
Hingga sore ini Elang masih menunggu kabar dari Nara, bahkan ponselnya tak pernah lepas dari genggaman, saat tertidur sekalipun. Selesai salat Asar, Elang kembali mengecek ponselnya, tapi masih kosong tidak ada satu pun notifikasi dari seseorang yang sangat dirindukan. Beberapa kali Elang mencoba menghubungi Nara namun ponselnya juga belum aktif.
“Kira-kira Licia tau gak ya, Nara dimana?” Batin Elang. Kemudian ia pun mencari kontak licia di ponselnya.
Dua kali panggilan Elang tak dijawab. Elang menarik nafas panjang. “Coba lagi” Lirihnya
“Hallo Assalamualaikum” Jawab suara di seberang sana.
“Waalaikum salam Ca, lagi dimana Ca?
“Di rumah sakit”
“Siapa yang sakit Ca?”
“Nara”
“Hah? Nara sakit?? Sakit apa?? Dimana?” Terlalu panik, Elang langsung memberondong Licia dengan beberapa pertanyaan.
“Sabar kenapa? Satu-satu dong Lang nanyanya”
“Gimana bisa sabar, dari pagi aku hubungi dia, kirim pesan gak ada satupun yang dapat balasan! Ponselnya juga mati. Mana Nara, aku mau ngomong sama dia”
Elang pun akhirnya berbicara dengan Nara. Tampak raut wajah panik dan khawatir. Namun di seberang sana, Nara sedang meyakinkan Elang jika dia baik-baik dan hanya terlalu lelah.
“Ya udah, nti aku kesana ya, jangan banyak pikiran cepet sembuh sayang.. Assalamualaikum” Ucap ELang sembari menutup sambungan teleponnya.
***
Di Rumah Sakit
Nara mengembalikan ponsel Licia.
“Kenapa Elang Ra”
“Biasalah khawatir karena dari tadi dia gak bisa hubungi aku, aku juga lupa hubungi dia”
“Kamu kenapa bilang sih aku dirawat, dia kan jadi panik. Aku khawatir nanti dia kepikiran trus drop lagi”
“Ya mana aku tau, kamu gak ngasih kode. Aku kan jujur Ra orangnya” Ucap Licia tanpa rasa bersalah sembari senyum-senyum.
“Iya jujur sekarang, kemarin-kemarin bohongin aku juga!” Jawab Nara sembari mencibir.
“Iya, aku kan Cuma pegang amanah aja, takut dibilang gak bisa jaga rahasia”
“Trus buktinya”
“Buktinya aku bisa menyatukan kamu lagi dengan Elang”
__ADS_1
“Mudah-mudahannya kami benar-benar bisa bersatu, Elang bisa sembuh kayak dulu lagi. Benar-benar sembuh bukan hanya sesaat” Ucap Nara lirih.
“Ya… jadi meloow dia.. Kita berdoa aja ya, mudah-mudahan Allah berikan Elang kesembuhan. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, yang penting kita terus berusaha dan berdoa”
Nara mengangguk, pikirnya melayang mengingat kondisi Elang saat ini, pria itu kini sedang berjuang melawan penyakitnya, ia tidak tahu sakit seperti apa yang Elang rasakan yang ia ingin Elang bisa sehat dan mereka bisa bersama, mewujudkan mimpi yang pernah mereka rangkai. Menjadi keluarga kecil, menua bersama hingga maut memisahkan mereka. Tak terasa airmata menetes dari sudut mata Nara. Akankah semua itu terwujud. Dari beberapa sumber yang Nara baca, kecil kemungkinan bagi penderita kanker otak untuk sembuh normal, apalagi yang sudah berada di stadium empat seperti Elang. Mengingat kenyataan yang begitu pahit itu, rasa-rasanya Nara tidak bisa menerima.
“Melamun buu” Ledek Licia yang melihat Nara sedari terdiam memandang sudut ruangan dengan beberapa bulir airmata mengalir dipipinya.
“Ganggu aja”
“Makanya cepet sehat biar bisa jagain pangeranmu lagi”
Nara tertawa sembari mencubit lengan Licia "Bisa aja"
Obrolan mereka terhenti tatkala ada suara ketukan dari arah pintu dan ketika pintu terbuka terlihat sosok cowok ganteng dengan dengan senyum menghias di wajahnya. Licia melongo melihat makhluk ganteng yang tadi berdiri di pintu dan kini sudah masuk dan mendekat.
“Kak Bram”
“Assalamualikum”
“Waalaikumsalam cakep” Licia menjawab yang sedetik kemudian mendapat pukulan dari Nara.
“Sadar Ca” bisik Nara.
Licia tergagap. “Eh iya apa Ra”
“Parah lu!!” Bisik Nara kemudian mengalihkan pandangan ke Bram.
“Tadi aku mampir ke kantormu Ra, soalnya kamu sulit banget dihubungi. Kebetulan lewat deket sana jadi aku mampir aja, trus kata temenmu siapa tadi namanya aku lupa, kamu ada disini. Jadi aku langsung ke sini aja. Nih dia juga nitip hendphone sama tas kamu” Bram mengulurkan tas dan juga ponsel Nara.
