
Nara tiba di rumah pukul 17.00 Ada sedikit waktu tersisa untuknya menjalankan salat Ashar, karena terlalu fokus mengerjakan drafnya, Nara hampir lupa melaksanakan salat Asar.
Usai salat Nara beranjak ke dapur untuk membuat makan malam. setiap minggu bibinya selalu mengantarkan bahan makanan dari swalayan ke rumah Nara, sehingga stok bahan makanan di lemari dan kulkasnya selalu penuh. Soal memasak, Nara sedari kecil selalu membantu mamanya memasak, sehingga untuk urusan dapur bukanlah hal sulit baginya. Meski tidak semua resep masakan dikuasai namun untuk masakan hari-hari Nara bisa membuatnya sendiri. Ikan bakar dan sambal kecap menjadi menu makan malamnya kali ini. Selesai masak, Nara terlebih dahulu mandi, Sholat Magrib baru kemudian makan malam.
*****
Keesokan harinya, tiba dikantor Nara langsung memberikan hasil pekerjaan yang telah ia selesaikan kepada atasannya.
“Ini pak, draft perencanaan yang bapak minta kemarin, sudah selesai dikerjakan. Mohon koreksinya terlebih dahulu pak, jika ada yang kurang ataupun salah segera akan saya perbaiki” ucap Nara.
“Tidak ada waktu untuk mengoreksi, ini akan segera saya bawa. Kalau begitu kamu ikut saya saja, sekalian bawa soft copy dan laptop. Jika nanti ada yang kurang langsung kita perbaiki saat pemaparan”
“baik pak” ucap Nara kemudian kembali ke ruangannya dan segera menyiapkan berkasa dan bahan yang akan dibawanya.
“mau kemana” Tanya Andi
“ikut pak bos, ke kementrian” jawab Nara
“yaaaah, aku sendirian dong, mana Rido sama Amel belum masuk lagi” rungut Andi
“ hmmmm… hati-hati ya… kemarin sore pas aku sendirian, itu monitor di meja Amel hidup sendiri lho” Nara mulai usil untuk membalas dendamnya sore kemarin.
“hah,, beneran” Andi melongo dan bergidik
Nara hanya mengganggukkan kepalanya dan kemudian menutup kedua matanya seolah takut. Kemudian ia pergi meninggalkan Andi sembari tersenyum penuh kemenangan.
“ Kena kau” batin Nara
Sepeninggalan nara, Andi menoleh ke kiri dan kanan. Memang ruang kerja mereka sedikit terpisah dari bagian lainnya, agar tidak terlalu berisik. Bagian penelitian dan penulisan membutuhkan tempat yang sedikit tenang agar lebih konsentrasi. Andi memutar musik untuk mengusir kesepiannya.
“ ah jangan-jangan Nara ngerjain aku nih, balas dendam kemarin sore, siang- siang gini mana ada setan” batin Andi. Kemudian dia melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
***
Pemaparan selesai, draft yang disusun Nara hanya mengalami sedikit perubahan dan tambahan. Selanjutnya tinggal melakukan penelitian dan turun langsung ke lapangan.
“setelah adanya perbaikan, dua hari lagi kamu langsung turun ke lokasi” ucap Pak Darwin.
“saya pak” ucap Nara
“iya kamu.. memang siapa yang akan melakukannya jika bukan kamu?”
“kan biasanya ada orang lapangan pak, saya tinggal menerima hasil dan menulisnya”
“tapi kali ini, saya ingin kamu turun langsung. Jadi kamu tahu betul apa yang nanti ingin kamu buat dan kamu tulis, biar chemistrynya dapat. Kalau Cuma nulis saja kamu gak dapat feellnya nanti. Saya juga dulu seperti itu, nanti kamu akan merasakan pengalaman dan sensasi berbeda, kamu bisa bandingkan menerima laporan dari orang lain terus kamu tulis dengan kamu melihat dan mengalaminya sendiri terus kamu tuangkan dalam tulisan” atasan Nara memberikan arahan panjang lebar. Nara hanya mengangguk-angguk, meskipun hatinya belum 100 persen setuju jika nantinya dia langsung akan turun ke lapangan.
