Aku Melepasmu

Aku Melepasmu
Kangen


__ADS_3

Pukul 00.30, Licia masih berguling di ranjangnya, ia masih kepikiran tentang mimpi yang Nara ceritakan. Licia berpikir mungkin ini adalah pertanda bahwa ikatan diantara mereka masih sangat kuat. Licia memang berjanji untuk tidak memberitahu Nara, tapi Elang juga berhak bahagia disisa akhir hidupnya mungkin, atau justru dengan adanya Nara disampingnya, Elang akan sembuh. Tidak ada yang bisa memprediksi usia manusia, karena semua adalah kehendakNya.


***


Pagi ini Nara kembali masuk ke kantor, setelah satu bulan berada di Desa untuk menyelesaikan pekerjaannya. Kedatangan Nara disambut dua rekan seruangannya Amel dan Rido. Seketika ruangan yang tadinya sepi menjadi ramai, padahal hanya ada tiga kepala, karena Andi sedang ke ruangan sebelah.


"Widiiih orang utan balik" ejek Rido.


"Siapa orang utan?" tanya Nara


"Ya kamu... kan balik dari utan jadi namanya orang utan.. kalau dari kota namanya orang kota, tapi kalau dari desa namanya wong ndeso" ujar Rido sembari tergelak.


"Sialaan..!!! awas ya gak aku kasih oleh-oleh"


"Oleh-oleh apa dari hutan? gading gajah, kulit harimau atau akar rotan" Tambah Rido lagi.


"Praakk!!" sebuah buku melayang tepat mengenai kepala Rido. Bukan berhenti, Rido malah tertawa ngakak.


"Ra, kamu dapat gebetan gak disana? anak pak kades gitu" tanya Amel.


"Ni anak otaknya cowok mulu ya, tanyai kek betah gak disana, selama disana sehat atau sakit, atau apalah yang perhatian gitu. kalian berdua ini sama aja, gak ada pedulinya sama temen. cocok ni bedua nikah aja deh"


"Nikah sama dia? iiiihh ogah" cibir Amel.


"Hee emang aku mau sama kamu?? ogah juga ya" balas Rido sembari mendengus kesal.


"Pada ributin apaan sih, rame banget" tanya Andi yang baru datang dari ruangan sebelah.


"Ni ributin orang utan" tunjuk Rido pada Nara


"Aelahh ada orangnya aja diributin, dibully, giliran kemarin gak ada pada sepi, kangen" ucap Andi.


Nara terbahak mendengarnya.


"Tu kaan... ngaku aja kalau pada kangen.. sok ngebully padahal kangen" ucap Nara menyindir kedua rekannya.


"Ra, gimana kerjaanmu selama disana, aman?" tanya Andi


"Nah coba gini kayak mas Andi, perhatian sama temen, gak kayak kalian berdua" Ucap Nara sembari memandang Amel dan Rido bergantian.


"Alhamdulillah mas, aman. Semua data udah selesai tinggal nulis aja. Sebagian juga ada yang udah aku bikin sih" Sambung Nara.


"Baguslah kalau gitu, selama disana juga gak ada masalah kan"


"Gak ada, malahan suasananya enak, sejuk, orangnya juga pada ramah. Seru deh pokoknya. Cuma sayang jaringan komunikasi susah jadi harus ke daerah yang tinggi dulu baru bisa dapat signal" Celoteh Nara menceritakan suasana di sana.

__ADS_1


Pengalaman memang guru yang paling berharga, terkadang pengalamanlah yang mampu mengajarkan kita tentang berbagai sisi kehidupan.


***


Jam menunjukkan pukul 16.00. Usai salat Asar, Nara ingin langsung pulang.


"Dreet dreet" Handphone Nara bergetar, karena dia mengaktifkan mode getar. Tertera nama Bram disana.


"Hallo Assalamualaikum" jawab Nara.


"Waalaikum salam. Kamu udah pulang? "


" Ni lagi siap-siap mau pulang"


"Aku jemput ya" tawar Bram.


"Tapi aku bawa mobil kak"


"Hmmm... kalau gitu ketemuan aja, aku traktir minum kopi, mau ya"


Nara berfikir sejenak.


"Boleh deh, ketemu dimana kak?"


"D'cafe aja gimana?


Usai mengucapkan salam, Bram mengakhiri panggilannya.