“Pantes aja kamu gak bisa dihubungi, ponselmu mati rupanya”
“Iya kak, maaf ya udah ngerepotin”
“Gak apa-apa Ra, ngomong-ngomong kamu sakit apa?”
“Biasa Cuma kecapean kak” jawab Nara
“Helloooo aku aku permisi ya, lama disini jadi orang ketiga yang dicuekin” Kali ini Licia bersuara karena sedari tadi hanya Nara dan Bram yang mengobrol .
“Eh iya kak, ini Licia temen aku, yang tempo hari aku ceritain” Nara memperkenalkan Licia. Licia pun mengulurkan tangan sembari memberikan senyuman termanis di depan Bram. “Tumben ni anak kecentilan, biasanya gak gitu deh” Batin Nara.
“Bram” Jawab Bram sembari membalas uluran tangan Licia. Kemudian menarik tangannya kembali, sementara Licia masih terdiam terpesona. “Cakep banget sih, kenapa sih Ra, cowok yang deket kamu tu cakep-cakep. Kalau yang ini aku juga mau Ra, mau banget” Batin Licia.
Bram yang risih dipandang seperti itu kembali mengalihkan pandangan ke Nara, kemudia melanjutkan obrolan mereka. Melihat itu Licia langsung cemberut kemudian beringsut mundur menjauh dari mereka dan duduk di sudut sofa sembari mengambil majalah dan membacanya. Nara yang melihat kelakuan lucu sahabatnya tersenyum menahan geli.
"Ra, aku pulang dulu ya, nanti malam aku ke sini lagi" Tadinya Licia mau nungguin bibi Airin, tapi berhubung Nara sudah ada yang menemani, jadi Licia bisa meninggalkan Nara. "Kamu gak keberatan kan aku tinggal"
"Tapi janji balik lagi kan?"
__ADS_1
Licia menggangguk "Kak Bram, titip Nara ya, jangan ditinggal sampai bibi Airin datang"
"Siyaap" Jawab Bram pasti dan senyum lebar.
Yesss!! kesempatan berdua. Tau aja nih si Licia kalau aku lagi pengen berduaan.
Licia keluar dan menutup kembali pintu kamar rawat.
Nara sedikit canggung hanya berdua saja dengan Bram. Jika tadi ada Licia, tentu Bram tidak akan berani berbicara aneh. Tapi kini, mereka hanya berdua. Bram pasti akan bertanya mengapa ia seperti menghindar darinya.
"Kamu gak lagi menghindar dari aku kan Ra?"
Deggg!! Jantung Nara langsung berdetak tuh kan baru aja dipikirin, udah diomongin.
" Eng-gak kok kak" Nara tiba-tiba menjadi gugup. "Aku cuma lagi sibuk aja, biar kerjaanku cepet kelar, kakak liat sendiri kan, karena terlalu sibuk aku sampai harus istirahat disini" Nara menghela nafas mencoba memberikan alasan agar tidak terlalu mengecewakan.
"sampe kapan kamu bohong Ra, jujur aja kalau kamu sudah punya Elang" Sisi hati yang lain tengah berbicara.
"Iya aku percaya, makanya jangan terlalu capek. Kerjaan itu gak akan ada habisnya. Nyantai aja, jangan terlalu dikejar, nih akibatnya, sakit kan"
"kok dia jadi bawel ya" Lirih Nara.
"Iya kak makasih. Kak Bram udah kayak bibi Airin aja cerewet"
"Siapa yang cerewet!?" Suara dari arah pintu mengagetkan Nara dan Bram.
"Bibi ngagetin aja"
"Siapa tadi yang bilang bibi cerewet?" Airin semakin mendekat, sembari membawa barang bawaannya dan meletaakkan di meja. "Cerewet gini aja kamu masih sakit, apa lagi kalau didiemin"
Nara sudah tidak bisa berkutik lagi. Jika bibi Airin sudah berbicara, maka semua tak bisa terbantahkan.
"Bener gak Bram apa yang bibi bilang"
"Bener banget bi!" Jawab Bram. Nara kaget dan menatap Bram dengan mata bulat seolah mau keluar dari sarangnya. "Kakak!!" Nara mencubit lengan Bram karena mengiyakan ucapan bibinya.
"Auuu sakit sayang"
"Sayang?? Sayang-sayang kepalamu peyang, sembarangan aja kalau ngomong"
"Makanya jangan cubit-cubit. Tak cubit maka tak sayang, jadi kalau cubit tandanya sayang" Ucap Bram asal.
"Ehmm.. ehmmm!!" Airin mengejutkan.
Bram nyengir, menyadari keberadaan Airin, lalu berbasa basi sebentar menyapa.
"Karena bibi sudah datang, Bram pamit pulang dulu ya bi" Ucap Bram.
"Iya makasih udah jagain Nara"
__ADS_1
Bram pun meninggalkan mereka tak lupa pamit dan mengucapkan salam...