. Ada buliran air disudut mata Airin, melihat kepergian keponakannya. Meskipun hanya sebentar, namun Airin sangat sedih karena keponakannya itu akan jauh dari jangkauannya terlebih berada di pedalaman. Wisnu tampak memeluk istrinya memberikan ketenangan
“Sudahlah sayang jangan bersedih, Nara hanya sebentar. Dia juga tidak sendirian disana”
“Tapi aku khawatir mas”
“Aku tahu, ayo kita pulang”
Airin mengangguk dan mereka pun beranjak pulang.
***
Pukul 11.15 menit pesawat yang ditumpangi Nara mendarat, karena tidak membawa banyak barang Nara tidak perlu menunggu bagasi. Ia pun langsung keluar dari pintu kedatangan, lalu duduk sebentar untuk menunggu salah seorang staf kantornya datang. Tak lama seorang pria menghampiri.
“Mbak Nara” ucap orang tersebut
“Kamu Dodi?” Tanya Nara
“Iya mbak, apa mbak lupa” jawab Dodi
“Lupa sih nggak, Cuma pangling. Lagian kita baru dua kali ketemu, terus juga sekarang kelihatan lebih berisi, dulu kan kurusan” ucap Nara sembari Tertawa
“Ah mbak Nara bisa aja, emang sih gendutan, kebanyakan makan kayu sama dedaunan hutan” balas Dodi
“Kalau say amah, gak bakalan lupa sama Mbak Nara, secara perempuan paling cantik di Cakrawala” tambah Dodi
Nara tertawa mendengan gombalan dodi tersebut.
“Ayok kita jalan, berapa lama perjalanan ke desa”
“Kira-kira 2 jam mbak.. tapi tunggu mbak, aku masih menunggu satu temen lagi jadi sekalian, gak apa-apa ya mbak” ucap Dodi memelas.
“Siapa? Dari kantor juga? Perasaan aku hanya sendirian” Tanya Nara
“Bukan dari kantor kita mbak, tapi teman aku, dia juga mau penelitian di desa kita mbak. Pesawatnya sekitar 30 menit lagi mendarat, daripada aku bolak-balik jadi sekalian aja, gak apa-apa ya mbak? Tapi kalau mbak Nara keberatan, ya udah nanti dia aku pesanin angkutan desa aja”
“hmmm.. gak apa-apa dod, sekalian aku mau meregangkan otot-otot dulu.. lumayanlah 30 menit sebelum lanjut perjalanan.” Jawab Nara
***
Lebih dari 30 menit, pesawat yang ditunggu tiba, Dodi pun segera berjalan ke pintu kedatangan, sementara Nara masih duduk di kursi tunggu. Tak lama Dodi pun datang bersama salah seorang temannya.
“Mbak Nara kenalin ini temen Dodi yang dari tadi kita tunggu”
Nara pun berdiri dan mengangkat kepalanya, karena pria itu memiliki perawakan yang lebih tinggi darinya
“Bram” ucapnya sembari mengulurkan tangan
“Nara” Sambut Nara. Namun kemudian ia mengerenyitkan keningnya
“Kak Bram?” lanjut Nara
“Dinara… apa ini kamu..”
__ADS_1
“Iya kak” balas Nara
Dodi bergantian menatap kedua orang di depannya
“Kalian saling Kenal?” Tanya Dodi penasaran
“kami….” Ucap mereka berbarengan lalu terdiam
“Dia adik kelasku di SMA” sambung Bram
“Owh, kirain mantan pacar, karena kelihatan kaku gitu” balas Dodi kemudian tertawa. sementara keduanya tampak salah tingkah.
“Ya sudah kalau saling kenal, berarti aku gak usah ngenalin lagi. Ayok jalan.. mobilnya di parkiran ujung, tapi sebelum jalan ke desa kita makan dulu ya, karena disana susah cari rumah makan apalagi Restoran” ajak Dodi.
“Tamu ngikut aja” jawab Nara
Mereka pun pergi mencari Rumah makan yang searah dengan jalan Desa. Nara duduk dibangku belakang, sementara Dodi mengemudi dan Bram duduk disebelahnya. Tak lama mereka pun tiba di sebuah restoran kecil dan dilanjutkan dengan makan siang.
Usai makan siang mereka pun lanjut perjalanan. Tidak banyak obrolan di dalam mobil, karena mungkin masng-masing mereka lelah.hanya sesekali terdengan Dodi dan Bram bercerita.
“kalau ada masjid atau mushala, berhenti dulu ya Dod, aku belum salat Zuhur” pinta Nara.
“Baik mbak” jawab Dodi
Tak lama mobil pun berhenti di depan sebuah Masjid. Nara turun dengan membawa mukena dari dalam tasnya.
“Kamu gak salat Dod” Tanya Nara.
“Pakaian Dodi kotor mbak” Jawab Dodi sambil nyengir.
“Koq bengong, gak salat juga” ucap Dodi
“Salat dong, emang kamu” jawab Bram lalu turun dari mobil dan menuju Masjid.