“tenang saja, ke daerah itu sudah ada pesawat, hanya memang butuh waktu beberapa jam dari pusat kota menuju desa dan kawasan hutan yang akan di tuju. Kamu boleh pikirkan dulu, tapi kalau saran saya kamu harus menerima” ucap pak Darwin sembari tersenyum dan mengepalkan tangannya memberikan semangat.
Darwin sangat mengagumi cara kerja Nara, dia juga tahu jika Nara memiliki potensi besar dalam penulisan, untuk itu ia ingin mengembangkan potensi itu dan akan membawa Nara ke posisi lebih tinggi di Perusahaan, namun untuk itu Nara harus menguasai beberapa pekerjaan, tidak hanya satu pekerjaan saja. Itulah sebabnya ia mengirimkan Nara kesana untuk semakin belajar.
“kita makan siang dulu sebelum kembali ke kantor” ajak Darwin
“iya pak” jawab Nara yang tidak mungkin menolak ajakan bosnya, secara kapan lagi dapat makan siang gratis.
Darwin adalah sosok atasan yang memiliki wibawa, tidak ada kesan seorang bos arogan dan juga genit pada perempuan. Untuk itulah semua orang menghormati dan tunduk padanya. Siapa pun yang pergi dengannya ataupun dekat dengannya tidak ada yang berani komentar miring. dia juga cukup tegas dengan seluruh karyawannya.
***
__ADS_1
Tiba di kantor Nara langsung menuju Mushola untuk menunaikan salat Zuhur, setelah itu ia kembali ke ruangannya.
“gimana Ra, berhasil” Tanya Andi
Nara hanya mengangguk, tapi raut wajahnya tidak sedikitpun menunjukkan roman kebahagiaan karena pekerjaannya berjalan lancar.
“berhasil koq murung” Tanya Andi.
Nara terdiam kemudian menarik nafas dalam, Nara pun menceritakan permintaan Pak Darwin yang meminta ia berangkat langsung untuk melanjutkan draftnya menjadi buku.
“udah terima aja, pak Darwin itu kalau ngasih suatu pekerjaan pasti ada maksud dan tujuannya. Dia yakin kamu pasti bisa. Lagian gak apa-apa juga sekali-kali turun ke lapangan, seru tau” ucap Andi
“aku pikir-pikir dulu mas” ucap Nara tanpa berniat melanjutkan pembicaraanya dengan Andi.
Nara memejamkan matanya dan berfikir untuk mengambil tawaran tersebut, hitung-hitung refreshinglah,, siapa tahu dengan pekerjaan diluar sekaligus liburan bisa sedikit melupakan kesedihan hatinya….
Nara kemudian mengambil ponselnya, menghubungi Licia untuk bertemu, sekaligus meminta saran dan pendapatnya. Nara juga akan menghubungi bibinya, karena ini untuk pertama kalinya Nara akan bekerja di luar daerah yang cukup jauh.
Usai menghubungi Licia dan akan bertemu setelah pulang kerja, Nara kembali menatap layar monitornya. Sesekali Nara menatap layar ponselnya, berharap ada notif yang masuk. ada perasaan hampa yang Nara rasakan beberapa hari ini. karena biasanya saat pagi, siang dan sore Elang akan selalu mengiriminya pesan, mengingatkan untuk sarapan, makan ataupun salat. meski pada awalnya Nara menganggap sepele dan terlalu receh, pada akhirnya ia terbiasa bahkan kini ia benar-benar merasa kehilangan kebiasaan itu. rasa nyeri di dadanya kembali sakit, ada genangan di sudut matanya.
"jangan sedih, semua pekerjaan ada resikonya . kerjakan dengan ikhlas tanpa merasa terbebani, itu akan membuatmu lebih baik. dimanapun kami jika dirimu baik maka kebaikanmu yang menolong" nasehat Andi kepada Nara.
"emang siapa yang mikirin kerjaan", celetuk Nara.
"lha bukannya kamu sedih karena disuruh bos berangkat" ucap Andi.
"sok tau ih mas Andi" ucap Nara sembari mengerutkan bibir....
__ADS_1