Ada rasa rindu yang membuncah dalam diri Bram. Padahal baru dua hari ia tidak melihat Nara. Tidak dipungkiri, selama satu bulan Bram selalu melihat Nara kapanpun, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi, dan dua hari ini harinya seperti kosong tanpa melihat gadis itu. Gadis berambut hitam sebahu, dengan bulu mata lentik, kulit putih dan senyum yang menghangatkan.


Butuh waktu dua puluh menit untuk Nara sampai di tempat yang dijanjikan. Setelah memarkirkan mobil, Nara memasuki cafe yang belum terlalu ramai. Ia mengitari setiap meja untuk mencari keberadaan Bram, kemudian matanya tertuju pada sosok yang melambaikan tangan padanya.


"Sudah lama kak? maaf telat. macet" Ucap Nara ketika tiba didepan Bram.


"Nggak koq, kakak juga baru sampe. Ni belum sempat pesan apapun"


Bram mempersilahkan Nara duduk, Nara pun duduk di depan Bram, dan Bram menyodorkan buku menu. Sebenarnya Nara belum lapar, tapi karena menghargai Bram, ia pun memilih makanan ringan dan minum. Usai memilih menu, Bram memanggil pelayan dan memesan makanan.


Sejenak keduanya hanya terdiam. Bram terus memandangi Nara, sementara Nara yang menyadari hal tersebut jadi salah tingkah.


"Hmmm... kok ngeliatin aku kayak gitu kak, ada yang salah" Ucap Nara memecah keheningan, sembari memandang tubuhnya kalau-kalau ada yang salah.


"Iya aneh"


"Apanya yang aneh?"

__ADS_1


"Kamu tambah Cantik"


Nara bersemu merah...


"Hahaha... kak Bram bisa aja" Ucap Nara sembari menggaruk hidungnya.


"Ngomong-ngomong ada perlu apa nih ngajak ketemuan" tanya Nara lagi.


"Gak ada"


"Terus???"


"Kangeen" Jawab Bram singkat tanpa merasa bersalah.


What!!! to the poin amat ni orang. Nara terpaku tak percaya, Bram yang selama disana benar-benar sosok yang sopan bisa ngomong kayak gini dengan santainya tanpa ekspresi lagi.


"Apa kak"


"Ah... Eh... itu" Bram gugup sepertinya ia baru tersadar dengan ucapannya tadi.


"Aduh ni mulut koq jujur banget sih, kompak banget sama hati" Lirih Bram dalam hati. Ia benar-benar tidak menyadari apa yang keluar dari mulutnya demi menjawab pertanyaan-pertanyaan Nara. Bram pun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Maaf Nara, maksud kakak, apa ya... hmm iya itu.. memang kangen sih" Bram bingung mau menjawab apa karena memang tidak ada alasan lain untuk pertemuan kali ini, selain kerinduan yang menyiksanya selama dua hari ini.


Nara tertawa untuk menghilangkan rasa keterkejutannya atas kejujuran Bram. Entah harus bahagia atau apa, tapi Nara cukup tersanjung. Jujur saja Bram memiliki sejuta pesona untuk kaum hawa, tampan, tinggi, dengan tubuh kekar. Tapi Nara tidak mau begitu saja terbawa oleh suasana. Benar sekarang dia butuh seseorang untuk mengobati luka hatinya, tapi mungkin apakah secepat ini obat itu datang.


"Nara baru tahu kalau kakak juga jago ngegombal" Ucap Nara.


"Kamu gak percaya?"


"Gak"


"Kenapa"


"Aneh aja" ucap Nara sembari memutar kedua bola matanya.


Bram kembali memandangi Nara sembari menopang dagunya dengan tangan. Ia memang bukan pria yang suka tebar pesona apa lagi ngegombalin. Karena sebenarnya selama ini banyakla para wanita yang mendekatinya dan berusaha merayunya, jadi untuk urusan merayu dia bukan jagonya.


Selain rindu tak ada lagi yang bisa membunuhku


semesta tlah kesepian tanpa angin


Lalu aku katakan pada hujan


Aku punya rindu dipangkal hati yang membiru.

__ADS_1


Hening kembali hadir diantara keduanya. Nara menjadi salah tingkah dan Bram pun bingung mau ngomong apa. Akhirnya pesanan yang mereka tunggu pun datang.


Keduanya pun makan dalam diam...


__ADS_2