***
Usai salat mereka melanjutkan perjalanan. Satu setengah jam perjalanan mereka mulai memasuki desa. Rimbunnya pepohonan dikiri dan kanan jalan menyambut mereka.
“kurang lebih 1 jam lagi kita baru sampai base camp mbak” ucap Dodi. Tidak ada jawaban Dodi pun menoleh kebelakang.
“Ya, orangnya tidur, pantesan diam aja” ucap dodi
Bram hanya tersenyum, kemudian mereka melanjutkan obrolan hingga sampai ke tujuan.
“Bangun mbak, udah sampai” ucap Dodi membangunkan Nara. Tapi Nara tetap tak membuka matanya.
“Sepertinya dia kelelahan, udah biar aku gendong dia, kamu bawa aja barang-barangnya”
“menang banyak dong lu!!! aku bawa tas kamu gendong cewek cantik” protes Dodi
“Trus kamu yang mau gendong dia... sanggup” ejek Bram. Secara memang dari postur tubuh, Dodi kalah jauh dari Bram. Bram lebih besar dan tinggi, kulit putih, otot kekar dan wajah tampan tentunya.
“hhh,,, Ya udah, kamu aja.. ntar kalau mbak Nara marah, kan kamu yang dimarahi bukan aku” balas Dodi.
__ADS_1
Dodi pun membawa barang-barang masuk ke dalam rumah sekaligus Base camp mereka. Sementara Bram mengangkat Nara yang masih tertidur pulas, kemudian ia membaringkan Nara di Sofa. Merasa kantuk karena sedari tadi Bram sengaja menahan matanya agar tidak tertidur untuk menemani Dodi, Bram pun memejamkan matanya sambil duduk di sofa dan menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, sementara kepala Nara berada di pangkuannya.
“Ni dua orang baru ketemu, udah romantis aja posisinya” ucap Dodi. Ia pun mengambil ponselnya dan mengabadikan momen tersebut. Ia pun tersenyum jahil.
***
Nara membuka matanya, ia terkejut ketika bangun kepalanya berada di pangkuan Bram. wajahnya pun merah karena malu. Sementara Bram masih tertidur. Nara kemudian duduk untuk mengumpulkan tenaganya kemudian berjalan ke arah luar.
"Mbak Nara sudah bangun" ucap Dodi yang tengah duduk di teras.
"Kalau berdiri disini, berarti aku dah bangun.. masak iya mimpi sambil jalan" ucap Nara. kemudian Nara bertanya kepada Dodi kenapa Ia bisa tertidur di sofa dan tidak membangunkannya ketika sampai. Dodi pun menceritakan kronologisnya.. Nara mengangguk dan merasa tidak enak karena telah merepotkan Bram.
Tak lama Bram pun juga terbangun, dan mencari asal suara orang yang tengah mengobrol. Ketika melihat Bram keluar, Nara pun segera berdiri.
"Trimakasih kak, maaf aku udah ngerepotin" ucap Nara.
"Gak apa, sering-sering aja" balas Bram sambil tersenyum
"Huuuuu... maunya!" balas Dodi.
Wajah Nara pun memerah karena Malu.
"Oh ya Bram, Ntar kamu tidur di rumah sebelah ya, bareng aku. Mbak Nara tidur di mess belakang aja" Bram mengangguk.
"Sendirian?" Tanya Nara
"Iya sih mbak, kan mess nya kosong. memang disiapin buat orang kantor yang datang.. kenapa Mbak takut?" tanya Dodi.
"Kamarnya kan ada beberapa, kenapa kalian gak sekalian aja disini"
"Bram kan bukan orang kantor, nanti kena marah pak bos lagi. makanya saya ajak di ke rumah aja"
"Udah, kalian disini juga.. aku gak bakal lapor.. cuma kita kan disini?" tanya Nara.
"Nanti ada juga Lisa, tapi karena dia orang sini jadi dia gak nginap. Ada juga ada wak Atun yang akan bantu kebutuhan kita dan bersih-bersih" Jelas Dodi.
Nara berfikir sejenak, biasanya dia memang tidur sendiri di rumah, tapi melihat kondisi daerah yang sepi membuat Nara takut.
"Ya udah, nanti saya sama Bram ikut tidur di mess, tapi kalau yang lain tanya bilang dia tidur di rumahku, gimana" ucap Dodi.
Nara melihat Bram, "Kakak keberatan?"
Bram merentangkan tangannya dan menaikkan bahunya
"Atur aja, aku bebas, tidur di hutan juga gak apa-apa.. lagian disini juga numpang jadi terserah mau ditempatin dimana"
Dodi mengerutkan kening dan melirik Bram..
"Gak setuju"
"Santai bro... " ucap Bram sembari memukul pundak Dodi
"Yang penting tuan putri kita aman terjaga, aku ikut kalian"
__ADS_1
mereka pun setuju dan beranjak menuju kamar mess di bagian belakang yang menyatu dengan rumah utama sekaligus kantor kecil mereka..